|
MENGURUS
MATA SI JENDELA DUNIA Tak
bisa dipungkiri, peranan mata sangat besar. Menurut para ahli, 83% informasi
sehari-hari yang kita terima terserap lewat indera yang satu ini. Bila kita
mengakui bahwa knowledege is power, memelihara kesehatan mata menjadi tak
sekadar perlu, tapi wajib hukumnya.
Masing-masing mata punya lapang pandang sendiri. Untuk bisa melihat dengan benar, citra yang dilihat oleh
masing-masing mata harus dapat disatukan. Bayangkan
yang Anda rasakan kalau penglihatan dobel. Bingung dan
pusing ‘ Untuk bisa melihat, pertama-tama bagian optik mata harus oke. Sinar yang
masuk diterima oleh media refraksi, artinya ia harus
melewati kornea, lapisan air, lensa, dan badan kaca, sampai ke satu titik. Titik ini merupakan kumpulan atau pusat reseptor penglihatan,
berupa sel-sel penangkap cahaya (photo
receptor). Kalau sinarnya tidak terfokus di
situ, tapi di depannya, pemilik mata menderita rabun jauh (myopi). Sebaliknya, kalau jatuhnya di belakang, disebut rabun dekat
(hipermetropia). Jelaslah kemampuan
memfokuskan sinar itu sangat tergantung antara lain
pada kelengkungan kornea dan panjang bola mata. Begitu citra mencapai titik
fokus yang diharapkan, entah dengan alat bantu ataupun
tidak, oleh saraf citra itu akan diteruskan ke otak untuk diinterpretasikan. Sehingga bisa dikatakan, proses melihat mesti melewati dua bagian,
yakni bagian optik refraktif yang dasarnya fisika dan bagian saraf yang dasarnya
biologi. Penglihatan akan baik bila kedua
bagian tadi bekerja dengan baik. Perlu kontrol
rutin Sementara itu, perkembangan bola mata anak, utamanya, memang berkisar di
seputar mengembangkan kemampuan mata untuk memfokuskan sinar yang masuk. Agar citra itu dapat terbentuk dengan baik, bola mata dilengkapi
enam buah otot di atas, bawah, kiri, kanan, melingkar di atas dan di bawahnya.
Selain itu masih ada otot di dalam bola mata, ada pula yang
mengelilingi lensa, ada lagi di pupil dan diafragma. Semua otot itu bekerja dengan membesar dan mengecil.
Setiap kali kita melihat sesuatu, diafragma akan memfokuskan diri. Lensa juga
mencembungkan atau memipihkan diri agar tercapai fokus yang pas. Pada anak-anak, bila penglihatannya belum terfokus saat melihat jauh, ia
akan berusaha mendekat. Pada saat upaya memfokuskan diri itu otot-otot bola
matanya mengalami penguluran, penekanan, dsb. sehingga bentuk bola matanya bisa
berubah-ubah. Perpanjangan yang terjadi ini juga akan menyebabkan ukuran bola
mata berubah. Bentuk-bentuk pemaksaan itu bisa berupa memaksakan diri melihat dekat,
melihat di tempat yang penerangannya kurang, atau keasyikan main playstation, video game, game boy
dan yang sejenisnya, di mana mata dipaksa bekerja keras mengejar kecepatan
pergerakan. Padahal berdasarkan riset, “Orang yang bekerja pada video display terminal (VDT) monitor saja
kerja matanya sudah 2,5 - 4 kali lebih berat ketimbang aktivitas baca tulis
biasa. Apalagi kalau dia main game,”
sambung Tjahjono. Pekerjaan di depan layar VDT itu membebani mata, karena jaraknya dekat,
waktunya panjang, dan pergerakannya cepat. Kalau beban berat ini terjadi
terus-menerus pada bola mata anak yang sedang berkembang, efeknya bisa
kumulatif sehingga sangat cepat mempengaruhi pertumbuhan bola mata, dengan
akibat sangat mungkin si anak bakal membutuhkan alat bantu penglihatan. Karena itu jangka waktu kontrol mata yang pas untuk anak-anak adalah setiap
4 - 6 bulan, agar perubahan bisa secepat mungkin dievaluasi. Kalaupun ada
gangguan bisa diperbaiki dan teratasi. Pemeriksaan bisa dimulai pada waktu anak
masuk TK atau SD. Lain cerita kalau sejak awal
sudah timbul kecurigaan adanya gangguan pada mata. Kontrol ke
dokter mata bisa dilakukan lebih dini, pada usia dua
tahun, misalnya. Di negara maju, salah seorang ahli yang memeriksa bayi prematur adalah
dokter mata. Ia
berkepentingan mengecek kemungkinan faktor-faktor bawaan yang bisa membuat mata
si bayi lebih rentan terhadap gangguan. Di negara kita, baru
spesialis anak yang melakukan pemeriksaan. Kalau dirasa
perlu, baru dikonsultasikan kepada dokter mata. Selepas usia sembilan tahun, mata masih juga mengalami perkembangan
meski sedikit. Bahkan menurut statistik, dalam kondisi normal tanpa gangguan
masih berkembang sampai usia 23 tahun. Setelah itu, kalau normal-normal saja, kita tak perlu lagi kontrol
mata rutin. Namun cek setahun sekali tetap dianjurkan bagi mereka yang berkaca
mata, atau mempunyai beban kerja mata Pentingnya
faktor gizi Kalau mau menuruti
anjuran American Medical Women’s Association, mata sehat orang berusia di
bawah 40 tahun, Penduduk di negara maju mau repot-repot mengenakan safety glass bahkan saat hanya melakukan
pekerjaan rumah tangga sederhana, macam memaku tadi. Soalnya, paku yang memantul sering menyebabkan robekan di bawah
mata. Begitu juga pada pekerjaan yang berkaitan dengan
intensitas sinar yang tinggi atau partikel-partikel yang terlontar. Kita pun tidak boleh lupa bahwa sinar matahari mengandung bahaya bagi
mata. Sinar yang ditangkap mata sebenarnya
sebuah spektrum dari beragam komponen sinar. Salah
satunya, ultraviolet (UV), komponen sinar yang bersifat cytotoxic, mematikan sel. Ada tiga jenis UV
yakni UV A, UV B, dan UV C. UV C dengan panjang gelombang terpendek secara
alami harusnya tertahan oleh lapisan ozon di permukaan atmosfer. Sedangkan UV B mencapai permukaan Bumi, dipantulkan lagi oleh
permukaan air, lautan, bebatuan, dsb. Sinar ini
berpotensi menyebabkan kanker kulit. Kalau sampai menembus pertahanan
mata kita dan mencapai photo receptor,
si penangkap cahaya ini akan terbakar. Untunglah, dengan benteng pertama berupa refleks kelopak mata
menyipit kalau kena sinar menyilaukan, sinar ini 98 - 99% ditahan oleh lapisan
kornea, sedangkan sisanya ditahan oleh lensa. Perihal UV A, 100% harus
dihadang oleh lensa. Karena mekanisme
perlindungan terhadap intensitas UV yang tinggi di daerah tropis, 12,3% populasi kita menderita penyakit mata pterigium, yaitu
tumbuhnya selaput putih berbentuk sayap pada kornea. Karena
pajanan sinar yang tinggi pula banyak terjadi kasus katarak, kekeruhan pada
lensa kristalin mata. Penyakit ini sebenarnya proses degenerasi yang
berlangsung selama 15 - 20 tahun. Di negara-negara Belum lagi masalah glaukoma. Kalau penyebabnya
faktor bawaan, kebutaan akibat tekanan bola mata yang terus meningkat ini sudah
mulai terjadi sejak usia 25 - 35 tahun. Namun bisa juga penyebabnya faktor degenerasi. Keluhan
awalnya bisa sangat ringan: mata merah sangat tipis, atau pegal-pegal pada
mata. Begitu ringannya sampai kadang tak disadari. Setelah katarak, penyebab kebutaan di negeri kita sesuai urutan adalah
glaukoma, kebutaan kornea, masalah refraksi, dan terakhir masalah retina. Dari kelima penyebab utama itu, tiga di antaranya (katarak,
glaukoma, dan masalah refraktif) ada hubungannya dengan faktor degenerasi sehingga
bisa dilakukan pencegahan. Terhadap glaukoma, kaum dewasa usia 40-an dicek tekanan bola matanya, lapang pandangnya,
dsb. Terhadap masalah refraktif, perkembangan ukuran kaca mata dipantau
sedini mungkin. Juga dilihat adakah tanda-tanda akan robeknya saraf. Apakah dibutuhkan
laser untuk menahan kemungkinan robekan saraf, pendarahan, dsb. Doktor Tjahjono ingin mengingatkan tentang beberapa hal: Perkembangan daya lihat yang optimal perlu dipersiapkan
sebaik mungkin agar anak mampu menangkap informasi dengan baik sepanjang
hidupnya. Jangan membiasakan diri memakai obat mata, apa pun yang
dikatakan iklan. Hindari pemakaian obat yang berlebihan. Remaja yang mengenakan lensa kontak harus disiplin
melepaskannya setiap malam dan menjaga kebersihannya. Pemakai lensa kontak yang
terkena kasus kornea kebanyakan remaja putri. Padahal kalau kornea sampai
cacat, akan berbekas. Batasi anak bermain di depan layar komputer. Kalau
bekerja dengan komputer, setiap satu jam hendaknya beristirahat selama sekitar
lima menit. Biasakan diri mengenakan kacamata hitam di bawah terik
matahari, atau kacamata pelindung saat melakukan pekerjaan yang berpotensi
bahaya bagi mata. Bahkan jangan malas melindungi mata dengan payung atau topi
yang bertepi lebar. Usahakan UV yang masuk ke dalam mata sekecil mungkin. @ (Lily Wibisono ================================================================= "Morning greetings doesn't only mean saying 'Good Morning'. It has silent message saying that I remember you when I wake up. Wish you have a Great Day!" -- Ida & Krisna Jangan lupa untuk selalu menyimak Ida Krisna Show di 99.1 DeltaFM Senin - Jumat, pukul 06.00 - 10.00 WIB SMS di 0818-333582 =================================================================
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|

