nah betul.......... dengan kualitas yang ada sekarang ini sebenernya produk siapa sih ? Nokia Siemens, Ericsson, Huwawei, Motorola Operator sebenernya hanya user juga kan....
On Nov 29, 7:49 am, "dolly surya" <[email protected]> wrote: > Ericsson = Vendor yang bisa nya cuma jualan ke Ops. Jualan jualan dan jualan > barang... > Gak pernah ngerasain face to face sama pelanggan... > > *lagi kesel ama Ericsson* > > Thx, -------------------------------- > email: I have a lot > BB PIN: Always change > Just twit me @dollysw > Sent using trusted network, @XL123 > > -----Original Message----- > From: Agus Hamonangan <[email protected]> > > Sender: [email protected] > Date: Sun, 28 Nov 2010 22:46:29 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: [id-android] WTI: "Broadband" Belum Puaskan Harapan > > http://goo.gl/pdpUD > > KOMPAS.com - Koneksi broadband atau jaringan telekomunikasi pita lebar > semakin menjadi kebutuhan, terutama ketika perangkat mobile broadband > mulai membanjiri pasar. Namun, kehadiran gadget-gadget pintar itu > terasa terlalu cepat sehingga tidak atau belum didukung jaringan yang > memadai. > > Sepertinya selalu ada kesenjangan penerapan teknologi komunikasi, > selalu terlambat. Bahkan, kalau toh sudah ada, penerapannya tidak > maksimal. Operator sudah sangat berbangga memiliki sekian ribu BTS, > tetapi tidak pernah dijelaskan BTS dengan kualitas seperti apa. > > Terminologi seperti broadband, akses unlimited sudah menjadi jargon > sehari-hari yang dijual operator saat ini. Terkesan canggih, tetapi > bisa berarti tidak bermakna apa-apa karena keluhan berkaitan dengan > layanan itu masih banyak muncul di sana-sini. > > Hadirnya ponsel-ponsel canggih (smartphone) menjadi tidak ada artinya > ketika koneksi broadband tidak bisa diandalkan. Barang canggih itu > hanya berfungsi seperti ponsel biasa, sekadar komunikasi suara dan > SMS, selebihnya fitur yang tidak memerlukan jaringan. > > Hal ini menjadi semakin terasa ketika mulai muncul iPhone, terlebih > lagi ponsel canggih berbasis Android dalam setahun ini. Meski berfitur > canggih, ya tetap saja terlihat ”dungu” dengan koneksi broadband yang > tersendat-sendat. > > Bisa jadi ini karena sampai sekarang operator masih melihat koneksi > suara sebagai primadona sehingga koneksi data masih tetap nomor dua. > Selain luasnya negeri ini juga merupakan kendala, apalagi daya beli > masyarakat juga masih rendah. > > Walaupun vendor jaringan Ericsson akhir tahun lalu menemukan bahwa > lalu lintas data sudah melebihi suara di tingkat global. Trafik itu > meningkat 280 persen tiap tahun selama dua tahun terakhir dan > diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada lima tahun ke depan. > > Akankah perubahan seperti ini juga akan terjadi di negeri ini? > > Korelasi > > Sebuah studi yang dibuat Ericsson belum lama ini memperlihatkan adanya > korelasi yang positif antara pengembangan penetrasi broadband dan > tambahan pertumbuhan GDP, termasuk terciptanya pekerjaan baru. > Misalnya seperti setiap penambahan 1.000 pengguna broadband akan > menciptakan sekitar 80 pekerjaan baru. > > Mats Otterstedt, Presiden Direktur Ericsson Indonesia, beberapa waktu > lalu mengungkapkan, ”Indonesia memiliki potensi pertumbuhan di bidang > mobile broadband yang menakjubkan. Sebagai negara keempat dengan > populasi terbesar, Indonesia merupakan pasar besar dengan permintaan > akan layanan telekomunikasi yang besar pula.” > > Raksasa jaringan dari Swedia itu melihat pertumbuhan mobile broadband > di Indonesia seiring dengan pertumbuhan indikator sosial ekonomi > negara. Mobile broadband telah berkembang menjadi syarat utama bagi > masyarakat Indonesia untuk mendapatkan koneksi internet. > > Pada kesempatan yang berbeda, pihak GSMA (Asosiasi GSM) pada Selasa > (16/11/2010) mengungkapkan hasil riset independen yang menekankan pada > dampak positif alokasi spektrum frekuensi untuk komunikasi bergerak di > Asia Pasifik. Laporan yang dibuat GSMA dan Boston Consulting Group itu > tentang alokasi pada pita frekuensi 700 MHz untuk komunikasi > broadband. > > Apabila pihak pemerintah di kawasan Asia Pasifik mengalokasikan > frekuensi itu untuk komunikasi bergerak, maka akan memberikan > keuntungan ekonomis dan sosial yang lebih besar dibandingkan dengan > jika hanya digunakan untuk layanan seperti siaran. Sepertinya > harmonisasi pita frekuensi 700 MHz ini memberi isyarat bagi masuknya > teknologi Long Term Evolution (LTE), sebuah teknologi komunikasi yang > saat ini bisa disebut para-generasi keempat (4G). > > Riset itu memperlihatkan, alokasi pita 700 MHz untuk LTE akan > meningkatkan jumlah pelanggan internet di Indonesia sampai 22 persen, > Korea hingga 14 persen, India 21 persen, dan Malaysia 23 persen. Di > negeri ini akan bertambah 9,7 juta pelanggan internet hingga tahun > 2020. > > Barangkali hal ini juga akan memberi jalan pada teknologi LTE di > Indonesia untuk membuka kemacetan broadband. Akan tetapi, lalu muncul > pertanyaan lain, bagaimana dengan WiMAX, teknologi pra-4G yang bahkan > sudah mulai menjalankan aktivitas pembangunan infrastrukturnya? > > -- > Salam, > > Agus Hamonangan > > Founder Indonesian Android Communityhttp://groups.google.com/group/id-android > Gtalk : id.android > Follow : @agushamonangan > E-mail : [email protected] > > -- > =============== > "Indonesian Android Community [id-android]" > > PING'S mobile™ > Email: [email protected] Ph. (021) 96087100 > --------------------- > Yopie Ratjoen > Email: [email protected] > -------------------- > Gila original > Email: [email protected] Ph. (031) 91555898 > -------------------- > > Aturan Jual/Kloteran ID-Android http://goo.gl/azW7 -- =============== "Indonesian Android Community [id-android]" PING'S mobile™ Email: [email protected] Ph. (021) 96087100 --------------------- Yopie Ratjoen Email: [email protected] -------------------- Gila original Email: [email protected] Ph. (031) 91555898 -------------------- Aturan Jual/Kloteran ID-Android http://goo.gl/azW7
