Pak Ong ysh

"Masih berlimpah " ,ini pembohongan publik yang luar biasa.
Pak Kurtubi dalam banyak kesempatan selu mengemukakan halli i  danaya pernah 
bertemu mukadengan beliau ,
Saya sampaikan kritik saya ini , akan tetapi sampai saat ini beliau masih 
membuat pernyataan yang sama .
Bagaimana kalau belliau diangkat aiMneteri Esdm ya ?

Lainya saya sependapat dengan pak Ong.

si AbahYRS




On Saturday, August 9, 2014 11:15 AM, Ong Han Ling <[email protected]> 
wrote:
 


 
Teman2 IAGI,
 
Pertama-tama, saya ingin mengucapakan "Selamat Hari Raya
Ied Fitri, 1 Sjawal 1435 H". Maaf lahir dan bathin.  
 
Maaf, tulisan ini agak panjang, Anda diminta sabar membacanya. 
 
Merupakan budaya kita untuk tidak mengeritik atasan meskipun
mengetahui salah. Hal demikian tidak mendidik dan menyesatkan banyak orang
termasuk "policy makers" bidang energy dan perlu segera diperbaiki
karena konsekwensi besar sekali.
 
Contoh konkrit yang baru terjadi didepan mata kita. Dalam debat
calon Presiden, Menko Perekonomian dengan bangga mengatakan didepan layar TV
bahwa Indonesia telah berhasil negosiasi dengan China dan harga LNG Tanguh
menjadi $12/mmbtu. Waktu mendengarkan saya ikut bangga. Ternyata besoknya di
Jakarta Post, harga cuma $8/mmbtu. Harga $12/mmbtu baru berlaku tahun 2016.
Wah, kalau cuma $8/mmbtu, seyogianya LNG Wiryagar dipakai domestik saja
mengingat PLN Jakarta (Muara Karang) impor LNG dari Bontang, dengan harga
kira-kira $11/mmbtu, yaitu dibawah harga jual ke Taiwan/Jepang/Korea
($14-17/mmbtu). 
 
Data yang keliru, data yang tidak disampaikan, ataupun data
salah yang tidak dikoreksi seperti tsb. diatas, akan berakibat kekeliruan dalam
energy policy.  
 
Contoh yang lain yang menurut saya sangat fatal adalah
"impor" LNG ke Jakarta, Jambi, Semarang, dan Arun.
 
Demi menenangkan publik dan juga untuk "boosting"
keberhasilannya, Penjabat sering memberi optimisme bahwa gas Indonesia masih 
berlimpah,
sepert pernyataan bahwa gas yang dikeluarkan baru 6% dari cadangan (cadangan
yang mana?). 
 
Demi promosi CBM dan Shale gas, ESDM telah memelesetkan investor
dengan memberi kesan bahwa cadangannya luar biasa, beberapa kali lipat cadangan
associated gas, padahal belum ada yang diproduksi. Yang terpelesetkan ternyata
bukan investor saja. Kebanyakan orang termasuk menteri dan "policy
makers", tidak bisa membedakan antara resources, potential, proven,
probable dan possible. Semua cadangan dianggap sama hingga Indonesia terlihat
berlimpah gas. 
 
Demi memberi kesan gas masih banyak, lapangan Exxon Natuna
dengan cadangan hydrocarbon sampai 40+ TCF sering dibanggakan termasuk pidato
Presiden tahun 2012. Namun lupa dikatakan bahwa gas Natuna mengandung 35% CO2
hingga memisahkannya mahal sekali. Meskipun POD Natuna sudah pernah keluar, 
namun
dengan adanya penemuan beberapa lapangan gas raksasa di NW Shelf, Australia
Barat 10 tahun lalu dan adanya revolusi shale gas di US dan Canada 5 tahun yang
lalu, Natuna merupakan sejarah dan seharusnya sudah lama di peti-eskan.     
  
 
Hal yang serupa dan ber-potensi menjadi masalah adalah LNG INPEX
Masela yang produksinya sangat diharapkan Pemerintah. INPEX Masela ditemukan
tahun 2000 bersamaan dengan penemuan INPEX Itchy di NW Shelf Australia Barat.
Itchy mulai dibangun tahun 2011. Sedangkan untuk Masela, Final Investment
Decision (FID) baru direncana tahun 2015. FID adalah faktor yang menentukan
apakah proyek diteruskan atau tidak, bukan POD. Dengan adanya revolusi shale
gas di USA dan Canada, keterlambatan proyek Masela sampai 4 tahun membuat
keekonomian Masela dipertanyakan. Seperti Natuna, kelambatan bisa menyebabkan 
proyek dibatalkan dan dipeti-eskan. Pemerintah perlu mengejar dan perlu dikejar
jika Masela ingin dioperasiakan sebelum membanjirnya LNG dari Australia, US, 
Canada,
dan bahkan dari Rusia akan masuk Pacific basin. Masela berpacu dengan waktu     
   
 
Persepsi yang diberikan ESDM selama ini bahwa gas Indonesia
masih berlimpah, menyebabkan "policy maker" mengambil kebijakan untuk
menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG) untuk mobil, pembangun stasiun Compressed
Natural Gas (CNG) dimana-mana, dan yang paling fatal adalah menggunakan LNG
untuk pembangkit listrik di Jawa dan Sumatra. Import LNG dari Bontang ke PLN 
Muara
Karang, Jakarta, telah  dilaksanakan. Demikian juga nantinya "import"
dari Wiryagar lewat mekanisme DMO. Ini tidak masuk akal. LNG memang bersih
lingkungan tetapi terlalu mahal bagi Indonesia saat ini (Ong, 12/2013, SPE). 
 
Secara perhitungan kasar, membuat LNG harganya sekitar $4/mmbtu.
Angkut ke Jawa cryogenic $1/mmbtu. Sebelum bisa dipakai PLN Muara Karang, LNG
harus dikembalikan ke gas lagi dengan biaya $2/mmbtu. PT Regassing Nusantara
yang terdiri dari tiga perusahaan yang melakukan regassing adalah
perusahaan swasta yang perlu mengambil keuntungan, diasumsikan $2/mmbtu.
Ditambah biaya operasi PLN $1/mmbtu. Jadi harga total untuk angkut gas
dari  Kalimantan ke Jawa adalah $10/mmbtu. Dengan catatan biaya tsb. belum
termasuk harga gas.   
 
Dilain pihak, untuk Jawa dan Sumatra Selatan, Pemerintah mematok
harga gas dari K3S ke PLN $5,80/mmbtu sejak pertengahan tahun 2012, dari harga
sebelumnya cuma $3/mmbtu selama bertahun-tahun. Padahal  mendatangkan gas dari
Bontang ke PLN Jakarta, Pemerintah rela membayar $10/mmbtu untuk ongkos angkut
saja. Seyogianya K3S dibayar $15.80/mmbtu. Dengan harga tsb. K3S akan giat
melakukan eksplorasi di Jawa dan Sumsel dan bahkan berani memasang pipa untuk
delivery ke PLN. Gas di Jawa dan Sumsel, kalau dilihat dari "creaming
curve" masih banyak (WoodMac). Produksi gas di Jawa dan Sumatra Selatan
akan naik significant dengan menambah pemboran. 
 
Sudah waktunya Pemerintah memberikan  keuntungan yang layak
kepada mitranya, K3S, yang sudah berpuluhan tahun beroperasi di Indonesia.
Sejak lebih dari 10 tahun lalu, IPA sering protes mengapa gas dari K3S hanya
dihargai antara $1-3/mmbtu, namun Pemerintah terus impor diesel dengan harga
$7/mmbtu. Artinya, mengapa keuntungan diberikan kepada luar negeri dan para
importir hingga membuat eksplorasi gas mandek? 
 
Menurut saya banyak kesalahan terjadi dibidang energy policy
disebabkan data yang tidak sesuai. Sebaiknya Pemerintah berkonsentrasi pada
pekerjaannya, termasuk memberi data yang benar. Kewibawaan Pemerintah perlu
dijaga. IAGI perlu membantu. 
 
Maafkan kalau ada yang tidak berkenan dengan tulisan ini.
   
 
Salam,
 
HL Ong
 
----------------------------------------------------
Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
JAKARTA,15-18 September 2014
----------------------------------------------------
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
----------------------------------------------------
Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
----------------------------------------------------
Subscribe: [email protected]
Unsubscribe: [email protected]
----------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 
In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not 
limited
to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 
from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use 
of 
any information posted on IAGI mailing list.
----------------------------------------------------
----------------------------------------------------

Siapkan waktu PIT IAGI ke-43

Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition

JAKARTA,15-18 September 2014

----------------------------------------------------

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact

----------------------------------------------------

Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:

Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta

No. Rek: 123 0085005314

Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia

No. Rekening: 255-1088580

A/n: Shinta Damayanti

----------------------------------------------------

Subscribe: [email protected]

Unsubscribe: [email protected]

----------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 

posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 

In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not 
limited

to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 

from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use 
of 

any information posted on IAGI mailing list.

----------------------------------------------------

Kirim email ke