Jum at, 03 Mei 2013

Siasat Mencintai Perpustakaan

Shinta Febriany
Penyair dan Sutradara Teater
Saya baru saja usai menonton film
Agora yang disutradarai oleh Alejandro Amenabar. Film drama yang berlatar
Romawi Mesir pada akhir abad keempat itu menyuguhkan kisah Hypatia, seorang
ahli matematika, filsuf, dan astronom. Hypatia, yang diperankan oleh Rachel
Weisz, adalah seorang guru yang tengah menyelidiki kelemahan dari sistem
Ptolemaic geosentris. Ayahnya, Theon (Michael Lonsdale), adalah kepala
perpustakaan Alexandria.
Fiksi sejarah dimanfaatkan oleh film
tersebut untuk menyoroti hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama. Ketika
itu, Romawi mengalami gejolak agama dan huru-hara sosial. Hypatia, yang diberi
keleluasaan oleh ayahnya untuk mengajar murid-muridnya di dalam perpustakaan,
mulai cemas akan situasi yang melanda kotanya.
Orang-orang bergerak menyerang
perpustakaan. Hypatia berupaya menyelamatkan manuskrip-manuskrip kuno yang
terdapat di perpustakaan. Begitu banyak manuskrip. Begitu sedikit waktu yang
tersisa. Ia tak bisa menyelamatkan seluruhnya. Ia harus menyaksikan
perpustakaan tersebut dihancurkan. Buku-buku dimusnahkan. Ilmu pengetahuan
binasa seketika.
Pertikaian politik kian mengeruh.
Hypatia terus berpikir dan menyelidiki alam semesta hingga ia tiba pada
penemuan pribadi bahwa Bumi mengorbit matahari dalam bentuk elips, bukan
melingkar. Teori inilah yang kemudian dikembangkan oleh Galileo Galilei dan
Johannes Kepler. Hypatia lantas dituduh sebagai penyihir akibat teori tersebut
dan akhirnya mati terbunuh.
Film Agora tayang perdana pada Mei
2009 dalam Festival Film Cannes. Oktober 2009 diputar di Spanyol dan menjadi
film paling laris di Spanyol. Film tersebut juga dianugerahi sejumlah
penghargaan, antara lain dari Hamptons International Film Festival.
Hal yang paling menggugah saya
setelah menyaksikan film Agora adalah kehadiran perpustakaan sebagai simbol
ingatan dan intelektualitas. Film ini menegaskan betapa esensial sebuah
perpustakaan bagi manusia dan kota tempatnya bermukim. Perpustakaan Alexandria
yang terkenal dimunculkan dengan visualisasi yang indah dan bernilai.
Di kota ini, nyaris seluruh sekolah
memiliki perpustakaan. Saya ingat pernah memasuki sebuah perpustakaan sekolah
menengah pertama yang terletak di pinggir Kota Makassar. Ruangannya cukup luas.
Sayang koleksi bukunya sangat kurang dan tidak diperbarui. Siswa-siswa lebih
memilih bermain bola atau bercakap-cakap daripada membaca di perpustakaan.
Ada cukup banyak perpustakaan di
kota ini. Perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah atau yang diselenggarakan
secara mandiri oleh komunitas tumbuh subur. Persoalannya tetap sama,
orang-orang tak bergairah untuk mendatanginya.
Orang-orang membutuhkan dorongan
yang kuat untuk mengunjungi perpustakaan di tengah gencarnya godaan untuk
menikmati tempat-tempat hingar seperti mal. Sungguh tak disadari betapa
berharganya sebuah perpustakaan bagi akal budi seseorang.
Semoga kita masih mengenang
karya-karya Nadine Gordimer yang mempesona. Penulis asal Afrika Selatan yang
meraih Hadiah Nobel Sastra 1991 itu menyatakan "utang budi"-nya pada
perpustakaan. Ia memberi tahu seluruh dunia bahwa, tanpa perpustakaan di
Springs, kota kecil tempatnya bermukim ketika itu, ia takkan bisa menjadi
penulis. Betapa berjasa sebuah perpustakaan baginya.
Saya pernah membayangkan para
politikus berdiam di perpustakaan untuk sementara masa. Mungkin saja, ketika
keluar dari perpustakaan, jargon-jargon bermakna bakal dilontarkan. Bukan lagi
jargon-jargon kosong menggelikan sebagaimana yang sering kita lihat.
Kita bisa mulai memikirkan siasat
untuk mencintai perpustakaan. Sembari memikirkannya, mari mendengarkan mereka
yang lebih dulu menemukan siasat untuk mencintai perpustakaan, The Magnetic
Fields, dengan Swinging London:
I read your manifestoes and your
strange religious tracts.


You took me to your library and kissed me in the stacks.
Planets crash, the world goes nova,


Sun explodes, all goes black.
Atau mari mengikuti petuah Albert
Einstein, The only thing that you absolutely have to know, is the location of
the library.
Demikianlah. Bahkan, ketika
dimungkiri, perpustakaan tetaplah mata air pengetahuan. Berkunjung ke
perpustakaan sama ihwalnya dengan menikmati pertunjukan pengetahuan. Tapi itu
tidak cukup. Kita mesti meneguk air dari pengetahuan tersebut supaya tidak
tersesat. Sebab, seturut kata Katharine Hepburn: "What in the world would
we do without our libraries?"
*** Koran Tempo Makassar menerima
naskah Literasi Anda. Silakan kirim naskah Anda sepanjang 4.000-5.000 karakter
atau 500-700 kata dengan dilengkapi data penulis dan foto ke alamat e-mail
redaksi: [email protected] atau imhe_mks@yaho

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

--
Towards cyber libraries to support information society in Indonesia.
Joining ICS-isis by sending mailto:[email protected]
Visit ICS-Portal at http://digilib.binus.ac.id/ics/index.phpYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ics-isis/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ics-isis/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke