|
Batavia, tak pernah ke Batavia Ternyata
Batavia tak hanya nama lama Kota Jakarta. Nama itu pernah (dan masih) disandang
sebuah kapal buatan Belanda. Sedihnya, kedua nama kembar itu tak pernah saling
bertaut, karena Kapal Batavia tak pernah berlabuh di Batavia. Pada 29 Oktober 1628 Batavia bertolak dari Amsterdam menuju
Batavia, India Timur, membawa 341 penumpang dan anak buah kapal (ABK), termasuk
38 perempuan dan beberapa anak kecil. Pelayaran perdana itu diperkirakan
memakan waktu 9 - 12 bulan. Nama "Batavia" dipilih sebagai penghormatan kepada
suku Batavi, penghuni sekitar Leiden, yang di abad IV mengusir penguasa Roma
dari tanah berawa-rawa, yang kini disebut Belanda. Namun, "Batavia"
juga dipakai VOC (Verenigde Oostindische Compagnie - Perkumpulan Dagang India
Timur), untuk nama kota dagang mereka di India Timur, yang sedang dalam
pembangunan. Berburu rempah Armada dipimpin Fransisco Pelsaert, dinakhodai Adriaen
Jacobsz. Rencananya, selepas menyusur pantai barat Eropa, Batavia mengarah ke
lepas pantai Brasilia, Amerika Selatan, lalu ke tenggara, menuju Tanjung
Harapan, Afrika. Selepas Tanjung Harapan naik ke timur laut menyusuri pantai
Timur Afrika lewat Selat Madagaskar. Selepas ujung selatan India, baru masuk
Selat Malaka. Namun, tahun 1611 rute diubah, karena Hendrik Brouwer
menemukan rute baru yang lebih singkat. Dari Tanjung Harapan kapal langsung
melaju ke timur menyeberangi Samudera Hindia. Setelah berlayar sejauh 6.400 km,
kapal berbelok tegak lurus ke utara, ke Selat Sunda, memasuki perairan
Nusantara. Masa itu Australia sudah dihuni masyarakat Aborigin, tapi
belum "dikenal" oleh pelaut Eropa. Di peta, benua itu hanya diberi
catatan spekulatif, Terra Australis Incognita, daratan luas di Selatan. Berbagai pelayaran ke Timur Jauh dipicu keinginan mencari
rempah-rempah, komoditi penting masa itu. Semangat itu tahun 1492 membawa
Christopher Columbus tanpa sengaja menemukan daratan Amerika. Ini membuka
kemungkinan adanya "dunia" baru. Penemuan itu segera diselesaikan oleh Paus Alexander VI untuk
mencegah rebutan kekuasaan antara kedua negara adidaya masa itu, yang kebetulan
semuanya beragama Katolik. Setahun setelah pelayaran Columbus, Paus
"membagi" dunia menjadi dua, untuk Spanyol dan sisanya milik
Portugal. Belanda menyusul Seabad sesudah Portugal dan Spanyol melanglang buana
menumpuk kekayaan dengan praktik monopoli perdagangan, Belanda iri. Pemerintah
Belanda, yang berbentuk federasi antartujuh propinsi beragama Protestan dan
telah bersama-sama berjuang mengusir Spanyol selama Perang 80 tahun (1568 -
1648), jelas tidak peduli dengan tindakan Paus Alexander. Tahun 1595 ekspedisi pertama Belanda, dipimpin Cornelis de
Houtman, mendarat di Banten, Jawa Barat, setelah berlayar 15 bulan. Pada 1595 -
1601, ada 65 kapal Belanda ikut berdagang di kawasan Timur Jauh. Persaingan antarbangsa menyadarkan Belanda, negaranya kecil
dan lemah. Untuk itu, tahun 1602 mereka memutuskan, semua bisnis ke Timur Jauh
disatukan dalam nama VOC. Nantinya, kongsi itu menjadi mirip pemerintahan
khusus. Selama masa kejayaan di abad XVI - XVII, VOC sempat mengirim 1.770
kapal ke India Timur (kini Indonesia) mengangkut sekitar satu juta orang. VOC berkantor pusat di gedung Wisma India Timur, Amsterdam.
Kongsi Dagang itu dipimpin Dewan Direktur, disebut De Heren Zeventien, terdiri
atas 17 pengusaha besar dari berbagai kota di Belanda. Untuk memantapkan kekuasaan, tahun 1619 Jan Pieterzoon Coen
mengusir Portugal dari Jawa. Jayakarta, bekas pusat perdagangan Portugal, direbut.
Di atas reruntuhan benteng Portugal, Gubernur Jenderal Coen membangun kota
baru, dinamai Batavia (kini Jakarta). Pelayaran perdana ke Batavia itulah yang dilakukan Kapal
Batavia. Palka kapal penuh aneka dagangan; uang perak, tekstil, porselen. Di ruang
paling bawah tersimpan balok-balok batu berukir. Kecuali sebagai pemberat agar
kapal tidak oleng, batu itu akan dirakit menjadi pintu gerbang utama Pelabuhan
Batavia. Kiriman itu memenuhi permintaan Coen, yang bertekad, "...
membangun Batavia yang bakal menjadi mutiara di Timur Jauh." Kecebur laut, tamat Para pelaut zaman dulu memang harus siap bertaruh nasib.
Sebagai kapal perang yang harus berlayar berbulan-bulan serta di perjalanan
mungkin sekali bertemu musuh atau bajak laut, Batavia membawa 180 prajurit
dilengkapi 32 pu "Meriam" cuma pelontar bola api besi dengan
sasaran efektif 20 m. Di masa kini itu tidak mengesankan karena
"peluru"-nya tidak bisa meledak, dan maksimal hanya meremukkan
dinding kapal musuh. Untuk menembakkan pun perlu waktu lama. Selain karena
peluru harus diisikan dari moncong meriam, sebelum diledakkan dengan mesiu yang
disulut api, tiap kali menembak perlu hati-hati. Kalau terburu-buru, meriam
bisa pecah berantakan. Zaman itu meriam memang tidak meletus puluhan kali tanpa
henti. Berbeda dengan penggambaran dalam film, di mana meriam kapal kuno mampu
riuh menembakkan pelurunya. Di kapal itu para prajurit yang bernasib paling
malang. Tugas utama mereka berperang bila Batavia bertemu musuh. Agar tidak
berselisih dengan para pelaut, mereka dikurung di bawah geladak bersama meriam.
Ruangan mereka amat tidak nyaman, langit-langitnya cuma setinggi 1,5 m.
Sepanjang pelayaran, tentu mereka harus duduk berjongkok atau berbaring sambil
menghabiskan waktu. Untuk 340 penumpang dan ABK pun cuma ada empat kamar kecil.
Hanya ruang nakhoda yang pantas, artinya dilengkapi kamar tidur pribadi. Pembagian strata masyarakat di kapal pun amat mencolok.
Siang hari meja besar ruang nakhoda untuk menggelar peta dan berdiskusi.
Malamnya menjadi meja makan mewah untuk para perwira. Mereka bersantap dalam
pakaian lengkap dan etiket resmi, menikmati sajian di piring perak atau gelas
kristal. Sebaliknya, pelaut dan prajurit yang di atas atau bawah
geladak, harus makan beramai-ramai, satu piring kayu untuk berenam. Menunya
nyaris tak berubah selama melaut, roti keras plus daging asin, karena terlalu
lama dalam pengawetan. Belum lagi bahaya jatuh ke laut. Setiap kapal layar, apalagi
ukuran besar, selama berlayar tidak pernah bisa berhenti. Kapal tidak mungkin
berhenti, mundur atau berbalik, apalagi hanya untuk memungut yang bernasib sial
itu. Jangan pula membayangkan menemukan peta lengkap, serta
radio. Alat penduga jarak serta pelacak mata angin pun selalu kurang akurat.
Maka, tiap kali nakhoda keliru menghitung posisi kapal, terutama saat
menentukan kapan harus berbelok di tengah Samudera Hindia, tiupan angin serta
arus laut bisa mengacaukan rute pelayaran dan mengempaskannya ke batu karang. Drama menjelang
fajar "... Sekitar dua jam sebelum fajar menyingsing,
mendadak terasa guncangan hebat, disusul gemuruh keras sekali. Saya meloncat
dari kabin sambil melirik catatan di meja. Tertulis, Senin 4 Juni 1929, posisi
kapal 28 - 28,5o Lintang Selatan," demikian laporan kecelakaan
tulisan Pelsaert, terbit tahun 1647 dalam judul Ongeluckige Vojagie Van't Schip Batavia, Nae de Oost-Indien
(Pelayaran Naas Kapal Batavia Ketika Menuju India Timur). Ternyata kerusakan kapal jauh lebih parah dari dugaan.
"Kapal menabrak batu karang, sebagian dindingnya jebol, 40 orang hilang,
air laut mengalir masuk, menyebabkan Batavia pecah dua, dan pelahan tenggelam
...." Musibah akibat kesalahan manusiawi belaka. Nakhoda Jacobsz
mabuk, ditambah petugas anjungan lalai. Gemerlap gugusan pulau karang di cuaca
cerah, disangka pantulan sinar bulan di permukaan air. Akibatnya fatal. Batavia
melaju menghantam karang, di lokasi yang kini dikenal sebagai wilayah perairan
Kepulauan Houtman Alborhos, lepas pantai Australia Barat. Setelah mengamati kerusakan, Pelsaert berprakarsa mencari
pertolongan dengan naik perahu ke Pulau Jawa, sekitar 900 mil laut arah utara.
Itu dilakukan sesudah percobaan pelayaran ke timur hanya menemukan,
"Daratan tandus misterius tanpa sumber air." Ia keliru. Kalau saja terus berlayar ke timur, Pelsaert akan
menemukan benua baru, satu abad mendahului pelaut Inggris Kapten James Cook
yang mendarat di Teluk Botany, Australia Utara. Bisa-bisa Pelsaert yang
tercatat sebagai "penemu" Australia. Pelsaert pergi dengan membawa kekhawatiran. Mencari
pertolongan dengan cuma membawa 47 eks penumpang Batavia. Sebanyak 268
penumpang terpaksa ditinggal di lokasi kecelakaan. Kekhawatirannya beralasan sebab komplotan Jeronimus
Cornelisz, seorang pedagang, ingin menguasai muatan kapal. Begitu Pelsaert
pergi, Cornelisz mengangkat diri sebagai "gubernur" dan meneror sisa
penumpang Batavia. Sebagian prajurit menyelamatkan diri ke pulau terdekat.
Tapi, yang tidak sempat lari disiksa dan dibunuh. Sebanyak 96 nyawa melayang. Di luar dugaan, hanya 22 hari berlayar Pelsaert tiba di
Nusakambangan, Jawa Tengah, dan langsung meminta pertolongan ke Batavia. Dengan
menumpang kapal kecil, 17 September 1629 Pelsaert tiba di lokasi kecelakaan.
Selain menyelamatkan penumpang, ia bertugas melucuti pemberontak. Sesuai hukum VOC, dilangsungkan sidang di tempat dengan
keputusan, tujuh tersangka dijatuhi hukuman gantung. Si pemimpin,
"Gubernur" Cornelisz, mendapat hukuman paling berat. Selain naik
tiang gantungan paling awal, kedua tangannya dipenggal sebelumnya. Sejarah memang sering pahit. Hanya 154 penumpang Batavia
yang selamat tiba di Batavia. Sedangkan seluruh muatannya hampir tiga abad
terkubur di dasar laut. Selama ratusan tahun musibah Batavia dan muatannya memicu
minat para pelacak sejarah dan pemburu harta karun. Namun, lokasi musibah tidak
ditemukan, sampai tahun 1950 disingkapkan sejarawan Henrietta Drake-Brockman.
Namun, akibat kesulitan teknis, baru 13 tahun kemudian dimulai penyelamatan
terhadap sekitar 15.000 artefak eks Batavia. Kini semua koleksi berharga itu, termasuk calon Pintu
Gerbang Pelabuhan Batavia, dikoleksi Western Australian Maritime Museum di
Fremantle, Selatan Perth, Australia Barat. (Julius
Pour) ================================================================= "Morning greetings doesn't only mean saying 'Good Morning'. It has silent message saying that I remember you when I wake up. Wish you have a Great Day!" -- Ida & Krisna Jangan lupa untuk selalu menyimak Ida Krisna Show di 99.1 DeltaFM Senin - Jumat, pukul 06.00 - 10.00 WIB SMS di 0818-333582 =================================================================
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
- [Ida-Krisna Show] Batavia, tak pernah ke Batavia Ida arimurti
- Re: [Ida-Krisna Show] Batavia, tak pernah ke ... Soejanto Poedjosoedarto
