Mau ikutan nimbrun aaaah....

On Wed, 18 Nov 1998, Fluffy Ball wrote:

> semua, mungkin lebih gampang (ini berdasarkan pengertian yang saya baca
> dari e-mail tsb). Dari pengalaman saya ternyata hal itu relatif sekali,
> lebih cenderung ke attitude. 
                    ~~~~~~~~~~~

Kembali ke attitude.. akhirnya kita harus mempertanyakan "pelatihan" yang
kita berikan ke pada user, serta aplikasi atau platform yang digunakan
untuk "melaksanakan pelatihan tersebut".

Bila pelatihan itu bertujuan membekali kepada ketrampilan pengguna yang
relatif menggunakan "sistem tertutup".  Apabila sistem ini benar-bnar
tertutup maka sulit sekali terbentuknya "attitude" yang mengkondusif
pemahaman teknologi komputer.

Justru itu kenapa pada saat ini "platform yant tertepat untuk learning"
dalam arti pembentukan tenaga kerja yang siap belajar.  Bukanlah platform
seperti Windows, karena "terlalu tertutup" dan kurang membentuk "attitude"
yang menguntungkan untuk jangka panjang (bagi si pengguna, bukan bagi
penjual software he..he.he.)

Ini dibahas di buku "Idea and information" oleh Penzoi (?) tentang
bagaimana seorang sekretaris "tertarik untuk mempelajari skript".

> Sebagai pribadi, saya tidak mempermasalahkan teknologi yang ada, tetapi
> tantangan terbesar bagi saya adalah dealing with human. Saya akan selalu
                                            ~~~~~~~~~~~~~
> menganggap user sebagai dumb user. Kejam sih emang kedengarannya, tapi
                          ~~~~~~~~~~~~

Sebetulnya bukan dumb user, tetapi mereka memiliki mental model yang tidak
sama dengan konseptual model (untuk jelasnya lihat link yang saya berikan
tentang ini).  

Nah kalau memang kita "cenderung concern ke human" artinya kita
menginginkan suatu solusi yang cenderung "human factor approach"
tenimbang "technological approach".

Ini menimbulkan "kontradiksi dari praktek yang sering dilakukan".  Kalau
kita menginginkan human approach, mau tidak mau kita melakukan sedikit
task analisis, dan melakukan kustomisasi sistem sesuai dengan user (misal
perubahan GUI, script support dll).  Dengan sistem yang tertutup seperti
Win familiy, perubahan untuk penyesuaiaan GUI menjadi sulit, apalagi
perubahan yang untuk menyesuaikan task user.  Di sini maka saya lebih
cenderung dengan sistem seperti LINUX, yang bisa dibengkok bengkokan
sesuai dengan "user".

Sebagai contoh yang simple, "mungkin kita tidak terasa", bagi sebagian
besar orang Indonesia GUI dengan icon di kanan (seperti Afterstep), terasa
lebih enak, karena sebagian besar adalah bukan kidal)...dll. Ini baru
contoh sederhana.

Task analisis menjadikan kita membentuk sistem yang terkadang tidak harus
"full power", yang penting user harus bisa melaksanakan tasknya dengan
baik.

> pengalaman mengajarkan saya mengenai hal ini. Mereka tidak perlu tahu 
                                                         ~~~~~~~~~~~~~
> apa yang berada di dalam komputer mereka dan kalau bisa komputer mereka
> tidak mengizinkan mereka untuk mengetahui lebih dari aplikasi yang
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> mereka jalankan.

Hal itu bisa tercapai bila sistem yang digunakan benar benar task
oriented, sehingga user dapat dengan mudah terpuaskan dan "cenderung"
mengerjakan tasknya, sebagai contoh "cash register". Ini khan bentuk PC
dengan disain I/O khusus.  Dengan bentuk cash register, orang akan
cenderung tidak berfikir macem macem..

> pribadi, OS yang hanya berisi Program Manager yang berisi aplikasi umum
> seperti Micrososft Office sudah lebih dari cukup untuk dijalan disisi
> user (termasuk aplikasi khusus seperti Autocad untuk user-user
> tertentu). Thanks God we have Windows Manager.
                                  ~~~~~~~~~~~~~
Ingat sebetulnya aplikasi itu belum menjawab "task", misal sebagian besar
dari user mungkin tidak pernah menggunakan "feature yang ada di Words".  

Kalau kita sampai pada kesimpulan seperti ini akhirnya akan menuju ke
jawaban, kalau begitu lebih enak pakai network computer, atau Xterminal..
apa-apanya bisa dicontrol, dan user tidak bebas...he.he.he.heh.e

> -Apapun tipe NOS yang digunakan selama robust, itu adalah pilihan yang
                                ~~~~~~~~~~~~~~~~
> terbaik. Ngga masalah deh, betapa susahnya untuk mengkonfigurasi NOS

Betul.. sehingga "kemudahan maintenance" harus dipertimbangkan 
- waktu setup
- waktu sering down
- waktu menemukan error

Apa artinya sistem yang "sepertinya gampang di maintain" ternyata sering
down (MTBF menjadi rendah).  Apalagi kalau tidak dilengkapi dengan bug
report yang memadai sehingga menyebabkan sulit direparasi (MTTR tinggi)

> Kalau kita membicarakan masalah OS yang paling unggul, itu hanya kita
                                     ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> sendiri yang bisa nilai, sesuatu hal pasti ada kelebihan dan
> kekurangannya;selama memungkinkan kita bisa aja kan menggabungkan

Tergantung kita "mendefinisikan unggul" :
- reliable
- usability 
- performance.. dan itu semua tergantung task dari sistem.

> Sorry kalau kepanjangan, apa yang gue tulis ini tidak lebih dari opini
> pribadi gue, jadi mohon maaf aja yah kalau ada yang tersinggung dengan
> tulisan ini.

Lho.. koq pakai "tersinggug" ???? he..hehe.

IMW

===========================================================================
I Made Wiryana (0521-106 5328)            Universitas Gunadarma - Indonesia
Rechnernetze und Verteilte Systeme  http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made
Universitaet Bielelfeld                                   Check my e-zine :
[EMAIL PROTECTED]    http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/majalah
===========================================================================



----------------------------------------------------------------------
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] 
Archive: http://www.vlsm.org/linux-archive/
Netiket autoresponder: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke