Apakah Pak Wamen ini pernah mempertanyakan kenapa pengelola Blok Cepu tidak menjalankan komitmennya memproduksi minyak 150 ribu bopd sejak tahun 2009 ya? Bukankah "kasihan anak cucu kita tidak bisa menikmati pengelolaan sumber daya alamnya", meminjam kalimat Wamen.
Ketika Pertamina dipaksa meningkatkan produksi dari lapangan2nya, kenapa KKKS lain tidak diperlakukan sama? Bahkan yang tidak menjalankan komitmen saja dibiarin. Bagaimana mungkin bangsa ini mencapai kedaulatan energy kalau aparat negeri ini melempem atas nama menjaga minat investor berinvestasi di Indonesia "demi anak cucu"? Ok lah bangsa ini butuh investor tapi awasi dan tagih komitmennya dong. Kita butuh minyak sekarang. Menyangkut Blok Mahakam, menurut hemat saya sebaiknya tidak perlu membawa-bawa Pertamina karena kelemahan Pertamina yang akan terus dicari-cari akan digunakan oleh para antek neolib untuk tidak mengembalikan Blok Mahakam kepada Negara selepas 2017 nanti. Sebaiknya diskusinya dibatasi saja, pasca 2017 apakah Blok Mahakam akan dikembalikan kepada negara sesuai termin kontrak atau para pemegang otoritas ini akan kembali menyerahkan/mengadainya kepada asing? Salam ku pada Ibu Pertiwi, MJP Sent from Yahoo! Mail on Android From: [email protected] <[email protected]>; To: <[email protected]>; Subject: Re: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 Million Sent: Fri, Oct 19, 2012 1:23:36 PM Pak Ong Ysh. Mengenai Blok Mahakam setelah berakhir masa kontraknya 2017 menurut saya tidak usahlah ditenderkan segala, karena kita tahu disamping resiko rendah, cadangan migasnyapun masih besar. Langsung sajalah diberikan ke PMN (NOC), dalam hal ini tidak ada ketentuan kontrak yg dilanggar. Sudah seharusnya pemerintah berpihak kepada BUMNnya, akan aneh kalau pemerintah membela kepentingan perusahaan migas asing. Kalau negara berprinsip mencari keuntungan sebesar-besarnya, janganlah dilihat dari keuntungan finansial belaka, tapi harus dilihat faktor lainnya seperti dari segi kemandirian/kedaulatan energi. Walaupun keuntungan yg akan dijanjikan tidak sebesar yg ditawarkan oleh perusahaan migas asing, tapikan dikelola oleh bangsa sendiri Disamping itu seandainya ditenderkan dan TEPI keluar sebagai pemenang karena penawaran yg sangat besar, tapi apa jaminannya kalau komitmennya tidak tercapai, apakah bisa atau berani pemerintah memutus kontraknya? Pengalaman membuktikan pemerintah ternyata tidak berani, seperti halnya Blok Cepu yg dikelola oleh Mobil Oil yg menjanjikan produksi minyak 150 MBOPD pada tahun 2009. Ini sudah 3 tahun berlalu apa action/tindakan pemerintah lewat BPMigas kepada Mobil Oil?. Ternyata pemerintah hanya berani keras thd bangsa sendiri, terhadap KA melempem Ma'af Pak Ong kita tidak sependapat Salam, MIK Salam, MIK Powered by Telkomsel BlackBerry® From: Ong Han Ling <[email protected]> Date: Fri, 19 Oct 2012 13:18:17 +0700 To: <[email protected]> ReplyTo: <[email protected]> Subject: RE: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 Million Pak Luthfi, Teman-teman IAGI harap jangan keliru, saya setuju extension Mahakam diberikan kepada Pertamina. Saya juga tidak bisa lupakan jasa-jasa Pertamina. Perusahaan dimana saya bekerja sebelumnya, PT Geoservices, didirikan tahun 1971, bersama Durban Ardjo, dosen Tambang ITB, yang sekarang menjadi Pres.Dir., dibesarkan oleh Pertamina. Siapa sih yang tidak bangga kalau Pertamina bisa seperti Petronas, Petrobras, Pemex, SVPD, StatOil, dsb. Tapi seperti yang pernah ditanyakan Pak Rovicky dan telah saya terangkan, kita jangan berikan “at any price”. Kita jangan berikan blank cek. Harus ada rambu-rambu. Prinsipnya Negara harus dapat keuntungan sebesar-besarnya. Untuk ini kita perlu melakukan tender. Evaluasi tender berdasarkan NPV, yang diterima Negara. Supaya risiko yang ditanggung negara kecil, kita masukkan konsep cost recovery limit yang menjadi ciri khas suatu PSC. Selain itu, Pertamina diberi preference, umpama 10%. Jadi Kalau Total waktu tender memasukan NPV bagi Negara 100 dan Pertamina 90, maka blok diberikan kepada Pertamina. Kalau Pertamina cuma memberikan NPV 85, ya diberikan ke Total. Preference 10% diberikan untuk hal-hal yang tidak bisa diukur, seperti nasionalism dan Indonesian content. Atau kalau merasa kurang, preference bisa dinaikkan menjadi 20%. Tapi jangan “Pokoknya Pertamina”, nanti kalau bid Pertamina cuma 10% dari bid Total bagaimana? Prinisip business jangan diabaikan. Jangan diberikan ke Pertamina sebagai hadiah. Harus ada kompetisi. Karena ada kompetisi, kemungkinan Pertamina memasukkan tender dengan NPV 150 bagi Negara mengalahkan Total (100) dengan telak. Dengan sistim tender, Pertamina committed untuk memberikan ke Pemerintah 150. Demikian juga bagi Total. Karena tender, Total akan memasukan the best price kalau ingin tetap di Indonesia. Alhasil, Pemerintah yang diuntungkan. Salam sejahtera Pak Luthfi. HL Ong From: Achmad Luthfi [mailto:[email protected]] Sent: Thursday, October 18, 2012 8:57 AM To: [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 Million Pak Ong dan teman-teman IAGi, Memang sebaiknya kita suspend dulu Bravo untuk Pertamina. Seperti telah dipaparkan Pak Ong, bahwa Pertamina telah bermain di arena high risk dalam ekspansi upstream (unorganic strategy/Pertamina term), dan berbagai kegagalan-kegagalan telah dipaparkan Pak Ong juga. Kalau kita solid sebagai bangsa dalam bernegara tentu tidak menginginkan BUMN seperti Pertamina mengalami kegagalan beruntun dimasa datang, karena itu minta Blok Mahakam bagi Pertamina adalah suatu yang mutlak perlu didukung oleh semua komponen anak Bangsa. Mengapa ada komponen anak Bangsa lebih pro TOTAL mendapat perpanjangan di Blok Mahakam ? Kurang peduli terhadap keinginan Pertamina untuk mengelola Blok Mahakam, ini sama dengan membiarkan kekayaan alam kita dirampok oleh Perusahaan Asing, sementara Kita membiarkan Pertamina berkelana ke penjuru Buana menanam investasinya di High Risk Arena, kemungkinan gagal lebih besar. Bisa dibayangkan bagaimana bodohnya kita sebagai Bangsa dalam bernegara; Uang jutaan dollar Amrik milik Bangsa sendiri kita lempar ke luar negeri yang kemungkinan total lost cukup besar, sementara keuntungan yang besar mungkin milyaran dollar Amrik kita biarkan dikeruk Perusahaan Asing seperti TOTAL, kita mengalami dua kali kerugian yang significant bahkan lebih. Pertamina punya dana besar, setelah minta Blok Mahakam sejak 2008 belum dapat kepastian maka dana yang ada di Pertamina sebagai perusahaan dinilai perlu diinvestasikan, akhirnya investasi jatuh ke Venezuela sementara Pertamina juga hunting ke Kazastan sambil tetap berharap mendapat Mahakam. Disadari dengan harga minyak yang tinggi tidak mudah untuk dapat membeli lapangan dengan cadangan dan produksi yang besar. Memang susah dimengerti apa maunya sebagian kalangan bangsa kita, Blok Mahakam dengan keuntungan dipelupuk mata tak tampak tetapi kerugian investasi d lautan dibiarkan. HAYOOOO BANGUN BANGSAKU, WUJUDKAN LAGU CIPTAAN KOESBINI....... BAGIMU NEGERI JIWA RAGA KAMI.... > > > 2012/10/17 Ong Han Ling <[email protected]> > > Pak Yanto dan teman-teman IAGI yang “pokoknya Pertamina”, > > > > Saya melihat tiga alasan mengapa teman-teman di IAGI memberikan “bravo” > kepada Pertamina dalam pembelian 38% dari saham Petrodelta SA, perusahaan > E&P, Venezuela. Karena (1) keberaniannya, (2) punya cash $725 juta, atau (3) > mengharapkan keuntungan besar dari pembelian ini? > > > > Buat apa kita bangga kalau nantinya rugi. Jadi yang kita harapkan adalah > keuntungan besar. Perusahaan yang menjual ke Pertamina, HNR Energia BV, > adalah perusahaan swasta Belanda. Pasti dia jual kepada penawar yang > tertinggi, mungkin saja lewat bidding. Dia jual dengan harga tsb. karena dia > anggap ini menguntungkan baginya daripada kalau dia tahan. Dia juga punya > alasan kuat kenapa mau dijual. Mungkin karena politik Chavez atau mungkin dia > jenuh menghadapi peraturan di Venezuela, dll. Kebetulan perusahaan yang > dipilih atau menang adalah Pertamina karena memberikan harga tertinggi. > Mungkin juga HNR Energia BV adalah perusahaan TBK Belanda dan menjual di > pasar stock exchange hingga semua orang bisa saja beli sahamnya; atau beli > saham dari induknya, Harvest International Inc. Artinya beli saham bukan > suatu “big deal”. Semua orang bisa. Yang pernah beli saham mengetahui bahwa > harga saham seperti yo-yo, bisa naik dan bisa turun. > > > > Dua contoh “kegagalan” yang terjadi baru-baru ini. Pertamina memberanikan > diri bor dilaut dalam. Pertamina dengan partner StatOil ikut konsortium > pemboran. Biaya bor diperkirakan sekitar $20-25 juta. Waktu gilirannya > setelah dua tahun, biaya pemboran naik 3-4 kali. Padahal pemboran sekitarnya > oleh perusahaan IOC semuanya gagal, tetapi Pertamina somehow tidak bisa > mundur. Hasilnya negatif. Contoh lain, tender di Papua, Pertamina berpartner > dengan Shell dikalahkan. Protes ke ESDM, ditolak. Pemenang tender telah > mengebor 10 well dan menghabiskan sekitar $70 juta. Hasil negatif. Pertamina > lucky, padahal tadinya ngotot. Memang eksplorasi jauh lebih tinggi risikonya > dibandingkan Petrodelta yang melakukan explorasi dan produksi. Namun > prinsipnya sama, pemenang tender blok migas belum bisa kita banggakan, belum > tentu untung, kemungkinan untuk rugi besar. Memang kalau untung besar sekali. > > > > Jadi belum waktunya kita bilang “Bravo” kepada Pertamina. Hanya “waktu” bisa > ceritera apakah pembelian ini menguntungkan atau merugikan. Kalau sekarang > ingin memberikan “bravo” kepada Pertamina, sebaiknya dibatasi karena > keberanianya dan karena punya cash; bukan karena keberhasilannya untuk > mendapatkan keuntungan bagi Negara. > > > > Maaf kalau pendapat saya berlainan dengan kebanyakan anggota IAGI. > > > > Salam, > >

