Euforia kampanye .... saatnya dengan enteng seseorang merendahkan orang
lain.
Artikel di bawah ini saya copy dari Resonansi Republika.
Aslinya berjudul : Tidak Pernah Ada Lampu Aladin;
Oleh: Asro Kamal Rokan.
[maaf ya Pak Asro].

Salam.




SAATNYA MERENDAHKAN ORANG LAIN


Seorang sahabat berkata, "Inilah saat orang-orang merendahkan orang lain
karena merasa dirinya lebih tinggi. Mereka berkata sesuatu yang tidak mereka
ketahui. Mereka membuka lebar sebelah matanya untuk melihat keburukan, namun
menutup sebelah lainnya dari melihat kebaikan. Dan, mereka berkata,
'Semuanya buruk, tidak ada kebaikan sama sekali!'"

Sahabat itu ingin mengatakan perilaku politisi di mimbar-mimbar kampanye.
Kepada banyak orang, mereka mengatakan mampu menyelesaikan semua persoalan,
meningkatkan kesejahteraan, berbuat lebih baik, dan memperjuangkan kehendak
rakyat. Bagi mereka, sekarang ini semuanya buruk. Dan, mereka akan tampil
sebagai penyelamat.

Mereka tahu, itu tidak mudah. Mereka tidak memiliki lampu Aladin yang ketika
diusap, semua mudah terjadi. Mereka paham, situasi saat ini berat dan tidak
dapat diselesaikan seperti malam berganti siang. Harga-harga tidak dapat
diturunkan hanya dengan kata-kata. Akal sehat mereka mengatakan, tali-temali
persoalan tidak dapat diputus dengan sebilah pisau setajam apa pun. Tapi,
mereka berkata, "Akulah pemilik lampu Aladin itu, orang yang Anda tunggu,
mampu menyelesaikan persoalanmu, mengubah peruntunganmu."

Padahal, tidak pernah ada lampu Aladin. Kini, dengarlah sepotong syair
Jalaluddin Rumi, sufi terkemuka, sebagai berikut.
*Cinta berkata, "Duri-duri ini semuanya milik akal yang bersarang dalam
dirimu!**

" Waspadalah dan diam. Buanglah duri kehidupan dari telapak kaki!
 Supaya, kau mendapat pelindung di dalam dirimu.
 Shamsi Tabriz! Kaulah matahari dalam awan kata-kata
. Apabila matahari terbit, setiap kata pun sirna!*

Tapi, mereka berkata, "Ini politik dan demokrasi. Kami berhak mengatakan apa
yang kami pikirkan, terutama ketidakbenaran. Rakyat harus tahu dan memilih
orang yang tepat. Kami menuntun rakyat ke jalan yang benar dan ini semua
untuk kepentingan mereka."

Kata-kata itu adalah duri dalam akal sehat mereka. Duri itu bersarang dalam
akal mereka hingga membusuk. Dan, mereka mengatakan bahwa itulah kebenaran.
Sesungguhnya, sesuatu yang bersumber dari ketidaktahuan, apalagi
ketidakadilan dan prasangka buruk, bukanlah kebenaran, melainkan fitnah.
Tidak pernah ada kebenaran dari fitnah.

Orang bijak tidak mengajarkan kepada orang lain bahwa gajah itu kecil ketika
mereka hanya memegang ekornya. Apalagi, mempertahankan dengan gigih pendapat
yang salah itu. Rakyat paham tubuh gajah, paham ekor gajah, dan mereka
menertawai pendapat aneh tersebut sebagai hiburan.

Kini, buanglah duri itu dari kehidupan. Kembalilah sebagai manusia,
mengikuti kata hati yang menuntun pada kebaikan. Katakan yang benar itu
benar tanpa menguranginya, katakan kesalahan tanpa melebih-lebihkannya.
Kembalilah sebagai manusia, yang sesungguhnya lemah, tidak berdaya--seperti
sebutir pasir di padang yang sangat luas, tidak berarti apa-apa di hadapan
Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Wahai sahabat yang bijaksana, bukankah kita telah diajarkan untuk senantiasa
berlaku adil meski kepada kaum yang dibenci sekalipun. Jangan biarkan dirimu
terbakar oleh api yang kau nyalakan sendiri. Padamkan dengan air dalam
hatimu.

Dalam *Matsnabi*, Rumi mengatakan, "Dalam dirimu ada Namrud: jangan terjun
ke dalam kobaran api. Jika ingin terjun, jadilah Ibrahim terlebih dahulu!"
Selamat berkampanye dengan akal sehat.

* *

*Resonansi Republika, **Rabu, 18 Maret 2009 pukul 23:38:00*
Judul asli: Tidak Pernah Ada Lampu Aladin Oleh *Asro Kamal Rokan*

Kirim email ke