<http://tabloidsinyal.com/2010/07/sukses-android-ada-di-tangan-operator/androids/>Popularitas Android di Indonesia sepertinya masih akan bergeming dalam waktu dekat ini. Atau setidaknya hingga akhir tahun nanti. Atau kalaupun dipaksa dicari titik terangnya, hape-hape Android sepertinya baru akan unjuk gigi mulai tahun depan. Opini yang agak apriori memang, apalagi ditengah pembicaraan Android yang sedang hangat-hangatnya.
Tetapi tengoklah perkembangan hape-hape Android belakang ini. ‘Layu di tengah jalan’. Padahal Android sempat berjaya ketika operator Indosat meluncurkan enam hape di Mega Bazar tahun lalu. Namun setelah itu? gaungnya surut kembali. Memang, setelah pentas Indosat Android Expo itu, hape-hape baru Android masih cukup eksis berdatangan ke tanah air. Sebutlah vendor HTC dan Sony Ericsson yang dengan cukup rajin menggelontorkan hape bersenjatakan si robot ijo. Tetapi toh, aura Android tetap saja ‘dingin’. Bahkan apabila hendak dibandingkan dengan gebyarnya hape-hape merek lokal, taji Android belumlah seberapa. Pun ketika diperbandingkan dengan angka penjualan Blackberry yang diperkirakan mengalami pertumbuhan 300% tiap bulannya, laju perkembangan Android di negeri ini masihlah jauh tertinggal. Namun bukan berarti peluang sudah tertutup rapat, justru sebaliknya. Tengoklah antusiasme warga pada Android bundling Indosat yang begitu tinggi, bahkan tak sedikit pemesan yang tidak kebagian. Lima puluh unit Android yang disediakan operator nomor dua itu pun ludes tak bersisa. “Permintaanya memang bagus, tapi persediaan dari vendornya terbatas. Kita kan tidak beli, kita hanya melakukan bundling saja” jelas Agung Wijanarko, Division Head Blackberry & Consumer Device Indosat, ketika SINYAL menanyakan susahnya mendapat Android yang dipaket Indosat. Pendapat Agung senada dengan Richard Susilo, Product Marketing LG Mobile Indonesia, “permintaan Android cukup baik dan naik terus, kami pun akan terus berkomitmen di pasar ini”, tutur Richard seraya menambahkan jika LG Mobile akan meluncurkan tipe GT340 dalam waktu dekat ini. Tetapi lagi, apa artinya banyak permintaan bila angka penjualan masih berpihak di kubu smartphone lain?. Kontras ketika diperbandingkan dengan pertumbuhan di negara-negara lain yang sedang melaju kencang. Tengoklah ke Amerika, menurut lembaga NDP, pertumbuhan Android di negeri Paman Sam untuk periode akhir 2009 hingga kuartal awal 2010, telah menyalip penjualan iPhone dengan angka 28 persen. Penjualan hape pabrikan Apple sendiri pada periode yang sama mendapat porsi 21 persen. Sementara data riset Gartner untuk pasar global, menunjukkan angka 9,6 persen untuk pangsa pasar Android hingga kuartal pertama 2010. Proporsi ini meningkat tajam dibanding kuartal sama di tahun 2009 yang masih 1,6 persen. Berarti ada peningkatan sekitar 600 persen hanya dalam waktu satu tahun terakhir. *Peran Media dan Operator Menjadi Kunci* Agak lucu memang, ketika SINYAL menemui sendiri kenyataan yang kontras antara kecanggihan yang ditawarkan Android dengan kapasitas pengetahuan produk oleh konsumen. Bahkan pada perhelatan Indosat Android Expo di Jakarta, masih ada saja seorang pengunjung yang melayangkan pertanyaan mendasar seputar Android. “Mbak, bisa nggak Android ini diinstalkan di hape Nokia?”, tanya seorang pengunjung kepada penjaga stand. Tak salah bila dikatakan penjualan Android di Indonesia tidak semujur nasibnya di negara-negara lain. Bisa jadi, ini karena pasar di sini belum cukup siap menerima Android sebagai tren baru ber-ponsel. “Android itu barang baru, jadi akan butuh waktu dan edukasi yang luas kepada masyarakat. Dan di sini peran media akan sangat membantu,”. Demikian analisa singkat Hanny Sanjaya, Product Marketing Sony Ericsson Indonesia, kepada SINYAL saat prosesi peluncuran Sony Ericsson Xperia X10. Analisa Hanny ini tak jauh berbeda dengan hasil pantauan SINYAL di pusat-pusat pertokoan hape sekitar Jabodetabek. Penjualan Android memang belum terasa lonjakannya. Bahkan tak sedikit pedagang yang tak tahu menahu tentang hape cerdas yang satu ini. Ya, ibarat bayi yang baru lahir, Android masih perlu belajar merangkak sebelum akhirnya mampu menapak di pasar hape cerdas Indonesia. Sebagaimana di awal ketika Blackberry dan smartphone lain diluncurkan, pasar Android juga masih ‘wait and see’ dengan kehadiran teknologinya. Tetapi tentunya tidak semua masyarakat buta, malah belakangan ini berkembang pesat komunitas-komunitas berbasis Android, baik melalui forum ataupun mailing list (milis). Mungkin, baru sebatas di lingkungan seperti inilah pengguna Android di Indonesia. Masih sedikit bukan!. Berita bagusnya, berarti masih begitu besar pasar yang belum tersentuh. Disisi lain, kurangnya dukungan operator menjadi catatan merah lain yang turut menghambat laju Android. Bukan rahasia umum, tarif internet di negeri ini yang relatif tergolong masih mahal, sementara kualitas jaringan yang masih jauh dari memadai. Padahal justru kedua aspek inilah yang akan menjadi faktor penentu kesuksesan Android sebagai peranti yang akan selalu online. Sejurus dengan itu, kegiatan promosi yang dilakukan operator pun tampak masih setengah hati. Android seolah menjadi anak tiri dibalik genjarnya iklan yang dilakukan pada Blackberry dan iPhone. Operator-operator (pun vendor) sepertinya tidak mau menjadi eksekutor pertama, namun lebih memilih ‘menunggu’ hingga booming datang sendirinya. *Bisnis ‘Win Win Solution’* Meski masih terlihat mandeg, kesempatan Android untuk memenangkan persaingan masihlah terbuka sangat lebar. Dari sisi perangkat, pilihan hape-hape Android yang bervariasi merupakan nilai tawar yang sangat kuat bagi pelanggan. Tercatat hingga akhir Juni, ada belasan hape Android yang sudah beredar di Indonesia. Semuanya telah mengadopsi layar sentuh, pada tingkat harga yang bervariasi. Sementara pada form factor, Android hadir dengan pilihan yang sangat beragam. Dari model full touchscreen, berkibor QWERTY, bernavigasi trackpad, atau yang bernavigasi trackball seperti pada Nexus One. Bagi operator, walau Android akan banyak menyedot bandwidth, model internet unlimited akan mendorong tingkat pendapatan rata-rata (ARPU) dengan signifikan. Model ini tentunya akan lebih disukai operator ketimbang berjualan layanan Blackberry yang membutuhkan biaya tambahan untuk membuka jalur backbone khusus ke RIM di Kanada. Sementara untuk vendor, Android akan memberikan efesiensi investasi sebab mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk mengembangkan perangkat lunak. Dengan mengadopsi Android, prinsipal cukup berfokus pada pengembangan produk handset saja. Ujung-ujungnya memang akan terjadi persaingan antar sesama Android. Makanya vendor-vendor akan dituntut untuk lebih kreatif dalam mengemas hape-hape yang akan dijualnya. Seperti dengan mengembangkan aplikasi yang dibuat eksklusif, atau dengan memercantik tampilan menu seperti yang dilakukan HTC melalui Sense UI dan Samsung dengan Touch Wizz-nya. Para pengembang aplikasi pun akan diberikan keleluasaan dengan sistem terbuka (open source) yang dianut oleh Android. Mereka dapat dengan lebih leluasa membuat dan mengembangkan aplikasi tanpa perlu berpikir biaya. Sementara memasarkannya dapat dilakukan dengan mudah ke pasar online Android Market. Well, sistem operasi Android dengan hanya ditelisik sepintas saja sebenarnya akan memberikan keuntungan bagi semua pihak, tak terkecuali di sisi pengguna. Hanya saja gebyarnya di Indonesia sepertinya masih butuh waktu. Dukungan operator akan menjadi faktor kunci, yaitu melalui pilihan paket data yang bervariasi, jaringan yang memadai, dan pastinya tarif internet yang lebih terjangkau. Read full article at http://tabloidsinyal.com/2010/07/sukses-android-ada-di-tangan-operator/ -- "Indonesian Android Community [id-android]" Join: http://groups.google.com/group/id-android/subscribe?hl=en-GB Moderator: [email protected] ID Android Developer: http://groups.google.com/group/id-android-dev ID Android Surabaya: http://groups.google.com/group/id-android-sby ID Android on FB: http://www.facebook.com/group.php?gid=112207700729
