Naskah ini, lengkap dengan fotonya, juga bisa dibaca di 
http://ponselmu.com/?p=748
----

Sebelum ini, pemburu ponsel Android bergaransi resmi dengan kemampuan
dual on mau tak mau harus bersentuhan dengan ponsel merek lokal buatan
Tiongkok. Misalnya, Ivio dan Nexian. Belum ada ponsel Android merek
global yang beredar resmi di sini.

Sekarang penantian itu telah berakhir. Alcatel yang baru kembali
menginjakkan kaki ke Indonesia menawarkan Alcatel one touch 890D. Ponsel
itu dilengkapi dua slot kartu SIM yang bebas dipadukan dengan operator
GSM apa pun.

Kali pertama membuka kardus 890D dan mencermati satu per satu isi paket
penjualan, ada satu hal yang menarik perhatian penulis. Di buku panduan
ponsel tersebut dicantumkan besaran Specific Absorption Rate (SAR) atau,
mudahnya, tingkat radiasi 890D. Besaran SAR yang tertulis masih di bawah
ambang batas maksimal yang diizinkan.

Bodi 890D tampak cukup manis. Sentuhan akhir produknya relatif halus,
bukan asal jadi. Di sisi atas ponsel tersedia sebuah konektor 3,5 mm
untuk menancapkan handsfree berkabel yang disertakan dalam paket
penjualan. Di kiri bodi, terdapat sebuah konektor micro USB yang
berfungsi sebagai penghubung charger maupun kabel data. Sementara itu,
tombol volume tersedia di bagian kanan ponsel.

Layar sentuh 890D berjenis resistif, berukuran 2,8 inci, dan beresolusi
320 x 240 piksel. Ia tidak mendukung multitouch. Jadi, saat sedang
melihat foto, misalnya, jangan coba-coba mencubit layar untuk
memperbesar atau memperkecil tampilan.

Dua kartu SIM yang diselipkan ke 890D bisa siaga bersamaan. Bahasa
kerennya, dual on GSM-GSM. Namun, ponsel itu belum mendukung layanan
akses data berbasis 3G. Pengguna hanya bisa menikmati koneksi data via
GPRS/EDGE dan Wi-Fi.

Fitur Wi-Fi tethering yang lazim ditemukan di ponsel bersistem operasi
Android 2.2 alias Froyo juga tak tersedia di 890D. Dugaan penulis, fitur
itu sengaja dihapus dengan alasan melakukan Wi-Fi tethering lewat
GPRS/EDGE tentu tidak nyaman.

Sebuah kamera tersedia di bagian belakang ponsel. Kamera itu tanpa
autofocus maupun lampu kilat. Ia mampu menghasilkan foto beresolusi
maksimal 1600 x 1200 piksel atau setara dengan dua megapiksel. Ia dapat
pula difungsikan sebagai perekam video. Menurut penulis, kinerja kamera
itu tidak memuaskan.

Radio FM, bluetooth, GPS, ROM 512 MB, RAM 256 MB, dan slot microSD
merupakan sebagian spesifikasi lain 890D. Satu keping microSD 2 GB telah
disertakan dalam paket penjualan.

Untuk membuka file dokumen Microsoft Word, Excel, dan PowerPoint,
pengguna bisa memanfaatkan aplikasi Office Suite yang telah dibenamkan.
Aplikasi itu hanya mampu membaca, tanpa sanggup menyunting atau membuat
file baru. Rutin ber-mobile banking? Tak masalah. Kebiasaan itu tetap
bisa dilanjutkan. Sebab, 890D mendukung SIM Toolkit (STK) untuk dua
kartu SIM yang terpasang.

Ponsel yang dibanderol Rp 999 ribu itu memanfaatkan prosesor
berkecepatan 420 MHz. Ups… kok rendah sekali! Ya, kalau dibandingkan
dengan aneka ponsel Android yang beredar di pasar, spesifikasi prosesor
tersebut relatif lambat. Ponsel Android non-dual on kebanyakan telah
memakai prosesor 600 MHz atau lebih tinggi. Kabar gembiranya, performa
nyata 890D ternyata tidak sangat lambat. Kecepatan responsnya masih
dalam batas toleransi. Bisa ditebus dengan sisi menarik lain dan harga
jualnya deh.

Sisi minus lain 890D, tingkat pencahayaan layar ponsel itu tidak dapat
diatur otomatis. Pengaturan keypad virtualnya juga tidak sempurna.
Pengguna seharusnya dapat memilih bentuk tampilan keypad virtual saat
ponsel digunakan dalam posisi portrait dan lansekap. Misalnya, ketika
ponsel dalam posisi portrait alias berdiri, layar sentuh bakal
menyajikan 12-key PhonePad layaknya ponsel candybar. Praktiknya,
meskipun telah memilih 12-key PhonePad, saat mengakses menu tertentu,
ponsel sesekali justru menampilkan full qwerty keypad.

Di pasar, salah satu pesaing terdekat 890D adalah Ivio DE38 yang saat
ini dijual di kisaran harga Rp 1,1 juta. DE38 yang beredar sejak April
lalu itu juga bersistem operasi Android 2.2 dan dual on GSM-GSM. Sama
dengan 890D, ia belum mendukung layanan 3G dan tidak dapat dipakai untuk
menikmati Wi-Fi tethering.

Bedanya, DE38 dibekali layar sentuh kapasitif 3,5 inci dan kamera 3,2
megapiksel. Ia memakai prosesor ARM9 460 MHz. Di buku panduan DE38 tidak
dicantumkan besaran SAR. Kalau Alcatel bermerek global, Ivio merupakan
merek lokal yang kian agresif menjaring pesanan dari negara lain. Anda
pilih mana?



Salam,


Herry SW
-----
Twitter: @herrysw

-- 
"Indonesian Android Community"  Join: http://forum.android.or.id

===============
Join ID-ANDROID Developers
http://groups.google.com/group/id-android-dev
---------------------
Gunakan Paket Unlimited Data XL Mobile Broadband  
http://www.xl.co.id/XLInternet/BroadbandInternet
--------------------
PING'S Mobile - Plaza Semanggi
E-mail: [email protected] Ph. 021-25536796
--------------------
i-gadget Store - BEC Bandung
E-mail: [email protected] Ph. 0812-21111191
--------------------
Toko EceranShop - BEC  Bandung
E-mail: [email protected]  Ph. 0815-56599888
===============

Aturan Jualan dan Kloteran ID-Android http://goo.gl/YBN21

Kirim email ke