sepertinya akan begitu terus keadaannya sejak zaman orba sampai sekarang, Pertamina menjalankan "idhul adha" setiap hari (jadi kurban) para penguasa, mengharapkan Pertamina maju seperti petronas misalnya jauh panggang dari api, kalau tidak diberi kebebasan management dan keuangan, selama masih di bawah kementrian BUMN dan keuangan nya diatur Depkeu tak kan mungkin Pertamina menjadi besar. Kasus Lawe2, Sumatra Selatan yg melibatkan oknum dari dalam dan aparat, polri/militer jelas menggambarkan mind set beberapa oknum terkait memandang Pertamina adalah ceruk pribadi yg bisa diambil/dimanfaatkan seenaknya, dari oknum internal sendiri juga bisa bermain, kita tak mengerti bagaimana blok2 tua bisa diambil alih dan dijalankan oleh pensionan pertamina melalui koperasi, seperti lapangan Kampoeng minyak, Muara Enim. Atau juga bagaimana keterlibatan para Pensionnya yang memiliki Rig kontraktor (pem backup/beking) dan mendapatkan projek di projek pertamina. Maka demikian pula para parpol penguasa. jaman Mega dulu, melalui kekuasaannya Tanker pertamina dilego murah, saat laksamana Sukardi menantang pengadilan agar Mega di mintai keterangan juga, maka perkara tersebut nyungsep di telan bumi dan tak kedengaran lagi sampai saat ini.
Dalam pengelolaan dana migas contoh dari negara tetangga kecil sebelah mungkin layak di contoh, kayaknya warga Timor-timur tentu sangat senang pisah dengan NKRI, pemerintah mereka mengambil kebijaksanaan hasil SDA migas mereka dengan membuat Dana Perminyakan Timor-Leste (Timor Leste Petroleumfond) yang mencontoh model Norwegia. Di dalamnya semua pendapatan perminyakan langsung didepositokan untuk jangka waktu 10 tahun di Federal Reserve Bank, Amerika Serikat, sebelum akhirnya ditransfer ke anggaran tahunan pemerintah Timor Leste. Penggunaan dana perminyakan mensyaratkan persetujuan dari parlamen yang diperuntukkan khusus untuk investasi pembangunan prasarana publik. Untuk mengantisipasi penghentian dana akibat batasan alamiah eksplorasi, sebagian besar dana perminyakan juga disimpan dalam bentuk saham risiko rendah. Hal ini diharapkan dapat menunjang anggaran negara Timor Leste setelah sumber alam migas habis.Juga termasuk di dalamnya penyertaan untuk dana pensiun seluruh warganya, tahukah anda bahwa semua warga timtim tanpa terkecuali mendapatkan pension?. Kalau pengelolaan seperti hal tersebut dilakukan, banyak keadilan yang bisa diperoleh, azas pemerataan seperti diamanatkan UUD5 jelas terlaksana, orang yg di sekitar blok mahakam dengan yang di papua bisa sama2 menikmati SA dari bumi pertiwi tersebut, demikian pula sebaliknya SDA migas di riau,aceh, sumsel, papua bisa dinikmati pula daera lain yang tak memiliki migas, dan pola tersebut bisa dikembangkan untuk SDA lainnya. Bagimana kebutuhan memenuhi migas DN?, 100% diandalkan saja dari pasokan import..toh negara ini juga sudah menjadi net oil importir country, gas alam milik sendiri juga harus di beli dengan harga pasar?..kan tk ada keuntungannya?. Malah merugi dengan melakukan subsidi. On Sat, Oct 27, 2012 at 8:58 AM, Kartiko Samodro <[email protected]>wrote: > Ternyata ibu Karen sendiri sudah menyampaikan kekuatiran yg sama yg pernah > saya sampaikan sebelumnya mengenai banyaknya intervensi di pertamina. > > > http://www.beritasatu.com/mobile/nasional/67278-marwan-batubara-pertamina-harus-tolak-intervensi-politik.html > > Ismail <[email protected]> wrote: > > >Menarik sekali Pak Ketum bahan bahanya, tapi sayang aku pamit mboten > saged rawuh masih diluar kota > > > > > >Sent by Liamsi's Mobile Phone > > > >-----Original Message----- > >From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> > >Date: Sat, 27 Oct 2012 07:29:34 > >To: [email protected]<[email protected]> > >Reply-To: <[email protected]> > >Subject: [iagi-net-l] Re: Harus siap kapanpun, belajar dari booming shale > gas. > > > > >-------------------------------------------------------------------------------- > >PP-IAGI 2011-2014: > >Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com > >Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com > > >-------------------------------------------------------------------------------- > >Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012. > >REGISTER NOW ! > >Contact Person: > >Email : [email protected] > >Phone : +62 82223 222341 (lisa) > > >-------------------------------------------------------------------------------- > >To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > >To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > >For topics not directly related to Geology, users are advised to post the > email to: [email protected] > >Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > >Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > >Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > >No. Rek: 123 0085005314 > >Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > >Bank BCA KCP. Manara Mulia > >No. Rekening: 255-1088580 > >A/n: Shinta Damayanti > >IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > >IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > >--------------------------------------------------------------------- > >DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event > shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to > direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting > from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the > use of any information posted on IAGI mailing list. > >--------------------------------------------------------------------- > -- Sent from my Computer®

