itulah resikonya masuk bisnis terkait dg Aset Negara (SDA) disitu ada masalah ekonomi , masalah kekuasaan/kedaulatan negara ( mineral, mining serta economic right) sampai masalah nasionalisme segala.......makanya acuannya mulai UUD , sampai UU Khusus ( Migas. Minerba ) dan aturan aturan normatif lainya.mangkane dari ujung rambut sampai ujung kaki dipelototi mulai dari monas sampai senayan, cuma sudah tahu "ribet" kok banyak juga ya tertarik ........ cuma saya juga nggak mudeng kok harus masuk masuk ke Perusahaan Publik ( listing di BEI ), rasanya kok sult dipahami hub persetujuan POD dg persaratan masuk bursa saham................ ISM
>>Yang diusulkan PP-IAGI sejak lama adalah "mewajibkan" >>perusahaan yang akan berproduksi (setelah POD disetujui) >>adalah menjual >sahamnya ke BEJ (stoock Exchenage dalam >>negeri). Ini yang akan menjadikan perusahaan ini akan >>diaudit secara terbuka. Menutup (mengurangi) potensi >>intervensi parlemen maupun partai atau pejabat nekat yang >>minta upeti. Karena akan ada audit publik. > > saya heran, IAGI kok mau masuk sejauh ini..... listing di > bursa saham itu urusan perusahaan masing-masing.... kalau > mau soal audit, semua operasional KPS itu diaudit habis oleh > BPMIGAS, BPK, BPKP, independent Audit, internal audit dll... > mungkin dibanding industri lain, migas itu termasuk yang > paling birokratis dan regulated: coba saja dari mulai mau > investasi sampai mau produksi semua harus ada persetujuan > dari otoritas.... bahkan mau nempatin orang pun harus ada > persetujuan dari 3 otoritas sekarang ini (BPMIGAS, MIGAS, > DEPNAKER)....bandingkan dengan industri manufaktur atau yang > lainnya... mereka disediakan kompleks industri, proses ijin > satu atap, tidak pernah ada proses WP&B, AFE dll.... kalau > dikaitkan dengan CR, tentunya ini hanya valid untuk blok > yang sudah produksi... lha kalau masih eksplorasi.... ?  > rasanya terlalu menyederhanakan masalah kalau listing di > bursa akan menyelesaikan itu semua.... :-)  >  > salam, >  >  > > From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> > To: [email protected] > Sent: Friday, November 2, 2012 8:19 AM > Subject: Re: [iagi-net-l] Sense of urgency : Mahakam atau > Natuna ? > > > > > > 2012/11/1 Ong Han Ling <[email protected]> > > Pak Avi, >> >>Saya berpikir mengapa teman-teman dari IAGI, tetap berpikir >>âpokoknya Pertaminaâ. Mungkin kita berbeda karena >>persepsi risiko yang berbeda perihal extension Mahakam?  >>Saya melihanya begini: >>1.      Total telah mengambil risiko besar sekali >>tahun 1967 dengan ditemukan gas yang pada waktu itu tidak >>ada harganya di Kalimantan. Badak adalah salah satu dari >>tiga world Class LNG plant pertama didunia. Karena memang >>gas pada waktu itu tidak laku dipasar domestik, DMO tidak >>ada. Inilah adalah salah satu penyebab utama perusahaan >>Perncis CFP (Compagnie Francaise du Petrole) yang masuk >>Indonesia tahun 1967, menjadi perusahaan raksasa >>Internasional Total. LNG dijual dengan harga tinggi karena >>dipatok dengan harga minyak. Reward-nya bagi Total juga >>besar sekali selama 45 tahun tanpa dibebania DMO. Teori high >>risk â high reward berlaku. Waktu CFP masuk Indonesia >>tidak ada apa-apanya dibandingkan Pertamina. Sekarang >>terbalik. Dengan demikian juga dapat dimengerti bahwa >>keuntungan yang demikian besarnya menjadi orang iri dan >>sebagai konsekwensi kita katakan pada Total,  âEnoug is >>enoughâ, dan Pertamina akan ambil over. > > Kalau pemikiran saya bukan soal enough is enough karena iri. > Tetapi "kontrak is kontrak". Sudah harus dimulai kesepakatan > sesuai kesepakatan. Bahwa dalam kontrak tidak dikenal > istilah perpanjangan. Sistim BOT (Build Opertae Transfer) > hasru dijalankan sesuai kesepakatan. Dam saat diserahkan > semua asset dan cadangan menjadi milik negara. Itu dulu yang > harus dijalankan. Setelah itu ya mestinya di tenderkan lagi. > Dengan eksplorasi masih menjadi menjadi kegiatan awal > 3+3+2+2 (10 tahun) pertama sebagai masa eksplorasi. Jadi > tidak dikenal perpanjangan (extension) yang semestinya > dilakukan adalah pembaharuan kontrak (contract renewal). > Term kontrak harus diubah, karena kondisinya jelas sudah > berubah. Sebelumnya belum ada produksi menjadi ada produksi, > sebelumnya belum ada fasilitas infra struktur, sekarang > sudah ada infra struktur. Jadi semangatnya adalah > PEMBAHARUAN KONTRAK ! Nah perkara siapa yng menjadi > operatornya itu perkara lain. Jadi biarkan saja kontrak > berakhir sesuai kesepakatan. Karena itulah komitmen yg harus > dihargai baik kontraktor maupun negara tuan rumah.  > 2.      Mahakam sudah dioperasikan selama 40 tahun > hingga subsurface, perilaku reservoir, dan production > decline curve sudah kita ketahui sifat-sifatnya dengan > betul. Jadi dari sudut production, dari sudut cadangan, > dari sudut operasi dengan memakai orang-orang Indonesia > sendiri, dan dari sudut marketing ke Taiwan dan Jepang semua > sudah confirm sampai selesainya kontrak tahun 2017 dan tidak > akan ada soal. Tingkat keberhasilan tinggi sekali, 90%. >>3.      Menurut saya teman-teman dari IAGI melihatnya >>sampai disini saja. Risiko kecil. Keuntungan besar. Kenapa >>tidak diberikan saja kepada Pertamina. >  Secara persoan saya menganggap tidak harus pertamina. > Tetapi sebagai IAGI (ada kata Indonesia) sepakat bahwa > diberikan ke Indonesia karena "keuntungan" yg diperoleh > tidak hanya sekedar keuntungan "ekonomi". Bangsa yang sedang > "minder" ini perlu diberi tepukan dada dan dorongan serta > bantuan untuk kembali ke rasa "percaya diri" untuk berani > maju mandiri dan berdikari. Yang terpenting keekonomiannya > dikaji (diawasi) secara benar dan tidak memberikan "blank > chek" kepada operator nasional nantinya. Aspek sosial > politis sudah semestinya menjadi pertimbangan selain > keekonomian. > > 4.      Namun saya melihatnya beyond 2017, yaitu > setelah selesainya kontrak dengan Total dan lapangan minyak > dikembalikan kepada ESDM. Dengan selesainya kontrak, > putuslah kontrak dengan pembeli luar negeri. Harga LNG > dilempar ke pasar bebas dan harus dirunding lagi. Pembeli > lama tidak mau dengan harga lama karena kebetulan sekarang > pasaran LNG sangat berlainan. Pembeli ingin melepaskan > terkaitannya dari harga minyak. Hal ini disebabkan karena > penemuan gas secara besar-bersaran di Western Australia, CBM > di Queenland, dan baru-baru ini shale gas di USA dan > Canada. Sekarang ini sekeliling Pacific basin sedang > dibangun 9 LNG Plant dan 14 dalam perencanaan. Harga gas di > USA anjlok dari $7/mmbtu beberapa tahun yang lalu menjadi > $2/mmbtu. Semua receiving LNG terminals di US dirubah > menjadi LNG plant untuk ekspor. Karena harga gas di US > anjlok, Quatar akan mengalihkan penjualan LNG ke Asia > Pacific yang paling lucrative. Demikian juga Alaska yang > kelebihan gas karena terlalu mahal untuk kirim lewat pipa ke > continental US dan bahkan Lousiana lewat Panama canal yang > telah diperlebar (lih., email Bambang Istadi, 25 Oct.). > Petronas sedang menungu izin ekspor dari Canada dan jika > diberikan akan menanam US$5.5 milliar untuk LNG Plant dari > shale gas di British Columbia dengan tujuan exspor ke > Malaysia.  > Ketika penjualan berhenti kita harus melihat ALOKASI menjadi > utama ketimbang harga komoditi. GAS mesti dilihat sebagai > ENERGI, bukan sekedar KOMODITI. > > Saat ini kita lihat perdebatan antara Obama dengan Romney > menyangkut energy. Mereka sudah mulai memikirkan untuk TIDAK > MENGEKSPORT gasnya karena diperlukan untuk meghidupi dalam > negeri. Saat krisisi beberapa tahun lalu diketahui bahwa > tindakan memindahkan industrinya ke luar Amerika merupakan > salah satu penyebab krisis. Tau apaling yidak mengetahui > bahwa salah satu untuk mengatasi krisis adalah mengambil > kembali industri dan pabriknya. Besarnya jumlah pengangguran > di Amerika akhirnya menuntut dikembalikannya pabrik dan > industrinya di luar Amerika supaya mengurangi pengangguran > di dalam negeri. Tentusaja industry-industri yang kembali > ke Amerika ini memerlukan energy nantinya. Sedangkan kalau > saja gas ini terlanjur dijual ke luar Amerika, maka Amerika > akan kekurangan gas sebagai sumber energinya yg terikat > kontrak penjualan gas. Dengan demikian mudah dimengerti > bahwaalokasi energy untuk kebutuhan dalam negeri merupakan > sebuah tindakan proteksi penjaminan supply energy.Indonesia > sudah semestinya mulai memilikirkan jaminan supply dalam > negerinya dengan memikirkan alokasi produksi untuk kebutuhan > domestic. Kontrak-kontrak penjualan gas (LNG) ke luar harus > ditinjau dan harus mulai diperhatikan. Apalagi dengan > diketahui bahwa dengan pertumbuhan 6-7% pertahun, akan > membutuhkan energy (peningkatan kebutuhan) lebih dari > 15%/tahun. 5.      Disinilah risiko timbul. Saat ini > harga LNG sangat tidak menentu. Bagaimana dengan > envronmental issue untuk CBM dan shale gas? Bagaimana kalau > US dan Canada membatasi atau bahkan melarang ekspor LNG > mengingat security energy dimana mereka tidak ingin > ketergantungan dari Middle East oil. Atau Jepang yang > sekarang akan menutup semua nuclear power plant dalam kurun > waktu 20 tahun, berubah pikiran setelah masyarakat Jepang > disuru membayar harga energy yang jauh lebih mahal? > Bagaimana kalau Taiwan dan Korea pindah ke Nuclear atau > energi lainnya seperti angin dan matahari yang sekarang > sedang maju-majunya? Dll. Karena faktor tidak menentu ini, > harga LNG kita berikan probability sebesar 50%. Berarti > operasi Mahakam untuk mengharapkan keuntungan seperti yang > diharapkan sebelum-sebelumnya, âprobablility of suksesâ > berubah menjadi 90X50% atau hanya 45%. Ini berarti mengelola > Mahakam mengandung risiko tinggi, tidak lagi seperti > sebelumnya yang > 90%. Karena risiko tinggi, maka itu saya cenderung untuk > dilakukan tender dan Pertamina diberi preference, entah > matching, 10% atau berapa saja, tetapi for sure not > âPokoknya Pertaminaâ. Menurut tulisan Pak Luthfi, > ârasanya matching bagi Pertamina tidak jadi soalâ. > Menurut saya memberikan preference 10-15% adalah fair. > Preference diberikan untuk hal-hal yang tidak terukur > seperti kebanggaan, nasionalism, Indonesian content, dsb. > Sepakat dengan cara ini. Tender dengan preference, misalnya > "first right to match". ini kan mendidik Pertamina untuk > mengkaji dengan sebaik-baiknya. Dari hasil diskusi sewaktu > Sumpah Pemuda kemarin, menurut Pak Marwan Batubara, > keuntungan secara riiil untuk Indonesia akan lebih bagus > kalau diusahakan oleh BUMN, artinya sudah ada jaminan bahwa > modalnya juga dari dalam negeri. Kalau diberikan ke swasta > nasional yang belum tentu modalnya dari dalam negeri, maka > keuntungan investasinya juga akan "lari" keluar. > > 6.      Inilah yang perlu dipikirkan oleh Pertamina > waktu mengambil extension Mahakam, tidak hanya dari sudut > operasi yang relatip mudah tetapi juga dari sudut harga LNG > âbeyond 2017â. Sepakat dengan pemikiran Pak Ong ini. > Dan langkah yg harus diambil adalah penjaminan pasokan > energi (alokasi) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. > > 7.      Dalam extension nantinya akan ada 10% > Indonesia participation. Biasanya diberikan kepada daerah. > Saya pikir kalau lobbying kita kuat, mungkin Kanwil IAGI > Kaltim bisa minta 10% share untuk dijual kepada anggotanya. > Disini baru terlihat sokongan kita kepada Pertamina, tidak > dengan kata tapi dengan perbuatan, yaitu ikut investasi di > Mahakam setelah 2017. Yang diusulkan PP-IAGI sejak lama > adalah "mewajibkan" perusahaan yang akan berproduksi > (setelah POD disetujui) adalah menjual sahamnya ke BEJ > (stoock Exchenage dalam negeri). Ini yang akan menjadikan > perusahaan ini akan diaudit secara terbuka. Menutup > (mengurangi) potensi intervensi parlemen maupun partai atau > pejabat nekat yang minta upeti. Karena akan ada audit > publik. > > Maaf sekali lagi kalau tidak lagi. >>HL Ong > > Terimkasih diskusinya Pak Ong sangat menarik. > > RDP > > -- > "Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari" ___________________________________________________________ indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2011-2014: Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com -------------------------------------------------------------------------------- Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012. REGISTER NOW ! Contact Person: Email : [email protected] Phone : +62 82223 222341 (lisa) -------------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email to: [email protected] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

