Kalau dilihat diskusi yg enggak habis habisnya jadi seperti kasus
lumpur lapindo, tapi tokoh utama  diskusi ini adalah Pertamina...
Apakah Pertamina sama dengan Lumpur Lapindo ?

Semua yang setuju bilang block harus dikembalikan dan dikelola oleh
Pertamina pada akhirnya juga menyadari bahwa kelemahan Pertamina
adalah tidak independent dan diatur / diintervensi oleh tangan tangan
oknum/management yg buruk.

Sementara yang tidak setuju juga menyadari bahwa ketidaksetujuannya
berdasarkan track record Pertamina yang selama ini dianggap buruk
karena selalu diintervensi oleh oknum oknum..

jadi fokus diskusi seharusnya bukan masalah block mahakam atau block
block lain yang akan dikembalikan tapi bagaimana merevitalisasi
pertamina dan melepaskan diri dari oknum oknum sehingga diskusi 2 kubu
yang berbeda akan sejalan.
Block Mahakam cuma 1 dari kekayaan negara yang tersisa, sementara
masih banyak ada block lain/basin basin yang belum dieksplor...


Dulu saya pernah menyampaikan salah satu cara agar Pertamina maju
menjadi perusahaan kelas dunia adalah dengan go public ke bursa saham.
Dengan go public maka pengawasan pertamina juga akan lebih bagus
karena diawasi juga oleh pemegang saham yang tidak akan mau pertamina
bangkrut. Selain itu Pertamina juga akan mudah meraup dana untuk
melakukan ekspansinya karena managementnya akan lebih transparan dan
rapi  sehingga perusahaan keuangan yang akan menaruh modal juga lebih
tertarik. Sementara itu pemerintah yang  masih memiliki kepentingan
terhadap Pertamina dapat tetap menjadi pemegang saham mayoritas
sebesar 51-60%.

Nah bagaimana menurut Pak Ong sebagai ahli ekonomi dan rekan rekan
lainnya yang sudah jauh berpengalaman di dunia perminyakan ?


On 9/24/12, [email protected] <[email protected]> wrote:
> Kalau kita mau agak sedikit berfikir keluar dari carutmarut sistim dan
> "benar2" melihat dari luar, maka kita akan dengan mudah melihat bhw
> Pertamina yg selalu dibicarakan oleh Pak Ong sbg entitas yg berbeda dr
> pemerintah itu SEBENARNYA adalah kepanjangan tangan pemerintah yang DIATUR
> oleh komisaris2 yg 5 diantara 6 anggotanya notabene pejabat pemerintah dan
> MEWAKILI PEMERINTAH. Demikian pula oknum-oknum yg memerintah sekarang dan
> diatasnamakan sbg pemerintah oleh Pak Ong sebenarnya tidak lain dan tidak
> bukan adalah orang2 yg mengatur-ngatur Pertamina itu tadi.
>
> Jadi kalau kita menggunakan akal sehat, sebenarnyalah dikotomi yang
> diciptakan dg sengaja antara Pemerintah dg Pertamina yg menyarankan seolah2
> Pertamina itu statusnya adlh "binatang ekonomi" yang tugas utamanya membuat
> keuntungan sebesar2nya bagi bangsa dan negara (apa iya??? saya meragukan
> itu; krn sebagian besar tugasnya adlh menjamin ketersediaan energi di
> Indonesia: sama dg tujuannya ESDM hanya PTM lebih praktis sbg pemain),...
> Sementara seolah2 Pemerintah adalah entitas yg berbeda yg harus mengayomi
> Pertamina, itu semua adalah dikotomi yg diada2kan dan sangat2 bernuansa
> liberalisasi.
>
> Jadi, agak aneh dan nggak masuk akal kalau misalnya Pemerintah bilang:
> silakan saja Pertamina rundingan dg Total ttg berapa2nya u/kerjasamanya,
> nanti kita tinggal menyetujui,....hopo tumon??? Lha asset itu semua khan
> milik pemerintah, harusnya pemerintahlah yg menentukan apakah Total masuk
> sekian persen dlm share disitu, sbg operator atau bukan dsb, setelah kontrak
> habis nanti. Ini koq malah diserahkan ke Total u/nego2 dg Pertamina. Terus
> nanti Pemerintah tinggal approve2 saja??? Lha khan dewan Komisarisnya
> Pertamina orang2 Pemerintah, malah ada Dirjen Migas disitu ada MenBUMN
> disitu dsb. Koq pada main sandiwara semua sih? Sbg rakyat Indonesia yg
> sedikit berpikir waras, terus terang saya bingung.
>
> Salam
> ADB
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: "Ong Han Ling" <[email protected]>
> Date: Mon, 24 Sep 2012 13:05:04
> To: <[email protected]>
> Reply-To: <[email protected]>
> Subject: RE: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi
> Pertamina Cuma Nomor 3
>
> Sdr. Fatrial,
>
>
>
> Maaf, mungkin ada sedikit salah pengertian. Saya tidak ingin menyalahkan
> siapa-siapa. Saya hanya ingin menerangkan sejarah yang saya  ketahui dari
> sudut pandang orang non-Pertamina dan mungkin sebagai pelajaran kita
> semuanya. Sejarah kita tidak bisa diingkari.
>
>
>
> Yang saya ingin kemukakan adalah bahwa antara Pertamina dan Negara ada
> perbedaan persepsi soal extension. Keduanya benar, dan keduanya tidak bisa
> disalahkan. Namun ada contradiction perihal kepentingan masing-masing.
>
>
>
> Pemerintah jalan pikirannya adalah konservatif. Dia adalah safe player. Dia
> tidak ingin "gambling" untuk pencarian minyak yang banyak risikonya. Dia
> ingin security of supply. Dia ingin sustainability jangka panjang. Dia
> ingin
> cari replacement untuk mengantikan minyak yang dikeluarkan. Dia memerlukan
> investasi baru yang besar sekali untuk menaikkan GDP. Dengan masuknya Total
> sampai ratusan juta US$ bahkan kemungkinan sampai miliar, berarti new
> investment bagi Negara.
>
>
>
> Pertamina kebalikannya. Sebagai perusahaan minyak harus agresif. Ini adalah
> ciri khas industri perminyakan, yaitu mengambil risiko. Sebagai perusahaan
> dia Ingin keuntungan secepatnya dengan cara menaikkan produksi dan bila
> perlu menunda eksplorasi karena eksplorasi adalah cost melulu. Dengan
> membeli TOTAL, cadangan dan produksi Pertamina akan langsung bertambah
> tanpa
> melakukan eksplorasi. Dimata Pemerintah, Pertamina menepati janjinya
> menaikkan produksinya. Pertamina berani mengambil risiko namun Pemerintah
> takut karena kerugian akan ditanggung Pemerintah. Pertamina dilain pihak
> tidak ada hubungannya dengan kenaikan foreign investasi di Indonesia.
>
>
>
> Salam.
>
>
>
> Hl Ong
>
>
>
>
>
> From: [email protected] [mailto:[email protected]]
> Sent: Monday, September 24, 2012 8:44 AM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi
> Pertamina Cuma Nomor 3
>
>
>
> Terima kasih Pak Ong atas ulasan simple dan lugas.
> Semoga tiap insan Pertamina yg membaca tulisan Pak Ong, terutama generasi
> muda Pertamina, tambah optimis melihat masa depan Pertamina khususnya di
> bisnis hulu. Pesan positif yg saya petik dari tulisan Pak Ong adalah agar
> Pertamina tidak "manja" lagi seperti 35thn silam, seperti halnya orang tua
> membesarkan "anaknya" yg bernama Pertamina, membuatnya mandiri dan tidak
> lagi tergantung pada pemerintah. Ini era Pertamina melayani pemerintah dan
> rakyat, mudah2an tidak terlambat, dan belajar dari sejarah 35thn lalu.
> Bisnis berarti kompetisi, kongsi dan terkadang melayani.
>
> Lagi-lagi, sedikit melirik negara tetangga, Petronas menanamkan semangat
> kepemimpinan teknologi perminyakan. Bagi perusahan korporat sebesar
> Petronas, profit bukanlah menjadi satu-satunya tujuan. Orientasi yang
> berlebihan pada profit cuma akan menghasilkan budaya mega korupsi dan
> ketamakan. Apa yang terjadi pada Pertamina dahulu telah merefleksikan
> kebenaran filosofi bisnis Petronas. Alih-alih bersikap agresif dalam
> ekspansi bisnis, Petronas lebih memilih untuk menyeimbangkan konsep safety
> bussiness dan kontribusi pada national character building.
>
> Putrajaya, twin tower, Jembatan, Petrosain, adalah kontribusi Petronas bagi
> rakyat Malaysia. Petronas punya komitmen yang kuat untuk memikul
> tanggungjawab sosial. Utamanya dengan menyediakan media pembelajaran sains
> dan teknologi mutakhir buat generasi muda Malaysia. Setidaknya kita percaya
> kalau teknologi dapat dikuasai, misi sosial dijalankan, maka profit akan
> mampir.
>
> Sekedar pendapat, maaf kalau tdk berkenan.
>
> Salam,
> Fatrial B
>
>
>
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
>   _____
>
> From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
>
> Date: Mon, 24 Sep 2012 07:07:39 +0700
>
> To: <[email protected]>
>
> ReplyTo: <[email protected]>
>
> Subject: Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi
> Pertamina Cuma Nomor 3
>
>
>
> Sangat menarik Pak Ong. Uraian panjang namun tidak membosankan.
>
> Saya tertarik statement Pak Ong ini " Pertamina dilain pihak adalah
> perusahaan minyak yang tujuan adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya
> dalam waktu singkat.
> Pendapat ini menurut saya tidak salah, walaupun bukan berarti Pertamina
> merupakan entitas bisnis "ansich". Pertamina masih mengemban misi "sosial"
> atau misi negara. Salah satunya untuk mendistribusikan BBM dengan harga
> jual
> yang sama diseluruh Indonesia. Ini jelas beban untuk entitas bisnis, tetapi
> tugas yang harus diemban oleh negara.
>
> Menurut saya menilai dan mengevaluasi sesuatu untuk Pertamina harus
> mempertimbangkan dua sisi itu, misi bisnis dan misi sosial. Termasuk
> "kebanggaan" yang sulit dinilai dengan angka rupiah.
>
> Mengenai tender khusus untuk pembaharuan kontrak Blok Mahakam ini pernah
> saya pertanyakan dalam diskusi panel IPA bulan Mei lalu. Namun yang menarik
> bukan hanya "hak" mengurusnya saja, juga produksinya, tentunya, apakah
> memang seluruh produksi migas nantinya masuk dalam "sharable production" ?
> Padahal ketika kontrak PSC habis seluruh asset (termasuk
> resources/reserves)
> semestinya menjadi hak negara, cmiiw.
>
> Rovicky
>
> 2012/9/23 Ong Han Ling <[email protected]>
>
> Sdr. Avi,
>
>
>
> Terima kasih atas Anda punya tanggapan.
>
>
>
> Semua anggota IAGI pasti bertujuan sama, ingin memajukan Negara. Namun
> caranya berlainan. Ada yang mengatakan extension harus diberikan ke
> Pertamina (termasuk Anda), dan ada yang mengatakan Pertamina tidak akan
> bisa. Namun jangan membabi buta dan mengatakan "at any cost" atau "Pokokny
> harus..Menurut saya yang perlu dihayati adalah bahwa antara kepentingan
> Pertamina dan Negara berbeda. Memang pemilik Pertamina adalah Negara. Namun
> keduanya punya kepentigan sendiri-sendiri dan dalam hal extension,
> Pertamina
> tidak selalu sejalan dengan Negara.
>
>
>
> Karena extension PSC  sekarang menjadi focus Pemerintah dan akan menyangkut
> kita semuanya, saya ingin membahasnya lebih panjang.
>
>
>
> Alasan Anda mengapa Mahakam perlu diberikan ke Pertamina "Ini kan Golden
> oportunity yah, kenapa begitu ini production acreage yg RISK-nya sangat
> rendah, dari kaca mata saya yg telah bekerja 30th di Oil and gas Industry"
> .Golden opportunity menghasilkan Golden years.
>
>
>
> Golden Opportunity dan Golden Years
>
> Extension Mahakam bagi Pertamina bukanlah "Golden opportunity" pertama.
> Pertamina telah diberikan "Multiple Golden Opportunities" yang sayang nya
> tidak diambil selama 35 tahun, yaitu sejak penandatanganan PSC Pertama
> tahun
> 1966 sampai UUMigas tahun 2001. Selama 35 tahun merupakan "Golden Years"
> bagi Pertamina, terutama 25 tahun pertama. Kepala Unit didaerah seperti
> raja
> (mungkin Abah bisa ceritera!). Pertamina bisa membuat perjanjian langsung
> dengan International Oil companies. ESDM, Kementerian Keuangan, dan DPR
> tidak ikut campur. Otonomi daerah belum ada. Uang Pertamina berlimpah.
> Bahkan sepuluh tahun pertama pajak perusahaan dibayarkan kepada Pertamina.
> Bonus singnature dibayarkan ke Pertamina. Departemen keuangan tidak seketat
> sekarang. Dengan demikian Pertamina punya dana taktis. Dana taktis
> digunakan
> untuk memperlancar operasi lapangan. Instansi Pemerintah manapun kalau cari
> sumbangan pasti ingat Pertamina. Dengan kekuasaan yang demikian besarnya
> dan
> keuangan yang berlimpah, seharusnya dalam kurun waktu 35 tahun tsb.,
> Pertamina seyogianya sudah menjadi "World Class" oil company. Kenyataan
> tidak demikian. Opportunity telah dilewatkan Pertamina.
>
>
>
> "Golden opportunity" yang terlewat juga adalah 10% Indonesian Participation
> interest (PI).  Pertamina tidak mengambilnya dan juga tidak diberikan
> kepada
> perusahaan Indonesia lainnya. PI 10% pertama diminta oleh Bambang Soeharto
> yang punya "inside information" tentang isi dari PSC. Selama era Pertamina,
> isi PSC dirahasiakan. Bayangkan kalau Pertamina pada waktu itu minta PI
> dari
> TOTAL dan K3S lainnya, sekarang ceriteranya lain. "Golden opportunity" lain
> yang terlewatkan adalah extension yang pertama dari Total, Unocal,
> ConocoPhillips, BP, Caltex,  dsb. tidak diambil oleh Pertamina pada waktu
> itu. Padahal Pertamina punya hak mutlak. Tidak perlu izin dari ESDM ataupun
> DPR. Golden  opportunities yang dulu disia-siakan, sekarang Pertamina minta
> supaya semua extension diberikan kepadanya.
>
>
>
> Kutipan Anda "Pengalaman saya pribadi mentake over aset produksi ngga
> pernah
> ada masalah, yg susah adalah mendapat aset produksi itu sendiri, apa lagi
> aset produksi sebagus blok Mahakam .... is a heaven for Oilers".
>
>
>
> Risiko Mahakam.
>
> Benar TOTAL sangat-sangat untung dengan blok Mahakam terutama karena tidak
> ada DMO gas. TOTAL waktu masuk Indonesia bangga mengunakan nama Compagnie
> Francaise du Petrol (CFP), perusahaan Perancis. Sekarang kalau disebut
> perusahaan Perancis "marah", karena TOTAL sekarang adalah perushaan
> Internasional. Demikian juga INPEX, waktu masuk Indonesia namanya masih
> "Indonesian Petroleum Exploration" - sekarang adalah "International
> Petroleum Exploration". Kedua perusahaan tsb. kaya karena Produksi
> Indonesia. Partner mereka, Pertamina, sekarang jauh ketinggalan. Sebagai
> Nasionalis membuat ini panas. Tetapi kita harus "cool" dalam business.
> Harus
> dengan perhitungan.
>
>
>
> Memang risiko production untuk extension seperti yang Anda katakan kecil,
> apalagi kalau dibandingkan dengan risiko eksplorasi (10% possibility of
> success atau POS) yang semua geologist alami sehari-hari; yaitu susahnya
> mencari minyak. Namun dalam produksi juga ada production risk meskipun
> tidak
> sebesar exploration risk. Meskipun Possibility of Failure jauh lebih kecil
> kalau dibandingkan dengan eksplorasi tapi dikalikan dengan Development cost
> yang jauh lebih besar dari exploration cost memberikan kerugian dalam
> dollar
> value yang jauh lebih besar untuk Production dibandingkan Exploration.
> Production risk tersebut termasuk "overun of budget dan delays" yang
> menjadi
> ciri khas industri minyak. Apalagi untuk proyek besar. Demikian juga dengan
> estimasi cadangan (ingat Chevron Selat Makassar). Konon dikatakan bahwa
> cadangan migas hanya kita ketahui setelah semuanya terkuras.
>
>
>
> Tapi yang paling besar risikonya untuk LNG Badak sekarang adalah harga gas
> International. Harga jual LNG dari Badak ke Jepang, Korea, Taiwan sekarang
> US $14-17/mmbtu. Harga ini sangat-sangat menguntungkan. Namun 5 tahun
> terakir ini telah terjadi revolusi shale gas dan tight gas di North
> America.
> Harga gas di continental USA yang lima tahun yang lalu masih $8/mmbtu
> sekarang tahun 2012 anjlok menjadi $2/mmbtu. Puluhan LNG akan dan sedang
> dibangun di Alaska (1), British Columbia (2-3), NW Shelf Australia (8-11),
> dan Queensland(2-3). Mereka akan membanjiri Asia yang sekarang merupakan
> hegemoni Indonesia. Semua indikasi menunjukkan bahwa harga LNG di Asia
> Pacific akan anjlok.  Untuk Mahakam extension, secara teknis risiko tidak
> terlalu tinggi tetapi harga LNG akan membuat proyek Mahakam berisiko
> tinggi.
> Dengan kemungkinan future gas price yang rendah, Pertamina akan dapat
> kesulitan untuk pinjam uang.  Besarnya bunga bank yang dapat diperoleh
> Pertamina, yang pasti lebih mahal dari TOTAL,  merupakan salah satu kendala
> besar.
>
>
>
> Kutipan Anda: "Saya masih kecewa, bukan without reason tapi memang secara
> RASIONAL mestinya GOI menyerahkan ke Pertamina".
>
>
>
> Banyak orang beranggapan bahwa Pertamina identik dengan negara. Tidak
> selalu. Negara mementingkan sustainable dan security of energy. Negara
> mementingkan jangka panjang. Pertamina dilain pihak adalah perusahaan
> minyak
> yang tujuan adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu singkat.
> Ada kalanya produksi dikebut, hingga banyak by-pass oil ketinggalan.
> Pemerintah dilain pihak berkepentingan lain. Minyak sebaiknya diambil
> secara
> pelan supaya sebanyak mungkin terambil dan sustainable. Jangan merusak
> formasi dengan mengunakan pompa besar, umpamanya.
>
>
>
> Harus diingat bahwa Pertamina adalah milik Pemerintah. Hal ini juga membuat
> Pertamina "comfortable" hingga berani mengambil risiko karena ada
> backingnya. Kalau ada sesuatu bisa fall back ke Pemerintah. Umpama projek
> tidak jalan dan perlu fasilitas, Pemerintah terpaksa harus memberikan "ya".
> Juga karena Pertamina milik Pemerintah, banyak perusahaan  dan bank berani
> memberi kredit kepada Pertamina. Bagi Pertamina ini menguntungkan, tapi
> bagi
> Pemerintah berat karena harus menanggung risiko Pertamina.
>
>
>
> Sebagai contoh konkrit adalah waktu Pertamina ikut tender ONWJ yang akan
> dikembalikan BP setelah 7 tahun karena PSC habis. Perusahaan lain menawar
> berdasarkan reserve yang akan berakir 7 tahun. Pertamina berani menawar
> lebih tinggi dengan memperhitungkan reserve beyond 7 tahun, karena
> Pertamina
> tau bahwa Pemerintah akan memberikan extension setelah masa 7 tahun
> berlalu.
> Pertamina adalah milik Pemerintah, jadi tidak mungkin distop. Yang
> diuntungkan adalah BP yang mendapatkan penawaran tinggi dari Pertamina,
> melebihi reserve 7 tahun yang dia miliki. Yang dirugikan adalah K3S yang
> telah ikut tender, dan mengeluarkan ratusan ribu dollar. K3S merasa
> dibohongi.
>
>
>
> Selain itu juga ada faktor manusia, yang dikenal dengan "Agency issue".
> Waktu Dirut dan direksi Pertamina diangkat, mereka berjanji meningkatkan
> produksi. Masa jabatannya mereka singkat, 1-3 tahun. Meningkatkan produksi
> tidak mungkin dengan eksplorasi karena ini makan waktu 10 tahun sebelum
> melihat hasilnya. Padahal keberhasilan Direksi (untuk mendapatkan bonus)
> dilihat dari peningkatan produksi selama masa jabatannya. Cara satu-satunya
> adalah membeli perusahaan yang sudah produksi seperti ONWJ, Kodeco, dan
> sekarang TOTAL. Kalau bisa eksplorasi ditunda selama mungkin. Ini adalah
> logis dan dilakukan oleh semua perusahaan diseluruh dunia, dimana kenaikan
> harga saham lebih dipentingkan daripada mencari replacement. Prinsip
> ekonomi
> perusahaan minyak adalah jangka pendek dan memakai kaidah tidak resmi "Oil
> companies are to make money not to find oil". Sedangkan negara berprinsip
> energy security jangka panjang. Ini berarti Pemerintah ingin Pertamina
> melakukan eksplorasi sendiri. Mengambil over Mahakam tidak menambah
> cadangan
> Indonesia yang diperlukan untuk energy security.
>
>
>
> Extension Mahakam perlu ditenderkan secara terbatas.
>
> Memang yang lalu sudah lalu. Marilah kita pikirkan tentang extension
> Mahakam
> yang menurut Anda merupakan "Golden Opportunity" hingga Pertamina perlu
> diberikan prioritas untuk Mahakam. Saya  setuju tetapi bagaimana caranya
> mengingat "past performance" Pertamina yang kurang bagus  selama 35 tahun
> dan adanya risiko harga gas anjlok. Karenanya prioritas tsb. perlu
> dibatasi.
> Jadi bukan blank cek. Harus ada pembatasan. Karena kalau Pertamina gagal
> dan
> rugi, maka Pemerintah, sebagai pemegang saham, akan menanggung semuanya.
> Seperti "Indonesian content", diberikan preference, sekian prosen, tapi
> bukan blank cek asal buatan Indonesia. Dalam hal tender Mahakam, Pertamina
> bisa diberikan preference antara 0-10%.
>
>
>
> Sebaiknya diadakan tender terbatas. Dengan adanya tender TOTAL dan
> Pertamina
> akan hati-hati memasukkan penawarannya. Kalau umpama dianggap terlalu
> rendah
> preference yang diberikan ke Pertamina, bisa saja dinaikkan. Namun kita
> tidak boleh mengatakan "Pokoknya Pertamina" mengingat past performance
> Pertamina juga kurang bagus.  Preference treatment yang diberikan kepada
> Petamina harus terbatas dan terukur.
>
>
>
> Seandainya TOTAL menang dengan preference 10% ini berarti keuntungan bagi
> Negara 10% lebih tinggi daripada kalau dioperasikan oleh Pertamina. Selain
> itu TOTAL akan menanamkan investasi "fresh money" beberapa ratus juta US
> dollar yang sangat diperlukan Indonesia. Juga TOTAL akan menanggung semua
> risiko jika terjadi kegagalan teknis maupun karena harga LNG anjlok.
>
>
>
> Keadaan semua tersebut diatas berbalik jika dimenangkan oleh Pertamina.
> Pertamina bangga dapat tambahan reserve dan Direksi Pertamina telah
> menepati
> janji untuk meningkatakn produksi. Direksi menerima bonus. Namun bagi
> Pemerintah, risiko besar karena harus menanggung jika Pertamina tidak
> perform baik teknis maupun non-teknis. Bagi Negara yang mementingkan energy
> security, reserve Indonesia tetap sama dan tidak tambah, hanya pindah
> operatorship.
>
>
>
> Sebaiknya ESDM membentuk team mempersiapkan tender Mahakam dan menghitung
> besarnya preference yang akan diberikan kepada Pertamina. Ada trade off
> antara besarnya preference yang akan diberikan kepada Pertamina dengan
> risiko yang harus ditanggung Negara. Perlu dimasukkan prinsip Cost Recovery
> Limit yang menjadi ciri khas suatu PSC hingga pendapatan Negara terjamin.
>
>
>
>
> Salam,
>
>
>
> HL Ong
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Sekian saja, maaf agak panjang tetapi perlu saya kemukakan.
>
>
>
> HL Ong
>
>
>
>
>
> From: rakhmadi avianto [ <mailto:[email protected]>
> mailto:[email protected]]
> Sent: Saturday, September 15, 2012 2:21 PM
> To:  <mailto:[email protected]> [email protected],
>
> Subject: Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi
> Pertamina Cuma Nomor 3
>
>
>
> Pk Dhe Ong,
>
> Ini kan Golden oportunity yah, kenapa begitu ini production acreage yg
> RISK-nya sangat rendah, dari kaca mata saya yg telah bekerja 30th di Oil
> and
> gas Industry. Harap kita ingat bahwa kita ini sekarang berbicara di tahun
> 2012 dimana sudah banyak para ahli kita baik di Pertamina maupun di luar
> Pertamina. Dari semua yg saya ketahui, sekali lagi Pertamina sangat mampu
> untuk men-sustain production yg telah dilakukan oleh Total. Kalau kita
> berbicara di tahun 1965 itu pendapat pak Dhe Ong benar sekali. Dimana saat
> itu ahli kita belum banyak dan belum berpengalaman.
>
> Pointnya.... the contract is going to expire soon, ya mengacu pada itu aja,
> setelah itu ya up-to GOI untuk dikasi ke siapa saja. Berdasarkan itu maka
> Pertaminalah yg paling berhak, karena Pertamina BUMN dan sangat credible
> untuk melaksanakan Exploitation and Exploration blok Mahakam ke depan.
> Dalam
> hal ini Pertamina ngga harus nge-right to Match Total Indonesie Program
> blok
> Mahakam kedepan dalam hal ini. Pengalaman saya pribadi mentake over aset
> produksi ngga pernah ada masalah, yg susah adalah mendapat aset produksi
> itu
> sendiri, apa lagi aset produksi sebagus blok Mahakam .... is a heaven for
> Oilers.
>
> Kalau hand-over ini bisa terjadi ke Pertamina, maka pegawai nasional di
> Total akan di beri peran lebih oleh Pertamina dari expatriate, yg kenyataan
> nya sekarang ini di setiap KKS yg jadi motor utamanya kan mesti expatriate,
> terutama untuk proyek2 penting (maaf ngaku pengalaman pribadi hiks hiks
> hiks)
>
> Manfaat yg bisa di-ambil dari hand over dari TI ke PTM:
>
> 1. Income Negara akan naik
> 2. Indonesian man power akan lebih berperan dan akan gain a lot of
> experiences
> 3. Pertamina bisa lebih maju karena reservesnya tambah dan production naik
> yg jelas diatas 200KBOPD
>
> Dg demikian saya yg sangat cinta merah putih bisa ngomong ke International
> .... nih gua bisa
>
> Soal blok yg 47% dikuasai Pertamina, ya memang harus begitu, sama kaya
> Petronas punya right untuk back-in up to 50% ke setiap blok yg telah
> discovery, di KL itu mencerminkan Goverment yg pro Nasional. Kalau sekarang
> nih GOI kok takut karepnya sendiri ngga jelas.
>
> Saya pernah datang ke pondok pak DR triple R di bandung untuk membahas
> masalah Lapindo bersama bbrp teman alumni Geologi UGM, saat itu blio kok
> kayaknya mbelani rakyat banget yah, tapi sekarang kok jadi kayak gini.
>
> Saya masih kecewa, bukan without reason tapi memang secara RASIONAL
> mestinya
> GOI menyerahkan ke Pertamina.
>
> Nuwun sewu pak Ong yg sangat saya kagumi sejak saya masih mahasiswa, tidak
> bermaksud offence kepada anda, ini sekedar opini anak bangsa yg sangat
> kepingin melihat Pertamina mengalahkan Petronas.
>
> Salam
> Avi NPA 0666 .... nomor cantik
> Bendahar IAGI
>
> 2012/9/15 Ong Han Ling < <mailto:[email protected]>
> [email protected]>
>
> Saya ingin nimbrung dalam diskusi ini.
>
> Resources ESDM sangat minim dan kurang dalam menghadapi wawasan yang makin
> lama makin multi-komplex dan multi-demensi persoalannya. Kesalahan data,
> policy, peraturan, undang-undang, dsb. terjadi disemua jajaran.
> Kekurangan-kekurangan mudah diperbesar dialam demokrasi. Sebaiknya IAGI
> ikut
> membantu Pemerintah dengan diskusi dan saran.
>
> Kesalahan utama adalah adanya pernyataan dari Wamen "Apakah Total mau beri
> data-data teknis diblok tersebut yang puluhan tahun dikerjakannya? Tentu
> tidak. Artinya akan mulai dari awal lagi ujar Rudi". Ini merupakan
> kekeliruan yang diutarakan oleh ADB. Semua orang tahu bahwa dalam sistim
> PSC
> semua data adalah milik Negara. Apakah karena kekeliruan tsb. maka
> extension
> akan diberikan kepada Total? Karena kalau diberikan kepada Pertamina, tanpa
> data, pasti Pertamina akan dapat kesukaran dalam pelaksanaannya.
>
> Tentang PSC extension, saya beda pendapat dengan ADB. Extension harus
> diberikan kepada yang terbaik bagi Negara. Terbaik disini berarti keuangan
> dan risiko. Saya mengusulkan memakai Cost Recovery Limit (CRL), yang
> disebut
> oleh Almarhum Wamen ESDM sebagai Cost over Revenue (C/R). Memonitor CRL
> mudah sekali, tinggal jaga di wellhead, berapa minyak yan keluar dan hanya
> 40% (seandainya CRL 40%) yang bisa dipkai untuk cost recover. Ini adalah
> ciri khas dari PSC diserluruh dunia. Indonesia telah meninggalkan sistim
> PSC
> dan sekarang menganut sistim konsesi, kecuali istilah-istilahnya masih
> menganut PSC. Dengan adanya CRL Negara terjamin pendapatnya. Sekarang
> kelihatannya Indonesia dapat besar, 85/15. Besar kalau profitnya besar.
> Namun kalau profit kecil atau tidak ada, dan semua sudah dipakai untuk cost
> recobvery, pendapatan Negara "zero" atau insignificant. Negara hanya dapat
> dari FTP yang bisa dianggap sebagai royalty. Apalagi zaman sekarang, kita
> tidak tahu mana teman mana lawan. Peraturan baru dibuat dan diplesetkan
> untuk kepentingan pribadi atau golongan. Dengan sistim CRL, hal tsb.
> di-minimize. Negara terjamin pendapatnya. Ibnu Sutowo, yang mengetahui
> bahwa
> Indonesia tidak punya apa-apa pada waktu itu sudah memikirkan hal ini
> masak-masak dan lahirlah konsep PSC yang ditiru oleh banyak negara didunia.
> Indonesia, dilain pihak, tempat kelahiran PSC, telah meninggalkan sistim
> PSC
> tahun 1977.
>
> Untuk extension Mahakam, kita minta TOTAL dan Pertamina (dan mungkin pihak
> lainnya) untuk mengajukan POD disertai CRL. Besaranya CRL memberi jaminan
> pendapatan Negara. Pertamina diberi preference untuk match bid dari TOTAL.
> Preference bisa berkisar antara 0-10%. Jadi Pertamina jangan diberikan
> blank
> cek bahwa extension Mahakam otomatis menjadi miiknya. Pertamina harus
> berusaha. Harus diingat bahwa kalau Pertamina membuat kekeliruan seperti
> overun of budget atau project delays, yang menjadi ciri khas industri
> perminyakan, yang menanggung rugi adalah Negara. Selain itu, Indonesia
> masih
> memerlukan investasi yang besar sekali untuk menaikkan GDP-nya. Tanpa
> kecualian semua negara didunia ini memerlukan investasi kalau ingin
> meningkatkan kemakmuran rakyatnya, termasuk Amerika Serikat yang kaya-raya.
> Indonesia juga demikian. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) harus
> "mengemis" dan menurunkan sampai $1 juta dollar dengan memberikan
> fasilitas-fasilitas untuk menarik investor asing. Untuk Mahakam investasi
> yang diperlukan mencapai ratusan juta dollar.
>
> Sandainya extension dimenangkan TOTAL,ini merupakan investasi baru yang
> diperlukan Indonesia. Pendapatan Negara terjamin dengan adanya CRL. Risiko
> Negara kecil dengan diterapkan CRL. Sedangkan Pertamina bisa mengembangkan
> wilayah kerjanya yang terbesar di Indonesia dan memerlukan modal cukup
> banyak.
>
> Kalau Pertamina yang menang, semua keuntungan masuk Pertamina dan Negara.
> Tidak ada yang keluar Negeri. Namun konsekwensinya, Negara menanggung semua
> risiko jika terjadi kerugian apapun penyebabnya. Selain itu, Indonesia akan
> kehilangan investasi asing yang ratusan juta dollar.
>
> Kita tinggal pilih mana yang terbaik bagi Negara. Dengan diterapkan CRL,
> pendapatan Negara dapat dipastikan besarnya dan tidak bisa keliru.
>
> Maaf kalau ada hal-hal yang tidak berkenan.
>
> HL Ong
>
>
>
>
> -----Original Message-----
> From:  <mailto:[email protected]> [email protected] [mailto:
> <mailto:[email protected]> [email protected]]
> Sent: Thursday, September 13, 2012 8:49 PM
> To:  <mailto:[email protected]> [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi
> Pertamina Cuma Nomor 3
>
> Isu perpanjangan kontrak ini memang sering menjadi isu hangat , masalah ini
> sebetulnya masalaha B to B tapi karena menyangkit B yg besar bukan Hil yg
> mustahal juga  membawa G to G juga, dalam kontrak memang tdk diatur , tapi
> karena ada "pintunya" di UU yg membolehkan K3S memperpanjang Kontraknya ,
> makanya dicarilah berbagai alasan alasan ( subyektif maupun subyektifnya
> )kalau memang daerah tsb msh menguntungkan untuk diperpanjang.
> Pertanyaannya apakah dihilangkan saja "pintunya" tsb sekalian ( Kontrak
> ditegaskan kalau tidak bisa diperpanjang ) Dalam berita dari ESDM beberapa
> waktu dibawah ini apa juga dibahas ttg Perpanjangan Kontrak ya ,
> .....wallahualam.....
>
>
> KUNJUNGAN KERJA MENTERI ESDM KE PERANCIS DAN INGGRIS
> 23-27 JULI 2012
>
> Menteri ESDM Jero Wacik didampingi Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita H.
> Legowo, Deputi Operasi BP Migas, dan beberapa Staf Khusus Menteri ESDM
> melakukan kunjungan kerja ke Perancis dan Inggris dalam rangka pertemuan
> bilateral peningkatan kerjasama bidang energi dan sumber daya mineral
> dengan
> Pemerintah Perancis dan Inggris, tanggal 23 s.d. 27 Juli 2012.Menteri ESDM
> dan rombongan bertolak dari Jakarta 22 Juli 2012 dan telah bertemu dengan
> Menteri Perdagangan Luar Negeri Perancis Mrs. Nicole Bricq di Paris hari
> Senin (23/7/2012).
> Dalam pertemuan tersebut dibahas usaha peningkatan kerjasama bilateral
> dalam
> bidang energi dan mineral, termasuk peran perusahaan yang berasal dari
> Perancis; diantaranya TOTAL yang mengoperasikan Blok Mahakam Kalimantan
> Timur, serta ERAMET perusahaan nickel yang akan membangun smelter nickel di
> Halmahera dengan rencana investasi lebih dari 5 Milyar EURO.Selanjutnya,
> Menteri ESDM Jero Wacik bertemu dengan President TOTAL Upstream, Yves-Louis
> Darricarrere di Paris, Selasa
> (24/7/2012) untuk membahas kegiatan investasi TOTAL di masa mendatang, dan
> mengadakan pertemuan bilateral dengan Minister of Ecology, Sustainable
> Development and Energy, Mrs. Delphine Batho pada Rabu (25/7/2012).Dalam
> pertemuannya dengan ERAMET, Presiden ERAMET menyampaikan apresiasi dan
> salut
> dengan pertumbuhan ekonomi dan memperkirakan dalam waktu dekat Indonesia
> akan tumbuh menjadi salah satu Negara terkuat di dunia. Hal ini memberikan
> keyakinan kepada mereka untuk berinvestasi di Indonesia. Hal senada juga
> diungkapkan Presiden TOTAL Upstream mengenai keyakinan mereka dalam
> berinvestasi di Indonesia. Keyakinan ini yang mendorong TOTAL juga terus
> berinvestasi di blok-blok baru di Indonesia. Sebagaimana diketahui TOTAL
>
> saat ini melakukan eksplorasi di 24 blok lain di Indonesia, di luar blok
>
> Mahakam.
> Menteri ESDM dan rombongan meninggalkan Perancis pada Rabu siang.
> Dijadwalkan pada hari Kamis dan Jumat Menteri ESDM dan rombongan akan
> bertemu dengan Minister of State at the Foreign and Commonwealth Office,
> Rt.
> Hon. Lord David Howell dan beberapa investor migas asal Inggris.
> Berturut-turut Menteri ESDM akan bertemu CEO British Petroleum (BP)
> membicarakan rencana pengembangan Train-3 Lapangan Tangguh di Papua, serta
> bertemu pihak Premiere Oil dan Shell untuk membahas rencana investasi ke
> depan di Indonesia.
> ism
>
>
>
>> Coba baca di Pikiran Rakyat hari ini, tentang analisis di halama 2
>> Politik tulisan dari YHerman Ibrahim, dgn judul "Intensitas Perang
>> 'neocortex' di Indonesia semakin tinggi".
>>
>  Perang kemerdekaan kita dikalahkan melalui KMB, yang
>> mengubah penjajahan fisik memjadi penjajahan politik ekonomi dan
>> psikologis. Termasuk jebakan utang, ketyergantungan sistem keuangan
>> dan moneter IMF dan Bank Dunia.
>  Lah buka sajalah sendiri di PR.
>> Lihat perang aceh bermuara di Helsinki, dll termasuk teror
>> anak2.   pupuk bawang yang tiba2 punya bahan bom, senjata
>> dll, yAng tidak jelas asalnya dan dgn mudah dijelaskan oleh
>> pemerintah.
>  Silakan buka saja PR di media elektronik.
>> Salam.
>
>> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
>>
>> -----Original Message-----
>> From:  <mailto:[email protected]> [email protected]
>> Date: Thu, 13 Sep 2012 08:14:29
>> To: < <mailto:[email protected]> [email protected]>
>> Reply-To: < <mailto:[email protected]> [email protected]>
>
>> Subject: Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi
>> Pertamina Cuma Nomor 3
>  Hampir-hampir saya tidak
>> percaya kalau kalimat-kalimat yg diberitakan detikcom ini berasal dari
>> RRR yg pernah saya kenal baik sbg dosen dan konsultan pemboran/migas
>> yg nasionalis, merah putih dan sangat percaya dg kekuatan
>> intelektualitas dan professionalisme bgs sendiri sebelum dia masuk
>> BPMigas kemudian akhirnya jadi WaMen ESDM.
>>
>> Sangat terlihat bagaimana tendensiusnya pejabat kita dg berbagai
>> pernyataan untuk mendelegitimasi usaha-usaha Pertamina mendapatkan
>> blok-blok migas produksi yang dikuasai MNC yg memang sudah akan habis
>> masa kontraknya yg memang Pertamina sendiri dibenarkan secara UU dan
>> PP untuk mendapatkan dan mengelolanya dari pemerintah, spt halnya Blok
>> Mahakam ini.
>>
>> Pernyataan2 yg meragukan apakah Pertamina mampu mengoperasikan
>> lapangan migas sebesar lapangan2 di blok Mahakam sambil melemparkan
>> kenyataan bhw Pertamina belum memaksimalkan operasi di 47%
>> penguasaan-nya atas lapangan migas Indonesia benar-benar terasa
>> sebagai pernyataan politis meskipun kelihatan agak teknis krn
>> dibungkus angka-angka. Karena pada dasarnya hanya statistik pilihan yg
>> cocok dg keinginan saja yg dimunculkan. Sementara itu statistik ttg
>> bgmn Pertamina berhasil meningkatkan efisiensi operasi dan produksi di
>> ONWJ dan di WMO stlah mrk ambil alih dari MNC bbrp tahun lalu, dan
>> juga di blok2 yg bersebelahan dg blok Cepu yg dioperasikan MNC,
>> kesemuanya ditutupi dan tdk dihighlight. Benar-benar tidak fair dan
>> sangat politis.
>>
>> Juga pentungan2 klasik u/menakut-nakut-i spt teknologi dan biaya
>> tinggi lagi2 diungkapkan di media untuk menjustifikasi bhw pemerintah
>> lebih suka Total yg mengoperasikan Blok Mahakam. Benar-benar
>> menggelikan dan sangat mencolok keberpihakan yg sdh diatur dr atasnya
>> sana ini. Kita semua di industri migas tahu: teknologi bisa dibeli,
>> biaya tinggi bisa dipinjam dan dinegosiasi, selama kita punya asset yg
>> bisa dijaminkan dan manajemen professional yg bisa diandalkan, itu
>> semua tidak akan pernah jadi masalah dlm operasi migas segede apapun
>> dia punya dimensi. Sedih. Bener2 sedih.
>>
>> Yang lebih parah adlh pernyataan ttg: "... apakah Total mau beri
>> data-data teknis di blok tersebut yang puluhan tahun dikerjakannya?
>> Tentu tidak. Artinya akan mulai dari awal lagi". Seolah-olah yg bicara
>> tdk mengerti sistim PSC di Indonesia dan tdk memahami UU Migas (baik
>> yg lama maupun yg
>> baru) yg menyatakan bhw semua data migas milik negara!!!!
>> Bukan milik Total! Parah. Bener2 parah.
>>
>> Mau dikemanakan migas, mineral, dan energi Indonesia kita ini kalau
>> pejabat2 kita sdh bicara aneh2 kayak begini.
>>
>> Atau malah kita perlu bersikap sebaliknya: kasihan ya, Rudi!!!?
>>
>> Salam
>> ADB
>> Geologist Merdeka
>> (Suka dan bangga krn Total telah lebih dr 40th ikut membangun
>> Indonesia, tapi lebih suka lagi kalau asset yg sdh mrk kuasai sekian
>> lamanya dikuasai dan dioperasikan oleh entitas bangsa sendiri!!!!)
>  Powered by Telkomsel
>
>> BlackBerryR
>
>>
>> -----Original Message-----
>> From: < <mailto:[email protected]> [email protected]>
>> Date: Thu, 13 Sep 2012 13:11:26
>> To: < <mailto:[email protected]> [email protected]>
>> Reply-To: < <mailto:[email protected]> [email protected]>
>> Subject: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi
>> Pertamina Cuma Nomor 3
>  Kuasai 47% Ladang Minyak
>> RI, Tapi Produksi Pertamina Cuma Nomor 3
>  Rista Rama Dhany -
>> detikfinance
>> Kamis, 13/09/2012 12:52 WIB
>> Jakarta - Pemerintah mengharapkan PT Pertamina (Persero) bisa lebih
>> memaksimalkan ladang minyak yang dimilikinya saat ini.
>> Karena, 47% ladang minyak dan gas di Indonesia dikuasai Pertamina,
>> namun produksi migasnya hanya menduduki posisi nomor 3.
>> "Pertamina itu menguasai 47% ladang minyak di wilayah kerja migas
>> seluruh Indonesia. Tetapi produksinya malah masih nomor 3 dibanding
>> perusahaan minyak yang lain di Indonesia," kata Rudi di Kantor
>> Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/9/2012).
>> Menurut Rudi, Pertamina tidak perlu terlalu bernafsu untuk menguasai
>> lapangan-lapangan minyak dan gas milik perusahaan asing yang
>> kontraknya segera habis, seperti Blok Mahakam.
>> Dikatakan Rudi, Blok Mahakam saat ini dikuasai oleh perusahaan asal
>> Prancis Total Indonesie yang kontraknya akan habis 2018.
>> Pertamina memang mengincar lapangan migas ini.
>> "Maksimalkan ada yang dimiliki saat ini, tingkatkan produksinya,
>> tingkatkan SDM dan teknologinya," kata Rudi.
>> Memang, kata Rudi, secara nasionalisme, Pertamina perlu didukung untuk
>> menjadi perusahaan minyak milik negara.
>> Namun
>> apabila Pertamina menguasai seluruh ladang minyak di Indonesia dan
>> menyuruh perusahaan asing pergi, Rudi menyangsikan Pertamina mampu
>> menggarap semuanya.
>> "Kita tetap perlu asing untuk memproduksi minyak di Indonesia.
>> Contoh misal mau menguasasi Blok Mahakam, apakah Pertamina mampu
>> memproduksi minyak dan gas sebesar yang dilakukan Total?
>> Sulit, karena memerlukan teknologi dan biaya yang tidak sedikit, dan
>> apakah Total mau beri data-data teknis di blok tersebut yang puluhan
>> tahun dikerjakannya? Tentu tidak.
>> Artinya
>> akan mulai dari awal lagi," ujar Rudi.
>> Untuk itu, Rudi meminta kepada Pertamina untuk memaksimalkan produksi
>> yang ada tersebar di seluruh Indonesia.
>> "Maksimalkan
>> apa yang ada dulu. Karena untuk produksi minyak saja saat ini
>> Pertamina EP hanya ada di urutan ketiga, di mana produksi migas pada
>> 2013 ditarget hanya sekitar 132,3 ribu barel setara minyak per hari,
>> kalah dibandingkan Total dan Chevron yang hanya memiliki 2 wilayah
>> kerja saja," tegas Rudi.
>> Seperti diketahui, untuk estimasi lifting migas di 2013, Total E&P
>> Indonesie dengan wilayah kerja Mahakam dan Tengah menjadi produsen
>> terbesar dengan produksi 382,2 ribu barel setara minyak per hari. Lalu
>> Chevron Pacific Indonesia di wilayah kerja Rokan dan Siak dengan
>> estimasi produksi migas 335 ribu barel setara minyak per hari, dan
>> Pertamina EP dengan wilayah kerja seluruh Indonesia estimasi produksi
>> migas sebesar
>> 290,3
>> ribu barel setara minyak per hari.
>>
>>
>>
>>
>> ___________________________________________________________
>> indomail - Your everyday mail -  <http://indomail.indo.net.id>
> http://indomail.indo.net.id
>>
>>
>>
>>
> ----------------------------------------------------------------------------
>
> ----> PP-IAGI 2011-2014:
>
>> Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at] <http://gmail.com>
> gmail.com
>> Sekjen: Senoaji, ajiseno[at] <http://ymail.com> ymail.com
>>
> ----------------------------------------------------------------------------
>
> ----> Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20
>
>> September 2012.
>  REGISTER NOW !
>> Contact Person:
>> Email :  <mailto:[email protected]> [email protected]
>> Phone :  <tel:%2B62%2082223%20222341> +62 82223 222341 (lisa)
>>
> ----------------------------------------------------------------------------
>
> ----> To unsubscribe, send email to:
>
>> iagi-net-unsubscribe[at] <http://iagi.or.id> iagi.or.id
>  To subscribe, send email
>> to: iagi-net-subscribe[at] <http://iagi.or.id> iagi.or.id
>> For topics not directly related to Geology, users are advised to post
>> the email to:  <mailto:[email protected]> [email protected]
>  Visit IAGI
>> Website:  <http://iagi.or.id> http://iagi.or.id
>> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> No. Rek: 123 0085005314
>> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara
>> Mulia No. Rekening: 255-1088580
>> A/n: Shinta Damayanti
>> IAGI-net Archive 1:
>>  <http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/>
> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
>  IAGI-net
>> Archive 2:  <http://groups.yahoo.com/group/iagi>
> http://groups.yahoo.com/group/iagi
>> --------------------------------------------------------------------->
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
>> information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or
>> others. In no event shall IAGI or its members be liable for any,
>> including but not limited to direct or indirect damages, or damages of
>> any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits,
>> arising out of or in connection with the use of any information posted
>> on IAGI mailing list.
>> --------------------------------------------------------------------->
>
>
>
> ___________________________________________________________
> indomail - Your everyday mail -  <http://indomail.indo.net.id>
> http://indomail.indo.net.id
>
>
>
> ----------------------------------------------------------------------------
> ----
> PP-IAGI 2011-2014:
> Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at] <http://gmail.com> gmail.com
> Sekjen: Senoaji, ajiseno[at] <http://ymail.com> ymail.com
> ----------------------------------------------------------------------------
> ----
> Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
> REGISTER NOW !
> Contact Person:
> Email :  <mailto:[email protected]> [email protected]
> Phone :  <tel:%2B62%2082223%20222341> +62 82223 222341 (lisa)
> ----------------------------------------------------------------------------
> ----
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at] <http://iagi.or.id>
> iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at] <http://iagi.or.id>
> iagi.or.id For topics not
> directly related to Geology, users are advised to post the email to:
>  <mailto:[email protected]> [email protected] Visit IAGI Website:
> <http://iagi.or.id> http://iagi.or.id Pembayaran iuran
> anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1:
> <http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/%0AIAGI-net>
> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2:  <http://groups.yahoo.com/group/iagi>
> http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted
> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall
> IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct
> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss
> of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of
> any
> information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
> ----------------------------------------------------------------------------
> ----
> PP-IAGI 2011-2014:
> Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at] <http://gmail.com> gmail.com
> Sekjen: Senoaji, ajiseno[at] <http://ymail.com> ymail.com
> ----------------------------------------------------------------------------
> ----
> Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
> REGISTER NOW !
> Contact Person:
> Email :  <mailto:[email protected]> [email protected]
> Phone :  <tel:%2B62%2082223%20222341> +62 82223 222341 (lisa)
> ----------------------------------------------------------------------------
> ----
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at] <http://iagi.or.id>
> iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at] <http://iagi.or.id>
> iagi.or.id
> For topics not directly related to Geology, users are advised to post the
> email to:  <mailto:[email protected]> [email protected]
> Visit IAGI Website:  <http://iagi.or.id> http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1:
> <http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/%0AIAGI-net>
> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2:  <http://groups.yahoo.com/group/iagi>
> http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted
> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall
> IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct
> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss
> of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of
> any
> information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
>
>
> ----------------------------------------------------------------------------
> ----
> PP-IAGI 2011-2014:
> Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
> Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
> ----------------------------------------------------------------------------
> ----
> Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
> REGISTER NOW !
> Contact Person:
> Email : [email protected]
> Phone : +62 82223 222341 <tel:%2B62%2082223%20222341>  (lisa)
> ----------------------------------------------------------------------------
> ----
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> For topics not directly related to Geology, users are advised to post the
> email to: [email protected]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> <http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/IAGI-net>
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted
> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall
> IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct
> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss
> of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of
> any
> information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
>
>
> --
> "Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"
>
>
>

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2011-2014:
Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
--------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
REGISTER NOW !
Contact Person:
Email : [email protected]
Phone : +62 82223 222341 (lisa)
--------------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke