Tulisan dan pernyataan menarik dari pak Chairul Nas di laman FB-nya hari ini. 
Langkah selanjutnya barangkali adalah menginventarisir berapa banyak kita 
(Indonesia) memiliki sumberdaya batubara jenis ini? Ditjen Minerba atau BG 
sudah ter-“update”-kah data ttg ini?

 

Salam,

Daru

 

========================================================

BATUBARA KOKAS INDONESIA: SEMUA PIHAK HARUS MENGAKUINYA

oleh: Chairul Nas (pemerhati batubara)

Dulu (duapuluh – tigapuluh tahun yang lalu) kita menganggap bahwa di Indonesia 
tidak terdapat endapan batubara kokas. Anggapan ini dikarenakan, pada waktu itu 
bila kita bicara batubara kokas kita selalu mengacu kepada batubara Australia 
dan kenyataannya hampir semua batubara kita mengandung inertinite yang sangat 
rendah yang memang diperlukan di dalam campuran batubara pembuat kokas. Namun, 
kandungan inertinite bukanlah satu-satunya factor terpenting bagi batubara yang 
cocok dibuat kokas; faktor lain yang juga penting adalah sifat fluiditas dan 
komposisi abu dari batubara kokas. Batubara Indonesia punya kelebihan dalam 
fluiditas sementara batubara Australia (yang termasuk Gondowana coal) memiliki 
kelemahan dalam fluiditas sehingga batubara kita sangat diperlukan dalam 
campuran batubara pembuat kokas.

Selain Meruwai yg baru akan mau menambang (entah kapan), beberapa tambang 
batubara sudah ada yg menghasilkan batubara kokas seperti: Marunda Graha 
Mineral (MGM) dan AKT di Kalteng, sebagian batubara Bayan dan KSM, beberapa 
tambang baru di hulu Mahakam (di daerah Mamahak). Sayapun agak kaget mendapat 
data dari publikasi-publikasi International Energy Agency (IEA thn 2008) dan 
World Coal Institute (WCI tahun 2009) yang menyebutkan Produksi Coking Coal 
Indonesia thn 2007 sebesar 31 juta ton yang oleh WCI disebut sebagai 
pengeksport coking coal nomor 3 terbesar di dunia (2008) setelah Australia (137 
juta ton) dan USA (39 juta ton). Data ini sudah pernah saya cek di Direktorat 
Jendral Minerba; kawan-kawan disana menjelaskan bhw kantornya tidak pernah 
mengeluarkan data seperti itu; jadi apa sebenarnya yg terjadi?

Ada beberapa kemungkinan:

1. Definisi coking coal yg digunakan oleh IEA dan WCI tidak sama dengan 
definisi baku batubara;

2. IEA memperoleh data dari end-users batubara Indonesia di luar negeri;

3. Ekspor batubara bituminous kita mungkin ada yg memenuhi kriteria coking 
coal, tapi kita menjualnya hanya sebagai steaming coal (thermal coal), karena 
pikiran kita memang sudah sejak lama dirasuki oleh paradigma lama bhw "di 
Indonesia tidak ada coking coal".

4. Selama ini kita selalu meng-underestimate batubara kita dengan menyatakan 
bahwa batubara Indonesia tidak sama dengan batubara coking coal Australia (yg 
kaya akan inertinite), sehingga pemerintah melalui ESDM (Minerba) tidak 
menyadari bahwa kitapun punya prime coking coal yg bisa dijual dengan harga yg 
sama dengan coking coal Australia.

Jika kasusnya adalah nomor 2, 3, dan 4, maka selama ini telah terjadi 
"transfered pricing" yang sangat merugikan negara kita. Oleh sebab itu saya 
mengusulkan: segera lakukan penelitian atau kajian potensi dan kualitas 
batubara kokas di seluruh Indonesia. Setelah itu lakukan pengawasan yg ketat 
terhadap produksi dan penjualannya. Sungguh sangat beruntung, usul ini langsung 
ditanggapi secara positif oleh Ibu Dr. Fatimah dari Badan Geologi-ESDM, dimana 
dlm waktu dekat mereka akan merencanakan penelitian dan kajian batubara kokas 
di seluruh Indonesia.

Yang saya lakukan sampai saat ini adalah tidak bosan-bosannya mensosialisasikan 
bhw kita juga punya batubara kokas. Sebagai contoh, waktu saya jadi penasehat 
direksi PTBA 10 tahun yg lalu, saya pernah menyatakan dengan tegas: Jika PTBA 
menjual coking coal sebagai thermal coal karena ketidaktahuannya, maka 
perusahaan ini telah merugikan negara secara signifikan. Hal ini saya sampaikan 
karena saya melihat indikasi bahwa konsesi batubara PTBA di Bukit Asam juga 
punya potensi kandungan batubara kokas. Saya pun sudah mulai menulis mengenai 
keterdapatan dan potensi batubara kokas di Indonesia semenjak tahun 2005 pada 
Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia 
(IAGI) di Bogor, dan diulangi lagi tahun 2010 pada Seminar Nasional Masyarakat 
Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) di Balikpapan. Tidak bosan-bosannya, pada 
tahun yang sama saya juga memberanikan diri presentasi tentang Quality of 
Indonesian Coking Coal pada Seminar CoalTrans di Hotel Hyat – Jakarta. Karena 
masih dirasakan belum berdampak signifikan, tahun 2011 sayapun nekad menyajikan 
makalah tentang kualitas batubara kokas Indonesia dihadapan 300 ahli geologi 
dan tambang di Newcastle NSW Australia. Walaupun sulit, saya harus terus 
mencoba, dengan harapan suatu saat nanti (tentu pelan-pelan) semuanya akan 
sadar akan potensi kekayaan geologi kita ini.

Wassalam,

Chairul Nas


----------------------------------------------------



Geosea XIV and 45TH IAGI Annual Convention 2016

Bandung , October 10-13 2016

for further information please visit our website at 
http://geosea2016.iagi.or.id or email to secretar...@geosea2016.iagi.or.id



----------------------------------------------------



Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:

Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta (a/n IAGI)

No. Rek: 123 0085005314

Bank BCA KCP. Manara Mulia (A/n: Shinta Damayanti)

No. Rekening: 255-1088580



----------------------------------------------------

Subscribe: iagi-net-subscr...@iagi.or.id

Unsubscribe: iagi-net-unsubscr...@iagi.or.id

----------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 

posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 

In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not 
limited

to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 

from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use 
of 

any information posted on IAGI mailing list.

Kirim email ke