On Tue, 6 Oct 1998, Muhammad Baja wrote:

> di kampus saya sudah ada satu buah linux box yang berfungsi sebagai Intranet
> Server dengan clientnya (terminal) menjalankan Windows 95 / 98.
> 
Siip, bisa diceritakan nggak sudah jadi apa saja nih:
- dns server ? master ? slave ? cache-only ? pakai bind-v8 ?
- file dan print server ? pakai samba ?
- mail server ? pakai sendmail ? atau qmail ? atau exim ?
- akses mail dari terminalnya pakai telnet ? atau pop3 ? atau imap4 ?
- news server ? pakai inn ?
- web server ? pakai apache ?
- cache server ? proxy server ? pakai squid ? pakai account ?
- jadi gateway ke internet ? dial-on-demand ? ip-masquarade ?

kalau pengalaman konfigurasi 'baku' yang biasa dipakai para ID-Linux-erz
bisa kita rangkum, ini bahan bagus untuk kita sebetulnya kalau kita buat
distribusi apa saja yang layak dimasukkan di situ...

> Terminal-terminal tersebut jumlahnya sangat sedikit (50 terminal) sedangkan
> mahasiswa plus dosen yang akan menggunakan hampir 300 orang.
> 
perpanjang saja jadual bukanya, misal buka sejak pukul 6.30 pagi hingga
20:30 malam (30 menit di awal dan di akhir untuk pemeliharaan).
dengan rasio 1 pengguna 5 terminal dan jam buka 14 jam, berarti satu
pengguna dapat jatah rata - rata sekitar 4 sampai 5 jam, sudah lumayan
tuh.

terus untuk terminal tambahan, kenapa nggak manfaatkan XT/286 yang
biasanya masih ada dan kurang terpakai ?
lumayan tuh bisa jadi terminal meski text-based.
perlunya kan cuma cpu yang jalan, ada ethernet atau arcnet-nya. tanpa
harddisk, RAM seadanya (asal cukup untuk meload program dos dan telnet),
boot dari disket (atau bootrom), cukup.
di Fakultas Ilmu Komputer UI, lab dengan isi terminal XT untuk telnet
sudah berjasa sejak sekitar lima tahun yang lalu, baru kemarin diganti
yang lebih baik. namun itupun belum berarti tamat, masih dilihat - lihat
karena beberapa mau dipakai lagi jadi terminal telnet.

> Rencananya akan di kampus akan difungsikan sebagai ISP khusus untuk
> anggotanya (mahasiswa, dosen.) Apakah Linux sanggup untuk hal demikian?
> menggunakan fasilitas dedicated line dari sebuah ISP di kota Medan.
> 
secara singkat, sanggup !!!

> Tanya-tanyannya:
> 1. untuk melayani sekitar 300 orang tsb, kira-kira berapa modem untuk
> dial-in ke Linux-box yang
>     dapat dipasang? Dan bagaimana?
>
umumnya ISP beneran menggunakan rasio 1:10 kalau nggak salah, jadi untuk
300 orang, menggunakan 30 line, 30 modem, dan berarti juga 30 port serial.
untuk tahap awal, gunain saja semua line yang ada.
untuk kemudahan pengguna, line yang ditujukan untuk modem-pool perlu
dijadikan hunting.

> 2. pertanyaan umumnya, bagaimana agar seluruh anggota jaringan + anggota
> dial-up
>     (dari rumah) dapat menggunakan fasilitas kampus sebagai ISP mereka? apa
> saja yg
>     diperlukan apabila jaringan TCP/IP-nya + Linux + Win95-nya sudah
> berjalan, tetapi
>     modem untuk dial-in -nya belum?
> 
setup linux sebagai modem pool:
        - hardware: ada multi-serial sejumlah port yang diperlukan
                pilih multi-port yang didukung linux, kalau nggak salah
                ada di Serial HOWTO
        - software: PPP Dialin mesti jalan
perangkat linux sebagai modem pool, dengan linux sebagai router ke
internet bisa satu mesin bisa lain mesin, bagusnya sih lain mesin saja.
juga untuk intranet server-nya, bagusnya terpisah juga.

 +- and with none but Allah is the direction of my affair to the right issue;
/ /_/    _/ /_/_/_/_/    on Him do I rely and to Him do I turn (QS 11:88) ///
  _/_/_/_/  _/ HDS5 _/               [EMAIL PROTECTED] (Syafrudin) 
/_/    _/ /_/_/_/_/_/   = pramuka.org - linux.or.id - estuary.klwarta.or.id =


----------------------------------------------------------------------
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] 
Archive: http://www.vlsm.org/linux-archive/
Linux CD: [EMAIL PROTECTED]



Kirim email ke