http://goo.gl/9fKQp

Jakarta - Makin dominannya tablet sebagai sebuah kategori baru
perangkat komputer tak bisa diabaikan. Hampir semua produsen komputer
utama telah menawarkan, atau sudah merencanakan, produk tablet
masing-masing.

Setiap vendor punya cukup banyak pilihan dalam mendekati pasar tablet
yang sedang tumbuh ini. Tapi jalur yang paling 'mainstream' adalah
menggunakan sistem dengan arsitektur ARM dan sistem operasi (OS)
Android.

ARM jadi pilihan banyak pihak karena dianggap sudah terbukti. Apple
melakukannya untuk iPad, demikian juga Samsung pada Galaxy Tab-nya.

Sedangkan Android jadi pilihan karena tersedia dari Google dengan
lisensi Apache yang bersifat Open Source.

Asus Eee Pad Transformer

Asus pun dengan bijak memilih kombinasi tersebut untuk Eee Pad
Transformer. Hal yang lebih menyenangkan adalah, Android yang
digunakan sudah versi 3.0 atau yang lebih dikenal sebagai Honeycomb.

Pilihan memakai Honeycomb ini tepat karena OS yang satu ini memang
dirancang untuk perangkat tablet. Tidak seperti versi Froyo dan
sebelumnya yang dirancang untuk smartphone.

Hal pertama yang detikINET lakukan adalah menjajal keunikan Honeycomb.
Kesimpulannya, semua tablet yang mau menggunakan Android seharusnya
'wajib' memakai Honeycomb.

Desain

Sesuai namanya, Transformer memiliki kemampuan khusus bisa berubah
bentuk. Perubahannya adalah dari sebuah tablet menjadi sebuah
notebook.

Hal itu bisa dilakukan melalui dock yang tersedia secara terpisah.
Meski dijual terpisah, dock tersebut memiliki desain yang senada
dengan tabletnya, sehingga saat digabungkan akan nampak seperti satu
produk utuh.

Punggung tablet Eee Pad memiliki tekstur dengan pola geometris yang
cukup halus dan bisa membantu pegangan tangan. Selain tekstur itu,
hanya terdapat logo Asus dari bahan metalik dan lingkaran tempat
kamera.

Bagian muka dari Eee Pad memiliki bidang plastik dengan frame hitam
lebar seperti umumnya tablet. Bedanya, bidang itu masih dibingkai lagi
oleh bahan metalik dengan perforasi yang agaknya berfungsi sebagai
lubang speaker.

Bagian muka dock Eee Pad menggunakan bahan metalik yang sama dengan di
tabletnya. Konsistensi bahan ini yang membuat Transformer nampak
seperti notebook utuh saat digabungkan.

Layar yang digunakan berukuran 10.1 inchi. Layar ini memanfaatkan
teknologi In-Plane-Switching sehingga sudut pandangnya mencapai 178
derajat.

Tablet ke Notebook ke Tablet

Saat digunakan sebagai tablet saja, Eee Pad Transformer memberikan
pengalaman yang cukup memuaskan. Respons layar sentuhnya terasa gesit.

Saat diubah menjadi notebook alias dipasangkan ke dock-nya, perangkat
ini pun bisa dipakai dengan normal. Begitu tersambung ke dock, akan
muncul icon pemberitahuan di System Bar Honeycomb.

Sebuah pointer pun akan muncul di layar yang bisa dikendalikan dengan
touchpad pada dock atau melalui mouse yang terhubung ke port USB. Port
USB itu juga bisa dihubungkan ke penyimpanan eksternal seperti USB
flashdisk.

Saat dihubungkan ke dock, tablet harus diselipkan pada area sudah
tersedia. Konektor 40-pin dan kedua penguncinya harus tersambung
hingga pas -- terdengar bunyi klik dan tuas kunci di dock bergeser ke
tengah.

Pertama kali memasang tablet ke dock-nya, detikINET mengalami beberapa
kesulitan karena celahnya cukup dalam. Rupanya hal ini semata-mata
karena belum terbiasa.

Selama menjadi 'notebook' layar sentuh Eee Pad masih akan berfungsi.
Beberapa hal pun terasa lebih enak diakses lewat layar sentuh, seperti
scrolling atau berpindah antar layar Home Screen.

Sedangkan di keyboard juga tersedia beberapa shortcut yang khas
Android. Mulai dari untuk WiFi, mengunci/membuka layar, Back maupun
untuk akses cepat ke Settings.

Perangkat ini menyediakan koneksi HDMI untuk memutar film pada
televisi High Definition. Namun untuk memutar jenis file film tertentu
harus dipastikan keberadaan Codec atau aplikasi yang sesuai.

Kesimpulan

Secara umum, Eee Pad Transformer terasa sangat menggoda. OS Honeycomb
yang digunakan bisa mendukung berbagai aktivitas standar produktivitas
dan hiburan.

Keberadaan dock yang membuatnya bisa digunakan sebagai notebook mungil
juga menjadi daya tarik ekstra. Apalagi dock itu mencakup baterai
sendiri, sehingga bisa menjadi 'penyambung nyawa' saat jauh dari
sumber listrik.

Kelebihan:
- Menggunakan OS Android Honeycomb
- Dock keyboard memiliki baterai
- Desain menarik

Kekurangan:
- Belum banyak tersedia aplikasi spesifik untuk Honeycomb di Android Market
- Kadang masih perlu menyentuh layar meskipun tersambung ke dock bagai notebook


Spesifikasi:
Layar: 10.1" LED Backlight WXGA (1280x800); multi-touch 10 titik
sentuhan; anti gores
Prosesor: Nvidia Tegra 2
Memory: 1GB
Penyimpanan: 16GB atau 32 GB
Koneksi: WiFi 802.11 b/g/n, Bluetooth
Kamera: 5 MP (belakang) dan 1.2 MP (depan)
Port: 2 in 1 Audio (mic dan headphone), mini HDMI 1.3a, microSD
Dock: keyboard full QWERTY chichlet, touchpad single button, 2 x USB,
multi memory card reader (SD Card, SDHC, MMC).
Berat: 680 gram
Dimensi: 271 x 171 x 12.98 mm (tablet saja)


-- 
Salam,


Agus Hamonangan

Founder Indonesian Android Community
http://forum.android.or.id

Indonesian Android Community
http://groups.google.com/group/id-android

Gtalk  : id.android
Follow : @agushamonangan
E-mail :  [email protected]

-- 
"Indonesian Android Community"  Join: http://forum.android.or.id

===============
Xperia arc with Mobile BRAVIA Engine
http://www.sonyericsson.com/product/xperiaarc/video/mbe
---------------------
Unlimited Data XL Mobile Broadband  
http://www.xl.co.id/XLInternet/BroadbandInternet
--------------------
PING'S Mobile - Plaza Semanggi
E-mail: [email protected] Ph. 021-96087100
--------------------
i-gadget Store - BEC Bandung
E-mail: [email protected] Ph. 0812-21111191
--------------------
Toko EceranShop - BEC  Bandung
E-mail: [email protected]  Ph. 0815-56599888
===============

Aturan Jual/Kloteran ID-Android  http://goo.gl/azW7

Kirim email ke