*Jakarta* - Menteri Komunikasi dan informatika Tifatul Sembiring menegaskan bahwa pemerintah tak akan buru-buru mengeluarkan regulasi untuk layanan seluler generasi keempat (4G) berbasis teknologi lanjutan Long Term Evolution (LTE).
"LTE di Eropa saja belum matang, kenapa kita harus terburu-buru mengadopsinya. Nanti-nanti saja," ujar Tifatul saat ditemui usai jumpa pers di kantor Kementerian Kominfo di Jakarta, Rabu (19/5/2010). Menteri juga bilang, Kominfo belum akan mengeluarkan izin bagi operator untuk menguji coba (trial) teknologi LTE, meski sudah ada tiga operator seluler yang mengajukan proposal untuk menggelar trial di semester kedua 2010 ini. Meski demikian, menteri tak menutup kemungkinan trial LTE secara terbatas tetap bisa dilakukan oleh operator bersama para vendor LTE. "Dalam waktu dekat vendor Ericsson akan membawa satu kontainer semacam Lab untuk uji coba LTE. Nantinya, selama sembilan bulan operator bisa belajar LTE dari situ," kata Tifatul yang sempat berkunjung ke headquarter Ericsson saat ke Swedia beberapa waktu lalu. Adapun tiga operator yang telah mengajukan proposal untuk menggelar trial LTE adalah Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata. Ketiganya terus mempercepat persiapan menggelar teknologi yang digadang-gadang sebagai siklus terakhir pengembangan teknologi data seluler berbasis pita lebar. LTE yang menggunakan standar IEEE 802.20, dipromosikan GSM Association sebagai teknologi lanjutan yang dapat digunakan untuk aplikasi data layanan bergerak dengan waktu respons yang lebih cepat dengan kecepatan puncak unduh data mencapai 173 mega bit per second (Mbps). Menurut Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, Heru Sutadi, ada beberapa pertimbangan yang membuat regulator belum menentukan apakah akan mengadopsi teknologi LTE atau tidak. Diantaranya, masalah pita frekuensi yang akan dipakai, dan berapa besar yang dibutuhkan. Sebelumnya sempat bergulir wacana bahwa LTE bisa beroperasi menggunakan pita 700 MHz dan 2,5 GHz. Namun di pita 700 MHz tersebut masih ditempati oleh penyelenggara TV analog. Sedangkan di 2,5 GHz mayoritas dipakai oleh Media Citra Indostar (MCI) untuk menyelenggarakan siaran berbayar Indovision. "Kami belum akan geser-menggeser frekuensi, khususnya untuk Indovision. Penggeseran frekuensi itu tidak gampang," kata Tifatul. Di lain kesempatan, Corporate Secretary Indovision Arya Mahendra Sinulingga, juga mengaku keberatan jika sebagian dari frekuensi 150 MHz yang lisensinya dikantongi Indovision akan digunakan untuk LTE. "Okupansi frekuensi kami sudah fully occupied. Sudah tidak ada ruang untuk LTE," jelasnya pada detikINET. Menurut Heru, permasalahan lain dalam mengadopsi LTE ialah pertimbangan bagaimana kontribusi lokal dalam adopsi LTE. Sebab jika penyelenggara broadband wireless access (BWA) dengan standardisasi Wimax Nomadic 802.16 d harus memiliki kandungan lokal (TKDN) hingga 40%, LTE juga kemungkinan akan dikenakan kewajiban yang sama. * ( rou / rns ) * http://www.detikinet.com/read/2010/05/19/175420/1360296/328/menkominfo-tak-mau-buru-buru-adopsi-lte/?i991102105 -- Salam, Agus Hamonangan http://groups.google.com/group/id-android http://groups.google.com/group/id-gtug Gtalk : agus.hamonangan Follow : @agushamonangan E-mail : [email protected] -- "Indonesian Android Community [id-android]" Join: http://groups.google.com/group/id-android/subscribe?hl=en-GB Moderator: [email protected] ID Android Developer: http://groups.google.com/group/id-android-dev ID Android Surabaya: http://groups.google.com/group/id-android-sby ID Android on FB: http://www.facebook.com/group.php?gid=112207700729
