Eko Fajar N ([EMAIL PROTECTED]) wrote:
: > Nah, 'koperasi ID-Linux' bisa punya potensi untuk mengadakannya, tapi
: > butuh relawan,
: Mmm. berarti relawan yang lokasinya dekat secara geografis dg Indonesia.
:
saya kira kalau ada relawan yang tinggal di luar juga ada lahan yang bisa
digarap.
: Tambahan secara teknis: kita juga mungkin harus menetapkan pula
: binary format yang akan kita pakai (.rpm, .deb, atau --no flame please--).
:
yap betul juga.
dan ini berarti mengarah ke pembuatan distribusi sendiri kan ?
mungkin begini aja:
- Jualan dengan distribusi standar dilakukan lebih dulu
pada saat ini target pasar adalah semacam pau-mikro-ers, sysop-l-ers,
ybnet-l-ers, dan tentunya id-linux-ers
pemasaran juga lebih banyak lewat network
ada tambahan milis lain yang sering atau kadang membicarakan linux ?
gdarma ya ? sayangnya saya nggak melanggannya
binus bagaimana ?
layanan dukungan purna-jual belum dilakukan secara optimal
karena dianggap pelanggan masih bisa didukung oleh id-linux-ers
lewat milis id-linux
- Secara paralel, ada relawan lain mempersiapkan distribusi khas ID-Linux
- kalau sudah jadi, Jualan dikhususkan distribusi khas ID-Linux
pada saat ini pasar diperluas, kalau perlu penetrasi ke Glodok :-)
target pasar, seperti waktu diskusi peluang Linux di Indonesia,
saya kira adalah para mahasiswa komputer (atau yang menggunakan
komputer untuk lebih dari sekedar ngetik dan nge-internet)
dan sekolah - sekolah komputer.
layanan dukungan purna-jual yang sudah dilakukan lewat milis
diteruskan, tapi para 'konsultan ID-linux' juga sudah
bisa lebih serius men-jual jasa-nya secara intensif.
: Sebab jika seorang newbie harus mengkompile setiap program yang
: ia butuhkan maka mungkin ia akan enggan memakai linux.
:
Yap.
itu juga salah satu alasan perlunya distribusi standar sendiri, jadi program
yang biasa dipakai oleh kalangan ID-Linux, ya sudah masuk di situ,
sebaliknya yang nggak biasa dipakai, ya tidak diinstall secara default.
: > #2 Buku ID-Linux
: > yang ini rasanya cukup Linux Getting Started saja, kalau yang lain
: > lebih baik online (harga kertas mahal !!!)
: Realistic...
:
Kalau pada saat awal, mungkin kita bisa jual hard-copy Getting Started yang
dari LDP, entah Inggris atau kalau sudah selesai ya terjemahannya.
Secara paralel, ada relawan yang menyempurnakan terjemahan LDP itu menjadi
hal yang cocok dengan distribusi khas ID-Linux.
: Dan kalau bisa harga buku itu semurah mungkin.
:
rasanya bisa sekali, pokoknya sesuai dengan semangat GNU, kita jual hanya
sekedar ongkos produksi (tapi ongkos produksi di sini termasuk gaji pekerja
lho, yah kalau bisa sih sesuai UMR negara maju kalau nggak UMR Asean,
kalau belum bisa juga ya UMR Jakarta yang masih rendah itu :-))
: (dan sesuai GPL) kita bisa menyarankan agar para penjual buku yang
: "unofficial' di Senen untuk mengopy buku tsb.
:
yap,
kita muat saja di halaman depan inti GNU PL-nya, plus terjemahannya tentunya.
: > #3 Mesin pre-install ID-Linux
: > yang ini sih kalau 'koperasi ID-Linux' sudah maju, habis butuh
: > showroom.
: Mungkin ini masih lama. Tapi mungkin ID-Linux bisa menjadi brooker untuk
: para Linux konsultan di seluruh Indonesia.
: (sudah dirintis di jepang, yaitu network diantara para linux konsultan)
:
Yap, pre-install ID-Linux masih lama,
jadi sekarang kalau semua komit, konsentrasi ke distribusi dan buku Getting
Started dulu, sampai bisa punya distribusi dan buku ID-Linux sendiri.
pada saat itu kita ekspansi pasar, dan berarti butuh para konsultan.
karena para konsultannya adalah para ID-Linux-ers, ya berarti pem-fungsi-an
ID-Linux menjadi broker para konsultan Linux rasanya sih hampir otomatis.
: Mungkin tujuan utama dari ID-Linux ialah untuk memasyarakat kan
: Linux yang cost-effective di Indonesia.. Macam Linux International lah..
:
setuju,
: Ini yang paling penting, kita harus menyadarkan para calon client
: kita bahwa free-nya Linux itu berarti Freedom to use and distribute,
: bukan seperti freenya "unofficial" software.
: Mungkin para akademisi lebih berkompetent untuk mendidik masyarakat
: tentang masalah ini.
:
sebelum para akademisi bisa mendidik, mereka harus 'bersih' dulu kan ?
ini berarti kita juga perlu menembus pasar para akademisi agar Linux (dan
Open Source lainnya) lebih digunakan di kalangan mereka.
: Untuk itu mereka mulai memakai istilah "Open Source" software
: , untuk menekankan bahwa esensi dari freeware itu bukan
: pada "gratis"-nya, akan tetapi pada kebebasan memakai.
:
Setuju kalau kita juga perlu memasyarakatkannya.
saya juga merasa suka yang nggak sreg dengan makin banyaknya orang yang
tidak bisa membedakan antara OpenSource Software dan 'trial-version' dari suatu
commercial software atau shareware.
: Untuk itu apakah sudah ada terjemahan baku untuk istilah spt.
: freeware, open source dll?
: Ataukah memang tak perlu diterjemahkan?
:
saya kira nggak perlu - perlu amat
: # IMHO, kita perlu juga untuk menterjemahkan GPL dan LGPL ke
: # bahasa Indonesia, dan meminta seorang (relawan) pengacara
: # untuk memeriksa apakah Lisensi itu cocok dg. hukum Indonesia.
:
yap.
ada yang dari hukum atau punya kawan orang Hukum ?
saya sendiri akan mencoba dari orang dari FH-UI, tapi pesimis bisa dapat
karena nggak dekat dengan staf ataupun mahasiswanya.
--
+- and with none but Allah is the direction of my affair to the right issue;
/ on Him do I rely and to Him do I turn (QS 11:88) ///
/_/ _/ /_/_/_/_/ [EMAIL PROTECTED] (Syafrudin)
_/_/_/_/ _/ HDS5 _/ - http://www.estuary.klwarta.or.id
/_/ _/ /_/_/_/_/_/ - http://www.pramuka.org - http://www.linux.or.id
-
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN: 'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]