Jumat, 07 Desember 2007 Buku dan Gitar
Seorang kawan mengaku terguncang oleh sebuah SMS. Pesan singkat itu bukan untuknya, melainkan untuk pembantunya. Pengirimnya adalah anak pembantu itu. ''Bu, kirimi saya uang Rp 50 ribu,'' pinta sang anak yang tinggal di Bantul. Permintaan itu mengundang rasa penasaran Direktur BUMN itu. Terjadilah dialog lewat telepon genggam itu. ''Untuk apa?'' ''Buat beli gitar.'' ''Gitar apa boleh dibeli lima puluh ribu?'' ''Gitar teman saya. Gitarnya bagus, sebenarnya ia sangat senang dengan gitar itu.'' ''Kalau itu gitar kesayangannya, mengapa dijual.'' ''Dia perlu untuk membeli buku.''. Kawan ini menghenyakkan diri di sofa. Sulit baginya untuk menerima realitas itu. Bagi sangat banyak warga Jakarta, uang Rp 50 ribu itu bukan apa-apa. Uang itu sama sekali tidak cukup bahkan untuk sekadar minum kopi berdua di kafe. Apalagi untuk pergi ke salon, atau konser musik yang kini tiketnya sudah menembus angka 'juta'. Bagi para pelaku bisnis politik, serta makelar proyek, uang senilai itu lebih tidak berarti apa-apa. Fenomena apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat kebanyakan? ''Coba bayangkan, seandainya anak itu tak menjual gitarnya,'' kata kawan itu. ''Mungkin ia akan menjadi musisi yang sukses. Bila demikian, uang Rp 50 ribu tidak akan berarti apa-apa.'' Faktanya, anak itu siap menjual barang yang disayanginya. Ia menjual itu untuk sesuatu yang semestinya mudah mendapatkannya: Buku. Ini menjadi ironi kedua karena negara tengah keras berusaha meningkatkan layanan pendidikan bagi masyarakat. Upaya tersebut dilakukan, antara lain, melalui peningkatan anggaran pendidikan agar mencapai angka 20 persen. Sebagian dari anggaran itu tentu untuk pengadaan buku. Dengan dana pendidikan yang terus meningkat, anggaran pengadaan buku pun menjadi sangat besar hingga mencapai triliunan. Sangat banyak orang yang terlibat dalam dunia perbukuan yang ikut menikmati sedapnya dana melimpah itu. Beberapa orang yang lihai mengolah proyek bahkan menjadi miliarder karena buku. Kesungguhan semua pihak untuk menaikkan anggaran pendidikan semestinya membuat tak seorang pun siswa kesulitan mendapatkan buku. Tak seorang pun siswa perlu membeli buku. Pada 1980-an pun, siswa sama sekali tak perlu membeli buku. Semua tersedia di sekolah. Tugas siswa tinggal belajar. Kita, (para pemimpin) bangsa ini sangat meyakini bahwa mekanisme pasar akan selalu memberi hasil terbaik pada masyarakat. Prinsip ini diterapkan di hampir semua bidang kehidupan. Tak terkecuali untuk pengadaan buku. Padahal, tanpa sistem yang baik dan kuat, apalagi tanpa penegakan sistem secara tegas, mekanisme pasar akan selalu terdistorsi. Sedangkan distorsi mekanisme pasar hanya akan mengorbankan masyarakat lebih parah lagi. Maka, jadilah anak Bantul itu harus menjual gitar karena harus membeli buku. ( Zaim Uchrowi ) http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=316334&kat_id=19 ____________________________________________________________________________________ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo.com/r/hs [Non-text portions of this message have been removed] -- Towards cyber libraries to support information society in Indonesia. Joining ICS-isis by sending mailto:[EMAIL PROTECTED] Visit ICS-Portal at http://digilib.binus.ac.id/ics/index.php Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ics-isis/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ics-isis/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
