http://goo.gl/8qYE

DIBANDING produsen smartphone dan operator Korea Selatan, Jepang
terkesan lambat dalam mengadopsi Android. Butuh waktu lama bagi
Android untuk menyerbu Negeri Matahari Terbit itu.

Saat produsen smartphone Korea seperti Samsung dan LG berlomba-lomba
membuat smartphone dengan rasa Froyo, produsen smartphone Jepang malah
sebaliknya, tidak seantusias saingan mereka dari Korea. Mereka
terkesan masih lihat kiri-kanan sebelum nekat 'nyebur' ke dunia
Android. Ironi terjadi ketika provider terkenal di Jepang, NTT DoCoMo,
justru memasarkan Android dari Samsung yakni Samsung Galaxy S dan
Samsung Galaxy Tab. Kerja sama ini istimewa karena DoCoMo baru pertama
kalinya bekerja sama dengan Samsung.

"Kami harapkan Galaxy S dan Galaxy Tab akan jadi produk yang paling
sukses di Jepang. Lewat kemampuan luar biasa keduanya dan jaringan
yang kami miliki, kami yakin dapat menyediakan produk terbaik bagi
konsumen," ujar CEO NTT DoCoMo Yamada Ryuji.

Sebelum bekerja sama dengan Samsung, NTT DoCoMo sebenarnya sudah
memasarkan Sony Ericsson Xperia X10 sebagai smartphone berbasis
Android. Namun, Sony Ericsson bukan murni perusahaan Jepang melainkan
proyek kerja sama Sony dengan perusahaan asal Swedia. Salah satu hal
yang membuat NTT DoCoMo melirik perusahaan nonJepang adalah minimnya
kontribusi perusahaan Jepang dalam memproduksi smartphone berbasis
Android.

Kesan lambatnya adaptasi Android terlihat ketika Sharp meluncurkan
smartphone Android IS03. Perangkat ini memiliki spesifikasi yang
sangat mengagumkan dan cukup unik. Pada dasarnya ini adalah smartphone
pertama yang memenuhi kebutuhan khusus para pengguna ponsel di Jepang
yang manja. Pertanyaannya adalah kenapa Android di Jepang terkesan
berjalan pelan.Penyebabnya tidak lain adalah klaim teknologi ponsel di
Jepang yang sudah advanced.

Banyak produsen elektronik di Jepang enggan melirik smartphone
berbasis Android karena teknologi tersebut sudah banyak diterapkan di
Jepang. Sekadar tahu saja di Jepang ponsel sudah bisa digunakan
sebagai kartu kredit, kartu identitas, dan bahkan penghitung kadar
lemak di badan. Sementara fitur-fitur seperti push e-mail, chatting,
GPS, dan internet itu sudah jadi fitur wajib.

Bahkan, fitur lainnya tak kalah menakjubkan. Contohnya saja Sharp
912SH yang memiliki fitur layar LCD, GPS, pembaca barcode, TV digital,
video konferensi, dan tentunya kamera dengan pixel tinggi. Dari
situlah mereka terkadang merasa ponsel pintar yang beredar tidak
begitu hebat dibandingkan ponsel yang mereka miliki. Salah satu cara
menarik menguasai pasar Jepang dilakukan dengan baik oleh Apple.

Saat Apple dan Softbank berencana membawa iPhone ke Jepang, mereka
meminta iSHARE untuk terlebih dulu melakukan survei. Tujuannya hendak
mencari tahu apakah mereka benar-benar membutuhkan iPhone atau tidak?
Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa 77 persen warga Jepang tidak
berencana membeli iPhone. Alasannya, teknologi yang dibawa iPhone
bukan hal yang baru bagi mereka.

Selain itu mereka lebih memilih ponsel yang baterainya bisa dicopot.
Meski mengalami penolakan, Apple tetap berusaha untuk mendatangkan
iPhone. Namun mereka dengan sabar menunggu momen yang tepat. Alih-alih
langsung membawa iPhone, Apple menunggu hingga iPhone 3GS keluar.

Begitu iPhone 3GS keluar, Apple pun langsung membawa produk itu ke
Jepang dan hasilnya luar biasa. Apple iPhone 3GS jadi sangat sukses di
Jepang. Internet mobile dan aplikasi yang akrab dengan masyarakat
Jepang adalah salah satu jurus yang dipakai Apple. Sadar kalau
masyarakat Jepang membutuhkan internet mobile yang supercepat, mereka
langsung memfasilitasi kebutuhan itu di iPhone 3GS.

Begitu juga ketika mengetahui masyarakat Jepang senang dengan televisi
di ponsel, mereka pun menyematkan fitur tersebut. Begitu juga dengan
kamera dengan megapixel dengan kemampuan unik serta permainan online
yang menarik. Jika Anda pernah melihat iPhone 3GS di Jepang, maka Anda
akan menemukan fitur unik seperti Sekai Camera dan Miruko.

Keberhasilan iPhone 3GS pun membuat hasil yang luar biasa. Ketika
iPhone 4 diluncurkan ke Jepang, respons yang muncul pun sangat luar
biasa dibandingkan ketika Apple hendak membawa iPhone. Nah, menyadari
hal tersebut, Managing Director NTT DoCoMo Minoru Etoh berencana
membangun sebuah pusat penelitian bagi developer yang menciptakan
aplikasi Android.

Pusat penelitian itu akan membantu developer untuk membuat aplikasi
yang memiliki kemampuan untuk penerjemahan linguistik, adaptasi dengan
kebudayaan Jepang, dan yang paling penting tutorial yang mudah
dipahami masyarakat Jepang. Tidak tanggung-tanggung, untuk pembangunan
itu, DoCoMo telah menyediakan biaya USD1 miliar. Jadi, untuk menguasai
pasar Jepang, Android memang membutuhkan waktu yang lama dan tentunya
biaya yang besar. (Koran SI/ Wahyu Sibarani) (srn)

-- 
Salam,


Agus Hamonangan


Founder Indonesian Android Community
http://groups.google.com/group/id-android
Gtalk  : id.android
Follow : @agushamonangan
E-mail :  [email protected]

-- 
"Indonesian Android Community [id-android]" 

Join: http://groups.google.com/group/id-android/subscribe?hl=en-GB  
Moderator: [email protected]
Peraturan Jual dan Kloteran ID-Android  http://goo.gl/azW7
ID Android Developer: http://groups.google.com/group/id-android-dev
ID Android Surabaya: http://groups.google.com/group/id-android-sby
ID Android on FB: http://www.facebook.com/group.php?gid=112207700729

Kirim email ke