Modernitas yang muncul saat ini merupakan problem mendasar yang dihadapi
masyarakat Arab-Islam. Ia merupakan perpanjangan dari apa yang disebut
sebagai tahawwul (perubahan), dan perubahan muncul dari asumsi adanya
kekurangan atau tidak adanya pengetahuan di masa lampau sehingga untuk
menghadapinya diperlukan kreativitas terus-menerus.

Sementara itu, salafiyah-konservatif yang merupakan perpanjangan dari
apa yang disebut sebagai tsabât (kemapanan) berasumsi bahwa
pengetahuan melalui teks dan naql adalah paripurna sehingga kemodernan
tidak memiliki makna pentingnya ketika berhadapan dengan suatu bahasa
yang telah mewujudkan kreativitas pari­purna­nya yang tidak
mungkin dilampaui.

Inilah dua konsep yang saling menegasikan antara satu dengan yang
lainnya. Salah satunya muncul dari sikap yang terus-menerus mencairkan
identitas dalam masa kini dan masa datang dengan penge­tahuan lama
yang sudah berlalu dan bahasa yang meng­eks­presi­kannya,
sementara yang lainnya muncul dari sikap menegasikan sikap mencairkan
identitas tersebut.

"Karya ini merupakan terobosan jalan baru yang demikian luas
ranahnya, yang kebanyakan belum diinjak oleh kaki manusia". (Dr.
Paul Nwyia)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke