Saya menemukan tulisan yg menarik, dari sudut pandang SF mengenai kronologi
frekeunsi 2300 ini:

Cerita Di Balik 4G LTE Smartfren

Telko.id – Ketika Smartfren pertama kali meluncurkan 4G LTE dipertengahan
tahun 2015, banyak pihak yang kaget. Bagaimana tidak, tiga operator besar
saja belum memiliki layanan ini. Lalu muncul pertanyaan, kenapa Smartfren
bisa duluan? Hebat juga Smartfren ini, bisa dapat duluan. Ternyata dibalik
itu semua, banyak cerita menariknya.

Merza Fachys* – *President Director Smartfren Telecom bercerita panjang
lebar tentang latar belakang kenapa Smartfren bisa punya layanan 4G LTE
lebih dulu dibandingkan operator lain.

Berawal ketika tahun 1998, Indonesia terjadi krisis moneter. Di mana,
seluruh pembangunan infrastruktur terhambat. terutama di bidang
telekomunikasi. Saat itu harga kabel naik dan menjadi mahal. Begitu juga
dengan peralatan lainnya.

Solusinya, agar masyarakat Indonesia tetap dapat menikmati telekomunikasi
adalah mengijinkan pembangunan telepon rumah dengan menggunakan wireless.
Apa teknologi yang tersedia pada saat itu untuk telekomunikasi wireless?
Kalau menggunakan GSM kemahalan. Yang sesuai adalah CDMA. Lalu, CDMA bisa
bekerja di frekuensi mana? Pada saat itu, 1900 Mhz yang memungkinkan
digunakan. Lalu, mulailah Flexi bangun, diikuti oleh Indosat, Starone.
Demikian juga dengan yang lain-lain yang berada di 1900 Mhz. Ketika
teknologi GSM berevolusi ke 3G, ternyata 1900 Mhz adalah frekuensi nya 3G.

Pada saat yang sama, operator yang berada di frekuensi yang benar adalah
Mobile8, yakni di 800 Mhz, menguasai semua spektrum yang ada. Sebesar 20
Mhz. Lalu, pemerintah minta agar frekuensi itu dibagi. Akhirnya dibagi.
Flexi, Esia ikut turun ke 800 Mhz. Mobile 8 yang asalnya punya 10 jadi
tinggal 5 Mhz. Indosat lebih dipepet lagi akhirnya hanya punya 3 MHz.
Asalnya mau dibagi 5. Supaya Smart juga ikut turun juga. Tapi terlalu
sempit. Karena pada saat itu, Flexi sudah mulai berkembang dan Esia juga
mulai berkembang. Asalnya, Smart mau dipaksa turun juga, tetapi karena
terlalu ‘mempet’ tidak jadi. “Ya sudah, akhirnya di tinggalin dulu,” ujar
Merza menceritakan kronologis penataan frekuensi 1900 Mhz pada tahap awal.

Kebetulan, Smart tidak ‘nongkrong’ di pas 3G nya, tetapi di pinggirnya 3G.
Agak di luar pager. Tidak masuk dalam pager. Tapi di dalam licensi nya
Smart, ‘any time governor’ akan memindahkan frekuensi Smart. Itu awal
muasal kenapa Smart (sebelum menjadi Smartfren) bisa menggelar 4G terlebih
dahulu. “Bukan karena Smartfren brilian,” ujar Merza.

Kemudian, pemerintah melelang 3G satu persatu. Pas sampai pinggir kanan,
mepet dengan frekuensi yang dimiliki oleh Smart. Dan yang dapat pada waktu
itu adalah Axis. Mulai terjadi ‘keributan’. Tiap hari Axis protes karena
Smart menggangu. Jadi, bolak-balik, Smart di tegur kominfo, “hei, frekuensi
nya kecilin,”.

Kenapa bisa mengganggu? Teknologi CDMA itu menggunakan frekuensi itu untuk
memancarkan sinyal dari BTS ke handset. Sementara GSM yang berada di
sebelahnya persis, yang hanya dipisahkan oleh ‘pager’ itu kebalikannya.
Dari hanset ke BTS. Power dari BTS sudah pasti besar karena digunakan untuk
banyak pengguna. Sedangkan dari handset hanya mili watt saja. “Dihantam
dari BTS, jebret.. ya tidak pernah bunyi. Jadi yang namanya Axis,
menggunakan 3G tidak pernah sukses, karena diganggu oleh Smart terus.

Merza mengibaratkan, dulu ada tanah kosong, lalu Smart itu memiliki ijin
untuk buat usaha karoseri yang selalu ‘berisik’ selama proses produksi.
Tiba-tiba, di sebelahnya dibangun Rumah Sakit yang membutuhkan ketenangan.
“Hei berisik…”. Nah, keributan itu berlangsung cukup lama. Smart
mengecilkan power membuat yang asalnya ada coverage menjadi tidak ada
coverage. Lalu, Axis juga tidak happy. Kemudian terjadilah rembukan dan
Smart harus pindah. Pindah frekuensi. Perbincangan ini terjadi tahun 2010 –
2011. Pada saat itu WiMax sudah ada di 2300 Mhz.

“Bagi Smart, pindah frekuensi bukan pilihan yang baik karena Smart sudah
memiliki pelanggan yang banyak,” ujar Merza.

Pada saat itu, yang kosong adalah frekuensi 2300 Mhz. Dan, itulah
satu-satunya frekuensi yang paling memungkinkan untuk Smart di pindahkan.
Kenapa tidak dari dulu-dulu pindah? Karena memang tidak ada teknologinya di
frekuensi tersebut. Baru, ketika standarisasi 4G diumumkan, teknologi di
frekuensi 2300 Mhz pun berkembang.

Jika dari dulu dipindahkan dan hanya ada teknologi WiMax, maka tidak
memungkinkan Smart menggunakan frekuensi tersebut karena pelanggan nya
sudah terbiasa berhalo-halo, tapi kemudian tidak diberikan layanan suara?
Pasti akan marah para pelanggan Smart.

Tapi, Smart juga tidak serta merta mengiyakan permintaan dari pemerintah
untuk menggunakan frekuensi 2300 Mhz. Pasalnya, di dunia pada saat itu
belum ada yang pakai. Belum ada ekosistemnya. Baru saja distandarisasi.

Itu sebabnya, ketika WiMax tidak berhasil dan pemerintah menetralisir,
pemerintah minta dikembalikan frekuensi nya. Walaupun pada saat itu sudah
ada 4G. Yang berani hanya Bolt. Bolt berani ‘Futuristic Thing”. Jadi berani
jualan. Yang lain tidak berani karena tidak ada ekosistemnya.

*Smart ‘dipaksa’ pindah*

Tentu apa yang dihadapi oleh Smartfren ini menjadi dilema. Pasalnya,
Smartfren sudah melakukan investasi yang sangat besar di CDMA dan harus
‘dibuang’ begitu saja karena tidak akan digunakan lagi ketika pindah ke
2300 Mhz.

“Ketika laporan ke pemenang saham, menjadi cerita yang menarik juga. Lha,
mana ada investor yang mau ‘buang’ begitu saja investasi yang sudah
dikeluarkan dan besar seperti itu. Sangat alot. Setelah bolak-balik,
ujungnya, saya diminta untuk buatkan hitungannya,” ujar Merza menceritakan
kronologis kejadiannya pada tahun 2011 lalu itu.

Padahal, saat itu belum ada yang jual peralatan 4G itu. Jadi hitungannya
pada saat itu adalah estimasi semua. Berdasarkan bicara dengan para vendor
jaringan. Dan, dengan langkah tersebut maka layanan CDMA dari Smartfren
akan mati. Tapi paling tidak, jika mengambil pilihan untuk pindah
frekuensi, maka kelanjutan dari perusahaan ada, walaupun masih belum jelas
akan seperti apa. Sedangkan, jika tidak mengambil pilihan untuk pindah
frekuensi, maka sudah dipastikan bisnis akan berhenti. Itulah sebabnya,
Smartfrfen mau mengambil langkah untuk pindah frekuensi ini.

Semua itu adalah cerita infromalnya yang terjadi pada tahun 2012 – 2013.
Cukup panjang juga waktu yang digunakan untuk bisa mendapat persetujuan
dari pemilik saham. Setelah itu baru pemerintah melakukan proses
pengesahannya setelah Smart mau.

Proses itu berlangsung, bersamaan dengan mergernya Axis. Blessing in
disguise bagi Smartfren. Kenapa? Karena Smartfren tidak perlu terburu untuk
pindah dari frekuensi tersebut dan karena frekuensi tersebut juga sudah
diambil lagi oleh pemerintah. Alasannya, adalah karena merger, tetapi
sebenarnya adalah karena frekuensi itu ‘kotor’ sepanjang Smart hidup.
Akhirnya, Smartfren dipindahkan ke 2300 Mhz dan mengaplikasikan 4G.
Perpindahan itu harus selesai dalam jangka waktu 2 tahun.

Awalnya, cukup membingungkan juga ketika harus pindah ke 4G di 2300 Mhz.
Pasalnya, belum ada operator lain di dunia yang menggunakan teknologi ini.
Namun, nasib baik berpihak pada Smartfren. Beberapa waktu setelah itu
keputusan pemerintah keluar berkenaan dengan perpindahan frekuensi
Smartfren ini, Cina mengumumkan, 2300 Mhz, ditetapkan sebagai frekuensi
untuk 4G LTE nya. “Begitu Cina mengumumkan itu, maka kami sangat yakin,
bahwa ekosistem pun akan terbentuk dengan cepat,” ujar Merza.

Pada 1900 Mhz, Smartfren memiliki 2 kali 6.3 Mhz. Artinya total 13.7 Mhz.
Diganti dengan 2300 Mhz, 30 Mhz. “Saya tahu bahwa di 2300Mhz ada 60 MHz.
Saya ingin dapat semua,” ujar Merza sampir tersenyum. Tapi ternyata diberi
oleh pemerintah 30 Mhz. Diskusi masalah kompensasi ini juga terjadi cukup
panjang dan lama.

Sebagai analogi, Merza mencontohkan, jika punya 100 meter persegi tanah di
Menteng, lalu dipindahkan ke kawasan BSD, seharusnya tidak memperoleh luas
yang sama, tetapi lebih dari 100 meter. Namun, tetap pemerintah memberikan
alokasi frekuensi sebesar 30 Mhz pada Smartfren.

Dari frekuensi 1900 Mhz ke 2300 Mhz, ada defisiensi faktor 1.6. Kemudian
teknologi TDD dibandingkan dengan FDD, ada defisiensi juga. Totalnya, ada
defisiensi mendekati angka tiga. Jadi, kalau Smartfren punya 15 Mhz, maka
paling tidak harus punya 45 Mhz. Tapi karena slicing nya LTE itu 20 maka,
Smartfren harus punya tiga slice atau 60 Mhz. “Itu yang kami minta pada
waktu itu,” ujar Merza.

Yang ke dua, dari nilai ekonomi. Mulai dari kapasitas, jumlah BTS, dan
lainnya. Termasuk juga jumlah investasi yang sudah dikeluarkan oleh
Smartfren. Semua ‘jurus’ itu dikeluarkan dan dipaparkan sebagai bahan
justified.

Jadi sebenarnya, secara akademik, apa yang dipaparkan oleh Smartfren
sesuai. Hanya saja, tidak mungkin diberikan semua alokasi frekuensi di 2300
Mhz ini pada Smartfren. Akhirnya, dapat 2 slice, 30 Mhz.

Pendekatannya adalah logika. Ketika tender WiMax waktu itu, adalah 30 Mhz.
Tapi WiMax itu, block nya 5 per slice. Walaupun begitu, tetap pemerintah
mengalokasikannya adalah 30 Mhz, tidak boleh lebih dari itu.

Kerugian yang dialami oleh Smartfren dengan adanya peralihan frekuensi ini
sangat besar. Pertama, investasi yang dilakukan untuk mengimplementasikan
CDMA selama ini akan dibuang total. Padahal, selama ini, raport Smartfren
masih merah terus. Artinya investasi yang dikeluarkan belum kembali juga.
“Dari awal bangun sampai sekarang, Smart Telecom belum pernah biru
raportnya,” ujar Merza. Dengan kata lain, investasi itu belum pernah
kembali. Tapi sudah harus dibuang.

Kedua, biaya BHP atau *Biaya *Hak Penggunaan, walaupun sudah harus pindah
tetap harus dibayar. Jadi, selama 2 tahun ini, Smartfren tetap membayar BHP
untuk 2 frekuensi. Karena kalau kompensasi, termasuk di dalamnya adalah
bebas BHP, maka berhadapannya dengan hukum, masuk penjara.

Begitu Smartfren launching layanan 4G LTE di 2300 Mhz dan memperoleh 30 Mhz
dari pemerintah, banyak pihak yang membicarakan. Padahal, dibalik itu
semua, Smartfren sudah begitu ‘menderita’. Investasi sekitar Rp.10 Triliun
yang sudah dikeluarkan untuk membangun jaringan CDMA terancam hilang begitu
saja.

Dengan latar belakang itu semua, maka Smartfren akhirnya menjalankan
strategi untuk sekaligus membangun jaringan di seluruh Indonesia. Bukan
karena sombong, karena dalam waktu satu tahun, semua pelanggan Smartfren
harus migrasi ke 2300 Mhz. Kalau tidak di mulai sedini mungkin, tidak akan
cukup waktunya. Sebenarnya, Smartfren minta waktu 4 tahun. Tapi diberi
waktu oleh pemerintah hanya 2 tahun karena pemerintah juga berkepentingan
untuk melakukan lelang blok 11 dan 12 secepatnya.

Dari sejak mendapatkan lisensi yang diperoleh pada tahun 2014. Baru pada
bulan Juni 2014, Smartfren memilih vendor yang akan membantu
mengimplementasikan jaringan 4G LTEnya.“Pemilihan vendor ini juga cukup
sulit,” ujar Merza menjelaskan. Pertama karena Smartfren sendiri belum
pengalaman, di mana teknologi 4G LTE ini juga masih baru. Jadi perlu
kehati-hatian dalam memilih.

“Jangan sampai membeli barang yang tidak bagus. Untuk itu, kami melakukan
fact finding ke Korea ke Cina, untuk melihat network operator lain. Itu
semua dilakukan, sebelum mendapat linsensi dan lebih intens lagi ketika
sudah mendapatkan lisensi,” ujar Merza lebih lanjut.

Baru setelah itu melakukan penentuan spesifikasi dan lainnya. Baru bulan
Desember 2014 melakukan tender. Setidaknya, semua itu dilakukan dalam waktu
6 bulan. Tender dilakukan dengan diikuti 2 perusahaan dari Cina dan 2
perusahaan dan Eropa. Dari keempat perusahaan itu, dua kami pilih pada
bulan Desember 2014. Baru pada bulan Juli, Smartfren melakukan ULO atau Uji
Laik Operasi. Yang dipilih adalah Nokia dengan ZTE. Dengan total investasi
sebesar, 760 juta USD. Dengan perbandingan Timur 40% dan Barat 60%. Untuk
Timur dipegang oleh ZTE dan Barat oleh Nokia.

*Frekuensi 850 Mhz pun Bermasalah*

Masalah yang dihadapi oleh Smartfren belum tuntas. Untuk frekuensi 850 Mhz
juga masalah. Seperti di Batam, ada masalah dengan Malaysia dan Singapura.
Kenapa kasus? Karena di Malaysia dan Singapura, frekuensi itu digunakan
untuk GSM. Di Indonesia, dipergunakan untuk CDMA. Di mana, terjadi tabrakan
sinyal. CDMA sudah pasti menang karena yang dipancarkan lebih kuat karena
sinyal dipancarkan dari BTS ke ponsel. Sedangakn GSM, sinyal yang
dipancarkan dari ponsel yang tentu saja sangat kecil. Akibatnya, GSM di
Singapura, di frekuensi 850 Mhz tidak pernah bisa dipakai. Tak pelak,
Mobile 8 -waktu itu belum menjadi Smartfren- bolak-balik dikirimin surat
oleh Singapura.

Akhirnya, karena tidak selesai juga masalahnya, Singapura mengirim surat
pada ITU dan organisasi tersebut memutuskan bahwa Indonesia tidak boleh
menggunakan CDMA di frekuensi 850 Mhz di semua wilayah perbatasan. Dengan
adanya surat itu maka Mobile 8 pun, yang memiliki 4 channel di frekuensi
850 Mhz, hanya bisa menggunakan 1 channel saja. “Ini memang pelajaran
penting juga untuk Indonesia. Di mana, setiap negara itu harus melakukan
pemberitahuan pada ITU tentang penggunaan frekuensi. Jika sudah declear
duluan, maka negara lain tidak bisa mengganggu gugat,” ujar Merza.

Hal itu membuat Mobile 8 tidak dapat berkembang di Batam, Riau dan wilayah
sekitarnya karena hanya punya 1 channel. Apalagi, kalau di teknologi CDMA
itu, antara voice dan data itu dipisah. Satu channel untuk voice dan satu
lagi untuk channel. “Lalu, dengan hanya punya satu channel maka kita tidak
berbisnis,” ujar Merza menjelaskan. Sehingga, Mobile 8 memilih hanya
melayani voice saja di wilayah perbatasn tersebut.

Hal lain adalah dalam penataan frekuensi 850 Mhz. Ide pertama kali datang
dari Indosat. Waktu itu, Starone milik Indosat itu, kurang tumbuh dengan
baik. Itu sebabnya Indosat minta ijin pada pemerintah. CDMA nya untuk
dijadikan GSM. Tapi, kalau diijinkan, nasib Indosat juga akan terganggu
oleh Mobile 8 yang waktu itu sudah menjadi Smartfren karena bersebelahan.
Jalan satu-satunya adalah di wilayah itu harus menggunakan teknologi GSM.
Caranya adalah ‘merayu’ Smartfren agar bergeser dan berdekatan dengan Esia.
Jadi, keduanya masih bisa menggunakan teknologi CDMA. Sedangkan Telkom di
pindah untuk berdekatan dengan Indosat. Yang akhirnya frekuensi Telkom
Flexi diambil oleh Telkomsel dan jadi GSM.

Kenapa pemilik Smartfren mau waktu itu? Karena ada Esia, di mana operator
ini kesulitan keuangan. Jadi ada potensi Smartfren untuk ambil alih.
Akhirnya, mau. Setelah bicara dengan orang teknik pun tidak masalah. Tidak
perlu ada investasi lagi. Setelah itu di proses lah.

Ternyata, setelah berjalan, muncul masalah. Di mana, handset Smartfren,
Andromax yang sudah dibuat dan disubsidi oleh Smartfren, selama ini banyak
‘dibajak’ oleh pengguna operator lain. Sehingga diputuskan lah, membuat
handset yang hanya mampu digunakan dengan jaringan Smartfren. Padahal,
Smartfren sudah harus pindah. Jadi, proses migrasi yang harus dilakukan
oleh Smartfren pun terkendala karena handset milik pelanggan smartfren
tidak bisa bekerja di jaringan 850 Mhz. Paling tidak, saat ini masih ada 2
juta pelanggan Smartfren yang menggunakan ponsel CDMA. Dengan waktu yang
telah ditentukan oleh pemerintah hanya 2 tahun, maka Smartfren pun harus
agresif mendorong para pelanggannya untuk migrasi.

Disisi lain, ada Esia, di mana saat itu sedang kesulitaan keuangan karena
tidak mampu membayar BHP. Akhirnya, Merza membawa konsep konsolidasi pada
pemerintah untuk menjadikan Smartfren sebagai penyelenggara jaringan,
sedangkan Bakrie hanya sebagai penyelenggara jasa. Jadi, seluruh jaringan
Bakrie harus diberikan ke Smartfren. Selanjutnya, Smartfren yang
bertanggung jawab untuk membangun jaringan termasuk membayar biaya
frekuensi. Secara hukum dan peraturan semua nya ada. Jadi, tidak masalah.
Total frekuensi Smartfren di 850 Mhz punya 10 Mhz.

Memang jika dilihat dari luar, Smartfren ini sangat menarik, karena
memiliki 30 Mhz di 2300Mhz, dan 10 Mhz di frekuensi 850 Mhz. Kemudian,
Smartfren bisa duluan memberikan layanan 4G LTE. Namun, di dalamnya, banyak
PR yang harus dilakukan. Masih harus mendorong agar para pelangganya untuk
migrasi. Dan kini, waktu yang diberikan oleh pemerintah tidak sampai satu
tahun lagi.

Akan kah, persoalan frekuensi ini selesai? Masih belum. Pasalnya, untuk 5G,
yang rencanaya akan diadopsi tahun 2020 mendatang masih belum keluar
standarisasinya. (Icha/Hamzah)


https://telko.id/4036/cerita-di-balik-4g-lte-smartfren/

2017-03-08 10:03 GMT+07:00 Eko Prasetiyo <[email protected]>:

> Bukannya band 2300 "dikasi" kominfo sebagai kompensasi SF yg "digusur"
> dari 1900 ?
>
> Cmiiw
>
> On Mar 8, 2017 9:52 AM, "Andi - leo5354" <[email protected]> wrote:
>
> Gugatan basi dgn motif sih IMO
> Kenapa dulu waktu Menteri ngasih frequensi ga digugat ?
> Sekarang udah jalan baru digugat dgn embel2 "minta hak yg sama"
> BTW, ini web kok "majalahnya" kaga pernah keliatan ya ?
>
> We live in the era where lots of phone are smarter than their user
>
> On Mar 8, 2017 09:42, "imam wiratmadja" <[email protected]> wrote:
>
>> Barusan baca berita tentang gugatan Bolt thdp Kemenkominfo.
>>
>> http://www.majalahict.com/alokasi-frekuensi-23-ghz-tanpa-lel
>> ang-dinilai-salah-oleh-pengadilan-frekuensi-smartfren-terancam/
>>
>> Rekan-rekan ada yg punya scoop cerita lebih lengkap? Apakah alokasi SF
>> lebih besar rentangnya dibanding XL dan Tsel di 4G LTE ?
>>
>> Sy sendiri pengguna Smartfren sejak pertama kali pakai Android, diinjek
>> ke Moto Droid.
>>
>> Salam,
>> Imam
>>
>> --
>> ===========
>> Install #MyTelkomsel Apps Terbaru dari Play Store
>> https://play.google.com/store/apps/details?id=com.telkomsel.telkomselcm
>>
>> ---------------------
>> Toko Headphone & Earphone Terlengkap dan Terbaru
>> Kunjungi >> http://bassaudio.net
>> ----------------------
>> Kontak Admin, Twitter @agushamonangan
>> -----------------------
>> FB Groups : https://www.facebook.com/groups/android.or.id
>>
>> Aturan Umum ID-ANDROID >> goo.gl/mL1mBT
>>
>> ==========
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "[id-android] Indonesian
>> Android Community" di Google Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Kunjungi grup ini di https://groups.google.com/group/id-android.
>>
> --
> ===========
> Install #MyTelkomsel Apps Terbaru dari Play Store
> https://play.google.com/store/apps/details?id=com.telkomsel.telkomselcm
>
> ---------------------
> Toko Headphone & Earphone Terlengkap dan Terbaru
> Kunjungi >> http://bassaudio.net
> ----------------------
> Kontak Admin, Twitter @agushamonangan
> -----------------------
> FB Groups : https://www.facebook.com/groups/android.or.id
>
> Aturan Umum ID-ANDROID >> goo.gl/mL1mBT
>
> ==========
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "[id-android] Indonesian
> Android Community" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Kunjungi grup ini di https://groups.google.com/group/id-android.
>
>
> --
> ===========
> Install #MyTelkomsel Apps Terbaru dari Play Store
> https://play.google.com/store/apps/details?id=com.telkomsel.telkomselcm
>
> ---------------------
> Toko Headphone & Earphone Terlengkap dan Terbaru
> Kunjungi >> http://bassaudio.net
> ----------------------
> Kontak Admin, Twitter @agushamonangan
> -----------------------
> FB Groups : https://www.facebook.com/groups/android.or.id
>
> Aturan Umum ID-ANDROID >> goo.gl/mL1mBT
>
> ==========
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "[id-android] Indonesian
> Android Community" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Kunjungi grup ini di https://groups.google.com/group/id-android.
>

-- 
===========
Install  #MyTelkomsel Apps Terbaru dari Play Store
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.telkomsel.telkomselcm

---------------------
Toko Headphone & Earphone Terlengkap dan Terbaru
Kunjungi  >> http://bassaudio.net
----------------------
Kontak Admin, Twitter  @agushamonangan
-----------------------
FB Groups     :  https://www.facebook.com/groups/android.or.id

Aturan Umum  ID-ANDROID >> goo.gl/mL1mBT

==========
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "[id-android] Indonesian 
Android Community" dari Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Kunjungi grup ini di https://groups.google.com/group/id-android.

Kirim email ke