He he Mas Luthfi, benar Mas, itu kan proses percepatan ekspulsi. Di zaman sekarang yang serba instan, maka ekspulsi gas pun dapat dipercepat dengan direkah itu, asalkan SKB (meminjam ketentuan dagang: syarat dan ketentuan berlaku).
Tambahan keterangan, Mas Anggoro telah menulis dengan runtun dan gamblang. Kalau sesuai dengan nomor di atas, Mas Anggoro telah menulis sampai ke seri kelimabelas lho. Wasalam, EAS > > Mas DR. Eddy AS yth, > > Bagaimana dengan Shale Gas, begitu dilakukan "fracking shale" gasnya > mengalir ke lubang bor dan bisa diproduksikan. > > Salam, > LTH > > Sent from my iPhone > > On 13 Mei 2013, at 00:37, "Eddy Subroto" <[email protected]> wrote: > >> Mas Anggoro yang terhormat, >> >> Apa kabar Mas? Semoga Anda selalu sehat-walafiat. >> >> Benar Mas, kerogen itu berupa padatan, bukan cairan, dan tidak larut di >> dalam pelarut biasa. Seperti yang Anda tulis, setelah mengalami >> kematangan, maka kerogen akan berubah menjadi bitumen. Nah bitumen ini >> sebenarnya adalah "minyak bumi" yang masih ada di dalam batuan induk >> (source rock), yang kemudian diharapkan akan mengalami ekspulsi dan >> bermigrasi. >> >> Wasalam, >> EAS >> >>> Dear Pak Bandono, >>> >>> Jika saya tidak salah, >>> Minyak bumi berbahan dasar kerogen dan terbentuk jika temperature >>> didalam >>> bumi mencukupi untuk mematangkannya. >>> Kerogen atau source rock berasal dari organisme hidup yang berasal >>> dari >>> daratan dan perairan melalui proses kimia membentuk insoluble molecule >>> (tidak terlarutkan didalam air), kerogen bukanlah zat cair (?). >>> Jika petroleum terbentuk maka barulah ia akan bergerak, sedangkan >>> kerogen >>> berada pada posisi dimana ia diendapkan (?) >>> >>> Salam >>> Anggoro Dradjat >>> >>> >>> >>> >>> >>> 2013/5/10 <[email protected]> >>> >>>> ** >>>> Tanya sedikit, mas kalau minyak'/kerogen itu fluida kan? Apa dapat >>>> dilalui >>>> gelombang S? >>>> Berapa % kandungan kerogen pada serpih sehingga geombang S masih dapt >>>> terdeteksi? >>>> Maaf aku bener2 blm faham. >>>> Powered by Telkomsel BlackBerry® >>>> ------------------------------ >>>> *From: * Anggoro Dradjat <[email protected]> >>>> *Sender: * <[email protected]> >>>> *Date: *Fri, 10 May 2013 14:31:46 +0700 >>>> *To: *iagi-net<[email protected]> >>>> *ReplyTo: * [email protected] >>>> *Subject: *[iagi-net] Geologi dan Geofisika Shale Lanjutan (15) >>>> >>>> Dear All, >>>> >>>> Pada pemodelan sifat mekanika dari porous gas sand reservoir biasanya >>>> sifat petrofisikanya diasumsikan sebagai material isotropic dimana >>>> distribusi mineral, kandungan fluida, porositas, matrix, frame batuan >>>> dan >>>> butirnya tersebar merata sehingga siafat fisik dan mekaniknya sama >>>> secara >>>> horizontal dan vertikal. >>>> >>>> Berbeda dengan sand reservoir maka pada batuan shale reservoir >>>> bersifat >>>> anisotropi karena sifat mekanikanya yang berbeda secara vertikal dan >>>> horizontal, perbedaan-perbedaan pada layering shale memberikan sifat >>>> fisika >>>> dan mekanika yang berbeda disebabkan perubahan vertikal oleh: >>>> 1. komposisi fraksi mineralogi: clay, kwarsa, carbonate, mineral >>>> stiff, >>>> mineral soft >>>> 2. porositas dari shale 3. fraksi dari kerogen. >>>> >>>> Untuk mengetahuai sifat mekanika karena adanya sifat anisotropi maka >>>> hanya >>>> bisa dilakukan dengan pengukuran dari core data. >>>> Untuk data core yang diambil dipermukaan suatu outcrop misalnya maka >>>> data >>>> diambil secara tegak lurus lapisan, sejajar lapisan dan satu lagi yang >>>> membentuk sudut 45 derajat terhadap perlapisan shale (gambar >>>> terlampir). >>>> coring perlu dilakukan untuk memastikan bahwa sampel data fresh dari >>>> pelapukan. >>>> >>>> Shale core data kemudian dibawa kelaboratorium untuk dilakukan studi >>>> geokimia dan geomekanika. untuk studi mekanikanya maka yang dilakukan >>>> adalah melakukan pengukuran VP dan VS pada masing-masing dari ketiga >>>> core, >>>> kemudian dihitung parameter anisotropinya dengan perumusan (gambar >>>> terlampir) >>>> c11 adalah stiffness untuk VP tegak lurus lapisan, c33 adalah stifness >>>> dari VP sejajar perlapisan dan c13 adalah VP yang membentuk sudut 45 >>>> derajat terhadap perlapisan. >>>> Sementara itu c66 adalah VS tegak lurus perlapisan dan c44 adalah VS >>>> sejajar perlapisan. >>>> Hasil pengukuran dari laboratorium ini kemudian akan digunakan untuk >>>> menghitung parameter anisotropi dari shale. >>>> >>>> Hasil dari parameter anisotropi ini (Thomsen parameter) akan dapat >>>> dipergunakan untuk pemodelan response perubahan amplitude seismic yang >>>> akan >>>> dipergunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh fraksi kerogen >>>> terhadap >>>> offset data seismik >>>> >>>> Data anisotropi ini juga dipergunakan dalam pertimbangan fracturing. >>>> >>>> Padagambar dibawah menunjukan bahwa semakain besar fraksi kerogen maka >>>> respon seismik pada gather data menunjukan semakin besar negative >>>> amplituenya dan amplitude semakin melemah terhadap offset. >>>> >>>> >>>> Salam >>>> Anggoro Dradjat >>>> . >> >> >

