Detik-Detik Menjelang Pramoedya Ananta Toer Mengembuskan Napas Terakhir
Akhiri Saja Saya, Bakar Saya Sekarang
Sosok Pramoedya Ananta Toer memang bandel dan kukuh. Hal itu masih
ditunjukkan beberapa jam menjelang dirinya meninggal. Ketika kondisinya
jelas-jelas masih kritis, dia malah mencabut selang infus di tangannya
sambil mengatakan, "Saya sudah sembuh."
Maria Wardhani P., JAKARTA
Tak ada yang tahu persis mengapa Pram -panggilan Pramoedya Ananta Toer-
sangat antirumah sakit. Sejak dulu, dia tak pernah mau melewatkan
harinya di rumah sakit.
Seminggu lalu, pria kelahiran Blora, 6 Februari 1925, yang mempunyai
kebiasaan membakar sampah tersebut terjatuh di kebun rumahnya di Bojong
Gede, Bogor. Tapi, kejadian itu dirahasiakan kepada siapa pun, termasuk
kepada Maemunah Thamrin, sang istri.
Alasannya hanya satu, nomine Nobel sejak 1981 itu takut rumah sakit. Dia
lebih memilih menahan sakit daripada harus dirawat di RS. Ternyata,
kebandelan Pram kali ini berakibat buruk. Dia mengeluh perutnya sakit.
Dirinya bahkan tak mau makan.
Sehari-hari dalam seminggu terakhir ini, pengarang tetralogi Bumi
Manusia tersebut lebih banyak meminum air putih dan vitamin. Hingga,
Kamis 27 April lalu, Pram sempat tak sadar diri.
Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS St Carolus hari itu
juga. Mantan aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) tersebut
didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak
pernah menjangkitinya. Namun, radang paru yang ditambah komplikasi
ginjal, jantung, dan diabetes itu benar-benar membuat dirinya ambruk.
Selama di RS, bapak delapan anak, 16 cucu, dan dua cicit tersebut sudah
mempunyai firasat bahwa sakitnya kali ini bakal menjadi sakit
terakhirnya. Kepada Hersri, kawan sesama penulis yang membesuk, Pram
mengaku bahwa ini adalah saat terakhirnya. "Ini adalah hari terakhir
saya," kata Hersri menirukan ucapan Pram.
Hersri, pria yang sempat menghabiskan waktu bersama Pram di pembuangan
Pulau Buru tersebut, langsung memompa semangat karibnya itu. "Saya
bilang, Mas Pram harus bertahan karena sudah memberi semangat banyak
orang, termasuk saya. Saya juga bilang, Mas Pram mampu bertahan selama
14 tahun di tahanan, pasti kali ini juga bisa," ungkapnya.
Saat itu, Pram hanya menganggut-anggut mendengarkan perkataan Hersri.
Tapi, saat itu, Hersri juga berfirasat bahwa kata-kata Pram tersebut
merupakan isyarat dirinya akan pamit untuk selama-lamanya.
Pram hanya bertahan tiga hari di RS. Setelah sadar, dia kembali meminta
pulang. "Ketika tahu berada di RS, Mas Pram langsung minta pulang," ujar
Susilo, adik kandung Pram. Adik keenam di antara delapan bersaudara
tersebut langsung datang ke Jakarta begitu mendengar kakaknya sakit.
Meski permintaan itu tidak direstui dokter, pengarang yang dijuluki
Albert Camus-nya Indonesia versi The San Francisco Chronicle tersebut
bersikeras ingin pulang. Sabtu lalu sekitar pukul 19.00, begitu sampai
di rumahnya di Jalan Multikarya II/26, Utan Kayu, Jakarta Timur,
kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa
memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya.
Kondisinya sempat drop lagi pada pukul 20.00. "Lampu kamarnya diredupkan
dengan tujuan agar bisa istirahat dengan baik. Tapi, dia malah merasa
kesepian," ungkapnya. Susilo mengaku, kakaknya tersebut memang lebih
suka dibesuk dan ditemani kawan-kawan serta kerabatnya.
Pram bahkan sempat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka
Budianta menjenguknya. "Indonesia butuh Pak Pram. Saat saya ngomong
begitu, dia langsung mengangkat tangannya," ujar Eka. Pram juga tertawa
saat dibisiki para fans yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup.
Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Saat itu, penulis
Anak Semua Bangsa tersebut mencopot selang infusnya dan menyatakan bahwa
dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermuth dan meminta
rokok. Sejak berusia 15 tahun, sulung di antara delapan bersaudara itu
memang akrab dengan rokok. Pram tak pernah bisa lepas dari lintingan
tembakau bakar tersebut.
Intensitasnya merokok pun semakin meningkat seiring pertambahan usianya.
Pada usianya yang menginjak kepala delapan, Pram masih setia
menghabiskan dua bungkus rokok setiap hari. "Senang melihat dia mau
makan setelah berhari-hari tak makan. Soal rokok, ya itulah Pram, bandel
tidak bisa dilarang," ujarnya.
Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka
hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi
tersebut bertahan hingga pukul 22.00.
Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak
keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. "Kami
minta, kalau diberi kesehatan, agar segera sehat. Tapi, kalau memang
sudah diminta, ya kami ikhlas," jelas Susilo.
Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00
kemarin. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya.
"Dorong saja saya," ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga
Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya
dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para
penggemarnya ikut menunggui Pram.
Kabar meninggalnya Pram tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga
sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali
mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram
sempat mengerang, "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya. Dia
pun mengembuskan napas terakhir pada pukul 08.55.
Pram memang sempat berpesan agar jasadnya dibakar dan abunya ditebarkan.
"Kalau saya, lebih baik Pram dimakamkan di Bojong saja," tegas Susilo.
Menurut dia, rumah Pram di Bojong memang sudah disiapkan untuk Museum
Pramoedya Ananta Toer. Sehingga, akan lebih lengkap jika jasadnya juga
dimakamkan di rumah tersebut. "Museum Gorky juga begitu. Lengkap
rumahnya ya iya, tempat kerjanya iya, perpustakaannya juga di situ. Dan,
lebih lengkap kalau makamnya juga di situ," ungkapnya. Namun, pihak
keluarga memutuskan Pram tetap dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet
Bivak.
Karangan bunga, mulai dari Wapres Jusuf Kalla hingga Playboy Indonesia,
menghiasi rumah duka. Teman-teman pelayat lain seperti Oey Hay Djoen
mengaku menyesal belum sempat meluluskan permintaan terakhir Pram. "Dia
sering merasa kesepian, nggak punya teman," kata Oey.
Sebulan lalu, Pram terus meminta agar diantarkan ke Cibubur, tempat
tinggal Oey. Di sana, dia berkeluh kesah tentang kesepiannya. "Katanya,
sudah tidak banyak yang datang ke tempatnya," jelas penerjemah buku Das
Kapital tersebut.
Berawal dari keluhan itu, Oey dan Astuti, putri Pram, mulai menggagas
semacam pertemuan rutin antara sastrawan dan penulis. Tujuannya, selain
mengobati rasa kesepian Pram, acara tersebut bisa menjadi ajang diskusi.
"Sayangnya, belum sempat terealisasi, Pram sudah pergi. Saya sangat
menyesal," tegas kawan sesel Pram di Pulau Buru itu. (*)
http://kompas.com/kompas-cetak/0605/01/utama/2619997.htm
Senin, 01 Mei 2006
Obituari
Pramoedya Telah Pergi, Berangkatlah Polemik!
Riuh kiriman pesan lewat layanan pesan singkat atau SMS sejak Sabtu
(29/4) terus berlanjut hingga Minggu petang.
SMS gelombang pertama kaget bertanya, benarkah pengarang besar itu sudah
meninggal dunia? Gelombang kedua bergeser, mengapa koran dan sejumlah
tokoh menganggapnya pahlawan, padahal dia dulu anti-"Manikebu" dan lagi
ia dulu berhaluan kiri?
Kalau Anda hadir melayat di kediaman pengarang yang pernah mendekam di
bui selama 10 tahun dalam pembuangan di Pulau Buru, dengan nomor tahanan
politik (tapol) 007, "perdebatan", dan sebenarnya "pembelaan" oleh
sejumlah anak muda dan pendukungnya, juga terjadi menjelang jenazah
diberangkatkan dan dimasukkan ke liang lahat, Minggu (30/4) siang.
Setelah dimandikan, jenazah Pramoedya dishalatkan pukul 12.00 di tengah
ruangan. Saat keranda diangkat menuju ambulans sekitar pukul 13.00,
tidak dinyana berkumandanglah lagu Internationale dan Darah Juang di
tengah ratusan pelayat yang berdempetan di gang sempit Jalan Multikarya
II/26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Lagu yang pertama adalah sajak seorang
buruh anggota Komune Paris (1871), Eugene Pottier, yang selanjutnya
menjadi lagu mars kaum proletariat dan kekuasaan diktatur proletariat
yang berkuasa selama 72 hari pada masanya. Internationale yang
dinyanyikan adalah versi terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Ki
Hadjar Dewantara. Yang kedua adalah lagu perjuangan mahasiswa Indonesia
yang lahir di zaman reformasi menjelang jatuhnya Orde Baru, 1997-1998.
Ini lagu karangan aktivis John Sonny Tobing, mahasiswa Fakultas Filsafat
UGM Yogyakarta. Sebagai catatan, bersama lagu ini lahir juga Sumpah
Mahasiswa, ciptaan Afnan Malay, juga aktivis dari Fakultas Hukum UGM.
Meski sekilas, syair kedua lagu itu jelas, pembelaan pada rakyat kecil,
pada buruh: Bangunlah kaum yang terhina/Bangunlah kaum yang lapar
("Internationale").
Keluarga besar Pramoedya Ananta Toer yang terdiri dari 8 anak, 16 cucu,
dan 2 cicit semuanya berkumpul. Istrinya, Ny Maemunah, ada di sana.
Minggu pukul 09.15, Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia setelah
sebelumnya jatuh di rumah Bojong Gede dan sesak napas.
Hadir di sana antara lain Goenawan Mohammad, Sitor Situmorang, Ratna
Sarumpaet, Budiman Sujatmiko, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero
Wacik, puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Sejumlah karangan
bunga tanda duka, antara lain dari Kontras, artis Happy salma, pengurus
DPD PDI Perjuangan, dan Dewan Kesenian Jakarta, mengantar kepergiannya.
Menjelang jenazah dimasukkan ke liang lahat di Makam Karet Bivak,
Jakarta Pusat, kembali lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan.
Anak-anak muda yang datang sebagian dari Partai Rakyat Demokratik (PRD)
dan elemennya.
Sastrawan penerima penghargaan dari dalam dan luar negeri, yang terakhir
Presidential Medals of Honor for Pablo Neruda Centennial dari pemerintah
Cile (2004), itu oleh pendiri PRD, Budiman Sujatmiko, dianggap sebagai
gurunya. Pikiran dan buku-buku Pram adalah inspirasi sebuah perlawanan
oleh anak muda, katanya. Tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa,
Rumah Kaca, dan Jejak Langkah adalah potret anak muda di tengah
perubahan dari masa feodalisme ke kapitalisme. Mingke, adalah tokoh
simboliknya. "Aku hidup di zaman Orba, pakai jalan juga jalan raya Orba,
tapi bukan berarti kita berutang kepada Orba, justru fasilitas-fasilitas
itu kita manfaatkan untuk melawan," kata Budiman. Penyair Yogyakarta,
Joko Pinurbo, malah mengirim SMS puisi berjudul Selamat Jalan Pram:
selamat jalan buku/selamat sampai di ibukata/ibunya rindu....
Generasi sezaman, sahabat eratnya, wartawan senior Amarzan Lubis
(aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat/Lekra dan mantan Redaktur Harian
Rakjat) dan Oei Hai Djun (77) (mantan anggota DPR dari Partai Komunis),
melihat Pram sebagai sosok independen dan manusia kuat. Kualitas utama
Pram adalah tidak pernah dapat dipatahkan oleh penderitaan. "Pram juga
tidak pernah tunduk berargumen. Pikirannya mandiri," kata Oei.
Dramawan Putu Wijaya mengaku pengagum karya Pram, tetapi tidak pada
kegiatan politiknya. Sejak SD, Putu mengagumi karya Pram, seperti
Perburuan, Si Midah Bergigi Emas, atau Mereka yang Dilumpuhkan. "Tetapi,
setelah periode itu, karya Pram berciri realisme sosial. Soal politik
itu urusan beliau dan saya tidak bisa gabungkan menilainya," ujar Putu.
Sastrawan Eka Budianta melihat peran Pram pada dorongan untuk mencintai
dan mengenali Tanah Air kita sedalam-dalamnya. Pram disebutnya pembina
bahasa Indonesia lewat karyanya. "Pram minta adakan kongres pemuda
supaya pemuda sendiri melahirkan tokoh-tokohnya," kata Eka tentang Pram
yang katanya masih menyimpan sejumlah manuskrip yang belum terbit,
Soekarno di Mata Dunia dan Dunia di Mata Soekarno.
Sebagaimana pernah diungkapkan Goenawan Mohammad, "kreativitas Pramoedya
adalah krativitas polemik", agaknya inilah kehadiran Pram, karyanya dan
pribadinya. Tetralogi di atas, lalu Mangir, Arok Dedes, Arus Balik, dan
Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, bahkan Gadis Pantai, jelas merupakan sebuah
"dekonstruksi" dan pada akhirnya perlawanan terhadap feodalisme,
kekuasaan, mitos, atau kedengkian yang melahirkan penindasan.
Polemik akan mekar lagi sejak sekarang: adakah kata senapas dengan
perbuatan? Bagi siapa pun di muka bumi ini....(VIN/DHF/EDN/HRD)
logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Mei 2006
NASIONAL
Line
Pramoedya Telah Tiada
SM/Antara
JAKARTA - Pramoedya Ananta Toer akhirnya mengembuskan napas terakhir,
Minggu (29/4) pagi kemarin, tepatnya pukul 08:55, di kediamannya, Jl
Multi Karya II, Utan Kayu, Jakarta. Di dekapan kawan-kawan terdekatnya
dan Judistira Ananta Toer (41), anak bungsunya, Bung Pram, demikian
almarhum biasa disapa, sempat menitipkan beberapa pesan.
''Salah satunya, ayah meminta saya untuk mengurus Lentera Dipantara
(usaha penerbitan yang dirintis Pramoedya),'' ujar Judistira yang
mengaku sedih sekaligus gembira itu. ''Saya gembira karena dalam seumur
hidup baru kali ini berpelukan dengan ayah,'' imbuh Judis. Adapun
beberapa pesan terakhirnya, setelah melalui rapat keluarga, tidak
diluluskan.
''Bung Pram meminta untuk dibakar jasadnya,'' terang Mujib Hermani yang
bersama Chafjay Syaifullah juga menjadi saksi detik-detik terakhir
kepergian Pram.
Mujib dan Judistira kemudian mengisahkan saat-saat terakhir kandidat
penerima Hadiah Nobel Sastra itu wafat. ''Seperti biasa, yang jelas
beliau masih ingin melakukan aktivitas seperti membakar sampah,
ngumpulkan koran, dan mengklipingnya,'' ujar Judis.
Pesan-pesan lainnya tidak bisa ditangkap dengan jelas oleh Judis.
''Pembicaraannya sudah tidak jelas, meski saya sudah menempelkan telinga
saya. Jadi, saya hanya ngangguk-ngangguk."
Pramoedya ketika dibawa pulang dari Ruang ICU RS St Corolus, Salemba,
Sabtu (28/4) malam pukul 20.30 masih dalam keadan sadar dan menatap satu
per satu kawan-kawan dekatnya. ''Subuh, Bung Pram sempat meminta saya
untuk dibantu mengenakan baju berwarna biru, dan saya segera
membantunya,'' ujar Mujib. Setelah itu, lanjut Mujib, Pramoedya berkata
bahwa dia sudah tidak kuat.
Kehilangan
Pramoedya yang meninggalkan delapan putra dari dua istri, dalam ingatan
Judistira adalah sosok yang keras dan teguh pendirian.
Berpulangnya Pramoedya menimbulkan duka berbagai kalangan yang
menunjukkannya dengan memberikan penghormatan terakhir di kediamannya.
Tampak Goenawan Mohamad, Putu Wijaya, Salahudin Wahid, Menteri
Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Nurul Arifin, Mayong, Yenny Rosa
Damayanti, Radar Panca Dahana, Taufik Rahzen dan kalangan aktivis serta
musisi punk rock Jakarta hadir di sana.
Dalam prosesi pemakaman Pramoedya secara Islam, istri dan anak-anak
sastrawan kelahiran Blora, 6 Februari 1925 itu tampak tabah dan takzim.
''Bapak meninggal dengan tenang, jadi apa yang harus saya sedihkan?''
kata Judistira.
Pramoedya datang ke rumah iparnya di Blora, Ny Susilo, terakhir pada
pertengahan bulan puasa tahun 2005. (Benny Benke,Urip Daryanto-41n)
logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Mei 2006
NASIONAL
Line
Tinggalkan Bumi Manusia
INNA lillahi wa inna ilaihi rajiun. Pramoedya Ananta Toer tak pernah
menyerah di bawah kepongahan dan kebebalan (kekuasaan) manusia. Namun
kini, mau tak mau, dia harus menyerah di bawah kuasa ilahi.
Ya, Minggu (30/4) kemarin pukul 08.30, dia mengembuskan napas terakhir
dalam rengkuhan keluarga tercinta. Kini Pram telah pergi, meninggalkan
bumi manusia.
Sebelumnya, pada saat kritis Pram sempat menceletuk bahwa kaum muda
harus melahirkan pemimpin. Dia memang senantiasa menumpukan harapan akan
perubahan ke arah kehidupan (berbangsa dan bernegara) yang jauh lebih
baik pada kaum muda. Dia sudah kehilangan kepercayaan kepada generasi
tua, termasuk generasi seangkatannya.
Menurut penilaian dia, mereka tak mampu mengelola negara ini menjadi
lebih beradab dan bermartabat. Cuma kaum mudalah, ujar dia pada berbagai
kesempatan, yang harus ambil peranan: merebut kesempatan dan menjadi
pemimpin di segenap sektor kehidupan.
Pramoedya Ananta Toer dilahirkan di Jetis, Blora, 6 Februari 1925. Dia
anak sulung sulung M Toer, aktivis politik dan sosial terkemuka di kota
kecil itu. Sang ayah pernah menjadi Kepala Sekolah Institoet Boedi
Oetomo, menggantikan dokter Soetomo yang pindah ke Surabaya.
Pramoedya telah menelurkan ratusan tulisan, baik fiksi maupun nonfiksi,
baik karya asli maupun terjemahan. Karya paling monumental adalah
tetralogi Buru, Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa, dan
Rumah Kaca. Itulah sebagian karya yang dia tulis di pengasingan, di
Pulau Buru, berbelas tahun pada masa pemerintahan Soeharto.
Dia dikenal sebagai sosok kontroversial, baik sebagai pengarang maupun
aktivis kebudayaan. Dia senantiasa memperjuangkan kebebasan (kreatif).
Namun justru karena itulah dia kerap tertelikung di balik jeruji
penjara. Pada masa kolonial, dia dipenjara karena keberpihakannya pada
kemerdekaan bangsa ini. Tahun 1961, pemerintahan Soekarno memenjara dia
akibat menulis buku Hoakiau di Indonesia - wujud keberpihakan pada
kebenaran sejarah dan keadilan bagi kelompok minoritas.
Sebagai pemuncak, pada masa Orde Baru, Pram harus "menikmati" belasan
tahun hidup di berbagai penjara karena peranannya sebagai eksponen
Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dianggap onderbouw Partai Komunis
Indonesia (PKI). Pada 13 Oktober 1965-Juli 1969 dia mendekam di Penjara
Salemba, Jakarta. Kemudian dipindah ke Nusakambangan (sampai 16 Agustus
1969), Pulau Buru (sampai 12 November 1979), serta Penjara Magelang dan
Banyumanik, Semarang (sampai Desember 1979).
Pulang dari pengasingan bukan berarti Pram bebas dari penistaan.
Rumahnya terampas serta koleksi buku dan naskahnya dibakar. Dia juga
mengalami pembunuhan karakter. Stigma sebagai eksponen komunis, yang tak
pernah dibuktikan lewat pengadilan yang adil, jujur, dan terbuka,
terus-menerus membayangi kehidupan Pram dan seluruh keluarganya.
Dia ada dan terus berkarya. Namun terus-menerus ditiadakan. Buku-bukunya
dilarang beredar. Bahkan para pemuda, antara lain Bonar Tigor Naipospos
dan Isti Nugroho di Yogyakarta, yang sekadar membaca dan mendiskusikan
karyanya pada paro kedua 1980-an harus meringkuk di penjara. Berkali
ulang penulis novel Koroepsi (1954) itu diunggulkan untuk menerima
hadiah Nobel kesusastraan. Namun konon karena lobi pemerintahan
Soeharto, suami Maemunah Thamrin, kemenakan pahlawan nasional Mohamad
Husni Thamrin, itu tak pernah memperoleh anugerah tersebut.
Akan tetapi berbagai hadiah dan penghargaan lain telah lebih dari cukup
mengukuhkan peran pria perokok berat yang dinobatkan sebagai orang
paling berpengaruh oleh majalah Time itu. Dia menerima antara lain
anugerah Freedom to Write Award dari PEN American Center (1988), The
Fund for Free _expression_, AS (1989), Wertheim Award, Belanda (1995),
Ramon Magsaysay Award, Filipina (1995), Partai Demokratik Rakyat Award
(1996), Unesco Madanjeet Singh Prize (1996), doctor of humane letters
dari University of Michigan, Madison, AS (1999), Chanceller's
Distinguished Honor Award dari University of California, Berkeley, AS
(1999), Chevalier de l'Ordre des Art et des Letters dari Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Prancis (1999), New York Foundation for the
Art Award, AS (2000), Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang (2000), dan
Centenario Pablo Neruda, Cile (2004).
Pengumuman Yayasan Magsaysay, 19 Juli 1995, yang hendak memberikan
penghargaan bidang sastra dan jurnalistik kepada Pramoedya memunculkan
kehebohan. Pada 29 Juli 1995, 26 orang antara lain Mochtar Lubis,
Rendra, dan Taufiq Ismail mempertanyakan pemberian hadiah itu. Mereka
berpendapat Pram tak layak memperoleh penghargaan karena bertanggung
jawab atas pengekangan kebebasan kreatif dan berpendapat pada masa
paling gelap dalam sejarah kreativitas di negeri ini (1959-1965).
Mochtar Lubis bahkan bersikap lebih keras. Dia mengembalikan uang hadiah
uang dari lembaga itu dengan mencicil - hadiah sama yang dia peroleh
jauh sebelum Pram. Pemerintah juga menghambat kepergian Pram ke Filipina
untuk menerima penghargaan. Akhirnya Maemunah Thamrin-lah yang datang ke
negeri yang lebih bisa menghargai prestasi dan sumbangan Pram terhadap
kemanusiaan itu ketimbang di negeri sendiri.
Sikap Mochtar Lubis dan kawan-kawan direspons kaum muda, antara lain
Ariel Heryanto, Sitok Srengenge, Sutanto (Mendut), Sosiawan Leak, dan
Tan Lioe Ie, dengan mengumumkan "Pernyataan Kaum Muda untuk Kebudayaan".
Dalam pernyataan sikap yang ditandatangani 26 pemuda dari berbagai kota
di Indonesia itu, mereka menilai sikap Mochtar Lubis dan kawan-kawan
merupakan pewarisan dendam masa lalu dan pengobaran kembali prasangka
politik. Bagi mereka, langkah itu jelas menghambat demokratisasi yang
bertumpu pada kejujuran, keadilan, sikap kritis, serta kedewasaan sikap
dan nurani.
Kontroversi sosok penerjemah Mother karya masterpiece Maxim Gorki
menjadi Ibunda (1958) itu tampak pula, misalnya, dari kesediaan dia
memenuhi permintaan Gus Dur datang ke Istana Negara pada hari-hari awal
sang kiai itu menjadi presiden. Saat itu Gus Dur bertanya soal visi
kemaritiman karena tahu betapa mendalam dan visioner pandangan Pram
mengenai perkara itu. Banyak orang heran, namun tak menyadari bahwa visi
itu telah tertuang secara menarik dan dramatis dalam novel Arus Balik
(1995).
Namun, beberapa waktu kemudian, dia memboyakkan Gus Dur yang meminta
maaf, baik sebagai pemimpin NU maupun pemimpin bangsa ini, atas
keterlibatan jamaah NU dalam pembunuhan massal pasca-G30S 1965. Bagi
Pram, rekonsiliasi bangsa ini hanya mungkin jika seluruh komponen mau
mengakui secara jujur apa yang telah terjadi. Dan, kemudian mengubah
keadaan menjadi lebih baik melalui pembangunan sistem hukum yang
berkeadilan. Itu, menurut pendapat dia, tidak mungkin tercapai cuma
lewat omongan. Namun harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Lihatlah pula, betapapun dicegah beredar di negeri sendiri, karya-karya
Pram tak terhalangi untuk diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di
dunia. Karya-karya itu bakal tetap hidup, meski Pram sendiri telah
pergi, sekali lagi, meninggalkan bumi manusia menuju ke keabadian.
Ya, dia meninggalkan bumi manusia, tempat selama ini dia nyaris
senantiasa disalahpahami. Namun dia juga meninggalkan Bumi Manusia,
karya yang akan senantiasa dibaca dan dibaca lagi oleh orang-orang di
berbagai belahan bumi ini. Itulah karya kemanusiaan yang abadi.
Karya-karya, yang menurut penilaian The Washington Post Book Review,
muncul dari seorang master, seseorang yang berkecerdasan brilian dalam
menata jejaring motivasi, karakter, dan emosi. Selamat, Pram, selamat
jalan! (Gunawan Budi Susanto-53)
[Non-text portions of this message have been removed]
=================================================================
"Morning greetings doesn't only mean saying 'Good Morning'.
It has silent message saying that I remember you when I wake up.
Wish you have a Great Day!" -- Ida Arimurti
Jangan lupa simak IDA KRISNA SHOW SENIN HINGGA JUMAT di 99,1 DELTA FM
Jam 4 sore hingga 8 malam dan kirim sms di 0818 333 582.
=================================================================
SPONSORED LINKS
| Radio stations | Station |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "idakrisnashow" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
