Ari,
Setelah melihat data dan diagram alir yang anda berikan, saya hanya bisa
memberi gambaran umum tentang Permeabilitas, Porositas dan FZI berdasarkan
pengalaman saya selama ini:

1. Permeabilitas adalah besaran TENSOR (yang memiliki arah). Arah aliran
menentukan besarnya permeabilitas. Di batuan yang anisotropik,
permeabilitas ke arah y berbeda dengan yang ke arah x atau arah z.
Sementara Porositas adalah besaran SKALAR, sama kesemua arah. Porositas
biasa dipakai sebagai proxy untuk menghitung Permeabilitas, tetapi tidak
selalu berkorelasi positif.

2. Estimasi Permeabilitas di karbonat tidak selalu mengikuti "kaidah" umum
hubungan porositas-permeabilitas seperti di batuan klastik. Distribusi
dan ukuran saluran pori (pore throat) di batuan karbonat seperti vuggy,
interparticle, dsb., sangat berpengaruh terhadap permeabilitas.

3. Saya biasanya menggunakan data FMI (image) untuk membuat variable
tambahan (fracture number, vuggy index, evaporites atau tight rock flags)
untuk estimasi permeabilitas.

4. Hasilnya diverifikasi dengan data core dan/atau data produksi. Jangan
terpaku pada 1 to 1 match (log vs. core), karena kita tidak akan pernah
dapat 100% kecocokan. Ingat log dan data core diperoleh dengan cara dan
prinsip yang berbeda. Komprominya adalah kita bandingkan kumulatif nilai
permeabilitas untuk interval tertentu. Katakan data core hanya berasal dari
interval sepanjang 60 kaki. Maka buat kumulatif permeabilitas (dari log)
juga dari interval sepanjang 60 kaki yang sama. Akan lebih akurat jika kita
punya data uji sumur (DST) dengan perforasi dari interval yang sama juga.
Bandingkan ketiga hasilnya. Kita punya dua data set yang sudah baku,
permeabilitas dari core dan dari DST (perm.thickness), yang tidak bisa
ditawar lagi. Tinggal sekarang kita memperbaiki model/persamaan
permeabilitas dari log agar mendekati nilai kumulatif permeabilitas dari *hard
data* tadi.

5. Konsep Flow Zone Indicator (FZI) belum sepenuhnya bisa diaplikasikan di
klastik untuk prediksi permeabilitas, apa lagi di batuan karbonat. Konsep
FZI, menurut saya, hanya untuk pengklasifikasian batuan saja. Anda masih
harus memakai teknik tambahan seperti Back Propagation atau teknik Neural
Network (NN) lainnya untuk memprediksi FZI (Amaefule, 1992).

6.  Jika anda memang "terpaksa" harus pakai FZI, maka saya usul agar
RQI-nya yang diprediksi pakai NN. Bukan FZI-nya. Karena dengan demikian
anda punya satu *hard data*, yaitu normalized Porosity, PHIZ dari data
logs, dimana PHIZ = PHI/(1-PHI), sebagai  variable utama yang sudah pasti.

7. Apakah Porositas Core = PHIE atau PHIT (porositas efektif atau total)?
Di dalam Petrophysics, PHIE adalah PHIT dikurang CBW (Clay Bond Water).
Porositas Core (PHIC) berada di antara PHIE dan PHIT (sering lebih dekat ke
PHIT). Karena dalam proses mempersiapkan pengukuran porositas (dari core
plug), sample dikeringkan pada temperatur tertentu (vacuum and oven dried @
220 degF) sehingga semua likuid di pori-pori sample dianggap bisa kering,
termasuk CBW-nya. Tetapi dalam realitasnya, CBW tidak pernah sampai 100%
hilang. Di batuan klastik, jika sample benar-benar sampai kering maka
lempungnya jadi terdisintegrasi dan sample-nya jadi
rusak. Jadi PHIT>PHIC>PHIE. Isu PHIE vs PHIT di *clean carbonate* tidak
seheboh kalau di *Shaly Sand*.

8. Saat anda melakukan evaluasi formasi (menghitung porositas), apakah
memakai pendekatan deterministik (RHOMA = 2,71 g/c3)?. Jika YA, maka nilai
porositas (PHIE atau PHIT) yang anda dapatkan belum tentu benar. Karena
dari data Photoelectric Effect Factor (PEF) yang anda lampirkan terlihat
bahwa lithologi-nya kompleks tidak semua bermatriks batugamping (mineralnya
kalsit). Selain itu anda pasti menggunakan GR untuk menghitung volume
serpih (VSH) dan kemudian dipakai untuk menghitung porositas efektif
(PHIE). Padahal Serpih (Shale) tidak sama dengan Lempung (Clay), sehingga
Clay Bound Water (CBW) anda tidak terkoreksi dengan benar.

9. Saran:Untuk kasus karbonat, sebaiknya pakai pendekatan probabilistik
(multi mineral) dimana RHOMA (densitas matriks) bervariasi sesuai data di
lapangan sehingga perhitungan porositas lebih representatif.

Wassalam,

 -bg
http://www.linkedin.com/in/bambanggumilar


2013/5/21 Ari Teguh Sugiarto <[email protected]>

>  Pak bambang
>
> pak bambang saya mau tanya. apakah ada pengaruhnya dengan hasil
> perhitungan porositas log (PHIE) terhadap nilai permeabilitas nantinya.
> karena hasil crosplot antara PHIE dengan porositas core memiliki nilai
> 0.74. karena sebelum saya mengestimasi nilai permeabilitas saya melakukan
> evaluasi formasi untuk menentukan (porositas, saturasi air, dan OWC).
> Terima Kasih
> Atas perhatiannya
>
> Ari
>

 Pak Bambang

Mohon bimbingan pak bambang . ini flow chart yang saya gunakan untuk
estimasi permebilitas. tetapi hasilnya koefisien korelasi kecil 0.3.
padahal koefisien korelasi antara fFZI log dengan FZI core usudah mencapai
0.74. kira-kira apalagi yang saya gunakan pak. biasanya untuk melakukan
estimasi permebilitas menggunakan langkah-langkah seperti bagaimana pak.


**************************************************************************************
   Selamat Pagi
Pak Bambang

Maaf mengganggu. saya mau menanyakan apakah cara yang saya gunakan untuk
menghitung koefisien korelasi menggunakan persamaan Spearman RHO itu dapat
dilakukan distudi kasus ini. dari referensi yang saya baca apabila non
linear dapat  menggunakan persamaan statistika spearman RHO. tetapi yang
saya gunakan adalah FZI yang belum di modif pak. apakah harus menghitung
lagi apabila FZI modif.  apakah untuk mengetahui curve FZI yang ada dilog
diperlukan metode Neural Network dan inputannya itu harus sesuai dengan
trend FZI yang sudah diketahui dari spearman RHO?.

Terima kasih
Atas perhatiannya

Kirim email ke