Rofiq wrote:
>> sumber:
>> http://weblogs.sqlteam.com/jeffs/archive/2007/05/23/60215.aspx

> Walaupun saya suka konsep unit test tapi jarang aplikasi saya yang  
> punya unit test, ntah kenapa :-))

-13

> Priotitas yang lebih utama adalah bikin kode yang easy to debug,  
> tujuan ini bisa dicapai lewat bikin unit test tapi bisa jg dari cara  
> lain. Cara lain maksudnya dari pengalaman, baca2, atau think before  
> coding.
> 
> Selain itu bikin kode yang readable jg bikin gampang di debug. Saya  
> sih ngeri kalo liet coding orang yang attitudenya "yang penting  
> result", tanpa mau ngerti kode yang di utak atik. Kalau ada orang spt  
> ini simply saya tutup akses repositori ke read-only, dan saya suruh  
> kirim patch file. Ini lebih baik daripada hancur tuh project.

+1

> Tapi coding dgn cara benar ada konsekuensinya, biasanya shareholder  
> gak suka gaya coding spt ini, karena progressnya "terlihat" lambat.  
> Slow but sure? ya ini natural, kalo nanem padi pasti ada jadwal kapan  
> bisa dipanen, mo lebih cepet? rasa gak enak, mo telat ? keburu  
> dimakan hama. Manusia tinggal memilih :-)

Maafkan Hamba Tuanku Rofiq-Sensei, saya juga mau curhat. -_-

Pingin berbagi pengalaman, di zaman dahulu kala ada seorang koboi menggunakan 
PHP,
pokoknya intinya coding wus wus langsung jalan => jadi duit. Tapi pas sekian 
lama
wus wus itu datanglah air bah telpon mengganggu hidup sang koboi, intinya pada
komplain ternyata app nya error [bahasa si client] atau ada bugnya [bahasa wong
katro' kayak ki koboi]. Melihat gambaran hidup si koboi ini mengingatkan saya 
akan
kisah nyata sejarah $20 million bug gara2x = yg seharusnya == di SunSoft (dalam
hal ini kasusnya pakai bahasa C, saya bacanya di buku Expert C Programming Deep 
C
Secrets)
# Hello my friends from C, teach me... teach me about C...

Sekian sekelumit kisah sang koboi. Nah lalu curhat disambung ke pengalaman saya
sendiri pakai rails (internal project) setting waktu tetap setting dahulu juga.
Beuh dikejar2 deadline oleh orang awam (baca: non IT) itu sangat menyebalkan
juga... walhasil yg tadinya berniat pakai Agile dan DRY beserta falsafah2x di
dunia Ruby dan Rails yg serba elegan akhirnya saya codinglah tanpa test dengan
setengah hati... yaa memang jadi sih, tapi tetap di ujung2x cerita walau rails
internal project itu sudah lama selesai dalam memaintenance tetaplah saya 
sisipkan
juga testing2x buat siapa tau ada yg bolong ataupun kelupaan. Jujur saja kalau
debugging aplikasi yang terpecah belah oleh devide et impera itu membuat panas
kepala sehingga saya bahkan merasa perlu bin wajib mencukur rambut kepala hingga
ukuran 1 (paling tipis) dan perlu ++supply suplemen bergizi.

Tetapi terus terang ada betulnya juga kata pak rofiq, saya jadi teringat kata 
Stian
bilang begini (sambil mengangkat tangan dan menjambak rambut bulenya sendiri) :
"WHERE IS .to_i ??" ketika curhat menggunakan non ruby ke saya. Atau seperti 
Admin
saya bilang : "Wah yg enak yg coding bentar langsung jalan.. cepat jadi, 
langsung
bisa dipake, makanya mo pake Perl (daripada C)" Jadi ingat kata Steve (yg pernah
diposting di milis ini juga duluuuu banget) : "Scripting Language as a glue", 
saya
tambahkan : "kalau glue nya melambat, baru dipercepat dg Patch sendiri"



































Bocoran: kisah si koboi di paragraf panjang pertama dan kisah pribadi di 
paragraf
panjang selanjutnya sebenarnya adalah kisah sejarah nyata yang diperankan oleh
yang memposting email ini :-O
# kaburrr / not feeling to accept any other further questions please -_-

-- 
Arie || ariekeren, YM!=riyari3, http://ariekusumaatmaja.wordpress.com
http://groups.yahoo.com/groups/id-ruby, Bow! My favorite : UCHIHA ITACHI !
"Never say RTFM. Turn the trolls into committers", Audrey Tang - 
conisli-ofun.pdf
Jatuh Bangun aaku.. mengeejaarmuu.. Tapi dirimu, tak mau tau..



Kirim email ke