Dear All,
  
  Ini ada cerita dari seorang temen yang saya rasa cukup menarik untuk dicoba bagi temen2 yang suka dengan Travelling. semoga bermanfaat..
  
  Ada banyak orang bilang, travelling itu nikmat.. Bisa mengunjungi
satu atau banyak tempat, menjauh sementara waktu dari kesibukan
sehari-hari, menikmati keindahan alam maupun budaya, berbelanja
aneka oleh-oleh yang dapat menyilaukan mata sesaat, bahkan bisa juga
menghasilkan cerita kebanggaan pada sanak saudara dan handai taulan.
Tak heran, kalau kegiatan yang namanya travelling, wisata, jalan-
jalan, plesiran, atau apalah namanya, menjadi hobi kebanyakan orang.
Tujuan travelling bagi banyak orang memang beraneka ragam. Ada yang
sekedar ingin refreshing dan menghilangkan penat dari pekerjaan, ada
juga yang memang memiliki jiwa petualang, ingin menaklukan segala
tantangan dalam genggaman tangan, ada juga yang menjadikan
travelling sebagai the ultimate choice untuk menunjukkan status
sosialnya di masyarakat.

Dahulu, bagi saya, travelling adalah salah satu hobi yang harus saya
tekuni. Kenapa harus? Jawabnya mudah, karena saya masih muda, living
single and still enjoying life to the fullest. Saya juga ingin
mencari banyak pengalaman hidup, yang kata banyak orang bisa didapat
lewat travelling. Jalan-jalan ke berbagai tempat di berbagai pelosok
menjadi bagian dari mimpi besar saya. Semakin jauh, semakin baik..
Semakin mengeluarkan banyak uang, semakin sempurna, karena
prestisenya itu loh.. Tapi itu semua hanyalah mimpi-mimpi yang tidak
jelas kapan bisa tercapai. Sampai suatu saat, saya gregetan sendiri
and keep asking to myself, do I need to travel hanya supaya tidak
dibilang seperti katak dalam tempurung? Kenapa sih, saya susah
sekali bisa jalan-jalan seperti kebanyakan orang?

Yang jelas, pertanyaan itu tidak bisa langsung dijawab dengan
instan. Sampai suatu ketika, jawabannya perlahan-lahan bisa saya
temukan dalam suatu obrolan ringan dengan teman baik keluarga kami.
Om Johan, begitu panggilan saya padanya, adalah seorang pria
setengah baya kelahiran Indonesia yang sudah lama menetap di
Australia. Dia yang menyarankan pada ayah saya untuk memperlakukan
putri satu-satunya ini dengan keras, agar bisa hidup mandiri dan
punya kepribadian yang mantap. Ia sering membagi pengalaman hidupnya
pada saya, lewat obrolannya yang ringan dan penuh inspirasi.

Di sela percakapan ringan, saya sempat bertanya padanya, "Kenapa sih
Om, orang bule itu suka banget travelling, kayaknya gampang banget
yah buat mereka jalan-jalan kemana-mana, lama lagi bisa 1-3 bulan..
Kita disini, kenapa gak bisa begitu?"

Dengan senyuman ia berkata, warga Australia yang sering ia temui,
memang gemar sekali pergi liburan. Makanya bisnis travelling tumbuh
subur disana. Hal itu dipicu karena beban hidup mereka yang sebagian
besar ditanggung pemerintah. Tidak usah pusing mikirin cicilan KPR
rumah sampai belasan tahun, tidak perlu juga pusing menabung untuk
dana pensiun, toh semuanya pemerintah sudah menjamin. Jadi, sebagian
dari penghasilan mereka biasanya digunakan untuk jalan-jalan,
keliling dunia, menikmati hidup, itu kata mereka... Tanpa bermaksud
membanding-bandingkan kehidupan orang Indonesia dengan orang
Australia, sejenak saya termenung...

Bagi kita, warga Indonesia, kegiatan jalan-jalan berwisata hanyalah
mimpi yang bisa diraih oleh segelintir orang saja. Jalan-jalan
menjadi sebuah `barang mewah' di tengah himpitan kerasnya hidup
sebagian besar orang Indonesia.

Penghasilan yang didapat ternyata masih harus dikurangi untuk
membiayai berbagai macam kebutuhan, bahkan untuk orang yang hidup
single seperti saya. Apalagi bagi mereka yang sudah hidup
berkeluarga..Berat memang, ketika tidak ada jaminan sosial yang
diberikan oleh pemerintah, ketika kita harus memikirkan tingginya
biaya pendidikan anak-anak, plus kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya.
Hal ini yang membuat kebutuhan jalan-jalan menjadi urutan terakhir
dalam skala prioritas kebutuhan kebanyakan orang Indonesia. Hanya
mereka yang memiliki uang berlebih dan beban hidup minimal, yang
bisa menikmati arti jalan-jalan sesungguhnya. Tapi bukan berarti
orang Indonesia tidak gemar jalan-jalan. Tengoklah stasiun Senen
atau terminal Pulo Gadung menjelang Lebaran, alamak..Penuh sesak
oleh mereka yang rindu ingin pulang kampung. Itu masih termasuk
jalan-jalan, bukan?

Melihat realita yang ada, menyesalkah saya lahir di Indonesia? Tak
sedikitpun saya menggelengkan kepala. Pesona alam dan budaya
Indonesia tidak akan pernah habis saya kagumi. Namun semangat jalan-
jalan yang dulu sangat menggebu perlahan-lahan bisa saya imbangi
dengan realita yang terjadi. Yah, beginilah pahit manisnya hidup.

Masih getol ingin jalan-jalan menaklukkan dunia, sambil yang
katanya, bisa meraih banyak pengalaman hidup? Tentu saja masih mau,
gumam saya dalam hati. Tapi dengan bijaksana harus saya akui,
bukanlah kebutuhan yang harus saya penuhi dengan segera.

Dengan segala kerendahan hati harus saya akui, belum banyak tempat
di dunia yang dapat saya taklukan, dan belum banyak pula pengalaman
di dunia travelling yang bisa saya bagi.. Yah, maklumlah, hanya
sekali dalam setahun, bila saya beruntung, mungkin dua kali dalam
setahun saya berwisata (ini di luar business travelling yang sangat
menjengkelkan, menurut saya).
Tapi tanpa saya sadari, ternyata travelling bukanlah berpergian
menembus jarak dan waktu semata. Dan tanpa saya sadari, selama ini
sebenarnya saya sudah sering melakukan travelling..The Travelling
Within, itu jenis travelling yang sering saya lakukan. Berkelana
menyelami berbagai macam karakter orang yang sering saya jumpai
sehari-hari. Di halte bus, di persimpangan jalan, di kantor, rumah,
pergaulan sosial, dimana-mana saya temukan aneka ragam kepribadian
unik yang layak untuk dijelajahi.

Caranya sangat mudah dan minim biaya untuk melakukan The Travelling
Within ini. Kuncinya cuma satu, just be sensitive. Peka terhadap
segala perubahan yang terjadi di sekeliling kita, peka untuk tidak
menggunakan kehebatan yang kita miliki just to show how great we
are, dan peka untuk belajar menghargai orang lain dengan sungguh..

Ada banyak pelajaran yang saya dapat dengan melakukan The Travelling
Within. Memperkaya pengalaman hidup, itu sudah pasti.. Tapi yang
paling penting adalah saya bisa belajar menghargai hidup dan
mengisinya dengan penuh arti.
Bersyukur saya bisa melakukan `the real travelling' baru-baru ini
bersama rekan-rekan dekat ke Yogyakarta, sebuah kota yang kaya
budaya dan nilai sejarah..

The Travelling Within juga saya alami di Yogya. Ijinkan saya
membaginya dengan anda lewat rangkaian cerita, yang mudah-
mudahan tidak membuat Anda bosan..



Salam,
Lisa Virgiano


Catatan : Beruntunglah kita yang masih bisa menikmati wisata dengan
sepenuh hati. Namun, bila Anda merasa sangat `kecil' atau tidak
berarti hanya karena belum memiliki kesempatan untuk jalan-jalan,
please...Jangan pernah merasa begitu! Karena travelling bukan hanya
sekedar menembus jarak dan waktu saja...
  
  Keep Smiling n tetap semangat........
 


           
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.

[Non-text portions of this message have been removed]





=================================================================
"Morning greetings doesn't only mean saying 'Good Morning'.
It has silent message saying that I remember you when I wake up.
Wish you have a Great Day!" -- Ida Arimurti

Jangan lupa simak IDA KRISNA SHOW SENIN HINGGA JUMAT di 99,1 DELTA FM
Jam 4 sore hingga 8 malam dan kirim sms di 0818 333 582.

=================================================================




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke