LNG Tangguh untuk Lampung, ada lagi DSLNG pengapalan pertama untuk
Regasifikasi Unit Arun adalah perubahan strategy pengelolaan energi.
Mengapa dulu hasil produksi migas export oriented?  Karena tempo doeloe
strateginya sebagai penghasil devisa untuk membiayai pembangunan.
Kebijakannya minyak kita yang berkualitas bagus dengan harga yg baik
diekspor, sementara kita import minyak dari Arab (kilang cilacap dibangun
khusus dengan konfigurasi minyak Arab) yang harganya lebih murah.
Produksi gas juga diekspor baik sebagai gas pipa maupun LNG. Gas pipa dari
Sumatera Selatan dan Sumatera Tengah ke Singapore melalui pipa PGN (walau
Sumatera Utara shortage gas). Gas dari Natuna (ada 3 blok yang dioperasikan
Conoco, Premier, Gulf) ke Singapore melalui pipa bersama yang dioperasikan
oleh Conoco (WNTS - West Natuna Transportation System).
Sedangkan gas yang diekspor sebagai LNG dari LNG Plant Arun dan LNG Plant
Bontang. Kebijakan pemerintah, sesama LNG Indonesia tak boleh bersaing di
Luar Negeri. LNG Bontang marketingnya berorientasi ke jepang, sekarang
pasar LNG Indonesia di Jepang Barat dikenal dengan pasar tradisional
western buyer. Sementara pasar LNG Arun orientasinya ke Korea Selatan dan
diextend ke Taiwan.
Mengapa gas Wiriargar, Vorwata, dsb (LNG Tangguh) tidur lama,  karena
pemerintah tak ingin memasarkan LNG Tangguh ke Jepang maupun ke Korea
Selatan karena bisa memukul LNG Bontang maupun Arun. Pemerintah sangat
intens memasarkan LNG Tangguh ke Cina agar tidak menyaingi LNG Bontang dan
Arun.
Pada awalnya, waktu Arco masih mengoperasikan blok Wiriargar, blok Babo dan
blok ONWJ, pernah dilakukan studi (kalau tak salah dgn Lemigas) untuk
membangun regasifikasi di ONWJ. LNG dari Tangguh dibawa ke ONWJ lalu diubah
menjadi gas lagi dan diinjeksikan ke reservoir sebagai tambahan cadangan di
Offshore NorthWest Java (ONWJ). Harga keekonomian gas us$ 6/mmbtu, tak ada
pembeli karena waktu itu PGN beligas dengan harga rata-rata us$ 3/mmbtu,
PLN us$ 2/mmbtu, Pupuk us$ 1.5/mmbtu, Krakatau Steel us$ 1/mmbtu.

Pengurangan Dana Subsidi Minyak Memicu Industri Beralih ke Gas.

Akibat Volume BBM yang disubsidi dikurangi secara drastis, BBM menjadi
mahal, solar yang menjadi andalan industri juga mahal, akhirnya industri
beralih ke gas, terjadi shortage gas dibanyak tempat karena konsumen baru
rebutan gas. Pemerintah menerbitkan Kebijakan Pemanfaatan Gas (tempo2 visi
pemerintah lambat), hirarki Pemanfaatan Gas Sbb:
- Gas untuk produksi minyak (gas untuk bikin steam di Duri Steam Fload).
- Gas untuk Pupuk
- Gas untuk Energi (listrik)
- Gas untuk Industri (PGN, pabrik2, dsb).
Akibat Kebijakan Pemerintah ini, perusahaan2 meredefine stratinya, misalkan
PGN melakukan vertical integration strategy, masuk ke bisnis upstream
membentuk Saka Energy sebagai perusahaan upstream oil & gas. Karena hirarki
untuk mendapatkan gas Pada urutan 4/terakhir bisa mengancam bisnis PGN.
Pertamina juga membentuk Pertagas (PT. Pertamina Gas) bersaing dengan PGN
di dalam negeri. Pertagas ini yang merubah sebagian Train LNG Arun menjadi
Regasifikasi Unit, Pertagas juga membangun pipa dari Arun ke Medan.
Pengapalan Pertama LNG Donggi Senoro adalah ke Arun, diubah lagi menjadi
gas oleh Pertagas dan ditransport ke Medan untuk mensuplay PLN dan
Industri.

Sekarang produksi minyak dan gas untuk penggerak mesin pertumbuhan ekonomi.
Menurut pandangan saya perubahan lingkungan strategis inilah yang membuat
harga gas di dalam negeri menjadi lebih cantik.

Salam,
LTH
On 4 Apr 2016 08:37, "Yanto R. Sumantri" <SRS0-1ZY+=P7=yahoo.com=
[email protected]> wrote:

>
> Kompas hari ini 4 April 2016 halaman 17  yang berjudul "Gas Tangguh segera
> diistribusikan " merupakan awal pemanfaatan gas Tangguh utk dipakai didalam
> negeri.
>
> Seingat saya Lapangan Tangguh diketemukan oleh ARCO pada awal tahun 1980
> an , dan lama tidur mengingat pada saat itu belum ada pasarnya.
> Waktu itu saya berdoa agar pengembangannya di"tangguh"kan mengingat
> produksi migas Indonesia pada saat itu cenderung menurun, saya berkeyakinan
> bahwa Indonesia akn sangat memerlukan gas dalam waktu mendatang.
> Pengembangan LNG kemudian diekspor pada saat pasaran LNG sedang jenuh
> sehingga mendapatkan harga yag relatif murah.
> Saya pernah berdiskusi dengan pak Qoyum (Mantan Dirut PGN) yang
> berpendapat bahwa harga gas DN lebih tinggi dibandingkan dengan harga LNG
> kita yang diekspor , dan  saya percaya itu benar.
>
> Kritik utk industri migas dari banyak fihak adalah bahwa Indonesia tidak
> pernah mendapatkan nilai lebih ( added value) dari migas yang
> diproduksikannya.
>
> Maka Alhamdulillah , walau agak terlambat kita sudah mulai sadar bahwa
> hasil produksi migas sudah mulai dipakai untuk mendapatkan nilai tambah ini.
>
> Semoga ini menjadi awal yang baik untuk mengatasi kelangkaan gas dalam
> negeri.
>
> si Abah
>
>
>
>
>
> ----------------------------------------------------
>
> Geosea XIV and 45TH IAGI Annual Convention 2016
> Bandung , October 10-13 2016
> for further information please visit our website at
> http://geosea2016.iagi.or.id or email to [email protected]
>
> ----------------------------------------------------
>
> Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta (a/n IAGI)
> No. Rek: 123 0085005314
> Bank BCA KCP. Manara Mulia (A/n: Shinta Damayanti)
> No. Rekening: 255-1088580
>
> ----------------------------------------------------
> Subscribe: [email protected]
> Unsubscribe: [email protected]
> ----------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others.
> In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not
> limited
> to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever,
> resulting
> from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with
> the use of
> any information posted on IAGI mailing list.
>
>

----------------------------------------------------

Geosea XIV and 45TH IAGI Annual Convention 2016
Bandung , October 10-13 2016
for further information please visit our website at 
http://geosea2016.iagi.or.id or email to [email protected]

----------------------------------------------------

Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta (a/n IAGI)
No. Rek: 123 0085005314
Bank BCA KCP. Manara Mulia (A/n: Shinta Damayanti)
No. Rekening: 255-1088580

----------------------------------------------------
Subscribe: [email protected]
Unsubscribe: [email protected]
----------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 
In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not 
limited
to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 
from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use 
of 
any information posted on IAGI mailing list.

Kirim email ke