Penulis pernah membaca sebuah hasil survey bahwa pria cenderung tidak mau 
bertanya bila sedang berada di daerah yang tidak dikenal. Para pria jauh 
lebih senang mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu, misalnya 
peta, kompas atau perangkat navigasi yang canggih lagi akurat seperti 
perangkat GPS, dibandingkan harus sebentar-sebentar berhenti untuk bertanya 
arah.


 Ada juga persepsi yang berkembang jika kaum Adam lebih mahir berelasi 
dengan peta, arah dan orientasi. Meskipun bukan sebuah kemutlakan, Penulis 
seringkali menemukan fakta bahwa kebanyakan kaum wanita agak “malas” jika 
harus membaca peta dan menentukan arah navigasi.


 Kesulitan ini akan menjadi berlipat bagi para petualang, penjelajah, 
casual traveller atau bahkan bagi seseorang yang baru saja pindah lokasi 
tinggal. Seperti yang pernah dialami Penulis yang berpindah lokasi domisili 
dari Jakarta ke Ngayogyakarto Hadiningrat. Berada di sebuah lokasi yang 
baru, apalagi sendirian, sudah cukup merepotkan, terlebih lagi di 
Yogyakarta yang memang sungguh sangat istimewa ini. Mengapa?


 Berbeda dengan lokasi asal Penulis di Jakarta, dimana ketika kita bertanya 
arah sebuah tujuan, biasanya jawaban yang kita terima kurang lebih seperti 
ini:”Lurus saja sampai ketemu lampu merah, belok KIRI, terus kira-kira tiga 
ratus meter, setelah lewat perempatan kedua, belok KANAN. Jalan sedikit 
sampai ketemu pertigaan belok KIRI lagi”.


 How is Jogja so different? 


 Jika kita bertanya arah di Jogja, jawaban yang senada dengan jawaban 
seperti di atas kurang lebih seperti ini: “Lurus sampai bangjo, ambil jalan 
UTARA, notok sampai beringin kembar, ambil arah TIMUR. Jalan lagi sampai 
ketemu perempatan, lalu ke BARAT”


 Can you imagine? Where is North? Where is East?


 Welcome to the club: The Confused club. 

Ahahahahaa


 Masyarakat Jogja memiliki orientasi arah yang didasarkan pada arah mata 
angin. Arah Utara di wakilkan dengan Gunung Merapi, sementara arah Selatan 
diwakilkan dengan Laut Selatan. Dengan mudah masyarakat Jogja akan 
menentukan arah yang didasarkan filosofi mata angin ini. Secara jujur, 
sebenarnya akan jauh lebih sederhana apabila arah ditujukan dengan mata 
angin ini dan sebaliknya bukan dengan arah kanan atau kiri. Sepanjang 
pengetahuan Penulis, di negara lain pun, khususnya di negara Barat, arah 
ditunjukkan dengan arah mata angin. Bukan kiri dan kanan. Karena Utara 
tetaplah Utara. Sementara arah kiri bisa menjadi kanan apabila orientasi 
kita berubah. 


 Setelah mendapatkan kesempatan beberapa waktu tinggal di Jogja, secara 
perlahan demi perlahan, Penulis mulai mengadopsi konsep arah mata angin 
ini, dan tidak lagi berelasi dengan kiri dan kanan. Namun kadang saat 
Penulis berupaya menunjukkan arah kepada wisatawan, khususnya wisatawan 
dalam negeri, sebisa mungkin Penulis masih tetap menggunakan konsep kiri 
atau kanan. I'm trying to help, not hurt. Hehe


 Saat awal-awal tinggal di Jogja, kira-kira tahun 2004, penulis sampai 
harus membeli tiga buah kompas. Ya betul, T-I-G-A buah kompas manual. Satu 
diletakkan di mobil, satu diletakkan di motor dan satu lagi disimpan di 
dalam tas yang selalu dibawa kemanapun Penulis pergi. Dengan demikian, 
apabila Penulis bertanya arah sebuah tujuan, Penulis tidak lagi perlu 
bingung dimana arah Utara, Selatan, Timur dan Baratnya. 


 Mengapa tidak mempergunakan aplikasi kompas yang tersedia di perangkat 
mobile? Saat itu Penulis masih mempergunakan BlackBerry 9000 dan belum 
mempergunakan perangkat Android. Sementara BlackBerry 9000 belum 
menyediakan aplikasi kompas digital. Mengapa tidak mempergunakan perangkat 
GPS? Saat itu perangkat GPS harganya masih cukup tinggi, selain dari itu, 
Penulis masih belum rela membeli sebuah perangkat GPS yang hanya memiliki 
fungsi yang terbatas, yaitu hanya sebagai penunjuk arah saja. 


 Kondisi ini terus berlanjut, sambil secara perlahan Penulis mulai sedikit 
demi sedikit belajar memahami konsep arah Utara-Selatan-Timur-Barat, 
sehingga ketergantungan kepada kompas manual mulai sedikit demi sedikit 
berkurang. Selain dari itu, membaiknya pemahaman penulis akan nama-nama 
jalan dan lokasi di Yogyakarta yang memang istimewa ini membuat Penulis 
akhirnya dapat meninggalkan kompas manual secara total. 


 Memang memiliki sebuah perangkat GPS akan sangat sangat membantu kita 
dalam menemukan sebuah lokasi tujuan, khususnya di tempat yang baru atau 
sama sekali belum pernah kita kunjungi. Berdasarkan pertimbangan praktis 
tersebut, memiliki sebuah GPS menjadi impian Penulis. Namun alangkah 
baiknya jika perangkat GPS tersebut memiliki fungsi tambahkan, lebih dari 
sekedar hanya sebagai penunjuk arah saja.


 Impian memiliki GPS itu mulai terwujud saat Penulis diperkenalkan dengan 
perangkat Android, sebuah perangkat kecil multi guna yang hampir mampu 
melakukan segalanya. Kecuali mencuci, mengepel dan menyetrika tentunya. 
Haha.


 Awal-awal perkenalan dengan dunia Android, salah satu yang menjadi fokus 
pencarian dan penjelajahan Penulis adalah: Bagaimana memfungsikan Android 
menjadi sebuah perangkat GPS yang handal dan akurat. Mulailah penulis 
mencari dan mencoba berbagai-bagai progam navigasi offline. Mengapa harus 
offline? Bukankah Android sudah memiliki aplikasi Google Maps yang cukup 
akurat? Karena signal operator tidak selalu dapat diandalkan. Atau lebih 
tepatnya, jangan pernah sekali kali mengandalkan kualitas signal, atau yang 
lebih parah lagi, selalu mengasumsikan akan selalu adanya signal. You'll be 
dissapointed. Very very dissapointed. 


 Berapa sering dari kita, berada dalam situasi saat dimana saat kita 
sungguh-sungguh membutuhkan sebuah koneksi yang dapat diandalkan, justru 
pada saat itulah kualitas signal menjadi jelek. Istilah lainnya S-*-I-T 
H-A-P-P-E-N-S. Oleh sebab itu Penulis memiliki prinsip kerja “Expect the 
worst, prepare the best”. So, online navigation is out! Next Please!


 Secara mendasar sebuah program Navigasi Offline terdiri dari dua bagian, 
program dan peta. Sebuah program navigasi yang baik tidak akan menjadi 
maksimal apabila tidak disertai dengan sebuah peta yang baik pula. Hal yang 
sama berlaku pula sebaliknya. Untuk masalah peta, Penulis tidak perlu 
bingung, karena rekan-rekan di Navigasi.net (atau biasa disingkat Nav.net) 
telah melakukan sebuah pekerjaan yang luar biasa dengan selalu mengupdate 
peta Indonesia secara berkala, minimum dua bulan sekali. Penulis 
mengucapkan banyak terima kasih dan memberikan penghargaan 
setinggi-tingginya kepada rekan-rekan penggiat Nav.net. I salute you all 
for the continous hard work and dedications. Kudos!


 Dengan demikian, proses pencarian yang tersisa adalah bagaimana mencari 
program navigasi yang mampu mengutilisasi peta yang tersedia di Nav.net. 
Saat itu peta yang disediakan adalah: Garmin, K-Nav, Navitel (NM2), Papago 
dan Polnav. 


 Penulis akhirnya memutuskan untuk mencoba Navitel terlebih dahulu. Versi 
yang dicoba adalah versi 5, dengan peta Indonesia dari Nav.net yang 
berformat NM2. Semua berfungsi baik dan optimal. Luar biasa! Apakah 
berhenti sampai disini? Pasti belum. Read on, Please.


 Perangkat Android yang dipakai penulis saat mencoba Navitel adalah 
Smartfren Andro dengan sistem operasi Gingerbread. Everything works very 
well. Kemudian penulis menggantinya dengan Nexus S Sprint, dengan sistem 
operasi Gingerbread (GB) yang kemudian diupgrade ke Ice Cream Sandwich 
(ICS). Still everything works as expected. Kembali Penulis mendapatkan 
kesempatan untuk mengupgrade Nexus S ke Galaxy Nexus Sprint, dengan sistem 
operasi Ice Cream Sandwich. Everything still works well. Business as usual.


 Then come the JellyBeans! 


 But wait! Something happened. 


 The application didn't work.


 Uh oh, Houston, we have problem!


 Navitel versi 5 ternyata tidak berjalan baik di JellyBeans. Mungkin 
saatnya melakukan upgrade program ke program Navitel terkini di versi 7. 
Instalasi program berjalan lancar dan Navitel dapat berjalan dengan baik di 
JellyBeans. Wohoo! 


 Houston, we're back in business! 


 But, wait a minute. Where's the maps? Program Navitel 7 berjalan dengan 
baik, namun tanpa peta sama sekali. Remember, good navigation program needs 
good maps too. 


 It's time to call Houston one more time.


 Apa yang sesungguhnya terjadi? JellyBeans membawa beberapa perubahan, 
termasuk dalam struktur file sistem, sehingga program-program lama perlu 
sedikit diupdate demi menjamin kompatibilitas penuh.


 Nah, permasalahan yang timbul adalah: Navitel 7 mensyaratkan peta dengan 
format NM3. Sementara peta yang disediakan oleh Navigasi.net adalah dalam 
format NM2. Bisakah dikonversi? Mungkin saja bisa. Namun karena kurangnya 
pengetahuan Penulis, meski sudah mencoba beberapa kali, the maps refused to 
load. DANG!


 Setelah mencoba beberapa cara yang Penulis temukan di Internet, dan tanpa 
hasil seperti yang diharapkan, akhirnya Penulis menyerah, dan kembali 
mempergunakan Google Maps. Tentu saja harus tetap Online dan dengan akurasi 
yang tidak terlalu bagus. Untuk Turn-By-Turn Navigation, dapat 
mempergunakan Google Navigation yang sudah sedikit di-”modifikasi”. Pupus 
sudah harapan Penulis untuk dapat memiliki program navigasi Offline yang 
lengkap dengan peta dari Nav.net. 


 Selain daripada itu, program Navitel yang dipergunakan Penulis adalah 
merupakan program “Try-First-Buy-Later”, alias program yang sudah diubah 
sedemikian rupa sehingga kita dapat “mencoba” program tersebut selama kita 
mau, alias bajakan. Penulis memang sudah berencana untuk membeli 
program-program yang memang sungguh terpakai, baik di Android maupun di 
IOS, sebagai salah satu bentuk penghargaan kita kepada para developer yang 
sudah susah payah membuat program yang bermanfaat dalam kehidupan kita. 
After all, it's not that expensive, right? 0.99 – 4.99 USD is not expensive 
at all. Apalagi jika dibandingkan dengan benefit yang kita terima. 


 Namun apabila program Navitel tidak mampu memuat peta Nav.net, it's a big 
NO NO. Find some other offline navigation apps? Sure, but it has to be 
supported by Nav.net maps, which is very limited: Garmin, Navitel (NM2), 
Papago & Polnav. I think we're stuck with Google Maps for a while.


 Then I found 7Ways!


 Lo and behold!


 7Ways adalah sebuah aplikasi navigasi offline gratis buatan Rusia dan juga 
didukung oleh peta Nav.net. Aplikasi ini dapat diunduh langsung dari Google 
Play (
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.navikey.seven_ways&hl=en). 
Sementara petanya dapat diunduh dari Nav.net (http://www.navigasi.net). 
Selain dari file peta, yang perlu diunduh antara lain:


 Indonesian Language & Keyboard

http://www.navikey.ru/catalog/lang/7ways_indonesia_language.zip


 Indonesian Voice

http://www.navikey.ru/catalog/sound/7ways_indonesia_voice.zip


 English Quick User Guide 

http://www.navikey.ru/files/7w/EN_7Ways_QuickUserGuide.pdf 


 English Full User Guide 

http://www.navikey.ru/files/7w/EN_7Ways_UserGuide.pdf 


 Please beware. It's a huge maps. I mean really H-U-G-E! Downloading 436 MB 
is not kids stuff. After installation it will be expanded to a whopping 746 
MB!


 Proses instalasi terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama adalah tahap 
instalasi peta Nav.net di PC atau Laptop. Setelah proses instalasi selesai, 
akan dibuat sebuah folder MyMaps di drive C. Masuk ke folder tersebut maka 
kita akan menemukan sebuah folder seperti nama program yang kita pilih dan 
dalam hal ini adalah 7ways. Di dalam folder tersebut kita akan temukan 
kumpulan file peta. Tahap kedua adalah proses instalasi aplikasi 7Ways di 
perangkat Android kita. 


 Paska proses instalasi di Android, segera eksekusi program 7Ways. Akan ada 
pesan kesalahan untuk memasukkan peta dasar. Acuhkan saja. Segerea keluar 
dari program 7Ways. Hubungkan perangkat Android kita ke PC atau Laptop. 
Coba telusuri folder-folder pada perangkat Android dan kita akan menemukan 
sebuah folder baru, yang dinamakan “7Ways”. 


 Masukkan semua file peta yang tersedia di drive “C:\myMaps\navigasi\7Ways” 
ke folder “7Ways/maps”. Ekstrak file Indonesian Voice dan Indonesian 
Language. Masukkan file “Indonesia.7wv” ke folder “7Ways/sound”. Lalu 
masukkan file “Indonesia.7wl” ke folder “7Ways/languages”.


 Then, you're good to go.


 Try it, and you're gonna love it. It's actually a turn-by-turn navigation 
program. It may not as sophisticated as other paid programs. But it is 
accurate. Applicable for entire Indonesia area. And the best thing is: it's 
completely free! No guilty feelings anymore. Hehe


 So? What's next?


 Happy navigating, and left those analog compass at home.. 


 See you around... 


 Don't forget, safety comes first.


 Lastly...


 Jangan lupa mampir ke Jogja ya...


 Ahahahahah

-- 
==========

INDOSAT SUPER 3G plus
http://www.indosat.com/Personal/Internet/INDOSAT_SUPER_3G_plus
---------------------
ID-Android on YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=0u81L8Qpy5A 
--------------------
Web Hosting, Zimbra Mail Server, VPS gratis Raspberry Pi : 
http://www.hostune.com
--------------------
Aturan Umum  ID-Android: http://goo.gl/MpVq8
Join Forum  ID-ANDROID: http://forum.android.or.id
==========
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "[id-android] Indonesian 
Android Community " dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke id-android+berhenti [email protected] .


Kirim email ke