Selama masih monopoli yaa susah tumbuhnya. Tiada saingan. Lha rak semau maunya. Antar bumn saja berantem. Tiada mikirin para rakyat, pengusaha kecil dan menengah. Salam hormat.
<[email protected]> menulis: > > > Mengenai permasalahan Gas yg disampaikan Pak Ong khususnya > untuk Listrik maka kalau dilihat Data lagi ternyata > permasalahan gas ini khsusnya untuk pembangkit listrik (PLN) > cukup mbulet juga , > Saat ini ada kira kira sembilan ribu MW pembangkit yg > seharusnya memakai bahan bakar gas dg kebutuhan lebih dari > 1600 bbtud tidak terpenuhi kebutuhannya , salah satunya di PLTG > Tambak Lorok semarang yg seharusnya dpat pasokan gas dari PCML > Kepodang sampai sekarang belum juga ngalir , akibatnya harus > memakai BBM ( HSD) shg ada in efisiensi lebih 2 T pertahun ( > Audit BPK )karena biaya produksi dg BBM jauh lebih besar, > disisi lain kalau dimatikan bisa bisa mati listrik / ada > pemadaman di Jateng. > Pertanyaannya Kenapa tidak ada perencanaan yg matang antara > Hulu dg hilirnya sehingga begitu Pembangkit itu selesai > dibangun dan mulai operasi suplainya energi primer juga sdh > siap, yg terjadi Pembangkitnya sdh siap namun gasnya belum > ngalir . apa boleh buat di umpani dulu dg BBM ( terkenal dg > istilah " Pembangkit salah minum " ) > salah satu capres kemarin dlm paparan programnya akan > mengganti bbm dg gas untuk listrik guna mngurangi subsdinya , > Pertanyaanya dg kondisi pasokan gas spt saat ini Kapan ini > bisa terealisirnya. dan bagaimana skenarionya agar secepatnya > dpt terpenuhi kebutuhannya. karena sdh bertahun tahun > kondisinya tdk lebh baik. tentunya tdk sederhana untuk > mencukupinya disamping kesiapan produksinya juga kesiapan > infra strukturnya > Kalau kita lihat Data ESDM . produksi gas 2012 sebesar kurang > lhb 8100 BSCFD dimana 46 % lebih untuk Ekpor , 45 % untuk > domestik dan sisanya Losses, Dari alokasi Domestik tsb alokasi > untuk PLN itu hanya kira kira 9 % nya atau kira kira 780 > mmscfd , jadi masih jauh dari kebutuhannyaRepotnya lagi Harga listrik ( TTL) ditentukan oleh Pemerintah > dan disetujui oleh Senayan , ini artinya PLN tdk bisa menjual > listrik sembarangan sesuai dg keekonomiannya ( ada mekanisme > subsidi ) , disisi lain untuk membeli energi primernya ( gas , > batubara, BBM ) dituntut untuk memakai harga pasar yg > flukutatif dg kecenderungan naik terus., disisi lain subsidi > nya selalu ditekan bahkan dikurangi shg mau tidak mau harga > beli energi primernya ( termasuk gas juga harus "murah " agar > tdk memebebani BPP nya yg terlalu tinggi shg selisih BBP dg TTL > juga tdk terlalu tingi untuk menekan subsidi. > > mbulat mbuletnya kondisi Per- Energian tsb , Perlu ada tata > ulang dari Hulu sampai Hilir , Monggo IAGI mungkin bisa > memeberikan Masukan terkait Tata Ulang energi ini dari Hulu - > hilir ( SDA dan cabang produksi yg Vital Harus dikuasai oleh > Negara , Bagaimana Menjabarkannya shg betul betul Dikuasai > oleh Negara agar ada security energi) > ISM > > > ISM > > > > > > Teman2 IAGI, > > > > > > > > Pertama-tama, saya ingin mengucapakan "Selamat Hari Raya Ied > > Fitri, 1 Sjawal 1435 H". Maaf lahir dan bathin. > > > > > > > > Maaf, tulisan ini agak panjang, Anda diminta sabar > > membacanya. > > > > > > > > Merupakan budaya kita untuk tidak mengeritik atasan meskipun > > mengetahui salah. Hal demikian tidak mendidik dan > > menyesatkan banyak orang termasuk "policy makers" bidang > > energy dan perlu segera diperbaiki karena konsekwensi besar > > sekali. > > > > > > > > Contoh konkrit yang baru terjadi didepan mata kita. Dalam > > debat calon Presiden, Menko Perekonomian dengan bangga > > mengatakan didepan layar TV bahwa Indonesia telah berhasil > > negosiasi dengan China dan harga LNG Tanguh menjadi > > $12/mmbtu. Waktu mendengarkan saya ikut bangga. Ternyata > > besoknya di Jakarta Post, harga cuma $8/mmbtu. Harga > > $12/mmbtu baru berlaku tahun 2016. Wah, kalau cuma $8/mmbtu, > > seyogianya LNG Wiryagar dipakai domestik saja mengingat PLN > > Jakarta (Muara Karang) impor LNG dari Bontang, dengan harga > > kira-kira $11/mmbtu, yaitu dibawah harga jual ke > > Taiwan/Jepang/Korea ($14-17/mmbtu). > > > > > > > > Data yang keliru, data yang tidak disampaikan, ataupun data > > salah yang tidak dikoreksi seperti tsb. diatas, akan > > berakibat kekeliruan dalam energy policy. > > > > > > > > Contoh yang lain yang menurut saya sangat fatal adalah > > "impor" LNG ke Jakarta, Jambi, Semarang, dan Arun. > > > > > > > > Demi menenangkan publik dan juga untuk "boosting" > > keberhasilannya, Penjabat sering memberi optimisme bahwa gas > > Indonesia masih berlimpah, sepert pernyataan bahwa gas yang > > dikeluarkan baru 6% dari cadangan (cadangan yang mana?). > > > > > > > > Demi promosi CBM dan Shale gas, ESDM telah memelesetkan > > investor dengan memberi kesan bahwa cadangannya luar biasa, > > beberapa kali lipat cadangan associated gas, padahal belum > > ada yang diproduksi. Yang terpelesetkan ternyata bukan > > investor saja. Kebanyakan orang termasuk menteri dan "policy > > makers", tidak bisa membedakan antara resources, potential, > > proven, probable dan possible. Semua cadangan dianggap sama > > hingga Indonesia terlihat berlimpah gas. > > > > > > > > Demi memberi kesan gas masih banyak, lapangan Exxon Natuna > > dengan cadangan hydrocarbon sampai 40+ TCF sering > > dibanggakan termasuk pidato Presiden tahun 2012. Namun lupa > > dikatakan bahwa gas Natuna mengandung 35% CO2 hingga > > memisahkannya mahal sekali. Meskipun POD Natuna sudah pernah > > keluar, namun dengan adanya penemuan beberapa lapangan gas > > raksasa di NW Shelf, Australia Barat 10 tahun lalu dan > > adanya revolusi shale gas di US dan Canada 5 tahun yang > > lalu, Natuna merupakan sejarah dan seharusnya sudah lama di > > peti-eskan. > > > > > > > > Hal yang serupa dan ber-potensi menjadi masalah adalah LNG > > INPEX Masela yang produksinya sangat diharapkan Pemerintah. > > INPEX Masela ditemukan tahun 2000 bersamaan dengan penemuan > > INPEX Itchy di NW Shelf Australia Barat. Itchy mulai > > dibangun tahun 2011. Sedangkan untuk Masela, Final > > Investment Decision (FID) baru direncana tahun 2015. FID > > adalah faktor yang menentukan apakah proyek diteruskan atau > > tidak, bukan POD. Dengan adanya revolusi shale gas di USA > > dan Canada, keterlambatan proyek Masela sampai 4 tahun > > membuat keekonomian Masela dipertanyakan. Seperti Natuna, > > kelambatan bisa menyebabkan proyek dibatalkan dan > > dipeti-eskan. Pemerintah perlu mengejar dan perlu dikejar > > jika Masela ingin dioperasiakan sebelum membanjirnya LNG > > dari Australia, US, Canada, dan bahkan dari Rusia akan masuk > > Pacific basin. Masela berpacu dengan waktu > > > > > > > > Persepsi yang diberikan ESDM selama ini bahwa gas Indonesia > > masih berlimpah, menyebabkan "policy maker" mengambil > > kebijakan untuk menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG) untuk > > mobil, pembangun stasiun Compressed Natural Gas (CNG) > > dimana-mana, dan yang paling fatal adalah menggunakan LNG > > untuk pembangkit listrik di Jawa dan Sumatra. Import LNG > > dari Bontang ke PLN Muara Karang, Jakarta, telah > > dilaksanakan. Demikian juga nantinya "import" dari Wiryagar > > lewat mekanisme DMO. Ini tidak masuk akal. LNG memang bersih > > lingkungan tetapi terlalu mahal bagi Indonesia saat ini > > (Ong, 12/2013, SPE). > > > > > > > > Secara perhitungan kasar, membuat LNG harganya sekitar > > $4/mmbtu. Angkut ke Jawa cryogenic $1/mmbtu. Sebelum bisa > > dipakai PLN Muara Karang, LNG harus dikembalikan ke gas lagi > > dengan biaya $2/mmbtu. PT Regassing Nusantara yang terdiri > > dari tiga perusahaan yang melakukan regassing adalah > > perusahaan swasta yang perlu mengambil keuntungan, > > diasumsikan $2/mmbtu. Ditambah biaya operasi PLN $1/mmbtu. > > Jadi harga total untuk angkut gas dari Kalimantan ke Jawa > > adalah $10/mmbtu. Dengan catatan biaya tsb. belum termasuk > > harga gas. > > > > > > > > Dilain pihak, untuk Jawa dan Sumatra Selatan, Pemerintah > > mematok harga gas dari K3S ke PLN $5,80/mmbtu sejak > > pertengahan tahun 2012, dari harga sebelumnya cuma $3/mmbtu > > selama bertahun-tahun. Padahal mendatangkan gas dari > > Bontang ke PLN Jakarta, Pemerintah rela membayar $10/mmbtu > > untuk ongkos angkut saja. Seyogianya K3S dibayar > > $15.80/mmbtu. Dengan harga tsb. K3S akan giat melakukan > > eksplorasi di Jawa dan Sumsel dan bahkan berani memasang > > pipa untuk delivery ke PLN. Gas di Jawa dan Sumsel, kalau > > dilihat dari "creaming curve" masih banyak (WoodMac). > > Produksi gas di Jawa dan Sumatra Selatan akan naik > > significant dengan menambah pemboran. > > > > > > > > Sudah waktunya Pemerintah memberikan keuntungan yang layak > > kepada mitranya, K3S, yang sudah berpuluhan tahun beroperasi > > di Indonesia. Sejak lebih dari 10 tahun lalu, IPA sering > > protes mengapa gas dari K3S hanya dihargai antara > > $1-3/mmbtu, namun Pemerintah terus impor diesel dengan harga > > $7/mmbtu. Artinya, mengapa keuntungan diberikan kepada luar > > negeri dan para importir hingga membuat eksplorasi gas > > mandek? > > > > > > > > Menurut saya banyak kesalahan terjadi dibidang energy policy > > disebabkan data yang tidak sesuai. Sebaiknya Pemerintah > > berkonsentrasi pada pekerjaannya, termasuk memberi data yang > > benar. Kewibawaan Pemerintah perlu dijaga. IAGI perlu > > membantu. > > > > > > > > Maafkan kalau ada yang tidak berkenan dengan tulisan ini. > > > > > > > > > > Salam, > > > > > > > > HL Ong > > > > > > > > > > ---------------------------------------------------- > > > > Siapkan waktu PIT IAGI ke-43 > > > > Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition > > > > JAKARTA,15-18 September 2014 > > > > ---------------------------------------------------- > > > > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > > > > Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact > > > > ---------------------------------------------------- > > > > Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- > > (mahasiswa) > > > > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > > > > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > > > > No. Rek: 123 0085005314 > > > > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > > > > Bank BCA KCP. Manara Mulia > > > > No. Rekening: 255-1088580 > > > > A/n: Shinta Damayanti > > > > ---------------------------------------------------- > > > > Subscribe: [email protected] > > > > Unsubscribe: [email protected] > > > > ---------------------------------------------------- > > > > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to > > information > > > > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or > > others. > > > > In no event shall IAGI or its members be liable for any, > > including but not limited > > > > to direct or indirect damages, or damages of any kind > > whatsoever, resulting > > > > from loss of use, data or profits, arising out of or in > > connection with the use of > > > > any information posted on IAGI mailing list. > > > > ---------------------------------------------------- > > > > ___________________________________________________________ > indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id > > > ---------------------------------------------------- > Siapkan waktu PIT IAGI ke-43 > Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition > JAKARTA,15-18 September 2014 > ---------------------------------------------------- > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact > ---------------------------------------------------- > Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa) > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > ---------------------------------------------------- > Subscribe: [email protected] > Unsubscribe: [email protected] > ---------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. > In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited > to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting > from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of > any information posted on IAGI mailing list. > ---------------------------------------------------- ---------------------------------------------------- Siapkan waktu PIT IAGI ke-43 Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition JAKARTA,15-18 September 2014 ---------------------------------------------------- Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact ---------------------------------------------------- Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti ---------------------------------------------------- Subscribe: [email protected] Unsubscribe: [email protected] ---------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ----------------------------------------------------

