Izin share review ponsel yang pastinya beredar secara resmi di Indonesia
ini ya..

Unboxing video:
https://www.youtube.com/watch?v=y8_yJuhgJTo

Review video:
https://youtu.be/01GYF2llaWU

Komparasi dengan Galaxy S9 Plus:
https://www.youtube.com/watch?v=8VFN_NQJx4Y

Artikel di blog:
https://www.gontagantihape.com/2018/10/kesimpulan-akhir-saya-tentang-pocophone-f1-review.html


---

<https://1.bp.blogspot.com/-HVIZ6_CWHI4/W8GxCqHsUjI/AAAAAAAAOvE/F4xYUoBRX34d4wYOgPSNp6qZyCOUS893gCLcBGAs/s1600/title_video_442r.jpg>



Halo Assalamualaikum, pada video kali ini, kita akan mengulas tentang
smartphone yang sempat jadi fenomena di tanah air saat rilis, yaitu Pocophone
F1.


Dan menurut saya, Pocophone F1 ini adalah smartphone terbaik, terhebat,
terkeren, dan terrrrrr-semuanya saat ini yang dijual resmi di Indonesia!


Seandainya, penilaiain sebuah smartphone cukup dihitung dari harga versus
processor yang digunakan.


Sayangnya, pada kenyataannya kan tidak seperti itu. Hahaha.


Jadi pastikan simak terus video ini sampai akhir untuk tahu lebih dalam
soal Pocophone ini, sebelum Anda putuskan untuk meminangnya atau tidak.
Saya tahu masih banyak yang belum meminangnya, kayanya pada santai karena
ngga ghoib ya? Heuheu.


Yup, Pocophone F1 adalah fenomena. Bagaimana tidak, di angka 4-jutaan sudah
berani pakai processor tertinggi dan termutakhir dari Qualcomm, yaitu
Snapdragon 845.


Flagship! Begitu kata orang-orang. Saya sendiri masih bingung, iya gitu
Pocophone F1 ini flagship? Kalo jeroannya high-end sih saya setuju.
Snapdragon 645 dipadukan dengan RAM 6 GB dan storage 64 atau 128 GB adalah
jeroan kelas tinggi.


Tapi kalau dibilang flagship, mungkin flagship-nya Pocophone sebagai
sub-brand-nya Xiaomi saja ya, karena flagship-nya Xiaomi kan Mi 8 dan Mi
Mix 2s saat ini.


Yang pasti, perasaan senang bisa mendapatkan smartphone ini tak berlangsung
terlalu lama. Cerita perjuangan mendapatkannya yang saya buat jadi satu
video tersendiri, dalam beberapa hari saja sudah menjadi terasa hambar. Ya
iya, ngapain saya harus waiting list kalau cuma nunggu 5 menit, dan di
hari-hari berikutnya orang lain masih bisa dapat dengan mudah, haha.




Bukan saya berharap barang ini ghoib, tapi mungkin Xiaomi perlu lebih baik
mengomunikasikan masalah stok dari Pocophone F1 ini. Bilang saja langkah
pembuatan waiting list ini untuk meminimalisir tengkulak alias reseller,
kan enak, semua pasti maklum.


At least, respon Xiaomi atas banyaknya produk yang bermasalah di hari
pertama penjualan, bagi saya sudah cukup baik dan bertanggung jawab.


Kembali ke produknya, saya memang merasakan euforia-nya tak terlalu lama.
Unboxing, main game, lalu kemudian sisanya terasa biasa saja.


Tak ada perasaan senang berlarut-larut seperti ketika saya mampu membeli
flagship pertama saya dulu. Di mana sampai berminggu-minggu kemudian saya
masih senang mengagumi desainnya, layarnya, build quality-nya, kualitas
audio-nya, hingga aksesoris bawaannya.


Bukan saya tak puas, tapi saya menceritakan apa bedanya ketika kita memilih
membeli flagship yang lebih umum, dengan flagship yang hadir dengan harga
jual yang sangat ditekan, tetapi mengkompensasikan beberapa hal.


Kompensasi pertama tentu saja soal material yang dipilih ya. Body Pocophone
F1 ini terbuat dari polikarbonat yang sudah jarang sekali digunakan, bahkan
untuk smartphone seri mid-end sekalipun. Saya mah santai, selama ini pun
tak pernah rewel koq dengan body plastik, selama nyaman dipegang.


Pocophone F1 ini saya malah suka, body plastiknya membuat saya tak usah
repot-repot memasang casing, jadi tak menambah tebal. Dan lagi finishing
doff-nya tak mudah kotor, nice lah!




Tapi ya penilaian orang bisa berbeda ya. Tidak apa-apa beda, asal ngga
maksa. Heuheu. Yang pasti, saya sangat menyarankan penggunaan tempered
glass atau proteksi layar tambahan untuk Pocophone F1 ini. 2 minggu dalam
pemakaian, sudah jelas hadir goresan-goresan halus memanjang di beberapa
bagian layar. Tak menganggu pemakaian sih, cuma ketika layar mati dan kita
perhatikan dengan seksama, goresan itu akan jelas terlihat. Sedih jadinya.
Selain itu, layar ini juga cepat kusam, entah apakah ada lapisan olephobic
atau tidak sebetulnya di layar Pocophone F1 ini.


Kompensasi selanjutnya ada pada layar. Layar Pocophone F1 tidak jelek koq,
reproduksi warna masih cukup baik. Hanya terlihat ada jarak antara panel
display dengan panel sentuh-nya. Asal tahu saja, Redmi Note 5 saja ga
begitu. Heuheu.


Lalu soal notch. Saya juga bukan orang yang mempermasalahkan notch, asalkan
kehadirannya memang memperluas panel layar dan masih cukup untuk
menampilkan informasi-informasi penting di notification bar.


Sayangnya, Pocophone F1 ini terlalu besar notch-nya, saya harus menurunkan
jendela notifikasi untuk melihat ikon-ikon di sana. Termasuk untuk melihat
network speed juga. Jadi kali ini saya harus bilang saya kurang sreg dengan
notch dari ponsel ini. Apalagi notch ini memotong area permainan PUBG, jadi
yah PR banget deh!


Untuk kamera, saya banyak-banyak bersyukur karena ternyata hasilnya di atas
ekspektasi saya. Ya, tadinya saya berpikir bahwa kameranya akan banyak
dikompromikan untuk menekan biaya produksi. Nyatanya, Pocophone F1 malah
punya kamera selfie beresolusi besar, bahkan paling besar di antara produk
Xiaomi yang rilis di Indonesia yaitu 20 Megapixels. Sementara kamera
belakangnya beresolusi 12 dan 5 Megapixels.


Jelas kualitasnya di bawah kamera flagship Samsung atau bahkan Huawei ya.
Namun segini masih oke banget koq. Lowlights masih terbilang jernih,
dynamic range masih mumpuni, dan selfie juga kece.


Saya pikir sekalipun harus menekan biaya produksi seminimal mungkin, Xiaomi
takkan berani berkompromi soal kamera ya, mengingat dalam beberapa tahun
terakhir perang smartphone banyak berkutat di sektor ini.


Silakan saja lihat foto-foto dan video berikut ini.




Dari tadi saya tak bahas performa ya. Karena memang angka-angka di atas
kertas sudah menunjukkan ada di level mana smartphone ini untuk performanya.


Main game PUBG bisa di HDR dengan graphic Ultra. Dan yang saya apresiasi
sekali liquid cooling-nya nampak bekerja dengan baik karena panas yang
dihasilkan minim sekali.


Walau kemudian saya akhirnya merasakan demam juga, yaitu ketika saya
mengganti kartu operator yang saya gunakan, dari nomor utama ke nomor
ketiga saya dari operator bernama tiga juga. Entah seberapa besar pengaruh
dari sinyal operator, ataukah dari update terbaru game PUBG ini, yang jelas
beberapa hari sebelum saya mulai menulis naskah review ini, Pocophone F1
sudah mulai membutuhkan parasetamol kalau diajak bermain game lama-lama.


Baterai besar 4.000 mAh juga jadi kunci untuk memikat para mobile gamer.
Apalagi MIUI juga terkenal dengan manajemen daya yang baik, walau sedikit
mengorbankan background process ya.


Pocophone ini juga sudah memiliki fitur fast charging, yang sayangnya tidak
cepat-cepat amat. Agak ketinggalan dari beberapa brand lain semisal yang
punya Dual Engine Fast Charging, atau Supercharge.


Tidak lambat sih, pengisian daya berlangsung di tegangan 6,5 volt dengan
kuat arus 2 hingga 2,5 Ampere. Tapi tetap saja tidak secepat hape tetangga
euy.


Satu yang saya sangat apresiasi adalah face unlock dengan IR camera
Pocophone F1 ini. Sangat instan, dan bekerja dengan baik di kondisi redup.
Fingerprint scanner-nya juga akurat dan responsif. Mantap lah!


Jadi, apakah Pocophone F1 jadi ponsel terbaik? Untuk gaming dengan budget
maksimal 5 juta sih iya, saya akui. Performa tinggi, baterai besar dan
awet, serta pengisian daya yang lumayan cepat, plus face unlock instan ya!


Tapi untuk kamera, saya rasa dengan budget 5-jutaan, saya lebih senang
dengan hasil kamera Vivo V11 Pro. Patokan saya adalah istri saya yang kalau
makan di luar, selalu menanyakan apakah saya membawa Vivo atau tidak,
hehehe. Oya, Vivo lebih cepat dalam mengisi daya, serta memiliki
fingerprint scanner yang lebih futuristik, walau processornya memiliki
kelas satu tingkat di bawah Pocophone F1.


Dan jika budget Anda lebih longgar, ada ASUS Zenfone 5z di harga 7 juta
kurang sedikit, dengan dapur pacu yang identik, tapi memiliki kelebihan di
looks dan build quality, punya NFC, pengisian daya yang lebih cepat, namun
baterainya lebih kecil dengan daya tahan yang lebih singkat.


Dua ponsel yang saya bandingkan dengan Pocophone ini juga memiliki bidang
layar yang lebih luas di sekitar notch-nya, hehe.


Semoga tidak ada yang tersinggung ya dengan alternatif yang saya berikan.
Malah harusnya kita senang bahwa smartphone-smartphone resmi di Indonesia
kini makin banyak yang keren dengan harga yang juga masih bagus.


Coba deh, dulu mungkin cuma mimpi ada ponsel dengan processor kelas atas
begini bisa punya harga 6-jutaan, bahkan 4-jutaan.


Ok, saya bagi deh peruntukannya, Anda yang punya budget maksimal 5 juta
bisa memilih Pocophone F1 <http://bit.ly/BU_POCOF1> jika Anda tergolong
gamer kelas berat dan spesifikasi adalah segalanya.


Dengan budget yang sama, jika Anda lebih senang dengan looks, layar yang
vivid, kamera yang menawan dan fitur-fitur kekinian, serta game kelas
menengah, Vivo V11 Pro bisa jadi lebih cocok.


Namun jika Anda punya budget lebih dan memilih keseimbangan antara semua
fitur-fitur dari sebuah smartphone, bisa jadi ASUS Zenfone 5z adalah
jawabannya. Nantikan review lengkapnya di channel ini ya!


Pintar-pintar memilih ya gais, pertama tentu sesuaikan dengan budget, lalu
cocokkan dengan kebutuhan dan juga selera Anda.


Atau kalau memang belum mampu, silakan menabung, atau jadilah team nonton
doang beli kagak yang budiman dan tidak memancing keributan, hehehe.


Hape doang koq ribut, milih hape kan ngga 5 tahun sekali bukan? Hahaha.


Ok, semoga video ini menghibur, utamanya memberikan informasi yang mungkin
Anda cari ya. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Hilmy
/* saya suka Gonta Ganti Hape <http://www.gontagantihape.com/> */

-- 
===========
Install  #MyTelkomsel Apps Terbaru dari Play Store
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.telkomsel.telkomselcm

----------------------
Kontak Admin, Twitter  @agushamonangan
-----------------------
FB Groups     :  https://www.facebook.com/groups/android.or.id

Aturan Umum  ID-ANDROID >> goo.gl/mL1mBT

==========
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "[id-android] Indonesian 
Android Community" dari Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Kunjungi grup ini di https://groups.google.com/group/id-android.

Kirim email ke