Mengapa Salon tak Pernah Sepi? 
http://kompas.com/olahraga/news/0601/24/231732.htm
 
Jakarta, KCM
 
Tidak usah heran bila harga beras mahal. Di Belanda pun harganya mahal. 
Bedanya, di Belanda makanan pokok dijual luarbiasa murahnya.
 
Lucu memang, beras kebutuhan utama tapi mendapatkannya kok sulit. Harga
beras di Belanda juga selangit. 
Tidak aneh, sebab bukan merupakan makanan utama dan jelas barang impor. 
Pemakan beras juga lebih banyak bangsa-bangsa pendatang yang memang dari
sononya terbiasa makan beras. 
Sementara makanan pokok di Belanda sendiri kentang dan roti. Sampai
sekarang belum sekalipun terbaca 
atau terdengar di media massa persoalan pelik  menyangkut kentang maupun
roti di negeri ini. 
Entah perdebatan harga, kebijakan pemerintah,  apalagi stok kentang dan
roti sampai  hilang di pasaran.  
 
Mau tahu berapa harga kentang dan roti? Belum sampai satu euro sudah
bisa bawa pulang kentang 
dan roti seabrek-abrek. Rakyat tidak pernah membahas isu kelaparan
(paling tidak begitu sampai hari ini). 
Petani kentang tak pernah mengeluh panen gagal, harga pupuk mahal dan
segala tetek bengek lain yang bikin susah. 
Tukang roti tak bakal menggerutu harga tepung atau bahan dasar roti
membubung.
 
Lalu kenapa di Indonesia justru mendapatkan kebutuhan pokok begitu
sulit?
 
Sedikit melenceng. Saat menemani teman jalan-jalan di negeri tulip ini,
tiba-tiba dia berkomentar 
setelah melewati beberapa salon kecantikan. Kenapa salon sepi-sepi saja.
Sementara kalau di Indonesia, 
salon hampir ada di tiap sudut dan selalu ramai. Harus nunggu pula
sebelum diladeni. Ada saja kegiatan 
di salon berjam-jam. Sekedar potong poni, creambath, ganti warna rambut,
meluruskan atau mengeriting, 
lulur, facial bahkan iseng kikir-kikir kuku dan kaki.
 
Katanya lagi, dia saja kalau malas keramas di rumah langsung ke salon.
Enak duduk tenang, dipijit dan 
keluar sedikit lebih segar dan cantik. Saya tidak heran karena juga
pernah mengalami kehidupan serupa. 
Tapi selama di Belanda.. wow.. nanti dulu. Belum tentu dalam 5 bulan
saya menginjak salon. (kasihan ya.!) 
Ada undangan atau harus manggung pun berusaha dandan sendiri sebab
urusan salon perlu merogoh kocek sampai dalam. 
Tidak seperti di Indonesia begitu banyak pilihan pelayanan dan harga.
 
Beberapa teman Belanda sendiri seringkali bikin janji rahasia sama
tukang pangkas supaya dilayani di rumah saja. 
Bisa bayar lebih murah dan keuntungan pula buat si pekerja. Dapat uang
ekstra tanpa dipotong pajak. 
Kalau cuma potong rambut anak-anak dengan model standard, rata-rata
orang tua melakukan sendiri. 
Mereka punya peralatan potong rambut. Atau informasi lewat teman-teman
yang ahli potong, bolehlah saling bantu. 
Artinya, secara umum tidak begitu saja dengan mudah merogoh kocek
sekedar ke salon.
Meski ada juga teman lain kerjanya bolak-balik ke salon ganti warna
rambut, ngecat kuku dan lain-lain. 
 
Teman saya yang berlibur tadi mensyukuri dirinya tinggal di Indonesia
karena  bisa sering  ke salon 
demi memanjakan tubuh. Saya katakan, "Tapi di Belanda orang tidak pernah
mengeluh kelaparan." 
"Apa hubungannya salon dan lapar," katanya spontan dan melotot. "Sekadar
hubungan kebutuhan hidup dan gaya hidup," 
jawab saya santai meski keder juga lihat biji matanya seperti mau
keluar.
 
Di Belanda, orang tahu persis mana kebutuhan hidup dan gaya hidup. Di
negeri kita sebaliknya. 
Banyak yang sulit (atau pura-pura tak tak
perduli) membedakan mana gaya hidup dan kebutuhan hidup. Di negeri ini
salon merupakan gaya hidup, makanya mahal. 
Tapi bahan makanan merupakan kebutuhan hidup sehingga harganya
terjangkau. Orang bisa mati kalau tidak makan, 
tapi tidak akan ada yang terkapar biar rambutnya mencapai mata kaki atau
kukunya hitam dan wajah tidak 
akan berubah jadi monster meski tidak di facial sebulan sekali.
 
Sebaliknya di tanah air, salon kecantikan sudah berubah fungsi. Entah
itu demi alasan menunjang karir, 
sekedar memanjakan tubuh dan segala macam. Jadi lekat dengan kebutuhan,
bukan lagi gaya hidup semata. 
Makanya murah dan terjangkau sebab para produsen berlomba menarik
pelanggan. Sedangkan makan perlahan 
bergeser jadi gaya hidup.
 
"Ah...,kamu terlau sinis," protesnya dengan wajah lebih kusut dari
sebelumnya. 
 
"Barangkali memang saya sinis. Lalu jawab dong kenapa harga beras bisa
mahal," pinta saya lembut.
 
"Itu salah pemerintah juga, Tidak perduli nasib rakyat, juga tidak ada
subsidi. 
Bukan karena orang banyak ke salon," katanya ketus.  
 
Dalam hati ini berteriak, "Saya juga tidak bilang karena banyak orang ke
salon. 
Sekedar gambaran membedakan kebutuhan hidup dan gaya hidup. Dan masih
banyak gambar selain salon. 
Ah.. bisa jadi gambaran saya memang keliru ya.. he.he.he."
 
Lalu kenapa orang begitu sumringah, rela bayar mahal untuk fast food
bahkan merasa lebih berkelas. 
Padahal di negara asal merupakan konsumsi rakyat bawah karena murah dan
cepat. (tak usah dulu bicara 
soal gizi buruk).  Buruh-buruh yang jam istirahat siangnya pendek
terpaksa makan junk food alias 
cepat saji yang murah dan cepat tadi. Sebaliknya di negeri kita
tercinta, fast food jadi gaya hidup mewah.
 
Simak pula di restoran seperti apa sepiring spaghetti atau pizza
disajikan? Mewah dan mahal tentu saja. 
Sementara di Italia sendiri 'warung' pizza dan spaghetti tidak istimewa.
Lagi-lagi karena makanan impor, 
wajar bila mahal. Di Eropah merupakan menu harian, jadi tidak mahal juga
wajar.
 
Lalu mau bilang apa bila menikmati menu ala Eropah tadi jadi ada yang
merasa lebih gaya ? Karena mahal ? 
Dan yang dibayar tidak semata rasa makanannya, tapi juga suasananya.
Gara-gara lihat saya di Belanda 
kalau baru gajian makan nasi dan saat mulai bokek makan kentang,
spaghetti, steak dan segala jenis 
makan Eropa lain yang murah, banyak dan kenyang, teman saya ngotot lagi.
 
Kalau di Indonesia makanan Eropah mahal wajar saja, sebab makanan
Indonesia di negeri orang juga begitu. 
Dalam hati sebenarnya tidak lagi mempersoalkan harga, tapi ketika
makanan sudah jadi 'gaya' hidup, 
bukan kebutuhan. Namun melihat gelagat teman yang kebarat-baratan ini
makin emosi, terpaksa menahan diri.
 
Persoalannya sekarang yang mengganjal pikiran, kenapa orang Eropa makan
nasi yang nota bene barang impor 
dan mahal merasa biasa-biasa saja. Tidak lantas menganggap diri lebih
keren dari warga lain yang tetap 
makan kentang. Ah. sudahlah.., semua toh cuma sebuah pilihan. Silahkan
putuskan harus pakai gaya apa. Semua sah saja.
 
Nah yang ganjil kenapa beras, makanan pokok bangsa sudah berabad bisa
mahal dan sulit di dapat ya..? 
Apa barangkali makan beras sudah jadi gaya hidup pula. Bukan lagi
kebutuhan hidup?
 
Mohon maaf, hanya bertanya lho tanpa ada keberpihakan.
 
(Ita Sembiring, ibu rumah tangga, tinggal di Belanda)
 
 
 
 


[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Over 1 billion served! The most music videos on the web.
Click to Watch now!
http://us.click.yahoo.com/xmKGzA/IARHAA/kkyPAA/iPMolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

=================================================================
"Morning greetings doesn't only mean saying 'Good Morning'.
It has silent message saying that I remember you when I wake up.
Wish you have a Great Day!" -- Ida Arimurti

Jangan lupa simak IDA KRISNA SHOW SENIN HINGGA JUMAT di 99,1 DELTA FM
Jam 4 sore hingga 8 malam dan kirim sms di 0818 333 582.

=================================================================
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/idakrisnashow/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke