Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
  
  Sebuah iklan Tabungan Pendidikan dari sebuah bank swasta di koran telah menggelitik saya. Dengan wajah lelah seorang Bapak Tua duduk di bangku berjejer dengan beberapa anak muda fresh graduate, menunggu panggilan  interview bersaing  memperebutkan lowongan pekerjaan. Ya… sudah usia pensiun tetapi masih harus kerja keras mencari lowongan kerja untuk mencukupi kebutuhan pendidikan anaknya. Jangan sampai keadaan tersebut terjadi pada kita. Begitulah pesan yang saya tanggkap dari iklan tersebut.
  
  Di saat lain, seorang teman yang baru pulang dari Jakarta bertemu dengan pensiunan PermataBank –mantan atasannya-  di bandara Juanda. Terkejut dia ketika sang mantan atasan tersebut menghampiri, menepuk pundaknya dan langsung berpesan.
  “Hei bagaimana kabarnya… masih di PermataBank ? Jangan lupa persiapkan bisnis mulai sekarang, mumpung masih muda, persiapkan...! Jangan seperti saya”  ujarnya
  langsung tanpa basa-basi “Kenapa Pak… kok begitu ?” tanya sang teman  “Ya… jangan seperti saya ini… istri sakit, uang pesangon habis buat obat, dan harus pontang-panting
  untuk menutupi kebutuhan”, jawabnya. “Sekarang saya seperti anak 20 tahunan yang baru lulus kuliah, mulai dari awal lagi… kirim aplikasi lamaran, menghubungi kolega dan teman, Cari lowongan pekerjaanlah, … sementara kondisi fisik sudah menjelang 60-an.”
  “Sesuatu yang seharusnya sudah tidak lagi saya lakukan di usia senja seperti ini”, gumamnya sambil menghela nafas panjang.
  
  Sebenarnya sang pensiunan bukanlah orang yang kekurangan saat memasuki usia pensiun. Jasa konsultan hukum sudah dirintis sebelum pensiun, gelar S2 sudah
  didapat, istri punya karier bagus, anak hanya semata wayang, uang pesangon & THT level AVP yang cukup besar, dan simpanan selama bekerja di bank lebih dari cukup untuk persiapan pensiun. Tetapi  semua tergerus  drastis ketika semua simpanan harus digunakan untuk biaya istri yang sakit dan harus dibawa ke luar negeri.
  
  “Makanya sebagai karyawan kita harus punya side business sebagai persiapan. Supaya nggak melanggar kode etik karyawan ….ya jangan kita yang mengelola…,  biarlah istri, saudara atau anak yang mengelola”, ujar seorang teman berusaha menyiasati aturan perusahaan.
  
  Semua memang harus direncanakan., tetapi cobalah  bandingkan dengan seorang bapak yang pensiunan pekerja biasa –yang jelas jauh sekali gajinya kalau dibandingkan dengan pensiunan AVP-, dengan 7 orang anak, istri tidak bekerja, tetapi dapat menikmati usia senjanya dengan bahagia, mempersiapkan diri menyongsong  Khaliknya. Pagi hari belajar mengkaji Al Qur’an, sore hari mengajar anak-anak mengaji, siang hari menyantuni anak-anak yatim di lingkungan sekitar dan mengurus masjid. Sudah tidak lagi direpotkan dengan urusan mencari harta, karena kebutuhannya telah disantuni oleh anak-anaknya yang taat & sayang padanya serta sudah ‘jadi’ semua.
  
  Kenapa bisa begitu berbeda ? Apa yang ditanam di masa lalu,. itulah yang seharusnya kita tuai di masa depan. Menanam padi memang bisa tumbuh rumput liar, tetapi  tenanam rumput liar  tentulah tak akan tumbuh  padi.
  
  Demikianlah hidup, kita tak tahu secara pasti apa yang terjadi di satu jam lagi, malam nanti, besok, lusa, dan masa depan. Bencana gempa seperti di P. Nias & Semeulue ataukah keberuntungan yang ada di depan ? Hidup atau mati kah malam nanti ? Kita tak tahu pasti, selain hanya menduga, merencanakan dan memperkirakan saja. Kemudian kita berusaha sebaik mungkin agar semuanya  sesuai rencana.
  
  Kalau memang hidup kita di dunia ini hanya bisa memperkirakan dan menduga apa yang ada di (masa) depan, bukankah kondisi ini sama seperti orang yang berjalan di kegelapan malam yang hitam pekat tanpa cahaya ?  Dalam kegelapan tanpa cahaya… mata kita sama sekali tidak dapat melihat 'apa yang ada di depan', selain hanya meraba-raba dan menduga, sambil melangkah maju setapak demi setapak. Meja ataukah papan biasa yang ada di depan kita…? Berapa ukurannya…? Apa warnanya ? Jebakan ular berbisa ataukah emas berlian yang ada di depan ? Tanah datar ataukah jurang ? Benarkah arah jalan kita ? Semua gelap… kita tak tahu, kita hanya bisa meraba-raba dan menduga.   Kalau tak ada yang ‘memberi cahaya’ atau ‘yang
  memberitahu apa yang ada di depan kita’, kita hanya bisa memperkirakan dan menduga saja, kemudian merencanakan dan melakasanakan rencana tersebut dengan maju berjalan setapak demi setapak.
  
  Kalau kemampuan kita di dunia ini ‘nyatanya’ hanyalah meraba-raba, menduga yang ada di depan, kenapa kita tidak mempersiapkan qalbu kita dan kemudian meminta pertolongan kepada sang ‘Pemilik Cahaya’ menerangi dan menuntun kita, agar tidak menabrak meja, terbentur pintu, menginjak kotoran, masuk jurang  atau mencederai orang lain di saat kita berjalan di dalam kegelapan tersebut ?
  
  Allah Cahaya langit dan bumi…, Cahaya di atas cahaya, Allah  membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (An Nuur (24) : 35)
  
  Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (Al Mukminun ( 40): 40)
  
  Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi kebaikan

           
---------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls.  Great rates starting at 1¢/min.

[Non-text portions of this message have been removed]





=================================================================
"Morning greetings doesn't only mean saying 'Good Morning'.
It has silent message saying that I remember you when I wake up.
Wish you have a Great Day!" -- Ida Arimurti

Jangan lupa simak IDA KRISNA SHOW SENIN HINGGA JUMAT di 99,1 DELTA FM
Jam 4 sore hingga 8 malam dan kirim sms di 0818 333 582.

=================================================================




SPONSORED LINKS
Station


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke