Pak Ong Yth,

Terima kasih atas pencerahannya, teoritis sangat bagus apa yang dikemukakan
Pak Ong, kalau kita berpikir "Indonesia First", bukan hanya Pendapatan
Negara saja, tetapi termasuk melindungi Bangsanya, melindungi Sumberdaya
alamnya (Tanah Airnya), mencerdaskan Bangsanya (Termasuk dalam mengelola
lapangan Migas raksasa). Kalau konsep yang dipaparkan Pak Ong itu
diterapkan di Blok Mahakam, maka kita kalah jauh dengan Negara seperti
Angola dalam melindungi Sonangol untuk mendidik mencerdaskan Bangsa Angola
berkiprah dalam Industri Perminyakan. Pengalaman Pertamina mengikuti tender
(farm in) salah satu lapangan offshore di Angola yang dioperasikan oleh BP,
lapangan ini dalam development phase dengan cadangan yang menarik, partner
BP berniat dispose  sebagian interest share-nya, proses farm-out ini
dilaksanakan melalui tender. Pertamina mengikuti tender ini, ternyata
penawaran Pertamina paling menarik (paling tinggi dibanding competitornya).
Apa yang terjadi setelah operator (BP) menyampaikan rekomendasi mitranya
kepada Pemerintah Angola untuk memenangkan Pertamina, ternyata Pemerintah
Angola memberikan "Right to Match" kepada Sonangol, dan Sonangol
mengeksekusi dengan me-match tawaran Pertamina dalam bidding tersebut,
finally Sonangol yang diputuskan farm-in di lapangan tersebut. Padahal
Pertamina sudah menyiapkan dana untuk keperluan tersebut. Alangkah indahnya
keputusan tersebut bagi Bangsa Angola, karena jelas sudah ada huge
discovery dan sedang dikembangkan. Apa kita tidak bisa melakukan seperti
Angola yang konon sosial-ekonominya lebih dibelakang Indonesia posisinya.
Apa yang dilakukan oleh Angola dalam memproteksi sumberdaya alamnya juga
dilakukan oleh negara maju seperti Norwegia. Kebetulan saya pernah belajar
"Petroleum Policy and Administration" di Stavanger, Norwegia. Norwegia
adalah Negara berfaham Sosialis dengan Sistem Kerajaan, maka prinsip
liberal penerapannya paling buntut. MAAF KONSEP YANG DISAMPAIKAN PAK ONG
TERSEBUT CONDONG KE NEOLIBERAL PADAHAL DASAR NEGARA KITA BUKAN NEGARA
LIBERAL. Dalam sistim perminyakan Norwegia menggunakan "Tax and Royalty",
operatorshipnya menggunakan sistim join operatorship dan ada periode
transfer of operatorship. Norwegia tidak ingin hanya memetik Tax and
Royalty saja tetapi ingin menguasai Dan mendapatkan keuntungan yang besar
dari cadangan minyaknya. Caranya ? Disamping MEMPERKUAT STATOIL, NEGARA
MELALUI ANGGARANNYA JUGA MELAKUKAN INVESTASI YANG DISEBUT SDFI (STATE
DIRECT FINANCIAL INVESTMENT). MENTERI KEUANGAN NORWAY YANG MEMBERIKAN
KULIAH WAKTU ITU MENGATAKAN "PRINSIPNYA KEUNTUNGAN KEKAYAAN ALAM NORWAY
TERMASUK MINYAK BUMI TIDAK BOLEH DIBAWA LARI PIHAK ASING KE LUAR NORWAY,
KARENA ITU PERUSAHAAN NORWAY DAN INVESTASI NEGARA HARUS MENGUASAI SEBAGAIAN
BESAR LAPANGAN-LAPANGAN MINYAK YANG CADANGANNYA BAGUS. Sebagai Contoh
Lapangan Troll yang konon kabarnya produksi gas-nya bisa memenuhi separuh
kebutuhan Eropa Barat dan Utara selama 50 tahun, 76% dari kepemilikan
lapangan oleh Pemerintah Norway diberikan kepada Statoil dan SDFI, sisanya
yang 24% dimenangkan oleh Shell melalui tender.
Kembali ke Blok Mahakam, cara Angola dalam memproteksi sumberdaya migasnya
Dan membesarkan Sonangol bisa diakomodasi. Untuk Blok Mahakam setelah 2017
sepenuhnya menjadi hak Pemerintah, tenderkan saja Blok Mahakam dengan
Pertamina diberikan "Right to Match", saya koq punya keyakinan Pertamina
mampu melakukan "MATCHING" terhadap penawar tertinggi. Masak kita kalah
Sama Angola dalam berprinsip "Angola First", begitu juga Norwy dalam
mengimplementasikan "Norway First". Apakah kita mau berbeda dalam
menerapkan prinsip "INDONESIA FIRST".....?
Maaf Pak Ong, kalau saya punya pendapat yang berbeda. Sedikitpun saya tidak
bermaksud menggurui terutama dalam "INDONESIA FIRST".


Salam Hormat,
A. Luthfi

On Friday, October 19, 2012, Ong Han Ling <[email protected]> wrote:
> Pak Luthfi,
>
>
>
> Teman-teman IAGI harap jangan keliru, saya setuju extension Mahakam
diberikan kepada Pertamina. Saya juga tidak bisa lupakan jasa-jasa
Pertamina. Perusahaan dimana saya bekerja sebelumnya, PT Geoservices,
didirikan tahun 1971, bersama Durban Ardjo, dosen Tambang ITB, yang
sekarang menjadi Pres.Dir., dibesarkan oleh Pertamina. Siapa sih yang tidak
bangga kalau Pertamina bisa seperti Petronas, Petrobras, Pemex, SVPD,
StatOil, dsb.
>
>
>
> Tapi seperti yang pernah ditanyakan Pak Rovicky dan telah saya terangkan,
kita jangan berikan “at any price”. Kita jangan berikan blank cek. Harus
ada rambu-rambu. Prinsipnya Negara harus dapat keuntungan sebesar-besarnya.
Untuk ini kita perlu melakukan tender. Evaluasi tender berdasarkan NPV,
yang diterima Negara. Supaya risiko yang ditanggung negara kecil, kita
masukkan konsep cost recovery limit yang menjadi ciri khas suatu PSC.
Selain itu, Pertamina diberi preference, umpama 10%. Jadi Kalau Total waktu
tender memasukan NPV bagi Negara 100 dan Pertamina 90, maka blok diberikan
kepada Pertamina. Kalau Pertamina cuma memberikan NPV 85, ya diberikan ke
Total.  Preference 10% diberikan untuk hal-hal yang tidak bisa diukur,
seperti nasionalism dan Indonesian content. Atau kalau merasa kurang,
preference bisa dinaikkan menjadi 20%. Tapi jangan “Pokoknya Pertamina”,
nanti kalau bid Pertamina cuma 10% dari bid Total bagaimana?
>
>
>
> Prinisip business jangan diabaikan. Jangan diberikan ke Pertamina sebagai
hadiah. Harus ada kompetisi. Karena ada kompetisi, kemungkinan Pertamina
memasukkan tender dengan NPV 150 bagi Negara mengalahkan Total (100) dengan
telak. Dengan sistim tender, Pertamina committed untuk memberikan ke
Pemerintah 150. Demikian juga bagi Total. Karena tender, Total akan
memasukan the best price kalau ingin tetap di Indonesia. Alhasil,
Pemerintah yang diuntungkan.
>
>
>
> Salam sejahtera Pak Luthfi.
>
>
>
> HL Ong
>
>
>
> From: Achmad Luthfi [mailto:[email protected]]
> Sent: Thursday, October 18, 2012 8:57 AM
> To: [email protected]
> Subject: RE: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725
Million
>
>
>
> Pak Ong dan teman-teman IAGi,
>
> Memang sebaiknya kita suspend dulu Bravo untuk Pertamina. Seperti telah
dipaparkan Pak Ong, bahwa Pertamina telah bermain di arena high risk dalam
ekspansi upstream (unorganic strategy/Pertamina term), dan berbagai
kegagalan-kegagalan telah dipaparkan Pak Ong juga. Kalau kita solid sebagai
bangsa dalam bernegara tentu tidak menginginkan BUMN seperti Pertamina
mengalami kegagalan beruntun dimasa datang, karena itu minta Blok Mahakam
bagi Pertamina adalah suatu yang mutlak perlu didukung oleh semua komponen
anak Bangsa. Mengapa ada komponen anak Bangsa lebih pro TOTAL mendapat
perpanjangan di Blok Mahakam ? Kurang peduli terhadap keinginan Pertamina
untuk mengelola Blok Mahakam, ini sama dengan membiarkan kekayaan alam kita
dirampok oleh Perusahaan Asing, sementara Kita membiarkan Pertamina
berkelana ke penjuru Buana menanam investasinya di High Risk Arena,
kemungkinan gagal lebih besar. Bisa dibayangkan bagaimana bodohnya kita
sebagai Bangsa dalam bernegara; Uang jutaan dollar Amrik milik Bangsa
sendiri kita lempar ke luar negeri yang kemungkinan total lost cukup besar,
sementara keuntungan yang besar mungkin milyaran dollar Amrik kita biarkan
dikeruk Perusahaan Asing seperti TOTAL, kita mengalami dua kali kerugian
yang significant bahkan lebih.
> Pertamina punya dana besar, setelah minta Blok Mahakam sejak 2008 belum
dapat kepastian maka dana yang ada di Pertamina sebagai perusahaan dinilai
perlu diinvestasikan, akhirnya investasi jatuh ke Venezuela sementara
Pertamina juga hunting ke Kazastan sambil tetap berharap mendapat Mahakam.
Disadari dengan harga minyak yang tinggi tidak mudah untuk dapat membeli
lapangan dengan cadangan dan produksi yang besar.
> Memang susah dimengerti apa maunya sebagian kalangan bangsa kita, Blok
Mahakam dengan keuntungan dipelupuk mata tak tampak tetapi kerugian
investasi d lautan dibiarkan.
> HAYOOOO BANGUN BANGSAKU, WUJUDKAN LAGU CIPTAAN KOESBINI....... BAGIMU
NEGERI JIWA RAGA KAMI....
>>
>>
>> 2012/10/17 Ong Han Ling <[email protected]>
>>
>> Pak Yanto dan teman-teman IAGI yang “pokoknya Pertamina”,
>>
>>
>>
>> Saya melihat tiga alasan mengapa teman-teman di IAGI memberikan “bravo”
kepada Pertamina dalam pembelian 38% dari saham Petrodelta SA, perusahaan
E&P, Venezuela. Karena (1) keberaniannya, (2) punya cash $725 juta, atau
(3) mengharapkan keuntungan besar dari pembelian ini?
>>
>>
>>
>> Buat apa kita bangga kalau nantinya rugi. Jadi yang kita harapkan adalah
keuntungan besar. Perusahaan yang menjual ke Pertamina, HNR Energia BV,
adalah perusahaan swasta Belanda. Pasti dia jual kepada penawar yang
tertinggi, mungkin saja lewat bidding. Dia jual dengan harga tsb. karena
dia anggap ini menguntungkan baginya daripada kalau dia tahan. Dia juga
punya alasan kuat kenapa mau dijual. Mungkin karena politik Chavez atau
mungkin dia jenuh menghadapi peraturan di Venezuela, dll. Kebetulan
perusahaan yang dipilih atau menang adalah Pertamina karena memberikan
harga tertinggi. Mungkin juga HNR Energia BV adalah perusahaan TBK Belanda
dan menjual di pasar stock exchange hingga semua orang bisa saja beli
sahamnya; atau beli saham dari induknya, Harvest International Inc. Artinya
beli saham bukan suatu “big deal”. Semua orang bisa. Yang pernah beli saham
mengetahui bahwa harga saham seperti yo-yo, bisa naik dan bisa turun.
>>
>>
>>
>> Dua contoh “kegagalan” yang terjadi baru-baru ini. Pertamina
memberanikan diri bor dilaut dalam. Pertamina dengan partner StatOil ikut
konsortium pemboran. Biaya bor diperkirakan sekitar $20-25 juta. Waktu
gilirannya setelah dua tahun, biaya pemboran naik 3-4 kali. Padahal
pemboran sekitarnya oleh perusahaan IOC semuanya gagal, tetapi Pertamina
somehow tidak bisa mundur. Hasilnya negatif. Contoh  lain, tender di Papua,
Pertamina berpartner dengan Shell dikalahkan. Protes ke ESDM, ditolak.
Pemenang tender telah mengebor 10 well dan menghabiskan sekitar $70 juta.
Hasil negatif. Pertamina lucky, padahal tadinya ngotot.  Memang eksplorasi
jauh lebih tinggi risikonya dibandingkan Petrodelta yang melakukan
explorasi dan produksi. Namun prinsipnya sama, pemenang tender blok migas
belum bisa kita banggakan, belum tentu untung, kemungkinan untuk rugi
besar. Memang kalau untung besar sekali.
>>
>>
>>
>> Jadi belum waktunya kita bilang “Bravo” kepada Pertamina. Hanya “waktu”
bisa ceritera apakah pembelian ini  menguntungkan atau merugikan. Kalau
sekarang ingin memberikan “bravo” kepada Pertamina, sebaiknya dibatasi
karena keberanianya dan karena punya cash; bukan karena keberhasilannya
untuk mendapatkan keuntungan bagi Negara.
>>
>>
>>
>> Maaf kalau pendapat saya berlainan dengan kebanyakan anggota IAGI.
>>
>>
>>
>> Salam,
>>
>>

Kirim email ke