Izin share review smartphone ini ya.
Review kali ini minim foto, karena sudah ada versi video :)

Unboxing + Hands-on Video:
https://www.youtube.com/watch?v=vqOuOzr5iF4

Review Video:
https://www.youtube.com/watch?v=Vqzo-Qbdf-U

Video Komparasi dengan Huawei Honor 8:
https://www.youtube.com/watch?v=XEPLQiuzvKE

Artikel di Blog:
http://www.gontagantihape.com/2017/06/review-xiaomi-mi-6-indonesia.html

Contoh gambar hasil kamera:
http://www.gontagantihape.com/2017/05/review-hasil-kamera-xiaomi-mi-6.html
-----------


<https://3.bp.blogspot.com/-yFm8avD3oZs/WTE0qjd54QI/AAAAAAAAKo8/1HSJKqVUc0c9SpzmZyiy6EYXYXynImLlQCLcB/s1600/title_video_155r.jpg>


Awalnya saya sama sekali tak berniat untuk mengulas *smartphone*
*flagship* terbaru
Xiaomi ini. Karena memang belum jelas apakah ponsel ini akan dibawa secara
resmi oleh Xiaomi ke Indonesia. Dan umumnya ponsel Xiaomi yang belum resmi
akan dijual di Indonesia oleh para pedagang dengan harga yang cukup mahal
di awal, sebelum kemudian dibanting habis-habisan agar bisa bersaing dengan
harga resminya nanti. Dan ini tidaklah baik bagi kesehatan finansial
seorang *reviewer*, bisa-bisa selisih harga saat membeli dan menjualnya
kembali terlalu besar.


Xiaomi Mi 6 sebetulnya sudah dijual di GearBest beberapa hari, tetapi saya
pun tak berani meminta mereka mengirimkannya untuk saya ulas. Selain karena
harganya cukup mahal, saya tak yakin ini menguntungkan bagi mereka. Ya,
karena produk Xiaomi tak resmi biasanya cukup cepat masuk ke pasar tanah
air, jadi kecil kemungkinan orang akan membelinya dari *e-commerce* luar
negeri.


Namun, malah *counterpart* saya di GearBest yang menawari sebuah Xiaomi Mi
6 untuk mereka kirimkan agar saya dapat mencobanya. Ya kalau sudah begini
mah saya tak bisa menolaknya, sayang soalnya hehehe.



Unboxing dan Hands-on Xiaomi Mi 6

Akhirnya kiriman Xiaomi Mi 6 dari GearBest <http://smarturl.it/GB_MI6> datang
juga. Kotak kemasannya berbeda dari yang saya lihat pada beberapa postingan
Xiaomi Mi 6 milik Om Herry SW. Rupanya versi standar dari Xiaomi Mi 6
(bukan yang keramik) memiliki kemasan kotak putih dengan logo Mi kecil dan
keterangan besaran RAM dan *internal storage*-nya.


Saat saya membuka kotaknya, seperti biasa saya tak menemukan kelengkapan
ekstra ataupun *packaging* yang eksklusif pada produk ini. Eh tunggu, ada
sebuah *softcase* tipis berwarna transparan kehitaman di dalamnya. Hmmm,
apakah ini artinya...




Jarang-jarang Xiaomi menyertakan pelindung *body* seperti ini dalam kemasan
penjualan, tetapi marilah berbaik sangka dan berdoa semoga Xiaomi memang
sedang berbaik hati saja hingga memberikan *softcase* ini, dan bukan karena
ada masalah ya.


Karena saat saya memegang Xiaomi Mi 6 untuk pertama kali, bodinya terasa
kokoh berkat bobotnya yang sedikit lebih berat dari Xiaomi Mi 5 dahulu.
*Backcover*-nya yang berbahan kaca memiliki lengkungan di sekeliling
sisinya, membuat Mi 6 ini terasa amatlah ergonomis. Terlebih permukaan
kacanya yang terasa tak terlalu licin, membuat ponsel ini melekat dengan
baik dalam genggaman.


Akankah melekat sampai ke hati juga?


Saya sudah tahu bahwa Xiaomi Mi 6 menghilangkan *port audio* 3.5 mm,
sehingga saat menyisir sekeliling *frame* logamnya, saya hanya berusaha
mencari tahu apakah *infrared blaster* yang absen pada Xiaomi Mi 5s dulu
sudah masuk kelas kembali?


Untungnya sudah, pada sisi atas kita akan dapat melihatnya berdampingan
dengan lubang *noise cancellation microphone*. Sisi lain kurang lebih sama
dengan kebanyakan ponsel sekarang, *sim tray* di sisi kiri, *volume rocker* dan
tombol *power* di sisi kanan, dua set *speaker grille* dan *port* USB
type-C di sisi bawah.


Kamera depan 8 Megapixels, *earpiece*, dan LED notifikasi hadir di atas
layar IPS yang memiliki bentang 5,15 inci. Sementara di bagian bawah
terlihat cekungan *fingerprint scanner* yang sekaligus berfungsi sebagai
tombol kapasitif untuk *home*. Dua buah tombol kapasitif di kiri dan
kanannya menggunakan ikon titik yang baru terlihat saat disentuh dan
*backlight*-nya menyala.


Di sisi belakang, hadir dua buah lensa kamera beresolusi 12 Megapixels yang
ditemani *dual-tone* LED *flash* di bagian atas, serta logo Mi jauh di
bagian bawahnya.


Oh ya, hampir lupa... Di dalam kotaknya, Mi 6 menyediakan juga *adapter*
 untuk *jack audio* 3.5 mm ke USB type-C.


Overall Xiaomi Mi 6 tergolong sebagai ponsel yang tampil cantik menawan
hati, meskipun mungkin versi warna hitam ini tampil lebih misterius karena
tak mudah untuk melihat detailnya kalau tidak dari jarak dekat. Ukurannya
cukup compact dan ergonomis, serta memiliki *feels* yang cukup premium di
tangan. Perkenalan pertama ini cukup membuat saya galau untuk berpaling
hati dari *daily driver* saya saat ini, Huawei Honor 8.



Xiaomi Mi 6 dalam Penggunaan Sehari-hari

Yang paling membuat saya ingin segera mencoba Xiaomi Mi 6 adalah SoC-nya
yang menggunakan *processor* teratas yang baru dirilis oleh Qualcomm, yaitu
Snapdragon 835. Saya penasaran dengan *processor* yang stoknya diborong
oleh Samsung ini, yang juga membuat LG G6 harus rela menggunakan Snapdragon
821 saja.




Dengan penggunaan sehari-hari ala saya, perbedaan antara Snapdragon 835
pada Mi 6 tak begitu nyata terasa apabila dibandingkan dengan pengalaman
saya menggunakan Snapdragon 821 pada Xiaomi Mi 5s dulu. Sama-sama *smooth* di
semua *scene* saat proses 3D benchmark berjalan di Antutu, dan sama-sama
hemat daya.


<https://4.bp.blogspot.com/-EGoGhU2VsZM/WSne-3gyfvI/AAAAAAAAKi4/VvgqHyMRoxIbPxalUFRzhzVgX1lK5b41wCLcB/s1600/Screenshot_2017-05-23-17-50-28-406_com.finalwire.aida64.png>
<https://1.bp.blogspot.com/-2U0WArCUR4o/WSne_AljTdI/AAAAAAAAKi8/4eZzyG-vwDM-3TzmgVXjhiknkF7jW1m_ACLcB/s1600/Screenshot_2017-05-23-17-50-33-540_com.finalwire.aida64.png>



Skor Antutu Benchmark yang dihasilkan tak terlalu jauh berbeda pula dengan
Snapdragon 821. Meskipun Mi 6 memiliki RAM dua kali lipat lebih besar dari
Mi 5s yang saya coba dulu.


Perkara konsumsi daya pun sama-sama irit dengan hasil yang mampu menembus
dua hari dua malam dalam sekali pengisian daya. Ya, beginilah *processor* kelas
atas seharusnya, performa tinggi tetapi tak rakus daya. Di sini saya
melihat jurang perbedaan antara *processor-processor* keluaran Mediatek
dengan Snapdragon milik Qualcomm semakin lebar saja.


<https://2.bp.blogspot.com/-2q-8UX6Qv9k/WSne9acg8tI/AAAAAAAAKik/JUkpr75JPGIdJTdQuZtdiesE5ib7wrTfACEw/s1600/Screenshot_2017-05-21-19-26-09-625_com.miui.securitycenter.png>


<https://2.bp.blogspot.com/-SNVcJlOAYwA/WSne9auVINI/AAAAAAAAKis/tEd6qzJODgYV1JieENqSCvqLCqkA4JhkQCEw/s1600/Screenshot_2017-05-21-19-26-15-397_com.miui.securitycenter.png>
<https://4.bp.blogspot.com/-AcDaMXamY9U/WSne9fSETyI/AAAAAAAAKio/VwxiMCduoo0ou_TAwSfPMmerJFaWPVkbQCEw/s1600/Screenshot_2017-05-21-19-26-20-392_com.miui.securitycenter.png>


<https://3.bp.blogspot.com/-3NIQ_KbicLs/WSne-Iv3oeI/AAAAAAAAKiw/7JHh2PxkzAYK0Ceg--PeDzEWyE1bmvUIwCEw/s1600/Screenshot_2017-05-21-19-27-21-429_com.miui.securitycenter.png>



Pengisian daya dapat dilakukan dengan cepat karena Mi 6 sudah mendukung
Quickcharge 3.0. Hanya saja, saat saya mengisi daya menggunakan *charger* dari
merk lain yang juga *support* fitur ini, layar Mi 6 terasa kurang responsif.


Saya sempatkan meng-*install game* berukuran besar kali ini agar
kemampuannya teruji, dan memang Mi 6 mampu melahapnya dengan baik. Pun suhu
yang dihasilkan bisa dibilang tak cepat panas.


Dari sisi *hardware* yang menjadi dapur pacu dan performanya rasanya sama
sekali tidak ada masalah pada Xiaomi Mi 6 ini. *Gamer* pasti senang
menggunakan ponsel ini, termasuk untuk kebutuhan VR. Sensor pada
*smartphone* ini sangatlah lengkap, termasuk hadirnya sensor untuk
*pressure*.


<https://2.bp.blogspot.com/-DLnAyF741dI/WSne-wrtHyI/AAAAAAAAKi0/GR0AwW_C02EeXMUJ86Fv2gWgdZkLgct8ACEw/s1600/Screenshot_2017-05-23-17-50-19-586_imoblife.androidsensorbox.png>



Yang menjadi masalah justru datang dari sisi *software*. Mi 6 yang saya
terima terlihat sudah menggunakan ROM Global Stable. Padahal jika melihat
di *website* MIUI, Mi 6 belum memiliki ROM Global. Bahkan ROM versi
China-nya saja masih Developer Edition alias beta untuk yang fastboot ROM.
*Cemana* pula ini? Rasanya masalah *flashing* ROM jadi pekerjaan rutin
setiap saya mencoba ponsel Xiaomi tak resmi ini ya, he.. he..


Perlu sedikit trik untuk melakukan *flashing* pada Xiaomi Mi 6 yang saya
coba. Trik ini diperlukan untuk masuk ke mode EDL. Sisanya setelah itu
berlangsung dengan lancar menggunakan aplikasi MiFlash.


Masalah lain kemudian datang saat saya tak dapat menemukan cara mengunduh
Google Play Store pada ROM China yang memang tak memiliki Google Apps.
Konon MIUI 8 yang berbasis Android Nougat memang memiliki masalah tentang
hal ini. Pada akhirnya masalah ini terpecahkan dengan cara melakukan *restore
apps*. Kita bisa unduh hasil *backup*-an Google Apps yang disediakan di
forum MIUI. Walau masih sering muncul *force close* pada Play Service,
tetapi fungsinya berjalan dengan baik. Saya berharap ROM MIUI Global Stable
segera dirilis untuk Xiaomi Mi 6 ini.


Saya tak akan membahas mengenai MIUI ini lebih lanjut pada ulasan kali ini.
MIUI 8.2 kurang lebih masih begitu-begitu saja, Anda dapat melihat
ulasannya pada *review *Xiaomi Redmi Note 4 yang pernah saya buat.


Satu hal yang pasti, MIUI ini masih tetap rakus RAM. Pernah satu kali, MIUI
menghabiskan RAM hingga 4,5 GB saja alias hanya menyisakan seperempat dari
keseluruhannya. Entah harus senang atau sedih dengan kondisi ini, karena
artinya RAM 6 GB yang dimiliki oleh Xiaomi Mi 6 tidaklah mubazir.



Kamera Xiaomi Mi 6

Seperti biasa, kualitas kamera dari seri Mi tidak perlu diragukan. Sejak Mi
4, Mi 5, hingga Mi 5s, gambar yang dihasilkan selalu memuaskan mata saya.
Hanya saja di Mi 5 ada syarat khusus, yaitu wajib menggunakan ROM MIUI,
karena begitu menggunakan *custom* ROM lain, kualitas gambarnya kentara
sekali mengalami penurunan.


Di Xiaomi Mi 6, tren positif ini terus berlanjut. Namun, saya cukup
tercengang saat melihat hasil foto bunga yang saya ambil. Mi 6 mendobrak
kebiasaan kamera Xiaomi yang *over-saturated*. Ya, kali ini Mi 6 mampu
menghasilkan nada warna yang lebih natural dengan detail tinggi. Bahkan,
hasil gambar dari Huawei Honor 8 yang saya nilai lebih apa adanya dari Mi
5, kali ini terlihat lebih mencolok warnanya daripada apa yang dihasilkan
Xiaomi Mi 6.


Kamera depan Mi 6 saya nilai sangat baik, kurang lebih sama dengan apa yang
saya temukan pada Xiaomi Mi 5s. *Selfie* terasa sangat memuaskan, di mana
detail dan kecerahan warna terlihat dengan sangat baik meskipun tanpa
menggunakan *mode beautify*.


Tadinya saya mengira semua ponsel berkamera ganda itu memiliki kemampuan
yang sama. Namun rupanya pada Mi 6, setup kameranya berbeda. Satu lensa
belakangnya adalah lensa normal yang lebih *wide*, sementara lensa yang
lain adalah lensa *tele* yang mampu menghasilkan *zoom* sebesar dua kali
perbesaran. Hasil *zoom optic* ini terlihat tetap tajam, jelas sekali
berbeda dengan *zoom digital*.


Akibat dari setup kamera seperti ini, Xiaomi Mi 6 tak memiliki kemampuan
*refocus* seperti halnya Huawei Honor 8 dan Nubia M2. Walaupun untuk urusan
*bokeh-bokehan*, Mi 6 masih mempunyai *mode portrait* yang dapat
mengaburkan latar belakang foto.


Mode *professional* dengan pengaturan manual lengkap, seperti biasa hadir
pula. Namun, pada Mi 6 ini *shutterspeed* maksimal adalah 1/4 detik untuk
lensa *wide*, dan 1/2 detik saja untuk lensa *tele*. Cukup singkat ya,
mungkin akan jadi masalah buat mereka yang senang melakukan *light
painting* menggunakan
kamera ponsel.


Untuk hasil gambarnya, mari kita lihat saja langsung pada artikel review
hasil kamera Xiaomi Mi 6 berikut ini
<http://www.gontagantihape.com/2017/05/review-hasil-kamera-xiaomi-mi-6.html>
.



Apa Kata Aa tentang Xiaomi Mi 6

Tak banyak yang ingin saya sampaikan pada bagian kesimpulan ini. Xiaomi Mi
6 adalah *flagship* Xiaomi tahun ini. Dengan segala kelebihannya, ponsel
ini memang patut diperhitungkan, apalagi dengan spesifikasi setinggi ini,
harganya masih Xiaomi *banget*. Kalau Anda mau sabar sampai harganya lebih
turun lagi, bisa makin *worth the money* lah Mi 6 ini.




Saya sempat membuat video komparasi-nya dengan *daily driver* saya, Huawei
Honor 8. Memang kesimpulan akhirnya adalah saya tetap setia dengan Honor 8
dan memilih Honor 8. Tapi alasan ekonomi lebih mendominasi saat saya
menjual kembali Mi 6. Sesungguhnya ada rasa rindu yang tersimpan untuknya,
ha.. ha..


Mungkin satu alasan lainnya adalah kurang cocoknya saya menggunakan MIUI.
Tapi serius, *overall* Xiaomi Mi 6 adalah *smartphone* yang bisa dengan
mudah masuk ke daftar rekomendasi. Bahkan masalah ketidakhadiran *port
audio* pun bukan hal besar, karena toh dalam paket penjualannya sudah
disertakan *adapter*-nya.


Doa saya, semoga ini menjadi perangkat seri Mi kedua yang akan resmi masuk
Indonesia, setelah seri Mi pertama yang diwakili Mi 4i rasanya *kentang
banget*. He.. he.. he..


Demikian *review* saya terhadap Xiaomi Mi 6. Semoga MiFans senang dengan
*review* apa adanya ini ya, he.. he..



Hilmy
/* saya suka Gonta Ganti Hape <http://www.gontagantihape.com> */

-- 
===========
Install  #MyTelkomsel Apps Terbaru dari Play Store
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.telkomsel.telkomselcm

---------------------
Toko Headphone & Earphone Terlengkap dan Terbaru
Kunjungi  >> http://bassaudio.net
----------------------
Kontak Admin, Twitter  @agushamonangan
-----------------------
FB Groups     :  https://www.facebook.com/groups/android.or.id

Aturan Umum  ID-ANDROID >> goo.gl/mL1mBT

==========
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "[id-android] Indonesian 
Android Community" dari Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Kunjungi grup ini di https://groups.google.com/group/id-android.

Kirim email ke