Salute untuk Museum Geologi Bandung

Khususnya untuk Program Night at the Museum ... Jadi bias jalan - jalan di
Museum saat malam - malam ..

Keren banget ..

http://travel.kompas.com/read/2014/05/28/1616342/Museum.Geologi.dari.Bandung.untuk.Dunia?utm_source=travel&utm_medium=bp&utm_campaign=related
 Travel <http://travel.kompas.com/> / News
<http://travel.kompas.com/news>Museum
Geologi, dari Bandung untuk Dunia
Rabu, 28 Mei 2014 | 16:16 WIB
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Fosil Gajah Blora (Elephas hysudrindicus)
dipajang dan dipamerkan di Museum Geologi Bandung, Jawa Barat, seusai
direkonstruksi, Senin (19/5/2014). Fosil gajah yang diekskavasi di Dusun
Sunggun, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, itu berusia
200.000-250.000 tahun. Dimensi tinggi sekitar 4 meter, panjang 5 meter dan
berat 6-8 ton.
Berita Terkait

   - Manusia Purba Pun "Hidup" Kembali
   
<http://travel.kompas.com/read/2012/08/17/09002877/Manusia.Purba.Pun.Hidup.Kembali>
   - Pengunjung Museum Geologi Bandung Meningkat
   
<http://travel.kompas.com/read/2014/01/28/1441469/Pengunjung.Museum.Geologi.Bandung.Meningkat.>
   - Tempat di Masa Depan untuk Museum
   
<http://travel.kompas.com/read/2014/05/25/1219009/Tempat.di.Masa.Depan.untuk.Museum>
   - Cristiano Ronaldo, Warga Terbaru Madame Tussauds Hongkong
   
<http://travel.kompas.com/read/2014/05/26/1421291/Cristiano.Ronaldo.Warga.Terbaru.Madame.Tussauds.Hongkong>
   - Mengenang yang Tiada di Balik Berita
   
<http://travel.kompas.com/read/2014/05/28/1537226/Mengenang.yang.Tiada.di.Balik.Berita>

 Tweet <https://twitter.com/share>
1
<http://travel.kompas.com/read/2014/05/28/1616342/Museum.Geologi.dari.Bandung.untuk.Dunia?utm_source=travel&utm_medium=bp&utm_campaign=related#komentar>
 *MUSEUM* Geologi Bandung, Jawa Barat, memoles wajah mempercantik diri.
Berharap terus menjadi inspirasi bagi dunia penelitian Indonesia dan dunia
melalui ratusan ribuan koleksinya. Tanggal 16 Mei 2014, museum itu berusia
85 tahun.

Datang bersama anak dan istrinya, Dodi Suwarja (35), mendongak ke koleksi
terbaru Museum Geologi, fosil gajah purba *(Elephas hysudrindicus)*, Sabtu
(26/5/2014) malam. Fosil gajah dari tepi Sungai Bengawan Solo setinggi
empat meter atau 3 kali lipat tinggi tubuhnya itu menarik Dodi datang ke
Museum Geologi untuk pertama kalinya. ”Setiap hari lewat depan museum
karena tempat kerja tak jauh dari sini. Tapi, selalu belum sempat mampir.
Saat ada informasi fosil gajah baru akan dipamerkan, saya niatkan datang,”
kata warga Ujungberung, Kota Bandung, 12 kilometer dari museum.

Sejak 16 Mei 2014 bertepatan dengan ulang tahun ke-85 Museum Geologi,
Elephas hysudrindicus resmi menjadi penghuni tetap. Diangkat dari tanah
lempung tepi Bengawan Solo pada 2009, tubuh besarnya baru bisa dilihat lima
tahun kemudian.

Dibandingkan replika dinosaurus jenis Tyrannosaorus rex dari Amerika Utara
yang lebih dulu dipamerkan, ukuran gajah purba dari Blora ini jauh lebih
kecil dan berusia lebih muda. Ia berasal dari era 250.000– 200.000 tahun
silam dan belum pernah difilmkan seperti T-rex.

Akan tetapi, hal itu tidak mengubah keyakinan bahwa gajah purba dari Desa
Sunggun, Kecamatan Kradenan, Blora, Jawa Tengah, ini adalah temuan
spektakuler Museum Geologi. Fosilnya ditemukan hampir 90 persen atau yang
terlengkap sejak penelitian paleontologi dan ekskavasi fosil dilakukan pada
1850-an. Jauh lebih lengkap daripada koleksi Eugene Dubois di Universitas
Leiden, Belanda, yang dideskripsikan Hooijer sebagai kepala Elephas
hysudrindicus pada 1955. Fosil itu ditemukan di Desa Tinggang berjarak 13
kilometer dari Desa Sunggun.

Profesor Riset Bidang Palaentologi Fachroel Azis yakin, penemuan ini akan
menarik banyak peneliti evolusi dan mata rantai gajah purba datang ke
Museum Geologi. Banyak disiplin ilmu berpotensi tersingkap. Mulai dari
kehidupan manusia, kondisi alam ribuan tahun lalu, hingga kondisi geologi
di lokasi penemuan. Lokasi penemuannya juga bisa dimanfaatkan sebagai
tempat wisata untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.

*Inspirasi*

Potensi keilmuan dan kesejahteraan masyarakat inilah yang ingin disasar
Museum Geologi. Saat ini, baru 2.000 koleksi yang dipamerkan. Ratusan ribu
koleksi lainnya belum bisa tampil akibat keterbatasan ruang pamer. Lewat
koleksi batuan mineral, fosil, hingga peta potensi tambang, museum ini
jelas punya potensi menjadi inspirasi dunia.

Jauh sebelumnya, saat masih bernama Dienst van het Minjbouw, kemampuan
peneliti Museum Geologi menerapkan klasifikasi huruf tersier pernah menjadi
acuan dunia. Fosil gajah purba Stegodon trigonocephalus, gajah endemik Jawa
lainnya berusia 1,2 juta tahun, dan beragam batok kepala manusia
prasejarah, terus menjadi inspirasi penelitian internasional.

Sejarah juga menyebutkan Belanda, yang datang membonceng Sekutu pada 1949,
tahu benar potensi itu. Mereka yakin koleksi Museum Geologi harus dimiliki
jika ingin kembali menguasai Nusantara. Niat itu gagal saat Kepala Jawatan
Tambang dan Geologi Arie Frederik Lasut menyelamatkan data penting itu.

Pada buku *Wisata Parijs van Java: Sejarah, Peradaban, Seni, Kuliner, dan
Belanja* yang ditulis Her Suganda, dokumen-dokumen penting itu dibawa dari
Bandung ke Solo, Magelang, hingga Yogyakarta. Bujuk rayu dan iming-iming
Belanda ditolak, membuat nyawa Arie terenggut di ujung senapan. Saat itu,
Arie baru berusia 31 tahun.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Siswa dari sejumlah SMP bersama rombongannya
mengisi liburan dengan berkunjung ke Museum Geologi, Bandung, Jawa Barat,
Senin (19/12/2011). Selain menjadi sarana rekreasi, mengisi liburan di
museum seperti ini juga menambah pengetahuan.
Dua puluh tahun kemudian, Arie diangkat menjadi Pahlawan Kemerdekaan
Nasional bersama Christina Martha Tiahahu dan Maria Walanda Maramis.

”Koleksi Museum Geologi pernah dipertahankan dengan nyawa. Kini, jangan
sampai Museum ini kesepian. Cari hal baru kreatif agar perannya terus
dirasakan penerus bangsa ini,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Jero Wacik.

*Kreatif*

Mata Mutiara Amanah (21) tidak lepas dari batok kepala manusia prasejarah
dalam kotak kaca di ruang Sejarah Kehidupan di sayap timur Museum Geologi,
Sabtu (24/5) malam. Mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Padjadjaran itu
sesekali mendengarkan penjelasan kekasihnya, Rinaldi Ikhram, mahasiswa
Jurusan Geologi di perguruan tinggi yang sama, tentang sejarah geologi
Indonesia.

”Baru kali ini saya datang ke Museum Geologi, tertarik program Night at The
Museum. Sekalian cari suasana malam mingguan baru. Mungkin enggak, ya,
fosilnya hidup seperti di film,” kata Mutiara tertawa kecil, merujuk film
Hollywood Night at The Museum yang dibintangi Ben Stiller.

Program baru Night at The Museum adalah satu dari kreativitas yang
ditawarkan Museum Geologi. Didukung lampu terang benderang di semua
sudutnya, program ini mencoba mengusir stigma museum yang kusam dan
menakutkan, menjadi tempat menarik dan menyenangkan untuk dikunjungi.

Museum yang selesai dibangun pada 1928 ini pun mulai bersolek. Lemari kayu
jati setinggi 2 meter diganti kaca pamer berukuran lebih pendek, memudahkan
pengunjung melihat koleksi museum. Tampilan digital hingga wahana simulasi
gempa bumi ditampilkan guna menarik minat pengunjung.

Kepala Museum Geologi Sinung Baskoro mengatakan, Penelitian pun terus
dilakukan dan dipublikasikan. Museum Geologi giat meneliti fosil moluska
dan sudah menerbitkan dua katalog tentang holotype molusca. Demi melengkapi
koleksi vertebrata, pihaknya tengah mempersiapkan Atlas Fosil Vertebrata
Indonesia.

”Kami juga giat melakukan kunjungan ke beberapa daerah di Indonesia yang
memiliki potensi geodiversity dan geoheritage yang nantinya akan
direkomendasikan sebagai kawasan lindung geologi *(geoconservation)*,”
katanya.

Hasilnya tidak sia-sia. Tingkat kunjungan ke Museum Geologi terus
meningkat. Pada 2010, jumlah kunjungan hanya 375.000 orang. Tiga tahun
kemudian, menurut Sinung Baskoro, jumlah kunjungan melonjak hingga 500.000
orang per tahun. Penerapan tiket masuk Rp 2.000-Rp 10.000 per orang sejak
September 2013 tidak memengaruhi minat pengunjung.

”Kami selalu berusaha dan berharap agar beragam Museum Geologi dan segala
jenis koleksinya akan terus menjadi inspirasi Indonesia dan dunia,” kata
Sinung. Begitulah seharusnya Indonesia, negara dengan kekayaan geologi dan
gunung api aktif yang letusannya pernah menggemparkan dunia. *(Cornelius
Helmy)*
------------------------------
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:


Editor : I Made Asdhiana Sumber: KOMPAS CETAK <http://print.kompas.com/>

----------------------------------------------------

Siapkan waktu PIT IAGI ke-43

Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition

JAKARTA,15-18 September 2014

----------------------------------------------------

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact

----------------------------------------------------

Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:

Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta

No. Rek: 123 0085005314

Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia

No. Rekening: 255-1088580

A/n: Shinta Damayanti

----------------------------------------------------

Subscribe: [email protected]

Unsubscribe: [email protected]

----------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 

posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 

In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not 
limited

to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 

from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use 
of 

any information posted on IAGI mailing list.

----------------------------------------------------

Kirim email ke