Ralat pak Vicky,
Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama antara Pengda IAGI Kaltim (pemrakarsa) 
dan Mahasiswa Geologi-Geofisika "G & G" FMIPA Universitas Mulawarman 
(pelaksana/yg punya impian geologi berdiri di Unmul).

Salam,
Ery Arifullah
Ketua Pengda IAGI Kaltim
NPA 2525

Sent from my iPad

On 30 Okt 2012, at 14:08, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> wrote:

> Masih Banyak Lapangan Raksasa, Kaltim Butuh Sekolah Geologi
> Catatan dari Kuliah Umum Geolog Andang Bahtiar di Unmul Samarinda
>  
> Kamis, 25 Oktober 2012 - 08:23:39
> |     
> Pro Kaltim
> |     
> Dibaca : 349 Kali
>  
> Banyak hal yang terlewatkan dan tak sempat menjadi perhatian publik dalam 
> urusan minyak dan gas bumi (migas) di Kaltim, bahkan Indonesia. Padahal, di 
> negara-negara raksasa dunia selalu hangat diperbincangkan.  Sejumlah pihak 
> berebut peran di sektor ini, tapi hanya sedikit yang mengerti tentang geologi 
> dan migas.
> 
> M Rifqi, Tenggarong
> 
> BENARKAH potensi migas di Indonesia sudah mulai menipis? Siapa yang 
> melontarkan isu tersebut? Jika benar, siapa sebenarnya yang sudah 
> menggerogoti migas di Indonesia? Sementara warganya tak juga kunjung 
> sejahtera. Pertanyaan tersebut dikupas Andang Bachtiar, mantan ketua Ikatan 
> Ahli Geologi Indonesia (IAGI) ketika berbicara dalam kuliah umum bertajuk 
> Geologi Perminyakan di Indonesia dan Kalimantan Timur, serta Pentingnya 
> Lembaga Pendidikan dan Riset Geologi di Indonesia, yang diadakan mahasiswa 
> Fakultas MIPA Jurusan Fisika Unmul, dua hari lalu.
>  
> Andang adalah putra Indonesia, yang kini menjadi geolog berkelas dunia. Gelar 
> itu ganjaran atas sejumlah prestasinya dalam riset serta temuannya dalam 
> dunia geologi di Indonesia. Andang memiliki pengalaman sekitar 30 tahun di 
> eksplorasi migas produksi di cekungan Indonesia.
> 
> Terutama sebagai seorang ahli geologi, ia bekerja langsung dengan sejumlah 
> jenis batuan yang menjadi petunjuk kondisi bawah permukaan bumi. Nama Andang 
> semakin mencuat, ketika geolog independen  itu sering disebut, sejak musibah 
> lumpur Lapindo pada 2006 lalu.
> 
> Menurutnya, ada berkah tersembunyi dalam musibah lumpur porong. Publik kini 
> menoleh kepada para geolog untuk menjelaskan semburan lumpur itu. Ia pun 
> menyebut ada gejala the awakening of geologists (kebangkitan para geolog). 
> Karena ilmu geologi menjadi dikenal luas. Padahal, menurutnya, potensi sumber 
> daya alam di sektor migas yang begitu besar di Indonesia, membuat negara 
> asing membuat sejumlah rekayasa agar ilmu yang satu ini tak terlalu 
> berkembang di Indonesia.
> 
> Karena khawatir, peran mereka yang kini menjadi penguasa di sektor-sektor 
> migas akan diambil oleh kaum pribumi. Ia pun membenarkan jika kondisi 
> pemerintah sempat terdesak lantaran jumlah geolog di Indonesia yang kurang, 
> ketika semburan lumpur porong di Sidoarjo jadi bencana. Meski terkesan 
> terlambat, ia pun mengutarakan kekecewaannya.
>  
> Sebab, menurut Andang, pada 1985 kejadian serupa sebenarnya pernah terjadi di 
> Kecamatan Samboja dan menyebabkan dua orang meninggal dunia. Ketika itu, ia 
> masih bekerja untuk sebuah perusahaan minyak. “Saya ingin meramaikan dunia 
> geologi di Indonesia. Saya berniat menyosialisasikan apa itu geologi. Sebab, 
> masih banyak yang tidak paham tentang geologi, Agar kita tidak dibodohi 
> terus,” kata Andang dengan nada tinggi dan mata melotot.
> 
> Ia pun mengilustrasikan, jika Kaltim sebenarnya memiliki posisi tawar di mata 
> dunia. Misalnya, di Kaltim saat ini BP Migas mempercayakan perusahaan raksasa 
> asal Perancis Total E&P Indonesie (TEPI) untuk memproduksi migas dari 
> lapangan Bekapai, Handil, Tunu, dan Peciko yang berada di wilayah Kutai 
> Kartanegara (Kukar). Banyak yang tidak tahu jika produksi minyak oleh Total 
> SA (perusahaan induk TEPI) di dunia, sepertiganya berada di Kukar yang 
> dikelola TEPI. 
> 
> “Makanya, sadar enggak tuh pemerintah bahwa Presiden Perancis berpuluh-puluh 
> tahun enggak pernah datang ke Indonesia. Tapi baru-baru ini, eh malah nongol 
> ketika kontrak Total akan segera habis. Nah, sekarang tahu sendirikan 
> bagaimana sikap pemerintah kita? Ya, kita lihat saja reaksinya nanti,” ujar 
> Andang.
> 
> Persoalan minimnya peralatan dan sumber daya manusia seolah menjadi momok. 
> Padahal, menurutnya, alasan tersebut hanyalah menjadi senjata ampuh dari 
> pihak asing untuk menjajah dunia permigasan di Indonesia. Sehingga Indonesia 
> benar-benar menyiapkan peralatan serta SDM permigasan.
> 
> Andang mengaku telah memperingatkan pemerintah jika hal tersebut tidak benar. 
> Saat ini, di Indonesia masih banyak sumur-sumur minyak yang dikatakan telah 
> tua dan habis. Namun, jika dieksploitasi dengan teknik tertentu akan 
> ditemukan kembali potensi minyak yang malah lebih besar.
> 
> Titik minyak tersebut biasanya terdapat di kedalaman yang lebih jauh dan 
> terhalang dengan batuan-batuan. Di Indonesia masih minim peralatan untuk 
> memproduksi migas pada kedalaman dan kondisi tertentu. Sehingga isu inilah 
> yang digunakan pihak asing agar mereka kembali bisa masuk dan mengambil peran.
> 
> Ia mencontohkan beberapa sumur tua di Sangasanga, ternyata juga masih 
> memiliki kandungan minyak yang sangat besar. Belum lagi, potensi minyak pada 
> cekungan-cekungan di Indonesia yang belum dieksploitasi sama sekali. 
> Kekhawatirannya pun semakin bertambah ketika perhatian pemerintah atas hal 
> tersebut masih sangat kurang.
> 
> Jadi sebenarnya masih banyak lapangan raksasa yang belum ditemukan, bahkan di 
> daerah yang sudah matang atau pada sumur tua. Bahkan, di porong Sidoarjo, 
> kandungan minyak di bawahnya sangat besar. Makanya, perusahaan Lapindo tidak 
> begitu saja melepaskan daerah porong tersebut. Sebab, mereka masih ingin 
> melakukan pengeboran di sana pada suatu hari nanti.
> 
> Pertamina telah menguasai sekitar 140 lapangan migas. Hanya, sistem 
> pengelolaannya tetap saja tidak terlalu menguntungkan. Beberapa cekungan di 
> Indonesia yang memiliki potensi migas besar, yakni di cekungan Sumatera, 
> Kutai,  Barito, Tarakan, dan cekungan Sulawesi.  Karena itu, sudah saatnya di 
> Kaltim memiliki sekolah khusus tentang geologi.
> 
> Sehingga dapat menjadi tempat para calon geolog menempuh pendidikan. Apalagi 
> untuk laboratorium alam dan potensi pendukung dunia geolog di Kaltim juga 
> sudah cukup. “Karena itu, memang sudah saatnya Kaltim  memiliki sekolah 
> khusus geologi. Gunanya, ya untuk mengatasi persoalan-persoalan tadi,” 
> ucapnya.(kri/far)
> 
> 
> http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/914/masih-banyak-lapangan-raksasa-kaltim-butuh-sekolah-geologi.html
> 
> -- 
> "Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"

Kirim email ke