Yth Pak Dandy,

Terima kasih telah meneruskan kisah nyata yang sangat menyentuh hati ini. 
Memang sangat ironis, setelah hampir 70 tahun merdeka, puluhan juta saudara2 
kita, termasuk yang di Sangiran, masih begitu miskin dan menderita --- 
sementara itu, berita korupsi, pencucian uang, dan ketidak adilan  tak juga 
kunjung reda.

Sehubungan dengan itu, dan di tengah ketidak mampuan kita dalam merubah keadaan 
, marilah kita kobarkan terus lagu Bagimu Negeri dan menyebarkannya ke seluruh 
lapisan masyarakat : Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, 
Padamu negeri kami mengabdi, BAGIMU NEGERI JIWA RAGA KAMI !!!!!!   

Salam prihatin,

Mang Okim
-----Original Message-----
From: Dandy Hidayat <[email protected]>
Date: Sun, 17 Mar 2013 01:49:39 
To: <[email protected]>; <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [iagi-net] Sangiran, Bumi Manusia Jawa yang Tandus
Sebuah Jurnalisme kemanusiaan dan bumi manusia (meminjam istilah Pramudya
Ananta Tour..... Semoga ada perhatian dari kita semua ... Amin)

Selamat Berkshir minggu

Salam

Dandy

http://oase.kompas.com/read/2013/03/16/22441175/Sangiran.Bumi.Manusia.Jawa.yang.Tandus?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp


Suyono (35) memahat batu di depan sebuah rumah sederhana di Dusun Sangiran.
Ia mengolah batu menjadi patung manusia purba, Homo erectus. Di dusun yang
tandus itu, usaha kerajinan dari batu alam menjadi gantungan hidup warga.
Sayangnya, kemiskinan warga berbanding terbalik dengan ketenaran Sangiran
sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia. Sri Rejeki

Tak banyak memang pilihan bagi Suyono yang hanya tamatan sekolah dasar.
Begitu pula warga sedusunnya yang sama-sama tak punya tanah pertanian.
Masyarakat Sangiran kini berjuang merajut hidup di tengah tanah yang
tandus.

Ini bagaikan ”reinkarnasi” fenomena berjuta tahun silam ketika
manusia-manusia pertama penghuni Sangiran, Homo erectus, berjuang hidup di
alam yang sedang berubah.

Di balik megahnya Museum Manusia Purba yang berlapiskan pualam, hidup
masyarakat sekitar rata-rata masih dibelit kemiskinan. Mereka menghuni
rumah-rumah berdinding anyaman bilah bambu. Kemiskinan membuat warga tidak
mampu menyekolahkan anaknya, rata-rata hanya tamat sekolah menengah
pertama. Materi tanah Sangiran berupa endapan lempung hitam dan pasir
fluviovulkanik menyebabkan sifat tanah tidak subur dan tandus di musim
kemarau.

Sangiran kini adalah kawasan tandus yang mencakup 22 desa di empat
kecamatan yang berada di dua kabupaten, Sragen dan Karanganyar, Jawa
Tengah.

Lahan padi yang hampir sebagian besar tadah hujan hanya mampu satu atau dua
kali panen setahun. Di sisa musim, lahan ditanami palawija, seperti
singkong, atau dibiarkan menganggur.

Dari hasil membuat kerajinan batu alam, Suyono yang belum berkeluarga ini
memperoleh penghasilan Rp 50.000 per hari. Uang itu hanya cukup untuk makan
<http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=9541__zoneid=0__cb={random}__oadest=http://www.urbanesia.com//>dirinya,
ibu, dan seorang keponakannya.

Nasib tidak jauh berbeda dialami perajin lainnya, Giyoto (44). Dalam
sebulan, ia biasanya memperoleh pesanan 100 patung manusia purba setinggi
14 sentimeter (cm) yang dihargai Rp 7.500 per buah, serta Rp 10.000 per
buah untuk patung setinggi 17 cm. Giyoto menghidupi istri dan dua anaknya.
”Hanya cukup untuk makan dan sekolah anak,” katanya.

Begitu pula warga yang menjadi petani, seperti Sumojuwito (65). Dari panen
terakhir, ia hanya memperoleh 3 kuintal gabah basah dari lahan 2.000 meter
persegi miliknya. Serangan wereng membuat produksi padinya merosot hampir
separuh. Beras yang diperoleh digunakan untuk makan keluarga hingga panen
berikutnya.

Saat masih muda, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ia bekerja sebagai
buruh bangunan. Kini, pada masa tua, kehidupan hariannya ditopang enam
anaknya yang juga hidup pas-pasan. Beruntung, ia sempat menyekolahkan
mereka hingga sekolah menengah atas.

”Tetapi, sekarang saya bingung, tidak punya uang untuk pengobatan istri
yang kena darah tinggi dan stroke. Kalau ada uang, ya, saya bawa berobat.
Kalau tidak, terpaksa tidak diapa-apakan,” kata Sumojuwito.

Dengan kondisi tersebut, sementara di hadapan warga terhampar ”harta karun”
atau ”barang tambang” berupa fosil, tidak jarang membuat warga tergiur
perdagangan fosil yang ilegal menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010
tentang Cagar Budaya. Salah satunya adalah Subur yang sempat mendekam di
penjara selama 6 bulan karena menjual fosil. Subur kini lebih memilih usaha
batik. Fosil temuan yang ”mampir” di tangannya ia serahkan kepada museum.
Terlebih anak sulungnya, lulusan arkeologi universitas ternama, kini sudah
bekerja di museum.

”Kami sudah tinggal di Sangiran sebelum temuan fosil-fosil. Kalau memang
kami tidak boleh berbuat apa-apa di atas lahan sendiri, seharusnya lahan
itu secara bertahap dibebaskan pemerintah,” kata Subur.

Keinginan warga menggarap kerajinan batu alam tersebut terkendala karena
bahan baku harus diperoleh dengan cara menggali.

Padahal, aktivitas penggalian dilarang karena dikhawatirkan akan merusak
situs. Warga lainnya, Darmadi, mengungkapkan, masyarakat sebenarnya tidak
ngotot untuk hanya mengeksplorasi fosil atau batu alam. Bidang ekonomi
kreatif sebenarnya sangat potensial, termasuk pengembangan desa wisata.
Sayangnya, belum ada komitmen untuk mengangkat masyarakat dari kemiskinan.

*Pusat perhatian dunia*

Selama lebih dari 75 tahun, Sangiran menarik perhatian dunia. Di situs
manusia purba yang terhampar di areal seluas 56 kilometer persegi itu
ditemukan 120 individu fosil Homo erectus. Jumlah ini lebih dari separuh
populasi Homo erectus yang ditemukan di dunia.

Sangiran memulai kisahnya 2,4 juta tahun lalu saat kawasan ini masih berupa
lautan yang dihuni, antara lain, ikan hiu dan moluska (hewan bertubuh
lunak, seperti kerang dan tridakna atau siput raksasa).

Jejak Sangiran sebagai lautan tertinggal di areal ladang jagung di Dusun
Pablengan, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa
Tengah. Berlokasi di belakang rumah Sutiman, tanah seluas 1 meter persegi
yang disebut sumber air asin itu tampak kebiruan.

Dari wilayah seluas 8 x 7 kilometer ini tersingkap fosil-fosil Homo
erectus, hierarki paling penting dalam sejarah kehidupan manusia sebelum
sampai pada tahapan manusia modern, Homo sapiens. Fosil Homo erectus juga
ditemukan di Afrika, Eropa, dan Asia barat.

Pamor Sangiran yang berkilau di dunia penelitian ilmiah tidak linear dengan
kehidupan warga setempat

Kirim email ke