Ini kisah jaman dulu, mau percaya silakan tidak juga ndak apa2.

Ketika itu Sunan Bonang mau ke Kediri, disertai 2 santri. Sampai Kertosono 
terhalang banjir Brantas. Setelah menyeberang merek melihat agama apa yang 
berkembang di sana.
Ternyata Budha hanya sekedar, Islam mau masuk. Penduduk menyebit agama Kalang, 
dbawa Bandung Bandawasa. 
Sunan Bonang bilang: kalau begitu orang disini beragama Gedah, artinya tidak 
hitan tidak putih, maka daerah ini pantas di namai Desa Gedah. Sampai sekarang 
nama ini masih ada.
Saat itu menjelang dzuhur, Sunan berkata: carilah air bersih ke pedesaan, 
sungai masih banjir, airnya kotor bila diminum membuat sakit perut, ini sudah 
waktunya solat dzuhur, aku akan wudlu untuk solat"
Satu santri pergi, sampai desa Patuk, ada rumah sepi, yang ada seorang gadis 
sendirian sedang menenun. Si santri datang dan meminta air : " nona, saya minta 
air bersih yang bening". Gadis terkejut dan salah paham, dikira santri tadi 
akan menggangu dan menggoda, maka jawabnya kethus dan jorok: "kamu lewat sungAi 
kok datang pakai minta air bersih segala. Di sini tidak ada orAng menyimpAn air 
bersih, kecuali kencing saya ini yang bening. Minumlah kalau kamu mau"
Mendengar jawaban demikian santri tadi pergi tanpa pamit dan melapor ke Sunan 
Bonang. Sunan jadi marah sampai mengutuk, di tempat itu dikutuknya mahal air, 
perwan dan jejaka jangan kawin sebelum tua.
Karena kesaktian Sunan, kutukan tadi membuat sungai brantas seketika alirannya 
menjadi kecil, aliran air yang besar bebelok menerabas desa, hutan, sawah dan 
ladang. Banyak desa yang rusak diterjang aliran air yang pindah. Aliran yang 
besar tadi seketika kering. Sampai sekarang daerah Gedah sulit air.
Sunan Bonang terus ke Kediri.

Itu kisah singkatnya. 
Mau ditelusuri? Hehe aku belum pernah ke sana. 
Ada kenalan dari kediri kalo ketemua aku mau tanya.
 Believe it or not, terserah Anda.

Itu Mas Awang sedikit kisah pindahan kali brantas.

Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kirim email ke