Cak Min,

 

Saya sangat sepakat...  :-)  pernyataan
saya sebelumnya memang simply didasarkan pada formula sederhana yang mas 
tuliskan
di bawah. Sehingga dengan demikian maka di cekungan yang didominasi oleh 
litologi
berkonduktivitas relatif rendah akan memiliki GG yang relatif tinggi
dibandingkan GG di suatu cekungan yang didominasi oleh litologi
berkonduktivitas relatif tinggi semisal sand atau bahkan salt. Asumsi: hal
lainnya seperti basal HF, sejarah subsidence, dll sama.

 

Jika dikembangkan sedikit
lebih jauh lagi, kita bisa sampai kepada diskusi parameter2 pengontrol
konduktivitas termal yang ternyata bukan semata-mata hanya dipegnaruhi oleh
litologi tapi juga besar pori dan kandungan fluidanya. Tentunya suhu2 di sini
termasuk mas Min sudah familiar dengan referensi2 yang menguraikan hal di atas.

 

He he.., itu dia mas, dengan
keterbatasan data seringkali seseorang yang melakukan pemodelan mesti membuat
pseudowell di suatu titik dimana litologi dan parameter2 lainnya tidak diketahui
secara pasti. Dengan bekal kemampuan “imajinasi” paleogeografi, sejarah 
subsidence dll ditambah
dengan utak atik uncertainty komposisi/ketebalan litologi, maka –semoga saja - 
low dan
high ends nya bisa di-capture.

Terimakasih atas tambahannya mas...

 

salam, 

Andi.
--- On Tue, 1/29/13, MINARWAN <[email protected]> wrote:

From: MINARWAN <[email protected]>
Subject: Re: Re: [iagi-net] BACK TO BASIC # 1 - INDONESIA SECARA UMUM BUKAN 
"ISLAND ARC"
To: [email protected]
Date: Tuesday, January 29, 2013, 8:43 AM

Mas Andi,

Jika GG = basal heat flow : konduktivitas termal batuan dan basal HF kita 
anggap konstan seperti pernyataan Mas Andi di bawah ini, maka yang lebih 
penting "secara geologi" menurut saya justru batuan-nya, bukan GG-nya karena GG 
hanyalah hasil perhitungan, cuma matematika belaka. Dalam pemodelan kematangan 
batuan induk, campuran litologi yang berbeda dengan heat flow yang sama akan 
membuat hasil pemodelan sedikit berbeda.


Proses pengendapan sedimen sendiri memerlukan waktu yang belum tentu sama 
antara tiap litologi. Misalnya untuk mengendapkan 100 m lempung akan memerlukan 
waktu yang lebih lama daripada mengendapkan 100 m campuran pasir dan lempung. 
Demikian pula selama kurun waktu pengendapan 100 m litologi tersebut, heat flow 
akan berubah. Tanpa ada tambahan panas dari sumber lain dan jika hanya 
mengandalkan panas dari astenosfer, maka basal HF seharusnya akan turun menjadi 
lebih kecil pada saat 100 m litologi itu terendapkan. Dengan demikian, jika 
dikembalikan lagi ke formula matematika sederhana di atas, HF kecil 
dikombinasikan dengan konduktivitas termal batuan yang kecil, GG menjadi kecil 
juga.


Salam
Minarwan

2013/1/28 Andi AB Salahuddin <[email protected]>


Mas Kartiko, pak Awang:

 

Jika dari yang saya pahami
kira-kira begini. Kematangan suatu SR tidak semata-mata berhubungan dengan basal
HF. Yang lebih penting mungkin malah gradient geothermal (GG)-nya. Meskipun HF 
suatu
basin rendah namun jika overburdennya didominasi oleh litologi dengan
konduktivitas relatif rendah semisal shale, akan menghasilkan GG yang relatif
tinggi.

 

Dengan demikian, hubungan rasio
sukses eksplorasi tidak berhubungan langsung dengan posisi prospek kita
terletak di atas kerak samudera atau benua. Oil/gas fields di pantai
timur Amerika Selatan mungkin bisa jadi contoh dari temuan migas diatas/dekat
dari kerak samudera?

 

Mungkin pak Awang dan mas Kartiko
bisa mengoreksi/beri pencerahan? 

 

salam,

Andi.
--- On Wed, 1/16/13, kartiko samodro <[email protected]> wrote:


From: kartiko samodro <[email protected]>
Subject: Re: Re: [iagi-net] BACK TO BASIC # 1 - INDONESIA SECARA UMUM BUKAN 
"ISLAND ARC"

To: [email protected]
Date: Wednesday, January 16, 2013, 4:19 PM

Pak Awang, 
mungkin di situ memang dilemanya...
Kalau bekerja di daerah rifting yang aktif maka petroleum system dan playnya 
masih belum ada walaupun heatflownya tinggi. Kalau bekerja di ex rifting, 
petroleum system dan play sudah ada tapi
 bisa jadi belum matang karena heatflownya rendah..tentunya butuh banyak banget 
sedimen yang bisa menjadi overburden untuk mengkompensasi heat flow yg rendah 
ini kalau mau mengejar thermogenic, kemungkinan lainnya ya paling biogenic.


Mungkin Pak Awang ada informasi/contoh di mana kita bisa temukan discovery 
lapangan migas /discovery di daerah basement oceanic ?
Mengenai membedakan seamount dan reef , mungkin Pak Awang ada tip dan trick 
khusus ? Dulu sepertinya pernah dibahas penggunaan magnetik survey untuk 
membedakan seamount dan reef , apakah sudah ada study dan pembuktiannya bahwa 
dengan menggunakan magnetik akan lebih tepat membedakan antara seamount dan 
reef ? 

Sepertinya kalau cuma mengandalkan kenampakan dari seismic sepertinya cukup 
berisiko karena baik seamount atau reef bisa membentuk kenampakan yang mirip 
walaupun di beberapa literatur mengatakan bahwa bentukan dari seamount lebih 
runcing runcing dibandingkan dengan reef.


Salam 
Kartiko
walah.....pagi ini hujan kok enggak reda reda..
2013/1/17 Awang Satyana <[email protected]>


Kartiko,


Bila rifting atau spreading terjadi saat ini, kerak basalt akan menjadi penanda 
heatflow tinggi sebab dibentuk oleh thermal uplift dari mantel yang naik di 
kerak benua yang menipis atau spreading. Tetapi bila terjadi pada masa lalu, 
maka sekarang heat flow basalt di ex rifting itu rendah termalnya. Sebab saat 
rifting atau spreading berhenti, digantikan sagging, maka thermal subsidence 
yang terjadi.



Kebanyakan eksplorasi hidrokarbon sekarang terjadi di ex rifting yang lama, 
maka asosiasi dengan kerak samudera dianggap berheatflow rendah. Eksplorasi 
umumnya tidak dilakukan di atas basement kerak samudera. Hanya beberapa company 
saya lihat sekarang masuk ke wilayah2 basement kerak samudera seperti wilayah 
Halmahera, utara Kepala Burung dekat Waigeo dan Teluk Cenderawasih, semua 
targetnya sama: build up reefs umur sekitar Miosen.
 Tetapi harus diantipasi juga bila berasosiasi dengan kerak samudera bahwa itu 
bukan buildup reefs, tetapi sea mounts.

Salam,
Awang


-- 
- when one teaches, two learn -
http://www.linkedin.com/in/minarwan

Kirim email ke