PALEOTSUNAMI adalah ilmu yang mempelajari tentang tsunami purba atau masa lampau, yang bisa digali melalui pendekatan ilmiah dan pendekatan sejarah.
Dari hasil penelitian rekonstruksi kejadian tsunami purba di Aceh dalam kurun waktu 1.000 tahun ke belakang, dengan menggunakan pendekatan waktu, kejadian tsunami berdasarkan penelitian ilmiah dan catatan sejarah mempunyai kesamaan (waktu kejadian) hampir 90%. Artinya, masyarakat Aceh sudah mempunyai pengetahuan terkait bencana gempa dan tsunami sejak ratusan tahun yang lalu. Indigenous Knowledge Posisi strategis Aceh sebagai pusat perdagangan sejak abad ke 15, membuat Aceh kaya akan peninggalan manuskrip dan naskah kunonya. Ada 11 manuskrip yang penulis kumpulkan untuk merekonstruksi kejadian bencana tsunami Aceh dalam kurun waktu 1.000 tahun ke belakang berdasarkan pendekatan sejarah. Di antaranya terdapat lima manuskrip dari abad ke 17 dan 18 yang ditulis dengan huruf Jawi yaitu huruf beraksara Arab dan berbahasa Aceh. Manuskrip itu menyebutkan: (1)“Rajab: waktu Dhuha gempa alamat akan air laut keras padanya”, (2)“Rajab; Jika Dhuha gempa bergerak alamat air laut itu dengan keras dan hujan itu pun dengan sangat padanya”, (3)“Rajab; Waktu dhuha gempa alamat akan laut keras padanya”, (4)“Rajab; Jika Dhuha gempa bergerak alamat air laut itu dengan keras dan hujan itu pun dengan sangat padanya”, (5)“Rajab: Waktu dhuha gempa alamat angin akan keras, air laut ombak pun keras pada tahun itu”. Peninggalan lainnya berbentuk prosa, biasanya lebih dikenal masyarakat Aceh dengan pantun yang ditulis dalam Bahasa Aceh dengan judul “Geumpa Di Atjeh,” menyebutkan: “Di Keutjhik Ali ka gli anggeeta/Bak tanoh data geudjak dong keudeeh/Djaloe lam laoot djiboot mubara/Meugisa-gisa keunoe ngon keudeeh” (Sjeh Rih Krueng Raja, 1964). Pantun di atas menggambarkan dengan jelas, bagaimana air laut yang mengombang-ambingkan perahu nelayan di laut. Hal ini bisa disinkronisasikan dengan rekaman data citra satelit NOAA (BMKG Amerika), bahwa pada 1964, validitas kejadian tsunami di wilayah Kota Banda Aceh dan sekitarnya adalah validity 3 (cukup valid). Gambaran tentang gelombang laut yang diceritakan dalam pantun di atas, bisa direpresentasikan sebagai kejadian tsunami. Pengetahuan Masyarakat Wawancara mendalam dilakukan kepada orang-orang yang dianggap tokoh yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman terkait kejadian bencana gempa dan tsunami Aceh di masa lalu, minimal tsunami sebelum 2004. Misalnya, "Kakek buyut, kakek dan ayah saya adalah nelayan, sejak kecil dibesarkan di lingkungan pesisir, tetapi tidak pernah mendengar cerita dari orang tua atau kakek terkait bencana tsunami sebelum 2004. Sehingga kejadian tsunami 2004 merupakan pengalaman bencana tsunami yang baru bagi kami, apalagi saat kejadian itu banyak orang-orang tua kami yang meninggal, hampir 80% masyarakat di sini meninggal. Jadi sangat mustahil untuk melacak kembali informasi terkait bencana tsunami dari mereka” (Ayi, 45 tahun, Panglima Laot Lam Pulo, Banda Aceh). “Jaman masih gadis dulu, pernah terjadi Ie beuna (sekitar 1907). Saat itu air Sungai Krueng Sabe meluap sampai ke dekat Goa Naga (Desa Geni, 7-8 KM dari pantai). Saya juga mengalami gempa 7 hari 7 malam pada masa DI/TII (1964), akibatnya Gunung Sawah runtuh.” (Hamidah, 120 tahun, Kampung Bunta, Krueng Sabe, Aceh Jaya). “Cerita nenek saat saya kecil: “Kakek bernama Teuku Leupek Ie Beuna, beliau lahir pada saat kejadian Ie Beuna (1907) air di laut terlihat sangat tinggi. Para ulama mendekati pantai dan mengumandangkan azan di sana, air laut pecah di pantai dan sebagian ke daratan.” Kakek sudah meninggal. Pada saat gempa Desember pagi 2004, nenek bilang, “sebentar lagi air laut akan naik!”, karena nenek sudah tua dan pikun kami menganggap nenek mengigau saja. Ketika air laut naik kami mencoba menyelamtakan diri, nenek yang sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur dan suami tidak tertolong lagi, tetapi kedua anak saya selamat.” (Cut Dian Putri, 39 tahun, Kampung Kota Padang Lingkungan IV, Ujung Kala, Aceh Barat). “Saat terjadi smong saya masih kecil belum tahu apa-apa, tanah pecah-pecah terbuka karena gempa, Ayah membawa saya lari ke gunung, air masuk kedarat dan banyak yang meninggal. Waktu itu kami makan sagu dari pohon rumbia dan menggunakan pakaian dari kulit kayu (bairak). Ketika gempa di pagi hari pada Desember 2004 dan air sungai (muara) surut dengan cepat, saya tahu air laut akan naik, suaranya seperti pandan yang terbakar. Maka saya berteriak “smong” dan semua orang lari ke gunung, ketika di gunung lahir cucu saya, jadi saya menamakan dia “Putra Smong”. (Rukiyah, 118 tahun, saksi mata Smong 1907, Teupah Barat, Simeulue). “Menurut cerita masyarakat secara turun temurun, pernah terjadi geloro pertama saat meletusnya gunung Krakatau sekitar tahun 1833 yang menenggelamkan Kota Singkil Lama. Kemudian sekitar tahun 1900an terjadi geloro kedua yang membuat masyarakat dari Kayu Menang berpindah ke Kecamatan Singkil sekarang.” (Safrijal Amni, 49 tahun, Kabid Pengendalian Dampak Lingkungan, Bappeda Singkil). Gap Informasi Banyak faktor yang menyebabkan adanya gap informasi dan transfer pengetahuan terkait bencana gempa dan tsunami tidak berjalan dengan baik. Beberapa indikasi adalah (1) Manuskrip dan pantun terkait bencana gempa dan tsunami yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, tidak disosialisasikan dan hanya dimiliki oleh sekelompok orang. Biasanya hanya turun temurun menjadi warisan dalam silsilah keluarga penulis saja, sehingga banyak naskah kuno yang sangat bermanfaat yang belum tergali keberadaannya. (2) Kearifan lokal yang hanya berkembang di wilayah tertentu saja, seperti di Simeulue yang mempunyai kearifan lokal dengan lagu “Smong” yang dinyanyikan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. (3) Rentang waktu terjadinya tsunami cukup jauh sampai ratusan tahun sehingga masyarakat cenderung melupakan kejadian tersebut. (4) Para orang tua lupa untuk menceritakan kembali pengetahuan dan pengalaman terkait bencana gempa dan tsunami kepada anak keturunannya. Atau bila diceritakan hanya di keluarga saja tidak dibagikan kepada masyarakat luas. (5) Pergantian Bahasa Indonesia menjadi bahasa keseharian, membuat msyarakat melupakan dan tidak mempelajari kembali Bahasa Jawi. Pembelajaran Dari catatan manuskrip Aceh terkait gempa dan tsunami, 50% menyebutkan bahwa, ”Jika gempa dhuha, kemungkinan besar akan terjadi tsunami.” merupakan “Local Wisdom Aceh”. Beberapa alasan mengapa pengetahuan ini harus menjadi kearifan lokal bagi masyarakat Aceh yang bermanfaat bagi pengurangan risiko bencana, adalah sebagai berikut: 1. Waktu dhuha adalah waktu puncak dimana masyarakat pada umumnya melakukan banyak kegiatan, baik itu pelajar, pegawai dan pedagang. Hal ini mengindikasikan betapa besar risiko dari dampak bencana tsunami bila terjadi pada waktu duha. 2. Pengetahuan ini bisa dijadikan dasar kegiatan pengurangan risiko bencana dan pijakan pembuat kebijakan, misalnya: a. Mewajibkan pembuatan SOP penyelamatan diri dari bangunan baik itu sekolah, perkantoran dan pusat perdagangan di wilayah-wilayah rawan tsunami (dan gempa). b. Mewajibkan (khususnya waktu dhuha) membuka jalur khusus jalan yang memudahkan evakuasi ke tempat yang aman dengan petunjuk arah yang jelas. Untuk contoh kasus di Kota Banda Aceh: Berdasarkan pengalaman gempa pada April 2012. Hal ini menyebabkan kemacetan jalan secara total hampir di semua ruas jalan besar, bahkan di area yang sangat berisiko seperti jembatan. Bisa dibayangkan seandainya tsunami terjadi pada saat dhuha dimana jam padat kendaraan ketika semua orang memulai aktivitas seperti pergi sekolah dan berangkat kerja? Hal ini pasti akan menambah risiko timbulnya korban jiwa. c. Mewajibkan instansi seperti PLN, baik di tingkat provinsi maupun di daerah untuk melakukan back up power (terutama pada waktu dhuha) langsung untuk pusdalops/Pusat Pengendalian Operasional, sehingga Early Warning System (EWS) dapat dibunyikan dengan segera ketika terjadi bencana tsunami. Kesimpulan Kurangnya inisiatif masyarakat berbagi pengetahuan tentang pengalaman bencana dan informasi terkait bencana kepada lingkungan sekitar, menyebabkan gap informasi terputus dari generasi yang mengalami bencana kepada generasi selanjutnya. Sehingga proses transfer informasi dan pengetahuan yang berkelanjutan dari generasi ke generasi tidak berjalan dengan baik. Pengetahuan masyarakat tentang kejadian bencana, mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam mengurangi dampak kejadian tsunami. Semakin banyak informasi dan pengetahuan masyarakat tentang bencana, maka semakin besar kesadaran publik, semakin tinggi tingkat kesiap-siagaan dalam masyarakat dan semakin kecil risiko dari dampak bencana tsunami yang ditimbulkan. Saran Penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah Aceh seperti Pemprov, Pemda, Bappeda, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata, BPBA, BPBD dan instansi terkait lainnya harus menggandeng profit company untuk kegiatan CSR Pengurangan Risiko Bencana. Keberadaan Lembaga Donor (Non Government Organization) merupakan aset yang perlu dimaksimalkan sebagai Government Support dan patner dalam implementasi kegiatan Penanggulangan Bencana. Dalam hal ini Himpunan Mahasiswa Magister Kebencanaan Universitas Syiah Kuala Hibeuna bekerjasama dengan IOM (International Organization of Migration) berinisiatif untuk mendukung penelitian “Korelasi Endapan sedimen dan Kearifan Lokal sebagai Rekan jejak Paleotsunami Aceh Untuk Pengurangan Risiko Bencana". Ini memiliki korelasi dengan program IOM dan terutama karena sebagian wilayah dalam penelitian ini merupakan wilayah dampingan. Dengan membukukan penelitian ini untuk dikembalikan dan disebarluaskan kepada masyarakat sebagai bagian dari “transfer knowledge dari local wisdom Aceh.”[] *Mahasiswa Magister Kebencanaan, Peneliti. - See more at: http://www.atjehpost.com/saleum_read/2013/06/10/55085/77/3/Rekam-jejak-tsunami-masa-lampau-di-Aceh#sthash.C3axrmHU.dpuf * http://www.atjehpost.com/saleum_read/2013/06/10/55085/77/3/Rekam-jejak-tsunami-masa-lampau-di-Aceh ** *Masyarakat Aceh sudah mempunyai pengetahuan terkait bencana gempa dan tsunami sejak ratusan tahun yang lalu. NURJANAH Senin, 10 Juni 2013 11:40:00 WIB masyarakat Aceh sudah mempunyai pengetahuan terkait bencana gempa dan tsunami sejak ratusan tahun yang lalu. - <http://www.atjehpost.com/saleum_read/2013/06/10/55085/77/3/Rekam-jejak-tsunami-masa-lampau-di-Aceh> - - NURJANAH<http://www.atjehpost.com/saleum_read/2013/06/10/55085/77/3/Rekam-jejak-tsunami-masa-lampau-di-Aceh> - Senin, 10 Juni 2013 11:40:00 WIB - See more at: http://www.atjehpost.com/saleum_read/2013/06/10/55085/77/3/Rekam-jejak-tsunami-masa-lampau-di-Aceh#sthash.C3axrmHU.dpuf * ** *Gambar naskah gempa koleksi Museum Negeri Aceh, tertulis, “Rajab; Jika waktu dhuha gempa alamat akan laut keras padanya”. (kalimat pada alinea bergaris kuning). @Nurjanah - See more at: http://www.atjehpost.com/saleum_read/2013/06/10/55085/77/3/Rekam-jejak-tsunami-masa-lampau-di-Aceh#sthash.C3axrmHU.dpuf Gambar naskah gempa koleksi Museum Negeri Aceh, tertulis, “Rajab; Jika waktu dhuha gempa alamat akan laut keras padanya”. (kalimat pada alinea bergaris kuning). @Nurjanah - See more at: http://www.atjehpost.com/saleum_read/2013/06/10/55085/77/3/Rekam-jejak-tsunami-masa-lampau-di-Aceh#sthash.C3axrmHU.dpuf * PALEOTSUNAMI adalah ilmu yang mempelajari tentang tsunami purba atau masa lampau, yang bisa digali melalui pendekatan ilmiah dan pendekatan sejarah. Dari hasil penelitian rekonstruksi kejadian tsunami purba di Aceh dalam kurun waktu 1.000 tahun ke belakang, dengan menggunakan pendekatan waktu, kejadian tsunami berdasarkan penelitian ilmiah dan catatan sejarah mempunyai kesamaan (waktu kejadian) hampir 90%. Artinya, masyarakat Aceh sudah mempunyai pengetahuan terkait bencana gempa dan tsunami sejak ratusan tahun yang lalu. Indigenous Knowledge Posisi strategis Aceh sebagai pusat perdagangan sejak abad ke 15, membuat Aceh kaya akan peninggalan manuskrip dan naskah kunonya. Ada 11 manuskrip yang penulis kumpulkan untuk merekonstruksi kejadian bencana tsunami Aceh dalam kurun waktu 1.000 tahun ke belakang berdasarkan pendekatan sejarah. Di antaranya terdapat lima manuskrip dari abad ke 17 dan 18 yang ditulis dengan huruf Jawi yaitu huruf beraksara Arab dan berbahasa Aceh. Manuskrip itu menyebutkan: (1)“Rajab: waktu Dhuha gempa alamat akan air laut keras padanya”, (2)“Rajab; Jika Dhuha gempa bergerak alamat air laut itu dengan keras dan hujan itu pun dengan sangat padanya”, (3)“Rajab; Waktu dhuha gempa alamat akan laut keras padanya”, (4)“Rajab; Jika Dhuha gempa bergerak alamat air laut itu dengan keras dan hujan itu pun dengan sangat padanya”, (5)“Rajab: Waktu dhuha gempa alamat angin akan keras, air laut ombak pun keras pada tahun itu”. Peninggalan lainnya berbentuk prosa, biasanya lebih dikenal masyarakat Aceh dengan pantun yang ditulis dalam Bahasa Aceh dengan judul “Geumpa Di Atjeh,” menyebutkan: “Di Keutjhik Ali ka gli anggeeta/Bak tanoh data geudjak dong keudeeh/Djaloe lam laoot djiboot mubara/Meugisa-gisa keunoe ngon keudeeh” (Sjeh Rih Krueng Raja, 1964). Pantun di atas menggambarkan dengan jelas, bagaimana air laut yang mengombang-ambingkan perahu nelayan di laut. Hal ini bisa disinkronisasikan dengan rekaman data citra satelit NOAA (BMKG Amerika), bahwa pada 1964, validitas kejadian tsunami di wilayah Kota Banda Aceh dan sekitarnya adalah validity 3 (cukup valid). Gambaran tentang gelombang laut yang diceritakan dalam pantun di atas, bisa direpresentasikan sebagai kejadian tsunami. Pengetahuan Masyarakat Wawancara mendalam dilakukan kepada orang-orang yang dianggap tokoh yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman terkait kejadian bencana gempa dan tsunami Aceh di masa lalu, minimal tsunami sebelum 2004. Misalnya, "Kakek buyut, kakek dan ayah saya adalah nelayan, sejak kecil dibesarkan di lingkungan pesisir, tetapi tidak pernah mendengar cerita dari orang tua atau kakek terkait bencana tsunami sebelum 2004. Sehingga kejadian tsunami 2004 merupakan pengalaman bencana tsunami yang baru bagi kami, apalagi saat kejadian itu banyak orang-orang tua kami yang meninggal, hampir 80% masyarakat di sini meninggal. Jadi sangat mustahil untuk melacak kembali informasi terkait bencana tsunami dari mereka” (Ayi, 45 tahun, Panglima Laot Lam Pulo, Banda Aceh). “Jaman masih gadis dulu, pernah terjadi Ie beuna (sekitar 1907). Saat itu air Sungai Krueng Sabe meluap sampai ke dekat Goa Naga (Desa Geni, 7-8 KM dari pantai). Saya juga mengalami gempa 7 hari 7 malam pada masa DI/TII (1964), akibatnya Gunung Sawah runtuh.” (Hamidah, 120 tahun, Kampung Bunta, Krueng Sabe, Aceh Jaya). “Cerita nenek saat saya kecil: “Kakek bernama Teuku Leupek Ie Beuna, beliau lahir pada saat kejadian Ie Beuna (1907) air di laut terlihat sangat tinggi. Para ulama mendekati pantai dan mengumandangkan azan di sana, air laut pecah di pantai dan sebagian ke daratan.” Kakek sudah meninggal. Pada saat gempa Desember pagi 2004, nenek bilang, “sebentar lagi air laut akan naik!”, karena nenek sudah tua dan pikun kami menganggap nenek mengigau saja. Ketika air laut naik kami mencoba menyelamtakan diri, nenek yang sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur dan suami tidak tertolong lagi, tetapi kedua anak saya selamat.” (Cut Dian Putri, 39 tahun, Kampung Kota Padang Lingkungan IV, Ujung Kala, Aceh Barat). “Saat terjadi smong saya masih kecil belum tahu apa-apa, tanah pecah-pecah terbuka karena gempa, Ayah membawa saya lari ke gunung, air masuk kedarat dan banyak yang meninggal. Waktu itu kami makan sagu dari pohon rumbia dan menggunakan pakaian dari kulit kayu (bairak). Ketika gempa di pagi hari pada Desember 2004 dan air sungai (muara) surut dengan cepat, saya tahu air laut akan naik, suaranya seperti pandan yang terbakar. Maka saya berteriak “smong” dan semua orang lari ke gunung, ketika di gunung lahir cucu saya, jadi saya menamakan dia “Putra Smong”. (Rukiyah, 118 tahun, saksi mata Smong 1907, Teupah Barat, Simeulue). “Menurut cerita masyarakat secara turun temurun, pernah terjadi geloro pertama saat meletusnya gunung Krakatau sekitar tahun 1833 yang menenggelamkan Kota Singkil Lama. Kemudian sekitar tahun 1900an terjadi geloro kedua yang membuat masyarakat dari Kayu Menang berpindah ke Kecamatan Singkil sekarang.” (Safrijal Amni, 49 tahun, Kabid Pengendalian Dampak Lingkungan, Bappeda Singkil). Gap Informasi Banyak faktor yang menyebabkan adanya gap informasi dan transfer pengetahuan terkait bencana gempa dan tsunami tidak berjalan dengan baik. Beberapa indikasi adalah (1) Manuskrip dan pantun terkait bencana gempa dan tsunami yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, tidak disosialisasikan dan hanya dimiliki oleh sekelompok orang. Biasanya hanya turun temurun menjadi warisan dalam silsilah keluarga penulis saja, sehingga banyak naskah kuno yang sangat bermanfaat yang belum tergali keberadaannya. (2) Kearifan lokal yang hanya berkembang di wilayah tertentu saja, seperti di Simeulue yang mempunyai kearifan lokal dengan lagu “Smong” yang dinyanyikan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. (3) Rentang waktu terjadinya tsunami cukup jauh sampai ratusan tahun sehingga masyarakat cenderung melupakan kejadian tersebut. (4) Para orang tua lupa untuk menceritakan kembali pengetahuan dan pengalaman terkait bencana gempa dan tsunami kepada anak keturunannya. Atau bila diceritakan hanya di keluarga saja tidak dibagikan kepada masyarakat luas. (5) Pergantian Bahasa Indonesia menjadi bahasa keseharian, membuat msyarakat melupakan dan tidak mempelajari kembali Bahasa Jawi. Pembelajaran Dari catatan manuskrip Aceh terkait gempa dan tsunami, 50% menyebutkan bahwa, ”Jika gempa dhuha, kemungkinan besar akan terjadi tsunami.” merupakan “Local Wisdom Aceh”. Beberapa alasan mengapa pengetahuan ini harus menjadi kearifan lokal bagi masyarakat Aceh yang bermanfaat bagi pengurangan risiko bencana, adalah sebagai berikut: 1. Waktu dhuha adalah waktu puncak dimana masyarakat pada umumnya melakukan banyak kegiatan, baik itu pelajar, pegawai dan pedagang. Hal ini mengindikasikan betapa besar risiko dari dampak bencana tsunami bila terjadi pada waktu duha. 2. Pengetahuan ini bisa dijadikan dasar kegiatan pengurangan risiko bencana dan pijakan pembuat kebijakan, misalnya: a. Mewajibkan pembuatan SOP penyelamatan diri dari bangunan baik itu sekolah, perkantoran dan pusat perdagangan di wilayah-wilayah rawan tsunami (dan gempa). b. Mewajibkan (khususnya waktu dhuha) membuka jalur khusus jalan yang memudahkan evakuasi ke tempat yang aman dengan petunjuk arah yang jelas. Untuk contoh kasus di Kota Banda Aceh: Berdasarkan pengalaman gempa pada April 2012. Hal ini menyebabkan kemacetan jalan secara total hampir di semua ruas jalan besar, bahkan di area yang sangat berisiko seperti jembatan. Bisa dibayangkan seandainya tsunami terjadi pada saat dhuha dimana jam padat kendaraan ketika semua orang memulai aktivitas seperti pergi sekolah dan berangkat kerja? Hal ini pasti akan menambah risiko timbulnya korban jiwa. c. Mewajibkan instansi seperti PLN, baik di tingkat provinsi maupun di daerah untuk melakukan back up power (terutama pada waktu dhuha) langsung untuk pusdalops/Pusat Pengendalian Operasional, sehingga Early Warning System (EWS) dapat dibunyikan dengan segera ketika terjadi bencana tsunami. Kesimpulan Kurangnya inisiatif masyarakat berbagi pengetahuan tentang pengalaman bencana dan informasi terkait bencana kepada lingkungan sekitar, menyebabkan gap informasi terputus dari generasi yang mengalami bencana kepada generasi selanjutnya. Sehingga proses transfer informasi dan pengetahuan yang berkelanjutan dari generasi ke generasi tidak berjalan dengan baik. Pengetahuan masyarakat tentang kejadian bencana, mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam mengurangi dampak kejadian tsunami. Semakin banyak informasi dan pengetahuan masyarakat tentang bencana, maka semakin besar kesadaran publik, semakin tinggi tingkat kesiap-siagaan dalam masyarakat dan semakin kecil risiko dari dampak bencana tsunami yang ditimbulkan. Saran Penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah Aceh seperti Pemprov, Pemda, Bappeda, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata, BPBA, BPBD dan instansi terkait lainnya harus menggandeng profit company untuk kegiatan CSR Pengurangan Risiko Bencana. Keberadaan Lembaga Donor (Non Government Organization) merupakan aset yang perlu dimaksimalkan sebagai Government Support dan patner dalam implementasi kegiatan Penanggulangan Bencana. Dalam hal ini Himpunan Mahasiswa Magister Kebencanaan Universitas Syiah Kuala Hibeuna bekerjasama dengan IOM (International Organization of Migration) berinisiatif untuk mendukung penelitian “Korelasi Endapan sedimen dan Kearifan Lokal sebagai Rekan jejak Paleotsunami Aceh Untuk Pengurangan Risiko Bencana". Ini memiliki korelasi dengan program IOM dan terutama karena sebagian wilayah dalam penelitian ini merupakan wilayah dampingan. Dengan membukukan penelitian ini untuk dikembalikan dan disebarluaskan kepada masyarakat sebagai bagian dari “transfer knowledge dari local wisdom Aceh.”[] *Mahasiswa Magister Kebencanaan, Peneliti. - See more at: http://www.atjehpost.com/saleum_read/2013/06/10/55085/77/3/Rekam-jejak-tsunami-masa-lampau-di-Aceh#sthash.C3axrmHU.dpuf -- "**Control yourself, and you got freedom"*

