-----Original Message-----
From: Adhi eN <[EMAIL PROTECTED]>
>Sekarang uugettynya udah bisa jalan.

Bagus lah...

>Cuman.... kecepatannya hanya sampai F38400 di /etc/inittab, kalau
>dinaikin 57600 atawa 115200, si Linux selalu bilang 'S1 respawn too fast,
>disable for 5 minutes'. Padahal UART-nya 16550AN

Nah itu dia, mesti ditambahkan sendiri. Ikuti saja polanya. Kan di file aslinya ada 
tuh yang mulai dari 300 terus sampai 38400. Seingat saya, max.-nya 57600 deh (16450 
tapi).

Soal respawn too fast.... wah saya juga punya problem ini nih :-) UARTnya 16450 sih. 
Nggak tau juga apa karena UARTnya itu. Yang jelas sih, kalau respawn terlalu cepat, 
itu karena uugetty-nya langsung mati (killed) sesaat setelah direspawn. Tapi... 
dial-in OK saja tuh (belum rame kali...? Wong client-nya cuma satu :-)

>Misal alamat server adalah seperti ini :
>127.0.0.1   untuk lo
>192.168.1.1 untuk eth0
>
>Apakah untuk ppp0 di server perlu dibuatkan alamat IP yang berbeda dengan eth0
>ataukah bisa memakai 192.168.1.1 ?

Mesti beda dengan eth0. Buat saja seperti yang diatas: x.x.x.2, gitu. Terus yang buat 
client-nya buatkan sekalian; x.x.x.3, misalnya.

>Masalahnya saya pakai perintah
>pppd /dev/ttyS1 38400 -detach modem crtscts lock asyncmap 0
>192.168.1.1:192.168.1.100 debug
>
>ataupun perintah :
>pppd /dev/ttyS1 38400 -detach modem crtscts lock asyncmap 0
>192.168.1.2:192.168.1.100 debug
>
>Hasilnya tetap sama..... Sambungan PUTUS
>(yang benar pakai /dev/ttyS1 atau /dev/cua1 ya ?)
>Jadi pppd sempat up, tanpa mengirim paket LCP dan IPCP, lalu
>koneksinya putus.

Saya sih pakai /dev/ttyS1, nggak masalah tuh.

>Tanya Lagi :
>Kalau client-nya juga punya alamat IP eth0, apakah alamat IP
>itu bisa dipakai untuk device ppp0 juga, ataukah prosesnya nanti
>memakai IP drop-dropan dari server ?

Ya menggunakan yang dari server lah. Clientnya di-set untuk nerima IP dari server. IP 
di-client gunakan dengan nomor network yang sama dengan yang di server.
Di client punya eth0 nggak masalah, pokoknya nomor host-nya beda.
(BTW, untuk IP: nomor.net.work.nomorhost).

>Wah ....ide bagus... scriptnya bisa dikonfigurasi untuk shell
>atau menjalankan pppd. Cuman kalau pakai menu demikian, si DUN
>Windows 95 kagak bisa meng-handle kalau tanpa terminal.

(Sejujurnya...bukan ide baru... :-) dari dulu juga Melsa-Inet pakai yang beginian).
Kan bisa di-set supaya dia menampilkan terminal (window) saat login berlangsung.

>Belum dua minggu..... :-) tetapi mau minta tolong, habis
>sudah putus asa.... kagak pernah dapat alamat IP dan selalu putus, setelah
>pppd di server berakhir.

Belum ya...? >:-) Boleh saja tentu, tulis saja di sini...
Jangan putus asa lah...

>Lagipula menekan pemakaian pulsa telpon ... :-) :-) :-) :-)


Telpon...? Pakai dua telpon di rumah? Wah, pemborosan, tidak cost-effective..
Coba lah pakai null-modem dulu.

>Saya bingung dengan file konfigurasinya :
>- /etc/default/mgetty.ttyS1   (atau uugetty.ttyS1)
>- /etc/gettydefs
>- /etc/mgetty+sendfax/mgetty.config
>Mana yang dipakai ? 

/etc/gettydefs memang dipakai. Untuk menentukan kecepatan modem, ya kan...?
Untuk uugetty jangan pakai default dari namanya, masukkan saja ke option dari uugetty, 
jadi di /etc/inittab dimasukkan
.....uugetty -f /etc/default/uugetty
misalnya. (BTW, -f nya itu belum pasti... biasa, RTFM ya..)

>Kalau pakai null modem cable :
>Gimana untuk setting flow controlnya ?
>Pakai RTS/CTS atau Xon/Xoff ?

Seingat saya sih RTS/CTS juga jalan. Yang penting sih mesti sama, antara server dan 
client-nya.

>Jalur kabelnya apakah sama dengan kabel modem ?


Iya, lewat serial port.

>Yang terakhir, saya berpikir langkah-langkahnya seperti ini,
>tolong dikoreksi kalau salah :
>1. Client melakukan dial ke server.
>2. ttyS1 menerima sinyal dari modem (ini diset oleh /etc/inittab).

Yang di /etc/inittab sebenarnya berguna untuk menjalankan kembali (respawn) uugetty 
yang mati (killed). Jadi, tiap ada yang dial-in, sinyal masuk ke serial port, uugetty 
jalan, setelah ada handshake soal speed, uugetty kemudian menjalankan pppd, pppd 
mengambil alih serial port, uugetty-nya get killed. Selelah client memutus sambungan, 
oleh init (/bin/init?) uugetty dijalankan lagi untuk menunggu client masuk lagi.

>3. uugetty memanggil file konfigurasinya di /etc/default/uugetty.ttyS1
>4. Keluar layar login di PC Client.
>5. Setelah diisi beserta dengan passwordnya, script untuk
>   menjalankan pppd dipanggil.
>6. pppd mencari file /etc/ppp/options dan membaca opsinya.
>   Opsi saya spt ini : * -detach
>                       * asyncmap 0
>                       * modem
>                       * crtscts
>                       * proxyarp
>                       * lcp-max-configure 30
>                       * lock
>                       * defaultroute
>                       * noipdefault
>                       * mru 296       

Seingat saya, nggak pake defaultroute. mru usahakan sama dengan yang di-client. Dan 
seingat saya, pake passive. 

>7. pppd membuka device ppp0.
>8. pppd mengirim IP ke client dan menerapkan IP ke dirinya untuk ppp0.

Yang melakukan ini kalo nggak salah sih ifconfig.

>9. pppd membuat rute point to point antar client dengan dirinya.

Kalo nomor networknya sama, routing tidak dibuat. Buat saja yang sama, jadi tak perlu 
pasang routing. Kalau memang mau beda, bikin saja yang lain (jadi ppp0 dengan 
client-nya menggunakan nomor network sendiri; misal: 192.168.x.y, dengan x yang beda 
sama punyanya eth0, dan y tentunya beda dengan yang untuk client). Hanya saja, dengan 
cara ini, /etc/ppp/ip-up mesti dibuat untuk menjalankan route.

>10. Selesai sudah.

Mestinya: 10. PPP sudah jalan. 
Gitu dong...

-Oki


_________________________________________________________________
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] dg body unsubscribe id-linux
Help: [EMAIL PROTECTED] dg body help
Admin: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke