Selamat pagi IAGI netters:
Saya meng-quote penjelasan sebelumnya dari beberapa ban hitam IAGI dengan 
maksud mencoba mencerna / menginterpretasi apa-siapa yang menurut saya tidak 
kasat mata dalam hal ini yang sepertinya kurang tersentuh dan saat ini sedang 
tertawa-tawa di atas sana melihat air lumpur jadi semakin keruh.

***
Pak ADB menyebutkan secara ringkas sejarah uu migas 22/2001: "Dulu itu krn 
Pertamina jadi "raja" dan banyak korupsinya maka kekuasaannya dipreteli sbg 
alasan utama u/diajukannya UU Migas 22/2001 oleh konspirasi IMF dan MNC2 migas. 
<DELETED>. 

Pak Luthfi menyebutkan hal serupa di email terpisah: "<DELETED>. Standing 
Baihaki terhadap RUU Migas ini ikut kapal pemerintah, Pertamina menjadi pasif. 
Akhirnya RUU Migas ditetapkan sebagai UU Migas 22/2001. Makin terlihat peran 
asing yang kuat dalam proses kelahiran UU Migas 22/2001 melalui badut2 politik 
kelas tinggi <DELETED>."

Lalu di email lain pak ADB menulis: "Keberpihakan thdp asing di hulu migas 
kayaknya memang nggak cocok diterapkan sbg dasar argumen pembubaran BPMigas 
<DELETED>  BPMigas juga yg kena imbas ... Padahal sbnarnya yg berperan disitu 
level politik-nya biasanya lebih tinggi ... Aparat2 di Ditjen Migas, Menteri 
dan Wamen dan tentunya sampai ke atasnya di SBY, malahan merekalah yang 
memainkan bidak2 catur <DELETED> ..."mengijinkan" pihak2 asing itu mendominasi 
<DELETED>.

Di email terpisah pak Awang menjelaskan senada dengan email pak ADB sebelumnya 
bahwa: "BPMIGAS produk UU Migas 22/2001 yang kata orang2 pro-asing, sehingga 
BPMIGAS juga dicap pro-asing, maka dibubarkan, inkonstitusional bahasa 
hukumnya, padahal itu alasan yang dicari-cari saja <DELETED>.

***
Jadi timbul pertanyaan dari saya yang awam politik: 
#apakah ada kemungkinan terjadinya repeated history dimana the invisible 
hand(s) plus konspirasi tingkat tinggi -yg juga mungkin melibatkan asing-  
memanfaatkan MK sebagai pion..?" 
Semoga saja tidak, karena jika betul... hmmm ... berarti betul-betul badut 
politik yang omong kosong doang.

##politikus2 dan pemegang kekuasaan yang terhormat tersebut berteriak mengajak 
untuk melawan hal-hal yang "pro-asing". Saya lantas mengasumsikan mereka ini 
adalah pro non-asing alias pro-nasional alias pro-rakyat ... Nah rakyat yang 
mana nih..? Rakyat Indonesia keseluruhankah? Golongan tertentukah? Parpol 
tertentukah? Apa jangan-jangan nasional yang lain?

Ahhh.., sepertinya kondisi perpolitikan tanah air jauh lebih unpredictable 
daripada kondisi bawah permukaan. 

...saya terakhir kali berinteraksi dengan rekan seprofesi (ex) BPMigas 
khususnya pada pertemuan WP&B hampir 2 tahun silam saat saya masih merupakan 
karyawan di salah satu K3S. Saya sangat menaruh respek bagi ibu/bapak rekan 
(ex) BPMigas (subsurface) saat itu yang telah bekerja seprofesional mungkin 
dengan tetap mengedepankan fungsi kontrol selaku perpanjangan tangan pemerintah.

Buat ibu/bapak rekan di (ex) BPMigas: seragam boleh ganti, NIP boleh berubah, 
instansi boleh lain nama. Tapi tetaplah kedepankan profesionalitas dan jangan 
sampai ter-demotivasi akan hal ini. Rekan sekalian di mata saya merupakan salah 
satu contoh nyata yang BUKAN pro-asing ..!

salam TETAP semangat,
Andi Salahuddin.
Powered by VulsaQu®

Kirim email ke