Udah liat anas yg dulunya berkoar tentang memberantas KKN sekarang jadi apa? Idealisme mahasiswa dan birokrat itu beda..... Walaupun orangnya sama :P
@darma78 with EVO4G On Aug 11, 2011 7:45 PM, "Bayu Asmara" <[email protected]> wrote: > Setuju. > > Baru saja dua hari yang lalu berpikir hal yang serupa. > Selagi nonton National Day Parade di layar lebar depan Ion Orchard, > lihat cerita keberhasilan Singapore mulai dari negara lemah, kecil, > dan tanpa hasil bumi, menjadi negara maju seperti sekarang. > Kebetulan beberapa minggu sebelumnya berkunjung ke gedung Urban > Redevelopment Authority yang dalamnya di ceritakan perkembangan > Singapore. Luar biasa pertumbuhannya. > > Semangat untuk mengembangkan Indonesia jadi semakin besar. > Jadi berpikir "Bisa kok Indonesia berubah" "Bukan mustahil kok > Indonesia jadi bangsa besar" > > Jadi ingat waktu jaman masih kuliah, saat ikut demo-demo menuntut > Suharto turun. Waktu itu optimisme sangat tinggi. > Pikirannya "Ayo kita bangun Indonesia yang kuat". "Kita bersama pasti bisa..." > > Lama-lama semangat itu berubah jadi > "Susah Indonesia mau bener ....-nya aja kayak gini" > "Mau gimana lagi, lha wong ...." > "Nggak mungkin deh di Indonesia ..... > Pemerintah/Presiden/Gubernur/Walikota.... gini sih" > Jadi pesimis, dan seolah "pasrah" nggak mau berjuang lagi. > > Dan setiap kali denger cerita keberhasilan negara lain, selalu berpikir: > "Beda... mereka kan ...... Indonesia kan ..." > "Di sana kan ada .... di Indonesia kan nggak ada..." > Berbagai alasan keluar. Padahal mungkin negara-negara lain itu punya > masalah lain yang nggak ada di Indonesia. > > > Setuju dengan Pak Rhenald, semua harus membuka matanya dan melihat > bagaimana dunia luar. > Lihat apa saja yang mungkin dicapai. Supaya yakin kita juga bisa mencapai itu. > Terutama generasi muda yang kebetulan tidak dilahirkan dalam kondisi > kesusahan, dan bisa sekolah, kuliah, dan dapat kerja. > Supaya jangan pernah lupa untuk terus berjuang demi yang lebih baik. > > > best regards, > Bayu > > > > > 2011/8/10 Arianto C Nugroho <[email protected]>: >> >> >> Sebuah tulisan yang inspiratif...semoga bermanfaat... >> >> ---------------------------------------------------------- >> >> Pasport - Jawapos 8 Agustus 2011 >> >> Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa >> orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya >> sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah >> naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah >> pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah >> pelancong lokal. >> >> Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR >> dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi >> tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin >> memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, >> terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu >> kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport. >> >> Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, >> pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, >> Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu >> dan bisa dijangkau. >> "Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?" >> Saya katakan saya tidak tahu. *Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang >> bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi >> kehidupan dan tujuannya dari uang. *Dan begitu seorang pemula bertanya >> uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir >> pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. >> >> Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga >> para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah >> melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas >> kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut >> sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. >> Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. >> Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, >> teknologi, kedewasaan, dan wisdom. >> >> Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para >> pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok >> backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, >> menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang >> bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka >> sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, >> yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang >> yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, >> bahkan semewah di masa lalu. >> >> Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah >> rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima >> Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang >> dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, >> menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut >> kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan >> menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain >> kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat >> teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi >> eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri. >> * >> >> The Next Convergence* >> Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel >> ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari >> Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk >> dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin >> masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan >> miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong. >> >> Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak >> pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket >> pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi >> para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima >> ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis >> melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan >> jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu >> pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah >> kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan >> infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada >> di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan >> memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas >> Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat >> minimal satu negara. >> >> Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus >> Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung >> melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau >> diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka >> perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia >> ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf >> tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti >> menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah >> punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, >> jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, >> menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan >> kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya >> sendiri. >> >> Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun >> kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka >> anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu >> tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang >> mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang >> meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. >> Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki >> daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. >> Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, >> gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka. >> >> Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki >> pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport >> pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di >> Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe >> yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya >> mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus >> Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara. >> >> *Rhenald Kasali >> Guru Besar Universitas Indonesia * >> >> -- >> Fasten your seat belt!!! >> RUSH OVERSEAS 2011 - Mari bersinergi dalam kebaikan! >> >> =================================================== >> >> To register or update database please fill-up the following form : >> http://database.gogulfindonesia.com >> >> >> >> -- >> -- >> Best Regards >> Arianto C Nugroho >> http://id.linkedin.com/in/ariantonugroho >> YM-i : arianto.nugroho >> skype-id : nugroho.arianto >> (+254) 728 002 390 >> (+62) 817 9050 530 >> >> -- >> "Indonesian Android Community" Join: http://forum.android.or.id >> >> =============== >> Join ID-ANDROID Developers >> http://groups.google.com/group/id-android-dev >> --------------------- >> Gunakan Paket Unlimited Data XL Mobile Broadband >> http://www.xl.co.id/XLInternet/BroadbandInternet >> -------------------- >> PING'S Mobile - Plaza Semanggi >> E-mail: [email protected] Ph. 021-25536796 >> -------------------- >> i-gadget Store - BEC Bandung >> E-mail: [email protected] Ph. 0812-21111191 >> -------------------- >> Toko EceranShop - BEC Bandung >> E-mail: [email protected] Ph. 0815-56599888 >> =============== >> >> Aturan Jualan dan Kloteran ID-Android http://goo.gl/YBN21 >> > > -- > "Indonesian Android Community" Join: http://forum.android.or.id > > =============== > Join ID-ANDROID Developers > http://groups.google.com/group/id-android-dev > --------------------- > Gunakan Paket Unlimited Data XL Mobile Broadband > http://www.xl.co.id/XLInternet/BroadbandInternet > -------------------- > PING'S Mobile - Plaza Semanggi > E-mail: [email protected] Ph. 021-25536796 > -------------------- > i-gadget Store - BEC Bandung > E-mail: [email protected] Ph. 0812-21111191 > -------------------- > Toko EceranShop - BEC Bandung > E-mail: [email protected] Ph. 0815-56599888 > =============== > > Aturan Jualan dan Kloteran ID-Android http://goo.gl/YBN21 -- "Indonesian Android Community" Join: http://forum.android.or.id =============== Join ID-ANDROID Developers http://groups.google.com/group/id-android-dev --------------------- Gunakan Paket Unlimited Data XL Mobile Broadband http://www.xl.co.id/XLInternet/BroadbandInternet -------------------- PING'S Mobile - Plaza Semanggi E-mail: [email protected] Ph. 021-25536796 -------------------- i-gadget Store - BEC Bandung E-mail: [email protected] Ph. 0812-21111191 -------------------- Toko EceranShop - BEC Bandung E-mail: [email protected] Ph. 0815-56599888 =============== Aturan Jualan dan Kloteran ID-Android http://goo.gl/YBN21
