-----Original Message-----
From: Anom Astika <[email protected]>
Sent: Tuesday, 19 January 2010 01:48
To: id-ebook <[email protected]>
Subject: [Id-ebook] Pelarangan Buku di Indonesia

*Pelarangan Buku di Indonesia: Hempasan dari Masa Lalu*

(Versi ringkas ‘Book Banning in Indonesia : A Blast from the Past’ dimuat di
Jakarta Post, 13 Januari 2010)

* *

John Roosa



            Pertamakali saya mendengar berita bahwa terjemahan buku
saya, *Dalih
Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto* (*Pretext for
Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’État in
Indonesia*), dilarang, saya dikuasai rasa *déjà vu*. Saya seakan-akan masih
hidup di masa Suharto ketika semua barang cetakan disensor, ketika mahasiswa
dituntut ke pengadilan karena membaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer,
ketika begitu banyak kawan-kawan saya yang berjuang melawan sang diktator
bekerja secara anonim dan acap kali bergerak di bawah tanah … Tubuh saya
meregang dan adrenalin pun mengalir deras.

            Perlu beberapa saat bagi saya untuk menghela nafas dan menyadari
bahwa sekarang masa Reformasi. Pelarangan buku di masa ini merupakan anomali
di tengah kemajuan luar biasa di bidang reformasi hukum sejak 1998.
Pelarangan buku itu kuno, bagian dari kecanduan nostalgik akan kesederhanaan
masa lampau, yang diantaranya tampak pada popularitas restoran-restoran
tempo doeloe. Pengumuman Kejaksaan Agung pada 23 Desember 2009 seperti
barang antik yang dikeluarkan dari gudang berdebu, menghadirkan kembali masa
lalu ketika pelarangan buku memang bermakna sesuatu,  saat internet, alat
pemindai, *flash disk* dan buku elektronik belum beredar luas.

            Warga negara Indonesia sudah memiliki kepercayaan diri yang
lebih besar di hadapan penguasa sejak 1998. Rektor, sejarawan, ahli hukum,
wartawan, anggota parlemen dan mahasiswa mengecam pelarangan buku kali ini.
Komentar yang muncul biasanya adalah pelarangan buku melecehkan kecerdasan
warga negara dalam menilai buku-buku yang pantas bagi mereka. Media
massajarang menyiarkan komentar dari orang-orang yang menyetujui
pelarangan buku.
Meminjam ungkapan ilmuwan Benedict Anderso


[The entire original message is not included]

Kirim email ke