Dear rekan milis, izin share kejadian percobaan penipuan via telepon yang
saya alami ya. Sepertinya penipu sudah lumayan pinter, kuat dugaan saya
kali ini dia memanfaatkan data dari thread transaksi rekening bersama di
salah satu forum online terbesar di Indonesia.

Semoga menjadi perhatian agar kita waspada apabila menaruh nomor telepon
atau data penting lainnya di forum umum, dan menerima telepon dari penipu
seperti yang saya alami.

Tulisan ini dapat juga dibaca langsung di blog saya melalui shortlink
berikut: http://goo.gl/bIpIUO

-------------

<http://4.bp.blogspot.com/-t-7gzUQG-1g/VicFWmbNfjI/AAAAAAAACWs/qH2OKGZO4ME/s1600/00001510_604_gontagantihape_penpu_rekber_kaskus_001.jpg>



Minggu lalu, tepatnya pada hari *Kamis* tanggal *15 Oktober 2015*, saya dan
beberapa teman sedang bekerja dari sebuah *cafe* di bilangan Teuku Umar,
dekat kampus Unpad Dipati Ukur, Bandung. Hingga kemudian telepon genggam
saya berdering, layarnya menampilkan sebuah nomor baru yang tidak ada pada
daftar kontak yang saya miliki. Dikarenakan saya sedang memasang iklan
menjual beberapa gadget dan juga rumah tinggal pribadi saya di Depok
<http://rumahdijual.com/depok/935024-rumah-2-lantai-margonda-dekat-ke-mana-mana-di.html>,
saya sempatkan untuk menerima panggilan ini. Siapa tahu ada rezeki hari
ini, pikir saya.


"Lagi di mana?" demikian sang lawan bicara dengan sigap mengambil
kesempatan membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan. Selanjutnya mari
kita sebut lawan bicara saya ini sebagai *Bapak X* saja ya.


Saya yang tidak mengetahui siapa lawan bicara saya, dengan sedikit kaget
hanya mampu menjawabnya dengan pertanyaan, "Ini dengan siapa?"


"Masa lupa, hayo ini siapa?" Rupanya *Bapak X* senang bermain teka-teki.
Namun saya yang sedang sibuk menghadapi beberapa pelamar kerja, kehilangan
selera bermain tebak-tebakan, dan kembali bertanya, "Siapa ya?"


"*DS*", jawab *Bapak X* dengan semangat. Nama lengkap yang dia sebutkan
saya samarkan ya.


"*DS* mana ya?" Untuk kesekian kalinya saya balik bertanya kepada
*Bapak X* ini,
kali ini dengan pikiran yang sibuk membuka-buka kembali lembaran ingatan
saya akan nama *DS* ini. Ingatan saya hanya terpaut kepada satu orang,
*DS* yang
dulu membeli Motorola Moto X bekas yang saya jual di Kaskus
<https://www.kaskus.co.id/>. Apa mungkin dia ya? Sepengetahuan saya, *DS* ini
nama yang identik dengan orang Jawa, namun suara *Bapak X* ini jelas
terdengar sangat kental akan logat dari Pulau Sumatera.


Saya tanya saja lagi *Bapak X* ini, "*DS* yang dulu beli Moto X ya?"


"Iya, lagi di mana? Sibuk ngga?" Kali ini terdengar nada sumringah dari *Bapak
X* karena merasa saya sudah mengingat siapa dia.


"Lagi di Bandung Mas, kebetulan lagi sibuk ngewawancara nih." Jawab saya to
the point, karena terus terang saya masih kaget ada apa *DS* ini menelepon
setelah sekian lama transaksi kami selesai. Memang beberapa waktu
lalu, *DS* ini
sempat mengirim pesan via *Whatsapp Messenger*. Waktu itu dia menginfokan
akan kasus yang menimpa salah satu layanan rekening bersama di Kaskus. Kami
sama-sama bersyukur proses transaksi kami yang ditengahi oleh layanan
rekening bersama tersebut tidak menemui kendala. Kalau tidak salah ingat,
transaksi kami dilakukan sekitar 2-3 bulan sebelum kasus tersebut ramai
dibicarakan orang. Namun setelah itu *DS* tidak pernah menghubungi saya
lagi, dan memang kami juga tidak pernah melakukan panggilan telepon sama
sekali.


"Oh, ini saya mau memberitahukan nomor baru saya. Tolong disimpan ya Mas,
jangan lupa." *Bapak X* pun menyudahi percakapan kami waktu itu. Saya yang
masih menerka-nerka ada apa gerangan *DS *menghubungi saya pun kembali
melanjutkan pekerjaan. Meskipun setelahnya pikiran saya sedikit bercabang,
jangan-jangan Moto X-nya rusak, mana tidak ada garansinya pula, karena
memang Moto X *2nd generation *(2014) dengan seri XT1092 itu tidak secara
resmi masuk ke Indonesia.


Selang setengah jam berlalu, nomor yang sama yang digunakan oleh
*Bapak X* tersebut
kembali menelepon. Terhitung dua kali dia melakukan panggilan dan saya
diamkan karena sedang ada pekerjaan yang berhadapan langsung dengan orang
lain.


Sekitar pukul setengah enam sore, pekerjaan saya sudah selesai dan secara
kebetulan *Bapak X* pun kembali menelepon saya. Kali ini saya sudah bisa
menerima panggilan, yang kira-kira isi pecakapannya seperti berikut ini:


Bapak X: "Lagi di mana? Sibuk ngga?"

Saya: "Di Bandung Mas, sudah selesai pekerjaan saya."

Bapak X: "Ini saudara saya ada keperluan di rumah sakit, saya mau pinjam
uang. Nanti malam jam sembilan saya *transfer*."

Saya: "Berapa Mas?" (di sini jantung saya mulai berdetak kencang, kaget
juga ada orang langsung berani pinjam uang)

Bapak X: "Satu aja, ada ga?"

Saya: "Satu juta Mas?" (di sini saya mulai ber*dzikir* sebisa saya biar
pikiran tidak kosong, he.. he..)

Bapak X: "Iya, satu aja. Ada ga?"

Saya: "Wah saya ga ada uang segitu, Mas." (saya berusaha sebisa mungkin
menolak, dan sudah berencana menghubungi *DS* via *Whatsapp* untuk
konfirmasi)

Bapak X: "Lima ratus aja kalo gitu. Ada ga?"

Saya: "Wah, saya lagi di luar kota ini Mas. Ga ada uang segitu."

Bapak X: "Kalau gitu tolong *transferin* pulsa aja ke nomor ini ya!" (pada
tahap ini, sudah keliatan jelas ini adalah modus penipuan)

Saya: "Isiin pulsa? Ini siapa sih?"

Bapak X: "Bentar ya, ada yang mau ngomong nih."


Pada saat *Bapak X* meminta jeda, saya segera menutup teleponnya dan
kembali ke meja *cafe* yang tadi saya tinggalkan guna menerima panggila
ini. Sembari duduk, saya mulai membuka *Whatsapp Messenger *dan mengirim
pesan kepada nomor *DS *yang ada di daftar kontak saya. Kira-kira lagi ya,
seperti inilah percakapan dengan *DS* yang asli:


Saya: "Mas, tadi nelpon?"

DS: "Ngga, kenapa gitu Mas?"

Saya: "Tadi ada yang nelpon ngaku namanya *DS*, terus minjem uang sejuta."

DS: "Hah?"

Saya: "Penipu kali ya Mas, sepertinya dia baca data transaksi kita di
*thread* rekber B****P*** di Kaskus"

DS: "Wah, hati-hati Mas *modus* baru tuh"

Saya: "Iya, saya takutnya ini pakai hipnotis juga"


Saya kemudian teringat kejadian yang menimpa Tante saya. Dia menerima
telepon dari nomor tak dikenal, dan persis seperti kejadian yang saya
alami, si penelepon berusaha membuat Tante saya menerka siapa penelepon
ini. Sayangnya Tante saya malah menerka bahwa ini adalah keponakannya, yang
mana memang itulah tujuan dari penelepon yang merupakan penipu tersebut.


Penipuan dengan *modus* seperti ini berusaha mengorek keterangan dari calon
korban dengan membuat calon korban menerka identitas penelepon. Begitu
calon korban menyebutkan sebuah nama, maka tugas sang penipu lebih mudah
karena tinggal mengaku-ngaku sebagai sang pemilik nama, lalu menyebutkan
bahwa saat ini sedang dalam kesulitan atau kondisi darurat, semisal: mobil
mogok di luar kota, saudara masuk rumah sakit, atau bahkan sedang di kantor
polisi.


Tante saya mengalami kerugian sekitar satu juta Rupiah dalam bentuk
*voucher* pulsa fisik. Dia pergi ke salah satu kedai pulsa dan membeli
sepuluh buah *voucher* untuk kemudian dia kirimkan nomor kode *voucher*-nya
kepada si penipu.


Merujuk kepada keterangan penjaga kedai pulsa yang juga merupakan tetangga,
sepertinya Tante saya tidak dalam kondisi kesadaran yang penuh. Entah
hipnotis atau apa, saya tidak punya latar belakang keilmuan yang cukup
untuk membuat prediksi tentang ini, namun yang saya rasakan setelah
menerima telepon dari *Bapak X*, badan ini terasa lemas seperti kehilangan
tenaga, padahal selama di *cafe *saya memesan beberapa porsi makanan dan
minuman lho.


Pesan saya, jika ada nomor tak dikenal yang menelepon dan meminta Anda
menebak siapa yang berada di ujung telepon sana, lebih baik segera tutup.
Jikalau penting dan memang orang yang kita kenal menghubungi kita
menggunakan nomor yang lain dari biasanya, sudah seharusnya dia
memberitahukan identitas dirinya terlebih dahulu bukan?


Saya sadari resiko berjualan barang secara *online* dengan mencantumkan
nomor telepon adalah seringnya muncul gangguan dari penipu-penipu macam
ini. Tapi penipu kali ini sedikit lebih pintar, saya yakin dia mendapatkan
nama *DS* dan nomor telepon saya dari data orang yang bertransaksi jual
beli menggunakan layanan rekening bersama di Kaskus.


Ada satu langkah dalam transaksi menggunakan rekening bersama yang membuat
data ini terekspos, yaitu pada langkah konfirmasi bahwa pembeli sudah
melakukan *transfer* dana ke rekening milik penyedia layanan rekening
bersama. Pada langkah tersebut, pembeli diminta mengkonfirmasi *transfer* dana
dengan format: *SUDAH TRANSFER dari Rekening [NAMA BANK] nomor [NOMOR
REKENING] atas nama [NAMA PEMBELI] untuk pembelian [NAMA BARANG] seharga
[NOMINAL]. Dari thread [LINK KE THREAD], Id pembeli [ID PEMBELI], nomor
telepon [NO TELP PEMBELI], Id penjual [ID PENJUAL], nomor telepon [NO TELP
PENJUAL]*. Lengkap sekali bukan?


Dari kejadian percobaan penipuan yang saya alami, saya merasa perlunya
penggunaan media lain untuk proses konfirmasi *transfer* rekening bersama
yang lebih tertutup, misal hanya dapat diakses oleh penjual dan pembeli.
Kaskus yang berawal dari bentuk forum umum, rasanya belum dapat
mengakomodasi kebutuhan akan keamanan data ini. Semoga para orang hebat di
balik Kaskus dapat melihat celah-celah seperti ini dan membuat terobosan
baru agar layanan mereka semakin baik dan bernilai guna, mengingat sejak
dari awal dulu hingga kini bisa dibilang perubahan yang terlihat hanya
sebatas tampilan baru dan jarangnya Kaskus mengalami maintenis
(maiantenance period) lagi. Secara fitur atau proses bisnisnya, belum ada
perubahan yang signifikan yang saya rasakan.


Akhir kata, selalu waspada dengan telepon dari nomor asing, apalagi bila
sudah menyangkut keuangan. Hati-hati pula menyimpan nomor telepon di dunia
maya, sebisa mungkin hapus nomor telepon dari tulisan apapun apabila
tujuannya sudah tercapai, misalnya dalam proses iklan dan jual beli *online*,
maka segera hapus nomor telepon Anda saat transaksi sudah selesai.


Waspadalah, waspadalah...

----


Hilmy
/* saya suka Gonta Ganti Hape <http://www.gontagantihape.com> */

-- 
==========
Beli paket data Internet Indosat cuma nge-tweet. 
Daftar #TWITBUY di www.indosat.com/twitbuy
Ikuti obrolannya di Forum ICITY  >> http://bit.ly/1UxYCDA
 
----------------------
Hanya dengan 500ribu bisa jadi reseller delcell.
Hubungi: [email protected]
----------------------
Bass Audio Headphone Store, Toko Headphone Earphone Terlengkap 
Kunjungi  >> http://bassaudio.net
----------------------
Kontak Admin, Twitter  @agushamonangan
-----------------------
FB Groups     :  https://www.facebook.com/groups/android.or.id

Aturan Umum  ID-ANDROID >> goo.gl/mL1mBT

==========
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "[id-android] Indonesian 
Android Community" dari Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/id-android.

Kirim email ke