Rekan-rekan IAGI-MGEI yang budiman, 

 

Untuk sekedar selingan, mang Okim forward di bawah ini, postingan ke milis
Rotary berjudul  Kisah Kakek Jasman di Minggu Paskah 2013. Karena kisah ini
merupakan pengalaman Pak Bandono dan mang Okim sendiri, maka mang Okim
memberanikan diri mengirimnya ke milis IAGI/MGEI --- siapa tahu ada
manfaatnya --- ta' iya ! Perlu ditambahkan bahwa beberapa menit yang lalu,
mang Okim terima respons dari seorang rekan Rotary  di Kuching, Malaysia,
yang setelah membaca kisah ini langsung komit sejumlah uang yang cukup
besar. Untuk itu mang Okim dan Pak Bandono harus kerja keras untuk
mengontak Pak Jasman di alamat yang tertera di KTPnya. 

 

Pada kesempatan ini, kepada rekan-rekan yang merayakannya, mang Okim
menyampaikan Selamat Merayakan Paskah. Semoga kita semua selalu dalam
limpahan rahmat dan berkah Tuhan YMK. Amiin. 

 

Wassalam,

Mang Okim

 

From: Sujatmiko [mailto:[email protected]] 
Sent: 31 Maret 2013 20:30
To: [email protected]
Cc: BANDONO ([email protected]); Feni Kertikasyari; Iman Santoso; Arinaka
Tri Suharno Ari ([email protected])
Subject: SELINGAN : KISAH KAKEK JASMAN DI MINGGU PASKAH 2013.

 

Rekan-rekan Rotarian yang budiman,

 

Di Minggu Paskah tadi pagi, 31 Maret 2013, saya bersama Pak Ari Hendarmin
dari KADIN Jabar ( 66 tahun ) dan Pak Bandono pensiunan Dosen Geologi ITB (
67 tahun ),  sepedahan  menuju terminal angkot Dago,  menanjak melewati
kerumunan para pejalan kaki dan pesepeda yang memenuhi  Car Free Day Jalan
Dago. Di terminal ini kami balik arah, meluncur turun dengan kecepatan
tinggi. Untuk menghindari kemacetan, di Simpang Dago  kami belok kiri ke
Jalan Dipati Ukur untuk kemudian belok ke Jalan Raden Fatah. Di jalan inilah
kami berjumpa dengan  kakek Jasman , penjual keripik singkong, yang sedang
tergeletak tidak berdaya di pinggir jalan. Tangan dan kakinya tremor,
pandangan matanya kosong, mukanya pucat, dan telinganya dibantu  alat
pendengar yang kurang berfungsi. Dua orang tampak berdiri  kebingungan di
dekatnya. Mereka adalah penolong budiman yang sempat melihat kakek Jasman
terjatuh di tengah jalan dan memindahkannya ke pinggir jalan.

 

Kakek Jasman rupanya baru tiba dengan  bus dari Garut,  dengan  2 keranjang
keripik singkong dagangan yang harus dipikulnya menuju pusat keramaian di
Jalan Dago. Karena himpitan dan kebutuhan ekonomi, kakek Jasman  yang
umurnya menjelang 76 tahun ( lahir 6 November 1936 ), terpaksa masih harus
bekerja keras dengan  menjual keripik singkong produksi juragannya di Garut.
Dua keranjang yang dipikulnya berisi sekitar 70 kantong keripik singkong
yang masih utuh, yang dijualnya seharga Rp 6.000,- per kantong. Menurut
juragannya , nilai seluruh keripik singkong tersebut  Rp 350.000,-  Dengan
demikian maka kalau laku semua,  keuntungannya sekitar  Rp 70.000 ( belum
dipotong biaya transpor dan makan ). Mendengar cerita yang mengenaskan
tersebut, sebelum meninggalkan tempat, penolong budiman yang orang Jakarta
menitipkan uang Rp 200.000,- yang segera saya selipkan di dompet kakek
Jasman yang disembunyikan di dasar keranjang. Di dompetnya terlihat 2 lembar
uang seribuan dan dua lembar uang dua ribuan atau senilai 6 ribu rupiah
saja. Kakek Jasman langsung mendo'akan penolong budiman tersebut secara
agama Islam.

 

Pertolongan pertama 

 

Mempertimbangkan kondisi kakek Jasman yang sedemikian lemah, maka dengan
sepedanya, pak Bandono segera mencari tukang bubur yang lokasinya cukup
jauh yaitu  di depan kampus UNPAD . Sambil menunggu kedatangan Pak Bandono,
saya coba mempraktekkan massage acupressure di bagian leher, bahu, dan
belikat kakek Jasman. Alhamdulilah mukanya berangsur memerah dan  keringat
mulai keluar. Posisi rebahnya kemudian dirubah menjadi duduk kembali.
Ketika Pak Bandono tiba dengan membawa bubur panas, mata kakek Jasman tampak
berlinang dan memohon maaf karena telah mengganggu perjalanan kami. Karena
kondisinya masih sangat lemah,  bubur panas tersebut saya suapkan sedikit
demi sedikit. Alhamdulilah setelah 6 suapan, kakek jasman mengisyaratkan
sudah cukup. Kondisi badannya tampak berangsur pulih. Saya kemudian
menyelipkan uang tambahan yang diterima dengan air mata berlinang.  Sebelum
meninggalkan kakek Jasman, kami sempat membantu menawarkan keripik
singkongnya kepada orang yang lewat. Alhamdulilah beberapa kantong terjual
dengan  harga sedikit  dimurahkan ( mengingat setoran ke juragannya di Garut
insyaallah telah teratasi ).

 

Itulah rekan-rekan kisah selingan yang semoga dapat meningkatkan kesadaran
kita khususnya Rotarian tentang masih banyaknya saudara-saudara kita di
Indonesia yang  menderita dan memerlukan bantuan. Di dompet kakek Jasman
terselip foto cucunya yang berseragam SD. Mungkin untuk dialah kakek Jasman
mempertaruhkan nyawanya dengan menjual keripik singkong yang lintas kota dan
harus dipikulnya kesana kemari ----- demi keuntungan yang tidak berarti. Di
umurnya yang menjelang 76 tahun, dengan kondisi kesehatan yang sedemikian
rapuh, seharusnyalah kehidupan kakek Jasman bisa dijamin oleh negara.
Tetapi, setelah hampir 68 tahun kita merdeka, rasanya belum ada tanda-tanda
tentang adanya pemimpin bangsa yang memikirkan hal tersebut. Semoga di
rangkaian perayaan Paskah ini, ketika gambar Paus Franciscus yang sedang
mencuci dan mencium kaki 12 tahanan di Roma disiarkan ke seluruh dunia, para
pemimpin kita di Indonesia menyadari bahwa kepemimpinan mereka adalah untuk
melayani dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan bukan untuk
kepentingan golongannya semata.  Semoga bermanfaat,

 

Salam " Engage Rotary, Change Lives ". 

 

Miko

 

LAMPIRAN  GAMBAR

 

Gambar 1 : Pak Bandono, pensiunan dosen ITB , berhasil mendapakan bubur
panas.

Gambar 2 : Karena masih lemah, maka kakek Jasman  terpaksa disuapin.

Gambar 3 : Kakek Jasman , 76 tahun, matanya sudah rabun dan telinganya

memerlukan alat bantu yang kabel penghubungnya konon telah rusak.

Kirim email ke