Mas Ket-Um

Perspektif saya dari sejarah :
(1) era sebelum kemerdekaan RI;
Didominasi oleh kaum imperialis eropa . . . kita masih ingat zamannya
Indonesia masih dijajah belanda . . Di Kalimantan Selatan di sekitar
martapura sudah lama di ekploitasi batubara Formasi Tanjung dan Formasi
Warukin . . . ini tercatat baik sekali oleh cendikia di wilayah Banjar . .
dengan adanya perang Ulama vs kumpeni alias VOC waktu itu.  Walaupun dengan
peralatan dan senjata yang sederhana . . .dengan keyakinan para ulama,
santri dan masyarakat pada saat itu . .  berhasil . . mengusir dengan susah
payah . . para penjajah ini
 dari bumi lambung mangkurat dengan menenggelamkan kapal patroli VOC . .
(ini ada catatannya di musium Belanda).
Begitu juga dengan daerah-daerah lain yang mempunyai potensi batubara,
minyak bumi (cepu) dan lain-lain.

(2) era Sukarno;
Beliau ini sangat anti terhadap "west" dan lebih senang merangkul cina dan
Russia.  Di Kalsel saja masih ada sampai sekarang monumen "helikopter" para
geologist Rusia di Banjarbaru, mereka melirik - GUNUNG TEMBAGA "pelaihari"
sebagai lahan potensial untuk deposit Batubesi dan tembaga.  Yang sekarang
bentang alamnya sudah amburadul . . karena sudah bablas "DILEGO" oleh
Prusda Baratala Kabupaten Tanah Laut  (2003 - 2011).  Bisa di konfirmasi
dengan Direktur Operasional-nya Bp Beben Taruka Umbara (Geofisika &
Meteorologi ITB 1979), dan Hermawan Wahyu Utomo (Teknik Gelogi ITB 1991).

(3) era Suharto;
Beliau ini harus membayar "ongkos" dengan Kepres :
Freeport 1967 . . . . . . Arutmin (lupa) . . . dan banyak lagi oil co. yang
lain dari "west".

(4) Pasca Suharto - hingga sekarang ;
Tidak ada pemimpin yang sanggup mewujudkan KEMANDIRIAN ENERGI, seperti
janji pada kampanye mereka sebelum mereka dipilih.
Jadi praktis selama 1967 - 2013, 46 tahun kita belum BECUS mengurus rumah
tangga sendiri .

Sangatlah ironi . . rakyat kita bisa menderita . . dengan kekayaan yang ada
di perut bumi  . . .kita seharusnya malu menggunakan mobil-mobil mewah yang
ada sekarang.  Karena itu-lah yang membedakan kita dengan Cina dan India,
bahkan dengan saudara muda kita- Malaysia.  Makanya dengan atmosfir seperti
ini . . . banyak kaum cendikia kita lebih memilih NGAJAR di Malaysia,
dengan harapan suatu saat setelah atmosfirnya BERSAHABAT, maka akan ikut
kedalam sistem dan mulai membenahinya secara bertahap.

Memang kata kuncinya adalah :
suri toladan . . .
pemimpin amanah . . .
gaya hidup . . .
potong generasi . . .
hukum koruptor . . .
NEGARA FEDERAL . . . .
NASIONALISASI perusahaan Energi
BERSIHKAN HATI NURANI !
Revolusi Energi

he . . . he . . he . . . kok mirip maunya Amien Rais . . ya?
Kebetulan aja . . mas bro !

Salam Go Green

Helmi
Geologist-3541
GeologiUnpad89
Geotermal-ITB2011
DisESDM ProvJabar



Pada 29 Juli 2013 17.21, <[email protected]> menulis:

> susah juga kalau mau menuju Kemandirian energi kalau dari dalam
> sendiri saja digerogoti.....--------------
>
> Pencurian Minyak: Pertamina Terbebani Biaya Tambahan
> Senin, 29 Juli 2013, 15:30 WIB
> Bisnis.com, JAKARTA--Terus berlangsungnya aksi pencurian minyak
> mentah di pipa Tempino-Plaju mengakibatkan PT Pertamina
> (Persero) mengeluarkan biaya tambahan untuk membawa minyak
> mentah dari luar Sumatra Selatan guna diolah di Kilang Plaju.Chrisna
> Damayanto, Direktur Pengolahan Pertamina mengatakan
> biaya tambahan tersebut dikeluarkan karena perseroan harus
> mengganti pasokan dari Tempino dan Bentayan dengan minyak
> mentah dari luar Sumatra Selatan.“Biaya tambahan belum kami hitung, yang
> akan ada biaya itu
> karena kami harus mencari minyak mentah dari luar Sumatra
> Selatan untuk memasok ke Kilang Plaju,” katanya di Jakarta,
> Senin (29/7/2013).Chrisna mengungkapkan terhentinya pasokan minyak mentah
> dari
> Tempino tidak berpengaruh banyak terhadap produksi Kilang
> Plaju. Alasannya, selama ini kilang itu mendapatkan sebagian
> besar minyak mentah dari luar Sumatra Selatan yang didatangkan
> dengan kapal tangker.Menurutnya, Pertamina akan melakukan pengaturan
> pasokan minyak
> mentah antarkilang yang ada saat ini. Hal itu dilakukan agar
> tidak terjadi penurunan produksi bahan bakar minyak (BBM)
> secara signifikan.Sebelumnya, Pertamina EP menyebutkan penghentian
> pengiriman
> 12.000 barel minyak mentah ke Kilang Plaju dapat menciptakan
> krisis BBM sebanyak 1,9 juta liter di Sumatra Selatan. Hal itu
> masih ditambah dengan potensi kelangkaan avtur untuk pesawat
> terbang.Saat ini penjualan BBM subsidi (public service obligation/PSO)
> di Kertapi mencapai 2.600 kiloliter, penjualan BBM subsidi di
> Panjang mencapai 3.900 kiloliter, dan penjualan BBM subsidi di
> Jambi mencapai 2.100 kiloliter, dan penjualan di Palembang
> mencapai 2.600 kiloliter.“Ancaman krisis pasokan dari minyak jalur
> Tempino-Plaju yang
> dihentikan saat ini bisa mencapai 1.100 kiloliter, berarti
> hampir 50% dari kebutuhan di kota Palembang dan sekitarnya,”
> kata manager humas Pertamina EP Agus Amperianto.Pertamina EP pun telah
> menghentikan produksi di sumur migas
> yang ada di Tempino. Padahal, unutk mengoperasionalkan kembali
> sumur minyak yang sudah dihentikan itu memerlukan biaya dan
> investasi tambahan yang tidak sedikit.Agus menyebutkan dibutuhkan
> setidaknya US$500 ribu unutk
> mengoperasionalkan kembali sumur yang telah dimatikan. Akan
> tetapi, investasi itu masih tergantung dengan perlengkapan dan
> rig yang digunakan.“Diperlukan 3-6 bulan untuk mengembalikan produksi dari
> sumur
> yang telah kita hentikan. Hal ini juga berarti produksi kami
> akan menurun,” jelasnya.
>
>
>
>
>
>
> ___________________________________________________________
> indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id
>
>
> ----------------------------------------------------
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
> ----------------------------------------------------
> Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> ----------------------------------------------------
> Hubungi kami di http://www.iagi.or.id/contact
> untuk mendaftar/merubah email Milis IAGI
> ----------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others.
> In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not
> limited
> to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting
> from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with
> the use of
> any information posted on IAGI mailing list.
> ----------------------------------------------------
>

----------------------------------------------------

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact

----------------------------------------------------

Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:

Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta

No. Rek: 123 0085005314

Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia

No. Rekening: 255-1088580

A/n: Shinta Damayanti

----------------------------------------------------

Hubungi kami di http://www.iagi.or.id/contact

untuk mendaftar/merubah email Milis IAGI 

----------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 

posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 

In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not 
limited

to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 

from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use 
of 

any information posted on IAGI mailing list.

----------------------------------------------------

Kirim email ke