Sudah perlukah dilakukan moratorium pengambilan air tanah ?

ISM


Kualitas Air Tanah Jakarta Sudah Kritis
Kompas | 7 Januari 2016

JAKARTA, KOMPAS — Kualitas air tanah di wilayah Jakarta dalam
kondisi kritis. Sebagian besar air tanah, baik di akuifer bebas
maupun akuifer tertekan, sudah tidak memenuhi standar kualitas
air minum yang disyaratkan pemerintah. Kandungan senyawa garam,
mangan, dan besi yang berlebih tersebar dari bagian utara
Jakarta sampai wilayah Kota Depok di selatan.
Hasil pemantauan air tanah di cekungan air tanah (CAT) Jakarta
oleh Balai Konservasi Air Tanah Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral (ESDM) tahun 2015 menunjukkan, untuk lapisan
akuifer bebas, dari 85 lokasi sumur yang dipantau, hanya ada 16
lokasi yang memenuhi baku mutu. Di lokasi akuifer tertekan,
dari total 69 lokasi yang diambil sampelnya, hanya 12 lokasi
yang airnya memenuhi baku mutu.
Standar baku mutu yang digunakan sesuai Surat Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat-syarat
dan Pengawasan Air Minum. Kegiatan pemantauan ini berlangsung
sejak Maret hingga Desember 2015 dengan pengambilan sampel air
sumur di 154 lokasi.
Kepala Balai Konservasi Air Tanah Kementerian ESDM Muhammad
Wachyudi Memed mengatakan, secara umum kualitas air tanah di
CAT Jakarta dalam kondisi tidak baik. "Di bawah baku mutu yang
disyaratkan. Kalau dilihat sebarannya, di wilayah utara, barat,
dan timur Jakarta mengandung NaCl (garam). Sementara di bagian
tengah hingga Depok beragam," ucapnya di Jakarta, Rabu (6/1).
Sumur yang air tanahnya mengandung garam berlebih, antara lain,
ditemukan di sekitar Cengkareng, Kamal Muara, Penjaringan,
Ancol, Cakung, sekitar Bekasi, dan bahkan di Kuningan, Jakarta
Selatan.
Menurut Wachyudi, kandungan garam hampir bisa dipastikan
berasal dari intrusi air laut, terutama untuk wilayah utara
Jakarta. Sementara kandungan zat lain, seperti mangan (Mn) dan
besi (Fe), bisa berasal dari batuan atau sumber luar. "Dan itu
membutuhkan penelitian lanjutan. Kami baru tahun ini
mengumpulkan data awal yang lengkap agar menjadi dasar
penelitian-penelitian selanjutnya," ujarnya.
Kepala Seksi Pengembangan Teknologi Konservasi Air Tanah Balai
Konservasi Air Tanah Kementerian ESDM Arief Darianto
menambahkan, temuan ini juga memperlihatkan sejumlah anomali.
Beberapa sumur, khususnya akuifer bebas, yang masuk kategori
baik justru berada di wilayah utara yang dekat laut.
Arief menduga, hal itu disebabkan lokasi sumur yang kebetulan
masih cukup baik. "Tetapi, hasil ini bukan hasil yang statis.
Bisa saja dalam pengukuran ke depan, kandungan senyawanya
berubah," kata Arief.
Menurut dia, air tanah yang tak memenuhi standar baku mutu
tidak bisa diminum dengan hanya dimasak. Dibutuhkan sejumlah
tahapan pengolahan sehingga air aman untuk dikonsumsi. Hal itu
bisa dengan pengolahan kimiawi menggunakan zat lain atau
penyaringan sesuai kandungan senyawa yang berada dalam air.
Kualitas air tanah yang buruk ini belum menjadi perhatian
masyarakat dan pemerintah setempat. Data Dinas Tata Air DKI
Jakarta 2015 menunjukkan, jumlah pemakai air tanah secara legal
meningkat dari tahun 2011 ke 2014. Pada 2011, jumlah pemakai
air tanah sebanyak 4.231 lokasi, sementara tiga tahun
setelahnya mencapai 4.431 lokasi.
Dengan jumlah itu, pemakaian air tanah mencapai 8,8 juta meter
kubik pada 2014, meningkat daripada tahun sebelumnya yang hanya
sekitar 7,2 juta meter kubik. Ini hanya untuk penggunaan yang
tercatat.
Peruntukan air tanah bagi warga Jakarta beragam. Sebagian besar
hanya untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Meski begitu, tidak
tertutup kemungkinan air tanah dikonsumsi karena pasokan air
bersih masih minim. (JAL)
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Januari
2016, di halaman 1 dengan ju

___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id


----------------------------------------------------

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
----------------------------------------------------
Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
----------------------------------------------------
Subscribe: [email protected]
Unsubscribe: [email protected]
----------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 
In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not 
limited
to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 
from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use 
of 
any information posted on IAGI mailing list.
----------------------------------------------------

Kirim email ke