Pertamina mempunyai 6 Refinery antara lain Cilacap (~350KBD), Balikpapan (~250KBD), Dumai (~175KBD), Balongan (~125KBD, Plaju (~120KBD) dan Kasim (~10KBD) sehingga total yg bisa diolah adalah ~1000KBD, untuk mengukur efisiensi sebuah Refinery atau untuk melihat kecanggihannya (conmplexitas) biasanya diukur dg* “Nelson Complexity Index” (NCI)* yg definisinya adalah mengukur kemampuan sebuah refinery dalam menyuling minyak mentah menjadi minyak siap pakai (refine oil). Untuk Singapura punya kilang dg capacity 445KBD dg NCI=6.8, UK average / kilang 170KBD dg NCI=9.0, USA average / kilang 130KBD dg NCI=11. NCI ini makin tinggi nilainya maka makin canggih Kilangnya dan makin banyak produknya. Kilang dg nilai NCI=11 maka artinya secara kasar Crude masuk 100%, produknya 110% ini contoh untuk rata2 kilang di USA. Kalau yg Singapura NCInya 6.8, berarti crude masuk 100% yg jadi fine productnya 68%, jadi ada residu 32% yg tidak tersuling. Untuk Pertamina kabarnya NCI rata2 dari kilang yg ada adalah < 6.0, dg kilang Balongan yg punya daya suling paling efektif dg NCI=~12, tapi kilang2 tua seperti Cilacap, Balikpapan dan Plaju relative kurang bagus karena mempunyai NCI <4.0, sehingga perlu di upgrate. Melihat NCI rata2 dari kilang Pertamina maka tidak heran kalau harga minyak produk Kilang Pertamina mahal. Dg nilai NCI rata2 < 6.0, berarti setiap crude yg masuk ke kilang Pertamina yg bisa tersuling hanya 60% dan sisanya yg 40% menjadi residu yg mungkin dijual dg harga jauh dibawah ICP (Index Crude Price).
*Saya coba ber-andai-andai seolah olah kita hitung sbb:* *Harga crude USD 100, ongkos suling USD 10 /bbl (dari internet, kilang di USA), 1bbl=159 lt, harga oil residu = USD 40/bbl (?kira2 dari internet), NCI <6.0, produk kilang 60% maka dalam 1 bbl (159lt) akan menghasilkan=95.4 lt. Biaya yg diperlukan untuk ini adalah ((USD 100+USD10)- USD16 (40%volume residu))=USD94.0 ~IDR940K, shg harga minyak di Kilang = Rp940K/95.4 = Rp 9850/lt, kalau ditambah ongkos angkut Rp250/lt maka harga eceran = Rp10,100,-. Margin buat PomBensin 4% maka harga Retailnya = Rp10,504,-* Ada kilang Jamnagar di India yg dimiliki RelianceIndustries Ltd mempunyai NCI = 14.0 dan yg paling canggih adalah Kilang milik BP Texas City di Galveston Texas USA dg nilai NCI=15.3 mulai tahun 2013 ini. Saya yakin Pertamina ahir2 ini kabarnya lagi aktif mem-revamp kilang2nya, dg harapan nilai Nelson Complexitas Indexnya secara bertahap akan di naikkan dari <6.0 ke nilai NCI >6.0 dst. Salam dan selamat puasa Avi 2013/7/31 <[email protected]> > Hehehe kilang kita kan dari dulu juga tdk bisa optimal, maklum proyek > dadakan (maaf kalau salah). > Sebagai perusahaan yaa memang harus cari keuntungan, > bisa dimengerti, > karena sifat badan usaha memang begicu. > > Lha apakah keuntungan itu tidak dapat digunakan untuk membuat/memperbaiki > kilang supaya dapat produksi sendiri? > > Lam salam. > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: Ok Taufik <[email protected]> > Sender: <[email protected]> > Date: Tue, 30 Jul 2013 19:26:47 > To: iagi-net<[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: [iagi-net] Pertamina Lebih Untung Impor BBM Daripada Produksi > Sendiri > Kalau membaca informasi terkait, bisa saja ditafsirkan ambil jalan pintas > terus. > http://m.detik.com/finance/read/2013/07/30/163331/2319254/1034/ > > Pertamina Lebih Untung Impor BBM Daripada Produksi Sendiri > > Rista Rama Dhany - detikFinance > > > Jakarta - PT Pertamina (Persero) mengungkapkan, lebih menguntungkan > mengimpor BBM daripada memproduksi BBM sendiri di kilangnya. Karena > itu Pertamina lebih suka mengimpor BBM. > > Hal tersebut seperti diungkapkan Senior Vice President Feul Marketing > & Distribution Pertamina Suhartoko saat dihubungi, Selasa (30/7/2013). > > "Pertamina lebih untung impor daripada produksi BBM di kilang sendiri. > Harga produksi BBM dikilang sendiri itu 107% dibandingkan harga BBM > impor atau 107% x MOPS," ungkap Suhartoko. > > Kerugian memproduksi BBM di kilang sendiri terjadi karena banyak > kilang BBM Pertamina yang berusia tua. > > "Itu karena kilang kita usianya hampir sebagian besar berusia tua, > kilang Balongan yang terakhir kita bangun pada tahun 80-an," tandas > Suhartoko > > > -- > Sent from my Computer® > ---------------------------------------------------- > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact > ---------------------------------------------------- > Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa) > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > ---------------------------------------------------- > Hubungi kami di http://www.iagi.or.id/contact > untuk mendaftar/merubah email Milis IAGI > ---------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. > In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not > limited > to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting > from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with > the use of > any information posted on IAGI mailing list. > ---------------------------------------------------- > ---------------------------------------------------- Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact ---------------------------------------------------- Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti ---------------------------------------------------- Hubungi kami di http://www.iagi.or.id/contact untuk mendaftar/merubah email Milis IAGI ---------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ----------------------------------------------------

